Sabtu, 19 Januari 2008

Terapi Stroke dan Autis dengan Lumba-Lumba

Terapi Stroke dan Autis dengan Lumba-Lumba
Rabu, 09/01/2008
JAKARTA(SINDO) – Lumba-lumba hidung botol, ternyata bisa membantu terapi pengobatan untuk beberapa jenis penyakit,di antaranya stroke,autis, kanker,dan depresi berat.
Bagaimana rasanya diterapi lumba- lumba? Bisa rasa takut atau geli. Ternyata, ikan yang dikenal sebagai mamalia sahabat manusia itu bisa membantu pengobatan terapi untuk jenis penyakit yang belum ada obatnya. Kepala Pusat Riset Teknologi Kelautan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Aryo Hanggono menyatakan, saat ini tim peneliti dari lima bidang keilmuan, yakni biologi kelautan,kedokteran hewan, psikologi, kedokteran, dan akustik sedang meneliti lumbalumba yang membantu terapi pengobatan di Bali. Penelitian yang dimulai sejak empat bulan lalu itu menunjukkan hasil positif.
Buktinya, uji coba menggunakan terapi itu terhadap salah seorang tokoh masyarakat Bali yang menderita stroke lumpuh kaki tampak menunjukkan kemajuan. Sebelum terapi, kaki pasien tidak bisa digerakkan. Namun, setelah terapi, kakinya bisa digerakkan,bahkan dia sudah bisa berjalan kaki. Waktu terapi pertama bagi pasien stroke yakni 10 hari dan selesai pada akhir 2007.Namun,pada awal 2008 ini, terapi pasien stroke itu dilanjutkan kembali.Kenyataannya, si pasien yang sudah berumur itu mulai bisa berjalan kembali. ’’Lumba-lumba itu memiliki kemampuan melakukan terapi, baik melalui totokan, gigitan halus, kibasan tubuh, serta gelombang suara dari ikan ini.
Kami mencoba mencari penjelasan ilmiah mengapa ikan itu bisa membantu pengobatan,’’ papar Aryo. Selain itu, pengujian juga dilakukan terhadap salah seorang pasien yang mengidap kanker.Untuk pasien penyakit kanker saat ini terapi sudah berjalan selama seminggu. Aryo menambahkan, penjelasan mengenai tata cara lumba-lumba memberikan terapi memang agak unik, yakni seorang pasien yang akan menjalani terapi itu harus berenang dengan ikan tersebut menggunakan pelampung dalam kolam air laut. Untuk tahap pertama,biasanya tahap adaptasi.Sebab,lumba-lumba hanya mengitari pasien yang mengapung di kolam.Tahap berikutnya, lumba-lumba akan menunjukkan reaksi dan mencoba berkomunikasi dengan pasien,mulai totokan di kaki, tubuh, kepala, gigitan lembut,bahkan kibasan tubuh. Uniknya, bagian tubuh pasien yang ditotok atau disentuh lumbalumba itu berbeda setiap hari sehingga tampak sistematis. Seolah ikan yang biasa dilatih untuk atraksi permainan tersebut mengetahui letak syaraf pasien yang sakit.
’’Ini bukan pengobatan alternatif, melainkan komplemen. Jadi, pengobatan medisnya tetap jalan. Terapi lumba-lumbanya juga jalan. Ini masuk kategori bioakustik,’’ paparnya. Penelitian terhadap potensi lumba-lumba sebagai media terapi ini akan terus dikembangkan.Bahkan, tutur Aryo, program penelitian 2008 ini diprioritaskan untuk mengetahui pola spektrum dari gelombang suara lumba-lumba untuk pengobatan,yakni pola seberapa besar spektrum frekuensi gelombang suara dari lumba-lumba itu untuk terapi berdasarkan jenis penyakit si pasien. Sebab, dari hasil rekam sonar frekuensi gelombang suara memang ada yang berbeda untuk tiap jenis penyakitnya.Untuk itu, para peneliti berniat untuk mengetahui polanya. ’’Ternyata, spektrum gelombang suara yang dikeluarkan ikan ini menunjukkan pola yang berbeda untuk jenis penyakit yang berbeda pula. Inilah yang masih kami pelajari,’’ ujarnya.
Di dunia medis,memang selama ini ada asumsi bahwa lumba-lumba bisa membantu terapi.Namun, itu sebatas kepercayaan dan belum ada pembuktian ilmiah. Bahkan, Amerika Serikat (AS) juga meneliti ikan ini secara serius yang langsung ditangani angkatan laut negara Paman Sam tersebut. Menurut Aryo, lumba-lumba yang bisa dilatih untuk melakukan terapi adalah yang jantan.Apabila riset ilmiah terhadap ikan ini berhasil, itu akan sangat potensial bagi dunia pengobatan di Indonesia.
Di lautan Indonesia terdapat lumba-lumba jenis hidung botol. Namun,cara penangkapan ikan itu masih sulit. Terutama jika yang ditangkap adalah lumba-lumba betina guna dikembangbiakkan. Biasanya, betina dilindungi banyak lumba-lumba jantan. ’’Kami berencana menangkap empat ekor lumba-lumba tahun ini.Kemudian, kami teliti dan dikembangbiakkan di pusat penelitian kami di Bali,’’ ujarnya. Peneliti Bioakustik DKP Agus Cahyadi menyatakan, fokus penelitian pada 2008 ini tidak hanya dilakukan kelanjutan terapi, juga komparasi dengan hasil pengobatan medis. Dengan demikian, dilakukan pembuktian secara medis atas hasil terapi yang dilakukan pada pasien subjek penelitian. Selain itu, mereka melakukan analisis spektrum akustik gelombang suara yang dikeluarkan lumba- lumba per perlakuan terapi, yakni berapa besar gelombang suara yang dikeluarkan untuk badan atau kepala pasien.
Meski demikian, Agus belum bisa memecahkan rahasia mengapa lumbalumba bisa mengerti bagian tubuh yang sakit dari si pasien sehingga melakukan perlakuan terapi di sana. ’’Kami masih dalam pengkajian mengapa lumba-lumba seolah tahu di mana bagian tubuh pasien yang sakit.Mereka mencari sendiri dan tidak ada yang mengarahkan,’’ paparnya. Buktinya, ujar dia, lumba-lumba hidung botol atau Tursiops truncactus itu bisa bekerja dengan baik. Selama 10 kali terapi terhadap 13 anak penyandang autis,tim DKP melibatkan pakar psikologi Australia, Jepang, dan Indonesia untuk menganalisis perkembangan mental si pasien. Agus memaparkan, melalui 10 kali terapi pada penderita autis, di antara delapan kriteria yang dinilai, sebanyak tiga kriteria menunjukkan hasil memuaskan,yakni terkait emosi,kontak mata,dan ketenangan. ’’Lima kriteria lainnya, yaitu kelincahan, motorik, rileksasi, fokus, dan perhatian belum menunjukkan hasil,’’ tuturnya. Adaptasi terapi itu biasanya membutuhkan waktu sehari. Kemudian, untuk tahap selanjutnya, peneliti mengumpulkan rangkaian transmisi suara lumba-lumba yang direkam melalui hidropon. Setelah dilakukan analisis bioakustik, dalam satuan tiap 30 menit terdapat spektrum akustik gelombang optimal. Bioakustik merupakan ilmu yang mempelajari suara dalam air, baik yang ditransmisikan maupun diterima. ’’Kami harus mengonfirmasikan dengan kalangan kedokteran potensi frekuensi tersebut terhadap penderita stroke. Namun, terapi ini akan dikembangkan untuk metode penyembuhan kanker,” tandasnya.(abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/terapi-stroke-dan-autis-dengan-lumba-lumba.html

2 komentar:

  1. mas adam..
    bisa minta info dimana bisa ikut terapi dengan lumba-lumba ini untuk wilayah jakarta..

    trims ya...

    Nia-Jakarta

    BalasHapus
  2. Salam Ibu Nia

    sepengetahuan saya, terapi ini masih dilakukan di Bali dan itu masih skala penelitian. Jika ibu ingin mengetahui lebih lanjut bisa menghubungi DKP Ancol. sebenarnya saya sedang mencarikan kontak narasumber saya bapak Aryo, namun masih belum ketemu. Nanti jika ada info saya akan kabari ibu. mohon ditinggalkan alamat emailnya.

    salam hangat

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment