Sabtu, 19 Januari 2008

KEDELAI PLUS Bisa Meningkatkan Hasil Panen

KEDELAI PLUS Bisa Meningkatkan Hasil Panen
Jum'at, 18/01/2008
Penelitian yang dilakukan LIPI terhadap kedelai lokal membuktikan kualitasnya tidak kalah dengan kedelai impor.Dengan bakteri Rhizoma BTCC-B 64,hasil panen bisa melimpah.
BOGOR(SINDO) –Sebagian kalangan menganggap kedelai varietas lokal tidak unggul dan masih kalah dengan kedelai impor. Selain itu,untuk menanamnya tidak efisien karena hasil panennya sedikit, harga jualnya rendah, padahal biaya produksinya tinggi. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Profesor Dr Endang Sukara menyatakan, anggapan itu tidak benar.
Bahkan, jika dilihat kandungan nutrisi hingga tingkat keamanan pangannya, menunjukkan kedelai lokal yang organik dan orisinal lebih aman dibanding impor yang merupakan hasil rekayasa genetik dan menggunakan pestisida sintetik. Selain itu, jika kedelai varietas lokal tersebut ditambahkan bakteri Rhizobium BTCC-B 64 yang merupakan hasil seleksi Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi LIPI, hasilnya bisa melimpah, pemupukan hemat hingga 60%, dan kelimpahan panen meningkat hingga 100%.
Tidak hanya itu, tanah yang bekas ditanami kedelai tersebut menjadi lebih subur untuk ditanami tanaman lain.Benih kedelai plus merupakan benih kedelai yang diberi tambahan mikroba atau bakteri Rhizobium melalui cara diinjeksi dengan teknologi vakum.Mikroba ini diperoleh dari tanah.
“Mindset kita sudah salah kaprah menganggap kedelai yang berkualitas adalah kedelai yang besar seperti kedelai hasil modifikasi genetik atau GMO impor dari Amerika. Sementara itu, kedelai lokal yang ukuran bijinya lebih kecil dianggap kurang berkualitas sehingga kurang laku di pasaran,” ungkapnya.
Saat ini produktivitas rata-rata kedelai nasional sangatlah rendah, yakni 1,2 ton/ha, sedangkan di Amerika mencapai 2,3 ton/ha. Endang menyayangkan banyaknya anggapan tanaman kedelai lokal hanya cocok ditanam di daerah subtropis seperti Amerika, bukan daerah tropis seperti Indonesia.
’’Anggapan ini menyesatkan. Buktinya, dengan teknologi kedelai plus, produk lokal mampu mencapai produksi lebih dari 3 ton/ha. Bahkan, dalam beberapa kasus percobaan yang telah dilakukan produksi kedelai dapat melampaui 4,5 ton/ha,’’ paparnya.
“Dulu awalnya tempe dan tahu yang dikembangkan masyarakat Jawa adalah kedelai lokal yang berukuran kecil. Namun, dengan adanya kedelai impor yang terjamin ketersediaannya, akhirnya bergeser ke kedelai impor. Ini tidak hanya murni masalah pasokan, juga ada alasan harga atau dumping,” ujarnya.
Namun, dari segi kesegaran, dikatakan dia, jelas kedelai lokal lebih unggul ketimbang kedelai impor.Sebab,umumnya kedelai lokal yang baru dipanen, kemudian dijual langsung ke industri tempe, tahu, dan lainnya, sedangkan kedelai impor berpeluang sudah melalui masa penimbunan yang lama sebelum sampai ke pasar di Indonesia.
Selain itu, dari segi bentuk dan ukuran saat ini banyak kedelai- kedelai lokal yang berukuran sedang bahkan sama dengan biji kedelai impor,yaitu 16–22 gram/- 100 biji sesuai jenis varietasnya. “Jika diukur kandungan proteinnya, kedelai lokal itu lebih unggul dibandingkan kedelai impor. Apalagi, semua prosesnya dilakukan secara organik,”ujarnya.
Kepala Puslit Bioteknologi LIPI Profesor Dr Bambang Prasetya menjamin untuk mengubah benih kedelai menjadi kedelai plus biayanya tidaklah mahal. Untuk 1 ha yang membutuhkan sekitar 40–50 kg benih hanya dibutuhkan Rp50.000 untuk menambahkan bakterinya. Namun, LIPI hanya menyediakan teknologinya.Aplikasi dan penyalurannya ke masyarakat jelas merupakan pewenangan Departemen Pertanian (Deptan) dan lembaga terkait lainnya.
Selain itu, saat ini memang sudah banyak varietas kedelai lokal yang sudah berhasil dikembangkan Deptan dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sebutlah mulai varietas Tengger, Muria, Meratus, Rajabasa hasil pengembangan BATAN atau Wilis, Anjasmoro, Burangrang, dan Kaba hasil pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Deptan.
Dia mengatakan, dengan menggunakan teknologi kedelai plus, penanaman kedelai bisa dilakukan pada lahan marjinal atau menunggu musim saat padi tidak bisa ditanam, saat itulah kedelai plus ditanam. Lahan yang kurang subur atau rusak bisa ditanami kedelai dengan mikroba aktif ini, efeknya membuat tanah itu subur kembali.
“Jika kita ingin mengajak petani untuk mulai serius menanam varietas kedelai lokal,buatlah apa yang mereka lakukan itu menguntungkan bagi mereka. Selain itu, dukung dengan kebijakan lain,misalnya dalam hal permodalan, pembangunan pusat bibit atau benih,”saran Bambang.
Peneliti kedelai plus Harmastini Sukiman menyatakan, bakteri Rhizobium merupakan salah satu bakteri yang dipelihara dan dikoleksi LIPI. Bakteri ini merupakan modal utama untuk pengembangan pupuk hayati pengganti pupuk kimia nitrogen.Karakter dari bakteri ini adalah bersimbiosis dengan tanaman legum, seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau.
Bakteri ini akan menginfeksi perakaran dari tanaman dan hidup dengan cara membentuk bintil-bintil akar. Dia juga mampu bertahan hidup dan memperbanyak diri pada kadar asam (PH) yang sangat rendah (PH 2), mampu meningkatkan nitrogen tanah sampai 20% setelah penanaman, juga tidak memerlukan pupuk sama sekali apabila menggunakan pupuk hara dosis rendah (2 kg/ha).
“Aplikasi dari bakteri Rhizobium kepada tanaman dengan cara mencampur suspensi bakteri kepada biji kedelai. Dengan demikian, saat biji berkecambah, bakteri akan mulai menginfeksi akar kedelai dan selanjutnya membentuk bintil akar,”ujarnya.
Benih kedelai yang sudah terinfeksi itulah kedelai plus yang siap ditanam oleh petani.Namun, karena benihnya yang ada di LIPI terbatas, tentu harus diperbanyak dan pemilihan benihnya pun bisa dilakukan lembaga terkait.
Ini merupakan hasil penelitian LIPI selama lebih dari 30 tahun, yang membuktikan adanya bakteri penambat nitrogen tersebut.Hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat untuk kedelai, juga berbagai jenis tanaman pangan lain, misalnya tanaman kehutanan. (abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/kedelai-plus-bisa-meningkatkan-hasil-panen-3.html

1 komentar:

  1. Saat ini kami (Bina Usaha Mandiri Islami) sedang mengembangkan kawasan kedelai di bogor dengan mencoba melibatkan petani, sudah beberapa mesiki belum banyak tapi lumayan sebagai langkah awal.
    Membaca artikel diatas, kami tertarik untuk mencoba (kalo ada) bagaimana mendapatkan bibitnya.
    Anda bisa mengunjungi blog kami (binausahamandiriislami.blogspot.com

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment