KRL Mania pun Diminta Objektif
Senin, 07/01/2008
KEKRITISAN KRL Mania membuahkan pro dan kontra.Tidak sedikit orang yang kurang menyukai sepak terjang komunitas ini. Bahkan, tidak jarang nama KRL Mania sering dimanfaatkan oleh orangorang yang tidak bertanggung jawab.
Salah seorang pegawai PT KA Jabotabek DIPO Bogor, Rusdianto menyatakan,sebagian pegawai PT KA melihat negatif KRL Mania, terutama bagi sebagian pegawai yang bekerja sebagai staf operasional yang sehari-harinya bertemu dan melayani penumpang. ’’Mungkin teman-teman saya melihat hanya dari satu sisi, yaitu kritikan pedas dari KRL Mania, terutama orang operasional.Mereka pasti melihatnya negatif,” paparnya.
Meskipun secara pribadi Rusdianto sangat mendukung keberadaan KRL Mania,dia mengingatkan agar gerakan yang dilakukan KRL Mania tidak dilakukan secara sepihak, terutama tuntutan yang diajukan oleh komunitas ini. Sebab, itu butuh proses untuk pewujudannya, mulai tentang perawatan kereta hingga kelengkapan lampu gerbong dan lain-lain.
’’Kereta yang kami miliki sudah tidak layak untuk operasi, tapi hanya itulah yang ada. Kami berusaha bersama-sama menjaganya. Terkadang, hari ini kami memasang lampu, besoknya lampu di gerbong itu sudah hilang oleh tangan- tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Jadi, KRL Mania juga harus objektif menilai kinerja petugas,”paparnya.
Berbicara tentang KRL Jabotabek, akan ada banyak hal yang ditemui. Bahkan, penumpang kereta sering dianggap sebagai miniatur sosiokultur masyarakat Indonesia. Sebab, beragam masyarakat dari bermacam latar belakang ada di situ. Salah satunya Rina, karyawati swasta di perusahaan konsultan IT di Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, menyatakan kekesalannya apabila menggunakan jasa KRL ekspres.
Sebab, dia sering menemui kecurangan yang dilakukan petugas maupun penumpang yang nakal. Penumpang yang nakal tersebut mendapatkan tempat duduk dengan santai tanpa merasa bersalah pada jam-jam berangkat dan pulang kerja yang memang padat penumpang. Sementara itu, penumpang lain yang memang membayar tiket secara wajar justru tidak kebagian tempat duduk.
’’Naik kereta ekspres itu rasanya sebel karena banyak yang membayar di atas.Mereka berada di gerbong paling depan dan bisa duduk, sedangkan kita yang bayar tidak dapat tempat duduk. Kalau begitu terus,kami protesnya bagaimana? Itu kacau. Saya sering menemui hal tersebut di KRL AC Bogor–Pakuan malam yang terakhir dan ekspres AC,”papar Rina, yang mulai bergabung di komunitas KRL Mania sejak Oktober 2007 ini.
Wulan tercatat menjadi anggota KRL Mania per April 2007.Sama seperti penumpang lainnya,Wulan juga menginginkan pelayanan yang lebih oleh PT KA.Penumpang dan petugas nakal harus ditindak, informasi harus transparan dan mudah diakses oleh publik, serta selalu update.
’’Saya mau tanya jadwal ke PT KA,enggak ada yang mengangkat telepon. Saya ingin ada yang menyuarakan aspirasi kami, sebagai penumpang kereta,”ujarnya.
Salah seorang sastrawan,Setiyo Bardono, juga tergabung dalam komunitas ini.Menurut dia,kereta merupakan aset penting yang tidak pernah diperhatikan oleh masyarakat. Bahkan, kereta cenderung tidak dirawat dan rusak. Padahal, kereta merupakan alat transportasi vital bagi masyarakat pekerja dari seluruh penjuru Jabotabek.Selain itu,tarifnya juga murah sehingga terjangkau oleh masyarakat.Namun,ironisnya,banyak pihak yang justru cenderung ingin merusak fasilitas umum tersebut. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/krl-mania-pun-diminta-objektif.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment