| Sunday, 15 November 2009 | |
| Krisis ekonomi global ternyata tak terlalu membuat Amerika Serikat (AS) terpuruk.Negara Paman Sam itu masih meraih predikat sebagai negara bercitra terbaik 2009.Prestasi ini menggeser Australia dan Jerman yang tahun lalu menempati posisi teratas. Amerika Serikat bakal terpuruk. Itulah asumsi jamak dilontarkan banyak kalangan ketika negeri adidaya itu diguncang krisis ekonomi tahun lalu. Asumsi itu mendekati kebenaran ketika sejumlah perusahaan besar di AS mulai bertumbangan pada pertengahan tahun lalu. Sebut saja kebangkrutan Lehman Brothers yang mengagetkan banyak orang.Runtuhnya Lehman Brothers membuat sejarah finansial dunia ditulis kembali. Bagaimana tidak, Lehman Brothers, bank investasi terbesar nomor empat di dunia dengan riwayat 158 tahun, pada 15 September 2008 pukul 01.00 dini hari waktu setempat menyatakan diri bangkrut dan meminta perlindungan pada Pengadilan Distrik Kota New York. Saat itulah akhir pertarungan panjang Lehman Brothers yang sebelumnya berhasil melewati Perang Sipil Amerika Serikat (AS), masa Great Depression, Perang Dunia I dan II, resesi ekonomi era 1970 dan 1980-an, hingga serangan World Trade Centre (WTC) dan resesi 2001. Lonceng kematian Lehman Brothers berdentang keras. Meski begitu, AS ternyata masih mampu meraih prestasi dan mendapatkan predikat sebagai negara dengan citra terbaik 2009 dari 102 negara yang dinilai. Predikat ini tidak hanya berdasarkan penilaian Country Brand Index (CBI) versi FutureBrand dan Weber Shandwick’s Travel & Lifestyle Global Practice, tetapi juga berdasarkan penilaian Nation Brands Index (NBI) Ahnolt-GfK Roper 2009. Menurut FutureBrand, dalam CBI posisi AS meloncat dari posisi ketiga tahun lalu,dan meraih posisi tertinggi pertama kalinya dalam lima tahun terakhir. Sementara posisi buncit di urutan ke-102 dalam CBI 2009 adalah Libia.Selama dua tahun berturut-turut sejak 2008, Libia menempati urutan terbawah dalam CBI. Tahun lalu dari 78 negara yang dinilai, Libia juga menempati urutan terbawah. Laporan CBI yang dipublikasikan (6/11/09) ini mengungkapkan, Kanada sebagai negara yang akan menjadi tuan rumah perhelatan Olimpiade 2010 berada di peringkat kedua. Sementara Australia, yang sebelumnya selama tiga tahun berturut-turut berada di urutan pertama, kini harus melorot di urutan ketiga.Urutan keempat dan selanjutnya dalam 10 besar di antaranya Selandia Baru (4), Prancis (5),Italia (6),Jepang (7),Inggris (8), Jerman (9),dan Spanyol (10). Indeks pemeringkatan tahunan pencitraan suatu negara dalam CBI dilakukan dengan metode survei pada 3.000 pebisnis dan pelancong dari sembilan negara yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri.Mereka di antaranya dari AS, Inggris, China,Australia, Jepang, Brasil, Uni Emirat Arab (UAE),Jerman,dan Rusia. Definisi dari seringnya melakukan perjalanan ke luar negeri ini diukur bahwa pelancong melakukan perjalanan ke luar lebih dari satu kali dalam setahun. Usia responden antara 21–65 tahun, dengan komposisi gender seimbang antara pria dan wanita. Penilaian ini mengukur bagaimana sebuah negara dicitrakan dan diperingkat,kemudian diidentifikasi tren global baru yang muncul dari dua sektor ekonomi yang paling cepat tumbuhnya yakni perjalanan dan pariwisata. Di mana pariwisata diestimasikan memiliki nilai hampir USD944 miliar pada 2008. Untuk penilaian indeks tahun ini, FutureBrand bekerja sama dengan Weber Shandwick dengan menyertakan indikator penilaian didasarkan pada tema pembangunan negara dan isu pemasarannya. Analisis mendalam dilakukan pada kekuatan dan kelemahan suatu negara.Sebanyak 102 negara dinilai tahun ini. CBI juga mempertimbangkan penilaian dari kontribusi daerah atau negara bagian. Beberapa topik baru yang dinilai di antaranya sisi ekonomi dan politik dari citra suatu negara, ketidaksesuaian antara persepsi dan realitas citra (brand) suatu negara, serta fokus pada nilai baru yang mendorong pada sektor perjalanan dan pariwisata. “Ini tahun kelima bagi kami melakukan inovasi dalam penilaian CBI sehingga semakin memperbaiki kualitas metodologi dan hasil penelitian.Kategori-kategori yang dinilai tidak hanya terkait pariwisata, namun juga investasi dan kebijakan perdagangan. Meski kondisi resesi ekonomi global sedang dihadapi banyak negara, bagaimana memanfaatkan peluang dan identitas kohesif adalah sangat penting,” ujar Direktur Eksekutif Senior FutureBrand Rina Plapler dalam pernyataan resminya. Sementara itu,menurut President Weber Shandwick RenĂ© A Mack, temuan CBI menunjukkan catatan yang menarik. AS mampu memperoleh peringkat pertama tahun ini. Kondisi ini karena optimisme terhadap kondisi AS dan iklim politik terkait terpilihnya Presiden Barack Obama yang sangat memengaruhi penilaian. “Ini akan menjadi sangat menarik untuk melihat bagaimana kinerja AS tahun depan.Selain itu, bagaimana juga memahami bahwa ini dampak positif dari terpilihnya presiden baru. AS mampu memanfaatkan peluang untuk menciptakan citra kuat yang lebih baik,”ujarnya. Beragam Topik Penilaian CBI 2009 juga mengukur indikator dalam beragam topik yang relevan terkait pariwisata di antaranya bagaimana sebuah negara kecil mampu berkompetisi dengan negara besar, beragam tujuan wisata bisa menunjukkan nilainya, dan menilai negara mana yang memiliki pemasaran terbaik dan terburuk tahun ini. Catatan lain adalah topik yang fokus terkait pemanfaatan media sosial untuk mencitrakan sebuah negara dan bagaimana ikon yang ada. Kemudian, bagaimana perusahaan-perusahaan nasional dan olahraga mampu mendorong membantu pencitraan suatu negara. CBI juga memeringkat lima negara terbaik dalam kategori yang berbeda di antaranya negara dengan citra ideal untuk melakukan bisnis adalah AS (1),Singapura (2), Jepang (3), Jerman (4), dan Kanada (5).Kemudian lima negara terbaik dalam citranya melakukan perjalanan bisnis adalah Australia (1),Jepang (2),Italia (3),AS (4),dan Selandia Baru (5). Negara dengan citra terbaik dalam hal seni dan budaya adalah Italia (1), Prancis (2), India (3), Jepang (4), dan Yunani (5). Negara bercitra terbaik dalam keaslian (otentisitas) adalah Jepang (1), India (2), Peru (3), Kolombia (4),dan Bhutan (5). Sedangkan penilaian terhadap negara bercitra terbaik dalam kekeluargaan adalah Kanada (1), Australia (2),AS (3),Selandia Baru (4),dan Portugal (5).Mesir menempati posisi pertama untuk kategori negara dengan citra terbaik dalam sejarah. Di posisi kedua untuk kategori ini adalah India, diikuti Peru (3), Israel (4), dan Italia (5). Negara yang memiliki citra terbaik dalam keindahan alamnya adalah Tahiti (1),Kosta Rika (2), Kanada (3),Selandia Baru (4),dan Fiji (5). Negara dengan citra terbaik dalam keamanan adalah Kanada (1), Jerman (2), Jepang (3), Selandia Baru (4), dan Bermuda (5). Negara citra terbaik sebagai tempat belanja adalah Singapura (1),AS (2),Jepang (3),UAE (4),dan Inggris (5). Negara citra terbaik dalam hal manfaat optimal dari mengeluarkan uang adalah India (1), Meksiko (2), Thailand (3), Vietnam (4), dan Bulgaria (5). Negara citra terbaik sebagai tempat yang sangat ingin dijadikan tempat tinggal adalah Kanada (1), Australia (2), Selandia Baru (3), Swiss (4),dan AS (5). Negara citra terbaik dalam standar hidup adalah Jerman (1), Kanada (2), Jepang (3), Finlandia (4),dan Singapura (5).Negara citra terbaik dalam kebebasan berpolitik adalah Kanada (1), Jerman (2),Australia (3), Inggris (4), dan Selandia Baru (5). Negara citra terbaik dalam kecanggihan teknologi adalah Jepang (1), Jerman (2),AS (3),Singapura (4),dan Inggris (5). Laporan CBI 2009 ini memunculkan bintang baru (rising stars) yakni UAE, China, dan Vietnam yang mendapatkan predikat sebagai tiga negara pendatang baru terbaik.Tiga negara ini dianggap sebagai negara yang akan paling menjadi tujuan turis dalam lima tahun mendatang. Selain UAE, China, dan Vietnam beberapa negara lain seperti Kroasia,Afrika Selatan, dan India juga dikategorikan sebagai pendatang baru terbaik. (abdul malik/islahuddin) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/284262/ |
Senin, 16 November 2009
Negara dengan Citra Terbaik
Labels:
country branding
Ukuran Kepandaian Mengelola Negara
| Sunday, 15 November 2009 | |
| ISU terorisme pernah menjadi momok bagi citra Indonesia di dunia internasional.Kejadian Bom Bali I (2002) dan Bom Bali II (2005) membuat citra Indonesia terpuruk di mata dunia. Apalagi, dunia internasional mengidentikkan Bali sebagai branding Indonesia di sektor pariwisata. Setelah peristiwa Bom Bali, Indonesia harus bekerja keras membangun kembali citranya di dunia internasional. Masalah pencitraan (branding) negara sejatinya bukan hanya dilakukan suatu negara yang mengalami masalah (konflik), tapi hal ini dilakukan hampir seluruh negara di dunia dan kegiatan pencitraan negara merupakan ide yang menyita perhatian selama 10 tahun terakhir. Banyak cara agar citra positif muncul.Pertanyaannya, apakah hal ini sekadar propaganda atau bentuk kepandaian dalam mengelola negara? Ungkapan ini disampaikan pakar branding dunia Simon Anholt dalam artikelnya yang berjudul “Nation Branding: Propaganda or Statecraft?”.Anholt mengungkapkan, negara dengan kekuatan menengah sedang berlomba melakukan upaya untuk meraih citra nasional yang positif. Lalu dia mengambil contoh Malaysia dengan brand Truly Asia, Nigeria dengan The Heart of Africa, dan Kroasia dengan The Mediterranean as it Once Was. “Tak seorang pun meragukan bahwa negara-negara sangat bergantung pada citra mereka sebagaimana yang dilakukan perusahaan. Dengan citra nasional yang positif, dipercaya bisa menarik turis datang, investor, dan orang berbakat untuk datang, meningkatkan ekspor, dan manfaat lainnya,”ujar Anholt sebagaimana dilansir Publicdiplomacymagazine (27/06/09). Namun,ada sedikit perdebatan tentang citra positif yang dilakukan negara. Apakah hanya konsekuensi alam dari kesuksesan penyelenggaraan negara ataukah dalam kenyataan itu mungkin dicapai secara langsung dan dalam beberapa cara? Kemudian apakah citra positif merupakan cara untuk meraih penghargaan dari negara lain dan meningkatkan iklim bisnis atau memang sebenarnya memperbaiki keadaan yang sesungguhnya? Menurut Anholt, ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab dan hanya sedikit hasil penelitian yang bisa memberikan jawaban. Dalam pandangan Anholt yang merupakan penasihat Pemerintah Inggris bidang branding nasional ini,ada beberapa hal yang bisa memanipulasi persepsi khalayak secara langsung. Tanpa ada jalan lain, kondisi penciptaan reputasi sebagai prioritas bisa dianggap merupakan definisi dari propaganda. Cara ini bergantung seberapa dekat dan kendali masyarakat melampaui globalisasi yang telah membuat banyak negara semakin kesulitan meraih pencapaian terbaik. “Kita sedang hidup di dunia di mana persepsi bisa mengalahkan realitas. Krisis ekonomi merupakan bentuk contoh dari hal ini.Hari ini semua orang bicara tentang bagaimana bisa bertahan dan lolos dari dampak krisis. Pengetahuan tentang bagaimana mampu mengelola aset nonfisik adalah lebih penting ketimbang hanya mengandalkan kekuatan militer,politik, dan fiskal secara tradisional,” papar pendiri dan editor jurnal ilmiah Place Branding and Public Diplomacyini. Satu keputusan penting telah dibuat yakni sesuatu harus dilakukan guna memperbaiki citra suatu negara. Anholt menjelaskan, ada banyak pertanyaan yang benarbenar memerlukan jawaban. Sebagai contoh, beberapa pemerintah dari negara kekuatan menengah kesulitan mengukur reputasi mereka sendiri ketimbang menerima gagasan persepsi personal tentang masalah cara mendapatkan citra di antara negara-negara lain di dunia. Dengan mengasumsikan bahwa beberapa ukuran dan analisis reputasi nasional telah dibuat selanjutnya sesuatu yang penting adalah bagaimana mencapai reputasi menjadi kenyataan. “Dalam banyak kasus ada kesimpulan awal bahwa jika masyarakat tidak menyukai citra negara tersebut, berarti mereka salah. Atau jika tidak mengetahui citra negara dengan baik,mereka bodoh,”ungkap pakar branding yang sudah meluncurkan tiga jenis indeks pemeringkatan (Anholt Nation Brands Index,Anholt State Brands Index, dan Anholt City Brands Index). Padahal, kata Anholt, faktanya indikatornya lebih kompleks ketimbang kesimpulan tersebut. Untuk beberapa negara yang memiliki reputasi negatif, perbaikannya akan beragam dan berbeda bergantung apakah mereka layak menerima reputasi tersebut atau tidak. Anholt mengungkapkan, jika reputasi sudah sedemikian negatif dan lemah, suatu negara harus melakukan perbaikan dalam cara yang substansial dibanding hanya memperbaiki atau memperkuat reputasi. “Ini yang sebenarnya, ketika masyarakat mengetahui suatu negara secara lebih baik, mereka akan lebih menghargainya.Ketimbang hanya mendorong hasil-hasil tertentu,”ujar Anholt. Faktor-faktor tertentu itu di antaranya angka kedatangan turis, ekspor produk dan jasa, investasi asing langsung, rekrutmen pendidikan dan bakat, kunjungan bisnis dan diplomasi,yang menjadi tujuan utama pencitraan negara. Banyak negara sudah menghabiskan banyak anggaran untuk kampanye yang berdasarkan asumsi bahwa masyarakat tidak menghargai mereka. Dalam banyak kasus, banyak negara justru memperdaya diri sendiri.Padahal yang sebenarnya adalah mengapa suatu negara memiliki reputasi negatif, karena negara tersebut tidak mendapatkan reputasi positif. “Ketika kita berbicara tentang negara-negara kekuatan menengah isu yang relevan kebanyakan masyarakat tidak terlalu peduli dengan negara lain,khususnya jika mereka tidak mampu mencapai target kekuatan ekonomi, militer, politik,dan budaya. Bagaimana cara kita membuat diri lebih terkenal? Pemerintah dari negara ini harus bertanya apa yang bisa membuat kita menjadi lebih relevan?” ungkapnya. Permasalahannya adalah jika suatu negara mampu memperoleh reputasi yang lebih baik, secara sederhana mereka akan mengatakan bahwa hal itu tidak cukup untuk memperbaiki reputasi.Citra dari sebuah kota atau negara sulit untuk berubah. Ketika mereka melakukan perubahan, jalannya sangat lambat. Masyarakat dunia umumnya tidak terlalu banyak memberikan banyak perhatian pada bentuk kampanye negara, khususnya apabila negara tersebut tidak memiliki produk atau penawaran. Namun, sebuah brand bisa berbicara sebagian dari upaya pemerintah dibanding bagaimana membangun perusahaan produk konsumsi yang menarik. “Reputasi tidak akan bisa dibangun hanya melalui komunikasi,slogan,atau logo, tapi harus diraih,” ungkap penasihat branding yang sudah memiliki klien pemerintah lebih dari 30 negara di dunia. (abdul malik/islahuddin) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/284302/ |
Labels:
country branding
Langgan:
Entri (Atom)

