Berburu Jodoh di Dunia Maya
Sabtu, 12/01/2008
JAKARTA (SINDO) – Jodoh memang di tangan Tuhan. Namun,bukan berarti tak ada usaha untuk mencari jodoh.Dari sekian jurus,berburu jodoh di dunia maya menjadi salah satu pilihan.
Zaman Siti Nurbaya memang sudah berlalu. Bukan zamannya lagi jodoh diatur orangtua. Selain itu, sekarang banyak jalan untuk mencari jodoh.Kenalan lewat teman, kawan sewaktu sekolah, kuliah, tetangga, teman sekerja, bahkan kenal sewaktu melakukan perjalanan ke suatu tempat. Seiring majunya teknologi internet, kini makin marak hubungan sosial dan perkenalan melalui dunia maya. Bisa melalui chatting, email, biro jodoh online, atau blog gratis penyedia layanan jaringan sosial –Friendster, Facebook, dan lain-lain. Kondisi ini pun dimanfaatkan penyedia jasa biro jodoh yang menyediakan layanannya secara online. Lihatlah situs birojodoh. or.id, jodoh.net, syifa.com, birojodohmuslim. com, birojodohglatik. com, dan masih banyak lagi.Layaknya sebuah pemasaran produk yang menjanjikan, maraknya biro jodoh online tersebut cukup mencerminkan pencarian jodoh lewat dunia maya semakin menjadi tren.
Meski masih dianggap masih kurang lazim, harus diakui bahwa dunia maya bisa menjadi salah satu pilihan cara untuk mencari pasangan hidup. Sebab, arus globalisasi memang tidak bisa dibendung lagi. Setiap orang bisa berkomunikasi dan ngobrollewat internet bahkan dengan orang dari negeri seberang. Atau, sekadar menjadi teman curhat layaknya sahabat pena seperti zaman baheula sebelum ada internet. Tidak jarang pula yang berhasil melaju ke pelaminan dari perkenalan melalui chatting di internet. LS, 25,wanita seorang ibu rumah tangga yang saat ini juga masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta merupakan salah satunya. LS menikah dengan H, 25, pria yang bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi di Bogor yang dia kenal melalui dunia maya. LS mengaku mengenal H dari seorang temannya melalui Friendster. Agak unik memang.Sebelumnya, LS tidak mengenal H sama sekali.
Hingga akhirnya pada Oktober 2005,mulailah mereka berkomunikasi. Pepatah ’’jika memang jodoh tidak akan ke mana”, tampaknya berlaku bagi LS. Pertama mengenal H meskipun lewat chatting, dia langsung merasakan kecocokan dan kejujurannya. Memang, dunia maya adalah dunia yang sering dianggap kurang bisa dipercaya.Namun,LS merasakan hal lain.
Setelah perkenalan itu,kemudian dilanjutkan komunikasi secara rutin antara mereka hingga bertukar foto, nomor ponsel, dan chatting melalui webcam. ’’Waktu kami berkenalan, dia ingin kami tidak hanya kenalan, juga benar-benar taaruf seperti dalam ajaran agama,”tuturnya. Hingga akhirnya pada Maret 2006, H menyatakan keinginan untuk mengakhiri masa lajangnya kepada LS hanya melalui pesan singkat (SMS). Padahal, hingga saat itu,mereka sama sekali belum pernah ketemu, kecuali berkomunikasi melalui telepon atau internet. Tentu kurang lazim bagi budaya timur seperti di Indonesia,ucapan meminang dilakukan tanpa pertemuan fisik. Namun, itulah yang terjadi. LS mengaku bermodalkan kepercayaan dari orangtuanya, dia tidak menemui banyak kesulitan ketika menjelaskan siapa calon suaminya. Saat itu, LS belum berterus terang bahwa H adalah orang yang dikenalnya lewat dunia maya.
’’Kopi darat pertama kami, ya saat dia datang ke rumah saya bersama keluarganya untuk meminang saya.Orangtua saya sepenuhnya percaya kepada saya sehingga tidak banyak pertanyaan anehaneh dari mereka,”tuturnya. Dengan berjalannya waktu, akhirnya keluarga LS tahu juga cara dia mengenal suaminya. Namun, karena kini LS telah bahagia dan memiliki seorang bayi laki-laki berusia empat bulan, tentu sudah tidak alasan bagi keluarganya untuk komplain tentang cara L mendapatkan jodoh. LS menuturkan, dia sempat juga merasa waswas dan tidak yakin dengan hubungan cyber yang dijalaninya.Namun, untuk menghindari penipuan dan ketidakjujuran, dia langsung melakukan check dan recheck terhadap orangorang yang mengenal calon suaminya tersebut.
Selain itu,dia juga memiliki trik untuk mengetahui kejujuran seseorang melalui chatting. Jika orang tersebut memang jujur, kalimatkalimatnya akan konsisten. Sementara itu, jika dia berbohong, kalimatnya akan berubah-ubah dan tampak ragu. Terakhir, cara yang selalu dilakukan LS adalah selalu berdoa kepada Tuhan tentang jodohnya. ’’Jangan pernah langsung percaya dengan ucapan orang melalui chatting,harus dicek dulu ke semua orang yang mengenalnya. Sebab,bisa jadi dia menipu kita,”ujarnya. Lain lagi kisah T,25,perempuan yang saat ini bekerja pada salah satu salon kecantikan di Jakarta juga pernah menjalin hubungan akibat perkenalannya dengan dunia maya. Namun,T tidak seberuntung LS yang melanjutkan hubungan dunia maya ke dunia nyata melalui pernikahan. T sempat menjalin hubungan dengan L,25,pria yang merupakan teman kuliahnya dulu pada 2006, tapi kandas dan tidak berlanjut ke pelaminan. T menyatakan memang sangat berhati-hati untuk memilih pasangan hidup. Kini,T sedang bersiap menuju pelaminan dengan R,26,yang dia kenal melalui temannya.LS dan T merupakan dua contoh fenomena dunia maya yang bisa dimanfaatkan untuk hubungan yang lebih serius meski tidak selalu berhasil.
’’Kalau untuk sekadar berteman dan pacaran-pacaran sih, ok. Kalau sampai ke pernikahan, kayaknya saya harus pikir-pikir dulu. Sebab, itu merupakan pasangan seumur hidup. Kita kan harus benar karakter dan latar belakangnya seperti apa,”paparnya. Pemilik birojodohglatik.com, Tuti Wahyuni,menyatakan hingga saat ini telah lebih dari 1.000 anggota yang bergabung di biro jodohnya. Dari angka itu, ratusan orang menikah berkat bantuan biro jodoh online itu.Kelebihan biro jodoh online dibandingkan konvensional bisa menerima pendaftaran anggota dari berbagai penjuru daerah bahkan dunia tanpa harus datang ke kantor biro jodoh. Menurut dia,anggota biro jodohnya dari Sabang hingga Merauke. Bahkan,warga Indonesia yang tinggal di Hong Kong dan Australia pun terdaftar di tempatnya.
’’Namun, karena saya tidak bisa bahasa Inggris, akhirnya saya belum bisa menerima anggota orang asing,”tutur Tuti,yang biasa disapa Cik Tjoe. Tuti melihat ke depan biro jodoh online miliknya akan semakin ramai. Selain itu, teknologi internet biasa diakses oleh siapa saja dan dari mana saja.Meski biro jodoh online,Tuti harus tahu latar belakang kehidupan setiap anggotanya. Itulah yang membuat para anggota merasa nyaman. Sebab, meski pendaftaran anggota bisa dilakukan via online,tetap saja dia menyelenggarakan pertemuan kopi darat bagi anggota, mulai acara tur bersama,karaoke,makan malam,hingga yang lain.
Tidak ketinggalan, kalangan eksekutif di Jakarta yang masih jomlo juga memiliki komunitasnya sendiri. Singleexecutiveclub.com merupakan salah satu contohnya. sebuah perkumpulan elite bagi mereka yang ingin mencari jodoh. Acara pencarian jodoh ini juga dikemas melalui acara makan malam,hingga pesta bersama. Klub yang merekrut anggota secara online memang eksklusif. Sebab,untuk menjadi seorang anggota harus melalui beberapa tahap. Salah satunya calon anggota harus mapan. Sebab, biaya keanggotaan mencapai ratusan dolar.Selain itu, calon anggota juga harus melewati tes wawancara. Anda mau coba yang mana? (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/berburu-jodoh-di-dunia-maya-3.html
memang Gan jari jodoh jadi lebih mudah.........
BalasHapusterima kasih