Sabtu, 19 Januari 2008

Healthy Food, Sahabat Tubuh Sehat

Healthy Food, Sahabat Tubuh Sehat
Jum'at, 04/01/2008
Menikmati makanan sehat dan alami semakin digemari masyarakat Indonesia. Bahkan, pada 2008 ini, healthy food akan menjadi tren menggeser junk food. Tren makanan kembali bergeser.
JAKARTA(SINDO) –Fast food atau makanan cepat saji, yang juga sering disebut junk food kini mulai digeser posisinya oleh makanan sehat tanpa bahan pengawet. Kenyataannya, keinginan menjadi sehat tetap lebih mendominasi dibandingkan sekadar memenuhi selera akan rasa lezat.
Tentu ini menjadi angin segar bagi pelaku bisnis kuliner yang menjajakan makanan dengan brand healthy food. Tidak hanya makanan impor, seperti masakan Jepang, juga makan tradisional santapan Nusantara pun mendapat banyak penggemar. “Saya melihat beberapa tahun terakhir konsumsi masyarakat Indonesia sudah mulai berubah,dari fast food ke healthy food,” ujar Presiden Direktur Restoran Tekigawa, Joy Kameron,yang menyajikan masakan Jepang.
Kenyataannya secara global, di dunia internasional pun makanan cepat saji sudah mulai ditinggalkan. Bahkan, pemerintah Inggris pun,seperti dilansir AFP,kemarin, secara tegas mengeluarkan produk hukum yang melarang diiklankan makanan cepat saji kepada anak usia di bawah 16 tahun. Ini merupakan upaya untuk mencegah terjadinya obesitas pada anak-anak yang telah menjadi wabah di negara-negara maju.
Semua makanan dan minuman yang mengandung banyak lemak, garam, dan gula tidak akan secara bebas beriklan di televisi. Meskipun bukan bermaksud meniru negara Barat, tampaknya mainstreemback to nature memang sudah seharusnya dilakukan. Lagi pula kenyataannya, makanan tradisional khas Indonesia memang merupakan makanan sehat.
Lihatlah makanan khas Sunda, seperti lalapan atau masakan khas Madiun, pecel, yang berisi penuh sayuran segar serta banyak mengandung serat dan vitamin, yang tentu saja rendah lemak.Harus diakui, selama beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia keranjingan mengonsumsi fast food.
Lihat saja food court,restoran,atau gerai penyedia fast food di mal-mal dan swalayan yang padat pengunjung. Meski demikian, Joy Kameron menyatakan bahwa pihaknya tidak khawatir bersaing bisnis dengan penyedia makanan fast food. Masakan Jepang yang identik dengan ikan mentah, sayuran,dan tanpa bahan pengawet itu memang terlanjur diakui masyarakat sebagai makanan sehat dan segar.
Bahkan, dikatakan dia, sepanjang 2007,restoran miliknya mulai memiliki banyak penggemar. Tentu bisa dikatakan ramai karena dengan kapasitas tempat duduk 70 orang,setiap hari rata-rata pengunjung ke Restoran Tekigawa, yang telah membuka lima cabang resto di Jakarta, itu bisa mencapai 200 orang per resto.Apalagi,kalau hari libur dan hari besar, jumlah pengunjung bisa lebih dari itu.
“Itu menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta mulai menggemari healthy food ketimbang junk food, yang dulu pernah menjadi primadona. Bahkan, tahun ini kami berencana membuka satu cabang lagi di Jakarta dan sedang menjajaki kemungkinan membuka cabang di kota-kota lain di Indonesia, seperti Bandung dan Surabaya,” paparnya.
Ini memang bisa dilihat bahwa bisnis makanan sehat yang mulai bergairah menunjukkan tren konsumsi masyarakat. Contohnya Restoran Tekigawa yang pada 2004 baru dibuka, tentu sebagai restoran masakan Jepang yang mengusung brand lokal, bukan perjuangan mudah untuk tetap bisa eksis.
Kenyataannya,baru pada 2005, Joy Kameron mengaku produk makanannya mulai mendapatkan perhatian masyarakat.Mulai sabusabu hingga kamamesi, banyak digemari. Hingga akhirnya, pada 2007 bisnisnya mulai mapan. “Apa salahnya jika suatu saat nanti saya berkeinginan membuka pusat makanan santapan Nusantara dalam satu lokasi. Masakan tradisional Nusantara memang sehat dan masyarakat sekarang ini sudah mulai menyukai makanan sehat,”ujarnya.
Memang untuk meyakinkan selera makan masyarakat akan makanan sehat tidaklah mudah. Dapur Resto Solo yang dibuka sejak 1986 sebagai salah satu restoran yang menyajikan masakan tradisional khas Solo pun melalui perjuangan panjang untuk bisa menggaet hati masyarakat.
Pemilik Dapur Resto Solo, Swandani menyatakan bahwa konsep makanan sehat dari masakan tradisional Solo yang menjadi kelebihannya. Ya, sembari berbisnis juga memopulerkan khasanah santapan Nusantara. Itu dapat dilihat dari menu-menu mulai nasi langgi hingga selat Solo. Masakan khas Solo ini banyak mengandung sayuran, sedikit lemak, dan tentu tanpa bahan pengawet.
“Sudah saatnya makanan tradisional mendapatkan tempat di hati masyarakat. Rasanya lezat, sehat, dan saya yakin ke depannya makanan sehat akan semakin digemari masyarakat,”ujarnya.
Memang, menurut Swandani, kebanyakan masakan tradisional Indonesia pengawetnya hanya menggunakan santan yang dimasak. Tentu saja itu alami.Di sisi lain, saat ini memang sudah mulai muncul tren makanan organik.Namun, karena harganya yang masih mahal dan hanya terjangkau kalangan menengah ke atas,masakan tradisional bisa menjadi salah satu alternatif.
Tren mengonsumsi makanan sehat tidak melulu hanya milik orang dewasa. Seharusnya para orangtua mulai mengajak anakanaknya mengonsumsi makanan sehat dan menghindari makanan fast food. “Saat ini yang datang ke restoran saya tidak hanya bapakbapak dan ibu-ibu, juga anakanaknya sudah mulai diajak,” ungkapnya.
Terutama jika melihat ancaman dari banyak mengonsumsi junk food.Tidak hanya obesitas,masalah kesehatan lainnya juga bisa muncul akibat mengonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak dan rendah serat. Swandani menilai, tren selera masyarakat memang sudah mulai menyukai makanan sehat.
Buktinya, Dapur Resto miliknya yang telah membuka dua cabang, per harinya rata-rata dikunjungi 210 pelanggan dari kapasitas tempat duduk 70 orang.Tentu untuk hari libur, Sabtu dan Minggu, angka pengunjung bisa lebih dari itu. Sudah waktunya beralih ke gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat. Sebab, produsen makanan di dunia mulai mengurangi produksi makanan cepat saji.
Data yang dilansir Mintel Global New Products Database menyatakan, produsen makanan di Eropa mulai meluncurkan produk yang bebas bahan pengawet. Junk food memang telah menjadi isu besar di Eropa setelah Otoritas Keamanan Produk Makanan Eropa melansir daftar zat tambahan yang dilarang dan merugikan kesehatan. Bahkan, pada 2008 ini, produsen makanan di Eropa diwajibkan mencantumkan pada kemasan produknya tentang kandungan bahan makanan yang dijual disertai proses mengolahnya. (AFB/BBC/abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/healthy-food-sahabat-tubuh-sehat-3.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment