TEKNOLOGI STEM CELL YANG TERJANGKAU
Selasa, 13/11/2007
Kalangan praktisi, peneliti, dan akademisi kesehatan,di Tanah Air berencana mengembangkan teknologi stem cell (sel induk) untuk kesehatan dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.
JAKARTA(SINDO) –Meskipun masih sebatas ide pemikiran, kalangan praktisi, peneliti, dan akademisi bidang kesehatan di Indonesia sudah sepakat untuk mengembangkan stem cell yang terjangkau tersebut. Teknologi pencangkokan inti sel induk itu kini semakin menjadi tren yang dianggap bisa membantu pengobatan dalam bidang medis.
Direktur Jenderal (DIrjen) Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid Husain menyatakan, teknologi stem cell perlu dikembangkan sebagai alternatif terapi penyakit untuk kepentingan pasien dan terjangkau masyarakat.
’’Untuk Indonesia, pengembangan terapi stem cell diarahkan kepada penyakit degeneratif dan keturunan yang banyak terdapat di masyarakat.Pengembangannya perlu dikawal psikososial keagamaan,” paparnya dalam workshop tentang stem cell yang diselenggarakan Dewan Riset Nasional, pekan lalu.
Untuk mewujudkan cita-cita ini,ujar dia,kini pemerintah sudah membentuk Tim Stem Cell Nasional yang bertugas memberikan bantuan dan pembinaan bagi pengembangan stem cell di Indonesia. Sebab, hingga kini, pengobatan itu dinilai masih relatif mahal sehingga dibutuhkan teknologi yang terjangkau masyarakat.
Anggota dari tim ini meliputi pemerintah, kalangan praktisi medis,akademisi, dan peneliti bidang kesehatan. Tim yang dibentuk melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan (Menkes) No 1092 Tahun 2007 ini akan bertugas untuk membuat peraturan mengenai stem cell, baik kebijakan, standar, pedoman, SOP, dan regulasi.
Kemudian, mereka memberikan masukan mengenai perizinan unit kesehatan yang menyediakan layanan stem cell, baik penyimpanan maupun terapi stem cell. Selain itu, tim itu melakukan pembinaan teknis layanan stem cell –termasuk aspek etik dan hukumnya, melakukan monitoring dan evaluasi ke unit kesehatan yang menyediakan layanan stem cell, serta mewakili Indonesia dalam forum pertemuan stem cell dunia.
Menurut Farid,beberapa teknologi stem cell yang dikembangkan di Indonesia, di antaranya transplantasi sumsum tulang untuk leukemia dan jantung. Saat ini, pusat pengembang teknologi tersebut ada di Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, dan RS Dr Karyadi. Sementara itu, PT Cordlife bertindak sebagai bank darah tali pusat.
Bank alat dan jaringan tubuh tersebut merupakan unit kedokteran yang bertugas mengambil, menyimpan, dan mengawetkan jaringan dan alat tubuh manusia untuk transplantasi dan penggantian. Bank tali pusat swasta ini telah diresmikan Menkes pada 30 September 2007 sebagai yang pertama di Indonesia, yang merupakan joint venture dengan Cordlife Singapura dan PT Kalbe Farma.
’’Isu aktual yang berkembang adalah CW Bill Young Cell Transplantation Programme di AS menggabungkan program tali pusat nasional dan register donor sumsum tulang,”ujar Farid.
Hal senada juga disampaikan Ketua Tim Stem Cell Nasional sekaligus pakar kesehatan RS Kanker Dharmais Profesor Haryanto Reksodiputro. Dia menyatakan, meskipun sebagian besar negara memiliki pandangan berbedabeda terhadap metode pengobatan stem cell,kenyataannya Indonesia sudah cukup lama menggunakan teknologi itu.
Menurut dia, sejak 1980-an, penggunaan metode ini sudah diizinkan untuk terapi pengobatan, tapi dilarang digunakan untuk reproduksi. ’’Stem cell merupakan sel induk yang dapat berasal dari berbagai sumber, yakni sumsum tulang belakang (bone marrow), darah perifer, darah tali pusar (umbilical cord), atau embrio,” paparnya.
Dia menjelaskan, sel induk memiliki potensi yang besar dalam dunia kedokteran untuk dimanfaatkan sebagai terapi sel bagi berbagai penyakit degeneratif dan kanker yang sulit disembuhkan,di antaranya diabetes, infark jantung, stroke, parkinson, dan osteoarthritis. Meski demikian, ujar Haryanto, metode pengobatan stem cell saat ini relatif masih mahal. Untuk itulah,saat ini diupayakan pengembangan metode yang terjangkau masyarakat.
’’Butuh sekitar 700 juta rupiah untuk transplantasi. Jadi harus dikembangkan teknologi yang murah. Terlebih,sifat stem cell ini tidak akan habis,’’ ungkapnya.
Ahli Penyakit Jantung RSCM Teguh Sentosa Sukamto menyatakan, pihaknya berencana mengadakan sebuah alat yang akan mendukung kerja stem cell versi baru yang tergolong langka di dunia. Jika Indonesia berhasil mengupayakan untuk mendapatkan alat ini, akan menjadi yang terdepan di ASEAN.
Menurut dia, alat ini hanya terdapat 18 unit di dunia untuk versi barunya, sedangkan versi lamanya sejumlah 60 buah yang tersebar di RS di dunia. Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Yuda Heru Fibrianto menyatakan, kini penelitian tentang stem cell semakin berkembang,mulai untuk stem cell embrio, fetus, hingga sel dewasa.
Untuk terapi jantung, ujar dia, transplantasi sel ke dalam sel otot jantung yang rusak mempunyai strategi untuk mempertahankan daya hidup dan kontraktilitas otot jantung. Beberapa penemuan penting dari penelitian stem cell, yakni ditemukannya sebuah teknik baru untuk membentuk sel jantung yang murni dari embrionik stem cell manusia dan memformulasi campuran.
Untuk terapi syaraf, kalangan peneliti telah mempelajari sel saraf dalam sebuah teknik kultur yang baru. Untuk terapi hati, penggunaan stem cell dewasa untuk mengobati penyakit hati yang sudah kronis telah dicoba di Italia dengan hasil yang cukup baik. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/teknologi-stem-cell-yang-terjangkau.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment