Senin, 29 November 2010

Piramida Gender di Level CEO

Kesenjangan gender masih saja terjadi di level pemimpin dan eksektutif perusahaan. Studi terbaru tentang peranan perempuan di jajaran direksi ibarat piramida yang semakin ke atas semakin mengecil.

Studi terbaru sebagaimana yang dilansir Catalyst, sebuah organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang bermitra dengan perusahaan-perusahaan untuk mempromosikan kesetaraan kesempatan di tempat kerja bagi perempuan. Dalam laporan yang dilansir September 2010 ini, masih tampak terjadi kesenjangan antara pria dan wanita dalam level CEO di seluruh dunia. Bahkan diprediksikan kesetaraan jumlah perempuan dan laki-laki di level top eksekutif perusahaan dalam daftar Fortune 500-daftar 500 perusahan yang dilansir Majalah Fortune-baru akan mengalami proporsi yang seimbang pada tahun 2064 mendatang.

Meskipun kaum hawa membuat banyak kemajuan dengan memenangi beberapa kursi pimpinan perusahan dibandingkan tahun-tahun lalu. Namun jumlahnya masih terlalu minim jika dibandingkan pria CEO. Berdasarkan laporan tahunan Catalyst, jumlah wanita yang menjabat level CEO dalam daftar Fortune 500 naik menjadi 11,1% tahun ini dari 10,6% tahun lalu. Dengan fakta ini maka untuk mencapai jumlah 50%-50% bagi pria dan wanita dalam level CEO masih harus menunggu hingga tahun 2064.

”Ini merupakan kemajuan yang sangat lambat. Meski demikian itu lebih baik dibandingkan tidak sama sekali,” ujar Mantan Direktur Catalyst Sheila Wellington.

Pada tahun 1993, perempuan hanya menduduki 8,3% kursi direktur dan hanya 69% dalam daftar 500 perusahaan di majalah Fortune yang memiliki anggota direksi seorang perempuan atau lebih. Namun kini 86% perusahan global memiliki setidaknya seorang wanita direktur. Empat perusahaan diantaranya seperti Avon Product, Golden West Financial, Beverly Enterprises dan Gannett yang memiliki 40% atau lebih direktur perempuan.

“Para pria merasa lebih nyaman dengan mitranya yang perempuan menjabat sebagai direktur” ujar Ekonom Martha Seger.

Laporan Catalyst ini menyebutkan bahwa tahun ini lebih dari 33% perempuan yang menjabat sebagai direktur memiliki pengalaman yang cukup dibandingkan hanya 27% tahun lalu. Tren ini mengindikasikan bahwa lebih banyak wanita yang memenuhi kualifikasi untuk menjabat di posisi top eksekutif perusahan. Selain itu juga ditemukan, lebih besar suatu perusahaan maka lebih banyak pula jumlah perempuan yang menjabat sebagai direktur. Dalam daftar 100 perusahaan terbesar ditemukan jumlah direktur perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan dengan daftar 400 atau 500 perusahaan besar yang ada dalam daftar Fortune 500.

Laporan Catalyst 2010 ini membandingkan presentase perempuan yang menjabat di kursi direktur dalam perusahaan-perusahaan di dunia. Diantaranya, untuk kawasan Afrika dan Timur Tengah tertinggi Afrika Selatan dengan 15,5% posisi direktur diisi oleh perempuan. Kemudian disusul Israel (14,1%), Turki (9,9%), Mesir (7,6%), dan Maroko (0%). Di Kawasan Amerika Latin, tertinggi Colombia memiliki presentase 11,4% untuk perempuan yang duduk di level direksi perusahaan. Kemudian disusul Meksiko dengan 5,8%, Brazil (4,6%), Chili (2,8%), dan Peru (0%).

Di kawasan Asia Pasifik, Filipina merupakan negara dengan jumlah tertinggi untuk perempuan yang megisi jabatan direktur yakni 19,1%. Angka ini bahkan termasuk tinggi jika dibandingkan negara-negara di kawasan lain yang disurvei dalam laporan Catalyst ini. Selanjutnya disusul oleh Selandia Baru dengan 12,1% kursi direktur dijabat oleh perempuan, Thailand (10,4%), Australia (8,3%), Hongkong (8,3%), China (7,2%), Singapura (6,4%), Taiwan (6,3%), Malaysia (5,9%), Rusia (5,1%), India (4,8%), Indonesia (4,1%), Korea Selatan (1,5%), dan terendah Jepang (0,9%). Sedangkan di Amerika Serikat (AS) dan Kanada hanya memiliki 15,2% dan 14% kursi direksi yang dijabat oleh perempuan.

Untuk kawasan Eropa, jumlah presentase perempuan yang menjabat level direksi perusahaan cukup besar. Diantaranya, Norwegia merupakan tertinggi di dunia dengan mencatatkan sebanyak 34,3% kursi direktur dijabat oleh perempuan. Kemudian disusul Swedia (23,9%), Finlandia (23,4%), Denmark (14,4%), Irlandia (14,1%), Belanda (13,7%), dan Jerman (10,5%). Sementara negara-negara lainnya di kawasan Eropa masih mencatat di bawah angka 10% untuk presentase level CEO yang dijabat oleh perempuan. Seperti Prancis (9,5%), Swiss (9,2%), Inggris (8,5%), Yunani (8,5%), Spanyol (8%), Austria (7,7%), Polandia (7,4%), Belgia (6,8%), Hungaria (6,5%), Republik Czech (5,6%), Italia (3,4%), dan Portugal (1,8%).

Menurut Catlyst, presentase perempuan yang menjabat level CEO dalam daftar Fortune 500 hanya 2% pada tahun 2009, menurun dibandingkan 2,4% pada tahun 2008. Hanya 7,3% dari seluruh daftar Fortune 500 yang dipimpin direktur perempuan. Hanya sedikit sekali kemajuan selama bertahun-tahun dalam daftar Fortune 500 yang diisi oleh perempuan.

Catalyst membandingkan berdasarkan warna kulit atau rasnya, perempuan dan laki-laki yang menjabat posisi direksi dalam daftar Fortune 500. Ditemukan tertinggi ditempati oleh pria kulit putih sebanyak 71,5% dan wanita kulit putih hanya 13,9%. Sementara hanya 3,4% kursi direktur dijabat oleh pria latin dan 0,5% oleh wanita lain. Ras Afrika-Amerika menempati 7,8% kursi direksi untuk laki-laki dan 2,3% untuk perempuan. Sementara ras Asia hanya 0,8% pria yang menjabat level CEO dan 0,3% wanita dalam daftar 500 perusahaan versi Majalah Fortune tersebut.

Artinya pada tahun 2009, jumlah perempuan kulit berwarna hanya dua per tiga dari perempuan kulit hitam dalam menjabat posisi direksi. Sementara perempuan latin hanya seperempatnya, dan perempuan Asia hanya 10%-nya. Jika dipresentase total pada tahun 2008 sebanyak 85% kursi jabatan direktur dijabat oleh pria, sementara sisanya 11,8% oleh wanita kulit putih dan 3,2% oleh wanita kulit berwarna. Pada tahun 2009, angka ini sedikit meningkat dengan 84,4% level CEO dijabat pria, 12,1% dijabat oleh wanita kulit putih dan 3,1% oleh wanita kulit berwarna.

Menurut Catalyst, mencermati daftar Fortune 1000 tentang jabatan CEO yang diisi oleh perempuan bagaikan melihat piramida. Yakni dalam daftar Fortune 500, hanya 12 diantaranya jabatan CEO diisi oleh perempuan. Kemudian dalam daftar Fortune 501-1000, perempuan hanya mengisi 14 jabatan CEO.

Kamis, 25 November 2010

Industri Kuda Besi Dalam Prediksi

Industri automotif dalam negeri mencapai babak baru. Banyak kalangan memprediksi, pasar industri mobil Indonesia akan menjadi raja di kawasan ASEAN.

Mengkalkulasi prediksi kinerja industri automotif pada tahun 2011 mendatang bisa beragam spekulasi. Sebagian kalangan memandang pesmistis terutama terkait dengan rencana penerapan pajak kepemilikan mobil secara progresif. Namun banyak kalangan yang tetap memandang optimistis. Namun mempertimbangkan jumlah pasar Indonesia yang cukup besar, bisa dimaklumi industri automotif masih akan tetap bertumbuh.

Skenario pesimistis, pasar industri automotif pada tahun 2011 mendatang diperkirakan bakal menurun 10% pada kuartal I 2011. Argumentasi didasarkan pada tantantang industri ini terkait rencana penerapan pajak kepemilikan mobil secara progresif pada tahun 2011 mendatang. Sejatinya aturan ini diberlakukan guna mengatasi kemacetan akibat semakin bertambahnya populasi mobil di kota-kota besar seperti di Jakarta. Namun banyak pihak menilai, pemberlakuan pajak ini kurang efektif dan kurang tepat sasaran.

“Saya memperkirakan pasar akan terkoreksi 10 persen pada kuartal I 2010. Penurunan permintaan khususnya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Berapa lama penurunan pasar akan terjadi? Saya tidak dapat memperkirakan secara pasti,” ujar Presiden Direktur PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Takayuki Kimura (Sindo, 21/10/10).

Apalagi tantangan industri ini kedepan, tidak hanya itu. Masih ada beberapa lagi lainnya, seperti kebijakan fiskal berupa kenaikan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), laju inflasi, dan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terjadi.

Namun mempertimbangkan pasar Indonesia sangat besar, sehingga ada atau tidaknya aturan baru perpajakan, konsumen masih akan tetap membeli mobil karena sudah dianggap sebagai kebutuhan. Kalangan yang optimistis menilai industri automotif di dalam negeri masih akan tetap bertumbuhan tahun depan. Pasar mobil tahun 2011 diperkirakan akan mampu menembus angka 850.000 unit atau naik 11% dibanding tahun 2010 ini yang diestimasi bakal tembus di angka 720.000 unit. Sementara pasar sepeda motor optimistis bakal tumbuh sekitar 10-15%, dari angka prediksi penjualan 2010 sebesar 7.200.000 bakal menjadi 8.050.000 unit pada tahun 2011 mendatang.

Meski demikian, bagi sebagian kalangan kalkulasi optimistis tersebut masih tampak belum meyakinkan. Terutama apabila mempertimbangkan regulasi perpajakan yang baru. Sehingga Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sempat lebih memilih untuk mematok target konservatif untuk posisi aman. Target konservatif penjualan mobil tahun 2010 ini menurut Gaikindo diperkirakan hanya 690.000 unit atau lebih rendah dari kalkulasi sebelumnya 720.000 unit . Namun jika mengacu pada hitungan sederhana, penjualan mobil selama semester I-2010 yang menembus 370.000 unit, maka total penjualan hingga akhir tahun bisa mencapai 740.000 unit.

Data Gaikindo menunjukan realisasi total penjualan mobil per Oktober 2010 ini sudah mencapai angka 606.888 unit. Artinya jika melihat angka tersebut, maka penjualan mobil tahun ini optimistis bisa mencapai target 750.000 unit. Atau jika menggunakan target lebih moderat, angka 730.000 unit mobil optimistis bisa terjual. Namun lagi-lagi angka ini masih harus dibuktikan hingga akhir tahun ini.

Dari sisi konsumen, hasil survei tentang aspiration index (AI) versi ACNielsen mengungkapkan demikian tingginya keinginan konsumen Indonesia untuk memiliki mobil. Meskipun publikasi survei ini masih pada tahun 2004 dan 2005, dari data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah dari tujuh negara yang konsumennya memiliki keinginan tinggi untuk memiliki kendaraan pribadi. Survei ACNielsen saat itu menunjukkan presentase kepemilikan mobil di Indonesia hanya 50% dari populasi responden yang disurvei, sehingga memiliki keinginan tinggi untuk membeli mobil. Selain Indonesia, ada China, India, Thailand, Korea, Hongkong dan Filipina yang merupakan negara-negara dengan tingkat permintaan mobil tergolong tinggi.

Sementara pada beberapa negara dengan tingkat kepemilikan mobil cukup tinggi, tentu tingkat keinginan untuk membeli mobil pun termasuk rendah. Seperti Amerika Serikat (AS), Swedia, Norwegia, Austria, dan lainnya. Sedangkan Malysia, Singapura, Taiwan, Australia dan beberapa negara lainnya termasuk negara dengan tingkat AI medium untuk kepemilikan mobil.

Gaikindo memperdiksi pasar mobil Indonesia hingga tahun 2015 akan mencapai 1.250.000 unit untuk target optimistis. Sementara target normatif hingga tahun 2015 akan mencapai angka 1 juta unit. Total penjualan mobil di Indonesia sejak tahun 2005-2009 sekitar 2,37 juta unit. Jika ditambah dengan realisasi tahun 2010 yang optimistis bisa diatas 700.000 unit, maka bisa dikalkulasi total jumlah populasi mobil di Indonesia sejak tahun 2005 hingga saat ini sekitar 3 juta unit. Angka rata-rata pertumbuhan mobil dikalkulasi sekitar 9-10% per tahun. Sementara rata-rata pertumbuhan jumlah sepeda motor mencapai 14-15% per tahun. Data total penjualan sepeda motor sejak tahun 1996 hingga Agustus 2010, berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) sekitar 46,9 juta. Sehingga jika dijumlah keduanya, maka populasi kendaraan bermotor di Indonesia saat ini sekitar 50 juta unit.

Dengan mempertimbangkan jumlah populasi penduduk Indonesia yang berada di atas 230 juta jiwa, maka pasar automotif di negeri ini masih terbentang luas. Tidak mengherankan survei tentang keinginan berbelanja masyarakat menempatkan kendaraan bermotor sebagai salah satu produk yang sangat ingin dibeli oleh masyarakat. Apalagi menilik beberapa hasil studi, seperti hasil riset yang diluncurkan Asian Development Bank (ADB) 2010 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia semakin meningkat. Sehingga peluang pasar automotif semakin terbentang lebar, seiring meningkatnya pendapatan masyarakat.

Apalagi pemerintah sudah mematok angka pertumbuhan ekonomi tahun depan berkisar 6-6,5%. Sementara Direktorat Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Kemenperin memprediksi nilai PDB nasional pada tahun 2010 ini sebesar Rp5.687,6 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen. Kontribusi sektor IATT (plus industri mesin), termasuk di dalamnya sektor otomotif, diproyeksikan sebesar Rp454,3 triliun dengan pertumbuhan sebesar 4%.

Untuk industri pendukung automotif pun memiliki kisahnya sendiri. Berdasarkan catatan Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) posisi industri otomotif dalam negeri total berjumlah 464 dengan rincian yakni untuk jumlah industri mobil sebanyak 37, sepeda motor (77), komponen (350). Nilai investasi dalam sektor ini total Rp13,9 triliun dengan rincian untuk mobil sebesar Rp3,4 triliun, sepeda motor Rp3 triliun, dan komponen Rp7,5 triliun. Kapasitas tahunan industri ini, untuk mobil sebesar 855,000 unit, sepeda motor 6.575.000 unit, dan komponen sekitar 150 item per tahun.

Tenaga sumber daya manusia yang terserap total sebanyak 185.000 orang, dengan rincian 35.270 orang pada industri mobil, 30.000 orang industri sepeda motor, dan sekitar 120.000 orang pada industri komponen. Nilai ekspor pada tahun 2008 total sebesar USD3,431 miliar, dengan rincian USD1,34 miliar untuk mobil, USD68 juta untuk sepeda motor, dan USD2,01 miliar untuk komponen. Sementara nilai impor jauh lebih besar yakni USD8,356 miliar, dengan rincian untuk mobil USD3,05 miliar, sepeda motor USD58 juta, dan komponen 5,24 miliar.

Pasar di Kawasan

Pasar industri automotif di Indonesia untuk kawasan ASEAN diprediksi banyak kalangan bakal merajai. Hitung-hitungan untuk pasar sepeda motor Indonesia memang sudah menjadi raja di kawasan ASEAN. Sedang untuk industri mobil, Indonesia selama ini harus mengaku kalah dengan Thailand. Namun catatan rekor baru untuk tahun 2010 ini, pasar mobil Indonesia sudah mampu melampaui Thailand. Untuk itulah wajar, jika pemerintah memiliki cita-cita Indonesia potensial untuk menjadi basis produksi automotif di Asia pada tahun 2015 mendatang.

Menurut Pengamat Automotif Suhari Sargo kini volume produksi automotif di Indonesia sudah menyamai Thailand. Selain itu, , volume produksi automotif di dalam negeri masih bisa tumbuh melampaui Thailand karena pasar automotif di dalam negeri masih cukup besar. Selain volume produksi yang lebih besar, faktor lain yang dapat mendorong Indonesia menjadi basis produksi automotif di Asia adalah dukungan jaringan penunjang industri automotif, seperti komponen automotif yang kuat. Sementara kendala yang harus dihadapi untuk mencapai target tersebut adalah masalah efisiensi internal dan eksternal. Efisiensi internal berupa masalah teknologi dan sumber daya manusia (SDM) di bidang automotif. Sementara eksternal berupa iklim usaha, birokrasi dan infrastruktur.

Sebagaimana data yang dilansir ASEAN Automotive Federation (AAF) terungkap dari sisi penjualan mobil Indonesia sudah beberapa kali melampaui Thailand. Dalam statistik antara Januari – Juli 2010, Indonesia selalu menggungguli Thailand dalam hal penjualan kecuali Mei dan Juni 2010. Total penjualan mobil per Juli 2010, Indonesia sebesar 442.298 unit atau tumbuh 76,6% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara Thailand hanya 422.364 unit atau tumbuh 53,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Apalagi jika dibandingkan Malaysia. Menurut data Malaysian Automotive Association (MAA) hingga September 2010, realisasi penjualan mobil di negeri Jiran itu hanya sebanyak 453.249 unit.

Namun di kawasan Asia, pasar automotif Indonesia masih jauh berada di bawah China, India, dan Korea. Berdasar data Asian Automotive Federation, tiga negara dengan pertumbuhan pasar mobil terbesar tahun 2009 yakni, China, India, dan Korea. Tahun 2008 China hanya memproduksi 9.323.587 unit namun angka penjualan melebihi yakni 9.363.306 unit. Kemudian tahun 2009, produksi mengalami pertumbuhan 47,61% jadi 13.762.708 unit, sementara penjualan 13.621.543 unit. Serupa India, pada tahun 2008 memproduksi sebanyak 2.315.312 unit dan terjual 1.980.166. kemudian tahun 2009, angka produksi India naik sebesar 13,51% sebanyak 2.628.224 unit dan terjual 2.263.798 unit. Sementara Korea pada tahun 2008 memproduksi 3.823.380 unit dan penjualan 1.239.046. kemudian produksi tahun 2009 naik sebesar 8,17% jadi 3.511.127 unit dan penjualan 1.300.304 unit.


Kamis, 18 November 2010

Sekilas Industri Automotif Indonesia VS Thailand

Di kawasan ASEAN, Indonesia selalu dibandingkan dengan Thailand dalam hal produksi dan pasar automotif. Banyak pihak menilai, Indonesia akan segera melampaui Thailand, bahkan bisa menjadi basis produksi terbesar di Asia.

Indonesia menjadi basis produksi automotif Asia, bukanlah impian belaka. Jika menghitung potensinya, banyak kalangan berpendapat bahwa Indonesia bisa menjadi basis produksi automotif di Asia mengalahkan Thailand. Menurut Pengamat Automotif Suhari Sargo kini volume produksi automotif di Indonesia sudah menyamai Thailand. Selain itu, , volume produksi automotif di dalam negeri masih bisa tumbuh melampaui Thailand karena pasar automotif di dalam negeri masih cukup besar.

“Kalau Thailand, dalam negerinya tidak terlalu besar. Kalau kita masih bisa tumbuh besar. Bahkan, kalau kita kuat dan efisien, kita bisa melakukan ekspor,” ujarnya.

Selain volume produksi yang lebih besar, faktor lain yang dapat mendorong Indonesia menjadi basis produksi automotif di Asia adalah dukungan jaringan penunjang industri automotif, seperti komponen automotif yang kuat. Sementara kendala yang harus dihadapi untuk mencapai target tersebut adalah masalah efisiensi internal dan eksternal. Efisiensi internal berupa masalah teknologi dan sumber daya manusia (SDM) di bidang automotif. Sementara eksternal berupa iklim usaha, birokrasi dan infrastruktur.

“Kalau masalah ini bisa diatasi, selain Indonesia bisa menjadi basis produksi automotif, industri automotif ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” tandasnya.

Keinginan untuk bisa melampaui Thailand bisa jadi realistis atau hanya sekedar ambisi. Sebab jika melihat rekam jejak data statistik produksi dan penjualan sektor automotif negeri gajah putih itu cukup raksasa. Sehingga Indonesia harus cukup bekerja keras untuk bisa memenuhi ambisinya. Sebab sejarah telah membuktikan Thailand mampu menjadi raja industri otomotif ASEAN, baik dari sisi basis produksi maupun penjualan. Namun untuk tahun 2010 ini, Indonesia mulai mengungguli Thailand dari sisi penjualan.

Sebagaimana data yang dilansir ASEAN Automotive Federation (AAF) terungkap dari sisi penjualan mobil Indonesia sudah beberapa kali melampaui Thailand. Dalam statistik antara Januari – Juli 2010, Indonesia selalu menggungguli Thailand dalam hal penjualan kecuali Mei dan Juni 2010. Coba bandingkan pada Januari 2010, Indonsia berhasil menjual 52.831 unit mobil, sementara Thailand hanya 49.560 unit. Kemudian pada Februari 2010, Indonesia berhasil menjual 55.688 unit dan Thailand hanya 54.175 unit. Per Maret 2010, Indonesia mampu menjual 65.555 unit mobil, sementara Thailand hanya 63.067. Pada April 2010, Indonesia mampu menjual 65.232 unit dan Thailand hanya 57.128 unit.

Pada bulan Mei 2010, Indonesia harus mengaku kalah dengan Thailand. Tercatat Indonesia mampu menjual 60.516 unit, sedang Thailand mencapai 62.205 unit. Demikian juga pada Juni 2010, Indonesia hanya mampu menjual 70.386 unit, sedang Thailand mencapai 70.557 unit. Baru pada Juli 2010 Indonesia berhasil memperoleh posisinya kembali dengan 72.090 unit, sedang Thailand hanya 65.672 unit. Total penjualan mobil per Juli 2010, Indonesia sebesar 442.298 unit atau tumbuh 76,6% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara Thailand hanya 422.364 unit atau tumbuh 53,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi industri penjualan mobil, Indonesia dan Thailand memang bersaing ketat, baru disusul Malaysia yang mampu menjual 53.482 unit per Juli 2010, Filipina (15.972 unit), Vietnam (9.439 unit), Singapura (4.088 unit), dan Brunei Darussalam (1.113 unit). Total penjualan mobil untuk kawasan ASEAN per Juli 2010 sebanyak 1.418.959 unit atau tumbuh 39,5% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 1.016.918 unit.

Sedangkan dari sisi pasar sepeda motor dan sekuter, Indonesia memang rajanya di ASEAN. Tercatat per Juli 2010, total penjualan sudah mencapai 4.310.900 unit atau naik 38,4% dibandingkan Juli tahun lalu sebesae 3.114.874 unit. Sementara Thailand hanya mampu menjual 1.089.740 unit sepeda motor per Juli 2010 atau naik 22,8% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 887.395 unit.

Sekarang coba lihat dari sisi produksi antara kedua negara. Untuk produksi mobil, Indonesia harus mengaku kalah dengan Thailand. Tercatat per Juli 2010, total produksi mobil Indonesia sebanyak 405.133 unit atau naik 66,9% dibandingkan Juli tahun 2009 sebesar 242.762 unit. Sedangkan Thailand catatan produksi mobilnya mencapai 914.765 unit per Juli 2010, atau naik 97,1% dibandingkan Juli 2009 sebanyak 464.068 unit. Indonesia hanya mampu bersaing dengan Malaysia yang mencatatkan produksi mobilnya sebesar 351.787 unit per Juli 2010 atau naik 27% dibandingkan Juli 2009 sebesar 276.915 unit. Total produksi mobil di ASEAN per Juli 2010, sebanyak 1.755.853 unit atau naik 66,4% dibandingkan Juli 2009 sebanyak 1.066.909 unit.

Untuk produksi sepeda motor dan sekuter, tentu Indonesia rajanya di ASEAN. Tercatat total produksi sepeda motor Indonesia hingga Juli 2010 sebanyak 4.319.697 unit atau naik 38,8% dibandingkan 3.112.831 unit per Juli 2009. Sementara Thailand hanya mencatatkan produksi sepeda motor sebanyak 1.162.073 unit per Juli 2010 naik 31,6% dibandingkan Juli 2009 yang tercatat sebanyak 882.731 unit.

Secara tahunan, AAF mencatat pasar mobil Indonesia tahun 2009 sebesar 483.500 unit atau turun 20% dibandingkan tahun 2008 sebesar 603.774 unit. Sementara Thailand mencatatkan pasar mobil pada tahun 2009 sebesar 548.871 unit atau turun 11% dibandingkan 2008 sebanyak 615.270 unit. Secara total pasar mobil ASEAN pada tahun 2009 sebesar 1.913.098 unit atau turun 10% dibandingkan tahun 2008 sebanyak 2.127.048 unit. Sedang untuk pasar sepeda motor Indonesia tahun 2009 sebesar 5.881.777 unit atau turun 6% dibandingkan 2008 sebanyak 6.280.799 unit. Sementara Thailand memiliki pasar sepeda motor sebanyak 1.535.461 unit pada tahun 2009 atau turun 10% dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.703.376 unit.

Total produksi mobil Indonesia tahun 2009 sebesar 464.816 unit atau turun 23% dibandingkan tahun 2008 sebesar 600.844 unit. Sementara Thailand mencatatkan produksi mobilnya sebesar 999.378 unit pada tahun 2009 atau turun 28% dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.394.029 unit. Total produksi mobil ASEAN pada tahun 2009 sebesar 2.123.746 unit atau turun 21% dibandingkan 2.704.342 pada tahun 2008. Untuk sepeda motor, Indonesia mencatatkan total produksinya pada tahun 2009 sebesar 5.884.021 unit atau turun hanya 6% dibandingkan tahun 2008 sebanyak 6.264.265 unit. Sementara Thailand memiliki produksi sepeda motor sebesar 1.634.13 unit pada tahun 2009 atau anjlok 14% dibandingkan tahun 2008 sebanyak 1.907.424 unit. Total produksi sepeda motor ASEAN pada tahun 2009 sebesar 8.588.596 unit atau turun 7% dibandingkan tahun 2008 sebesar 9.244.044 unit.

Menurut catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), produksi mobil Indonesia hingga per September 2010 mencapai angka 510.384 unit. Sementara pasar domestik industri mobil per September 2010 sebanyak 556.196 unit, dengan angka impor 59.227 unit. Sementara ekspor mobil secara utuh (CBU) hingga per September 2010 sebesar 56.282 unit dan ekspor mobil secara terurai (CKD) sebesar 42.260 unit. Sedang ekspor komponen per September 2010 sebesar 268.401 pieces.

Bagaimanapun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pasar mobil nasional pada tahun 2010 ini akan mencapai 600.000 unit atau naik 23% dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 483.000 unit. Sedang pasar motor juga ditargetkan meningkat 10% menjadi 6,4 juta unit pada tahun 2010 ini atau tertinggi sepanjang sejarah. Ditargetkan, industri otomotif akan meraih omset Rp197 triliun pada tahun 2010 ini. Dengan rincian, sumbangan dari industri mobil Rp120 triliun, sepeda motor Rp60 triliun dan industri komponen Rp17 triliun.

Direktorat Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Kemenperin memprediksi nilai PDB nasional pada tahun 2010 ini sebesar Rp5.687,6 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen. Kontribusi sektor IATT (plus industri mesin), termasuk di dalamnya sektor otomotif, diproyeksikan sebesar Rp454,3 triliun dengan pertumbuhan sebesar 4%.

Meski beragam optimisme muncul yakni keyakinan bahwa Indonesia akan mampu menjadi basis produksi automotif Asia bukanlah angan belaka, namun studi lain justru menunjukkan sebaliknya. Sebagaimana dipaparkan oleh laporan Autofacts yang dikeluarkan oleh PricewaterCooperHouse (PwC) per Oktober 2010. Dalam laporan yang berjudul “Quarterly Forecast Update, New order: 2010 world in motion” ini diungkapkan hingga 2014 mendatang, sektor automotif Indonesia hanya akan berada di ranking 16 di dunia dengan pasar hanya 834.631 unit. Meskipun ranking Indonesia ini naik dari tahun 2009 yang hanya berada di posisi 21 di dunia.

Sementara Thailand akan meraih ranking 6 di dunia dengan pasar mobil sebesar 2.611.243 unit pada tahun 2014. ranking Thailand juga naik dari tahun 2009 yang hanya berada di posisi ke-11. Urutan pertama dan tidak terkalahkan diprediksi masih akan ditempati China dengan pasar mobil mencapai 19.363.840 unit atau naik lebih dari 76% dibandingkan pasar mobil tahun 2009 yang sebesar 10.982.097 unit. Jika mengacu pada laporan PwC, maka di masa mendatang Indonesia masih akan sulit untuk mengalahkan Thailand, apalagi menjadi basis industri automotif Asia. apakah Indonesia akan mampu melampaui Thailand atau tidak? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.