Sabtu, 19 Januari 2008

Risiko Asma Meningkat pada Usia Menopause

Risiko Asma Meningkat pada Usia Menopause
Jum'at, 28/12/2007
Perempuan yang memasuki masa menopause memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit pernapasan, seperti asma.
PARA perempuan tampaknya mesti harus lebih memperhatikan masalah kesehatan ketika memasuki masa menopause. Pasalnya, memasuki masa menopause ternyata merupakan saat yang rentan terhadap timbulnya pelbagai jenis penyakit pernapasan, termasuk asma. Enam bulan menjelang masa menopause terjadi penurunan level hormon estrogen yang menyebabkan menurunnya fungsi organ tubuh, termasuk paru-paru sebagai organ pernapasan. Dengan menurunnya fungsi organ paru- paru, membuat bibit penyakit pernapasan lebih mudah untuk masuk,salah satunya adalah asma.
“Kami menemukan pada beberapa perempuan yang mengalami perubahan hormon menjelang masa menopause menunjukkan gejala lebih buruk terhadap asma. Jadi sangat penting untuk mewaspadai asma pada masa-masa seperti ini,” kata Dr Victoria King, Manajer Pengembangan Riset Asma, Inggris seperti dilansir Journal of Allergy and Clinical Immunology. King menyimpulkan hal itu berdasarkan penelitian terhadap lebih dari 1200 perempuan. Para relawan itu sebelum memiliki riwayat penyakit terkait dengan buruknya fungsi paru-paru dan penyakit pernapasan lainnya selama 6 bulan terakhir menjelang masa menopause.Penemuan ini menunjukkan menurunnya level estrogen, paling banyak diderita perempuan yang tubuhnya kurus. Mereka juga mengukur level hormon pada wanita yang berusia antara 45–65 tahun.
Hasilnya serupa dengan analisis pada perempuan yang tidak pernah merokok. Perempuan dengan indeks masa tubuh lebih rendah dari 23 memiliki empat kali risiko gejala sistem pernapasan. Masalah ini juga terkait perempuan dengan kelebihan berat badan. Meskipun estrogen dikurangi pada semua wanita mengikuti masa menopause,para peneliti mengungkapkan bahwa wanita yang lebih kurus tercatat paling berkurang level estrogennya. Namun,pada wanita yang memiliki masalah kelebihan berat badan, itu memunculkan efek perlindungan estrogen yang lebih dominan ketimbang faktor lainnya. Dr Victoria King menyatakan bahwa penelitian ini mengawali keterkaitan antara menopause dan asma. Bagaimanapun ini terlalu awal untuk menyatakan secara tepat bagaimana menopause memberikan dampak gejala asma, dan siapa saja profil orang yang paling berisiko terkena asma ini.
“Yang paling menarik adalah tentang dukungan dari penemuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa efek menopause mungkin pada fungsi paru-paru, akan menjadi lebih tinggi pada wanita kurus yang memiliki indeks masa tubuh lebih rendah,”paparnya. Dr Francisco Gomez Real dari Universitas Bergen,Norwegia, menyatakan bahwa petugas klinik harus menyadari pertumbuhan risiko asma dan menurunnya fungsi paru-paru pada wanita ketika menjelang masa menopause. “Masalah ini muncul dan akan menjadi berkurang di antara wanita dengan indeks masa tubuh 25,”katanya. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pekerjaan membersihkan rumah bisa menyebabkan asma.
Sebuah studi yang menggunakan peralatan spray pembersih rumah dan penyegar udara sedikitnya sekali seminggu bisa meningkatkan risiko terkena asma. Penggunaan yang lebih sering dari peralatan ini sangat berhubungan dengan asma, namun studi terakhir menunjukkan bahwa pemakaian jarang atau sekali-sekali pun tetap memberikan risiko. Studi yang dilakukan di Spanyol dengan melibatkan 3500 responden ini dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Meningkatnya risiko asma ini sangat terkait dengan frekuensi pembersihan dan spray yang digunakan.Pembersih udara spray pembersih gelas dan furnitur membawa risiko tertinggi terhadap asma.
Paparan pembersih produk ini diestimasikan 15% atau penyebab satu dari lima kasus asma pada orang dewasa, demikian hasil studi. Secara rata-rata, risiko menjadi 30–50% lebih tinggi pada orang yang secara reguler menggunakan spray dibandingkan alat pembersih lainnya. Dalam diagnosis insiden kasus asma menjadi lebih tinggi dalam penggunaan spraysetidaknya 4 hari dalam seminggu. Studi yang dipimpin Dr Jan Paul Zock dan koleganya dari Municipal Institute of Medical Research di Barcelona menyatakan bahwa dibutuhkan tujuan mekanisme biologi di balik meningkatnya risiko. “Itu mungkin bahwa spray mengandung zat iritasi khusus yang bisa menyebabkan asma,”katanya. (BBC/abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama-sore/risiko-asma-meningkat-pada-usia-meno.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment