Panen Melimpah saat Banjir dengan Padi Tahan Banjir
Jum'at, 11/01/2008
Sekarang kita tak perlu khawatir kekurangan cadangan beras akibat banjir. Sebab,sudah ada padi yang tahan banjir yang tetap bisa dipanen meski terendam air selama dua pekan.
JAKARTA(SINDO) –Banjir yang sudah menjadi ’’musibah langganan’’ setiap tahun bukan hanya menyusahkan penduduk yang terendam air. Seluruh masyarakat pun terkena imbasnya, seperti kurangnya pasokan dan cadangan makanan.
Pasalnya, banyaknya lahan pertanian yang gagal panen akibat terendam banjir. Namun, kini para petani tak perlu khawatir menghadapi bencana banjir yang bisa terjadi kapan saja. Sebab, sudah ditemukan varietas baru padi tahan banjir,yaitu padi IR64 sub-1.Varietas padi tahan banjir ini hasil riset dari International Rice Research Institute (IRRI), sebuah lembaga nirlaba yang melakukan riset tentang padi yang berkantor pusat di Filipina, bekerja sama dengan Universitas California.
Kepala Perwakilan IRRI regional Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam Mahyuddin Syam menyatakan, padi varietas baru ini bisa tahan dalam rendaman air selama 14 hari atau dua pekan. Dalam uji coba yang dilakukan di laboratorium IRRI Filipina, November 2007, meski direndam air setinggi dua meter selama 18 hari, padi varietas baru tetap bisa dipanen dengan hasil melimpah.
’’Dalam uji coba di Lab IRRI, padi varietas IR64 sub-1 dibandingkan dengan IR64 biasa. Setelah direndam air selama 14 hari, IR64 mati sedangkan IR64 sub-1 tetap hidup dan bisa dipanen dengan hasil melimpah,”paparnya.
Departemen Pertanian (Deptan) RI saat ini sedang dalam tahap memperbanyak padi varietas IR64 sub-1. Rencananya, pada akhir Januari atau awal Februari 2008,Deptan akan mulai melakukan pengujian di Indramayu untuk mengetahui ketahanan padi ini dengan kondisi geografis dan cuaca di Indonesia.
’’Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan banjir sehingga terpilih menjadi salah satu negara pengujian padi tahan rendaman air ini.Beberapa negara lainnya adalah Bangladesh dan Pakistan yang memiliki kondisi yang hampir sama seperti Indonesia,” tutur Mahyuddin.
Tim IRRI memfokuskan pada varietas sub-1 yang tahan rendaman air. Varietas ini juga mempengaruhi respons tanaman terhadap hormon, seperti ethylene dan asam gibberelik yang berperan besar menyebabkan tanaman mampu bertahan dalam air. Tanaman padi tidak hanya toleran terhadap rendaman air, juga memberikan hasil yang tinggi.
Menurut Mahyuddin, varietas IR64 dipilih karena padi jenis inilah yang paling disukai petani. Selain masa tanamnya lebih pendek, juga mudah untuk dijual karena harganya terjangkau masyarakat. Karena itu, padi jenis ini termasuk fast mooving dan yang paling banyak ditanam petani Indonesia. Mahyuddin menjelaskan, varietas IR64 sub-1 bukanlah padi hasil rekayasa genetik atau bioteknologi, melainkan melalui teknologi persilangan konvensional biasa.
Karena itu, uji yang akan dilakukan tidak memerlukan ruangan khusus.Tidak seperti varietas hasil rekayasa genetika yang memerlukan rumah kaca dan perlengkapan khusus. ’’Untuk itu, akan kami lihat performance-nya di Indramayu. Kami akan mengamati betul bagaimana kualitas rasa dan kriteria lainnya,”ujarnya.
Setelah dinyatakan mampu beradaptasi dengan kondisi geografis Indonesia, ujar Mahyuddin, minimal awal 2009 padi tahan banjir ini baru didistribusikan ke petani. Namun, kriteria-kriterianya tetap harus dipenuhi, seperti hasil panen melimpah,rasa beras,umur tanam tidak lebih dari 110–120 hari, tahan hama penyakit, dan bisa dipanen minimal dua kali setahun atau lima kali dalam dua tahun.
Pasalnya, sebelumnya sudah dilakukan uji lapangan dan varietas padi dengan nama silungonggo.Meskipun sudah lolos uji tahan banjir dan sudah didistribusikan ke petani, rasanya dianggap kurang enak sehingga petani enggan menanamnya kembali. Kini, Mahyuddin berharap dipilihnya gen padi IR64 sub-1 akan sesuai kriteria yang diinginkan. ’’Jika nanti hasil uji cobanya memuaskan dan sudah bisa ditanam petani, yang kita dorong adalah kapasitas produksinya dulu agar tidak bergantung pada beras impor,” jelasnya.
Berdasarkan data Deptan, Indonesia kehilangan potensi panen 50.000–100.000 hektare per tahun yang puso akibat banjir. Jika diasumsikan per hektare bisa memanen 5 ton gabah, 250.000– 500.000 ton gabah terbuang sia-sia akibat banjir di sebagian wilayah Indonesia. Kepala Divisi Biologi Molekuler Program Penelitian Padi pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Inez S Loedin menyatakan, pengembangan padi tahan banjir bisa memperkaya varietas padi unggulan di Indonesia.
Sebelumnya, Indonesia sudah berhasil mengembangkan varietas padi tahan hama penggerek batang dan sedang dilakukan uji multilokasi.Kemudian,padi tahan kering diperkirakan bisa diuji coba pada bak-bak pengamatan pada Maret 2008 ini dan uji coba lahan pada 2009 mendatang.
Menurut Inez, tantangannya saat ini adalah menemukan varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap banjir dan kekeringan. Bisa jadi,hal itu dilakukan dengan penggabungan antara gen IR64 sub-1 yang tahan banjir dengan padi tahan kering yang sedang diteliti LIPI. Namun, itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan proses yang mungkin tidak sebentar. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/panen-melimpah-saat-banjir-dengan-padi-tahan-b-3.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment