Mengelola Keuangan untuk Masa Depan
Selasa, 08/01/2008
BERINVESTASImelalui reksadana bisa menjadi salah satu pilihan pengelolaan keuangan masa depan. Bagaimana cara berinvestasi dan memilih manajer investasi yang baik?
Setiap orang pasti menginginkan bisa mencapai kemandirian finansial yang mapan.Selain menabung, investasi reksadana merupakan salah satu cara yang semakin menjadi tren akhir-akhir ini. Sebagian besar kalangan menganggap hal itu kurang aman. Namun, tingkat pengembaliannya yang tinggi cukup menggiurkan sebagai pilihan berinvestasi.
Perbandingan paling sederhana, jika berinvestasi melalui deposito memperoleh bunga sekitar 8%,sedangkan surat obligasi 12,5%, dan reksadana bisa mencapai 18%. Ada beberapa catatan penting sebelum seseorang memutuskan untuk berinvestasi reksadana. Salah satunya adalah mulai berhitung berapa jumlah uang yang bisa diinvestasikan.
Sebaiknya, gunakan dana atau uang yang benarbenar nganggur (idle) bukan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak. Jika masih memiliki kredit atau pinjaman di bank, itu berarti belum waktunya untuk melakukan investasi reksadana. Sebab, tidak jarang ada orang meminjam uang dalam jumlah besar dari bank, kemudian uang tersebut diinvestasikan ke pasar saham yang sangat fluktuatif.
Jenis ini tidak hanya akan menyulitkan diri sendiri, juga menjerumuskan diri dalam berbagai masalah. Setelah semua kebutuhan primer, sekunder, tersier, terpenuhi, dan tidak memiliki pinjaman atau kredit di bank, baru bisa berpikir untuk menanam investasi. Ketua Umum Asosiasi Wakil Manajer Investasi Indonesia Putut E Andanawarih menjelaskan, investasi reksadana merupakan investasi jangka panjang.
Lagi pula, dengan reksadana yang berbasis saham tersebut, hasilnya tak bisa dilihat dalam waktu singkat karena dipengaruhi pergerakan bursa saham yang cepat dan tak terduga. ’’Uang yang digunakan untuk investasi pasar saham melalui reksadana harus benar-benar uang yang ’’dingin’’. Bukan uang untuk kepentingan primer, sekunder, ataupun tersier,”ujarnya.
Putut menambahkan, meskipun tingkat orang yang berinvestasi di reksadana masih sedikit dibanding dengan pemegang deposito, secara perlahan dan pasti investasi yang menggunakan jasa manajer investasi ini semakin menjadi tren. Selain itu, dengan semakin banyaknya jumlah investor, bursa pun semakin mapan dan tidak mudah goyah.
’’Sekitar 2005, investasi reksadana pernah menjadi primadona. Kini menjelang akhir 2007, reksadana kembali mendapat tempat. Saya yakin ke depan, investasi itu akan semakin menjadi tren untuk berinvestasi,”paparnya.
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), jumlah nasabah manajer investasi (MI) jelang akhir 2007 melonjak secara signifikan. Tercatat, per Oktober 2007 berjumlah 3.443 atau naik 91% dibandingkan periode yang sama pada 2006 sebanyak 1.797.
Sementara itu, dari segi dana kelola sebesar Rp122,636 triliun per Oktober 2007, naik 72,37% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,yaitu Rp71,146 triliun. Hingga Desember 2006, tercatat jumlah nasabah sebesar 2.022 dengan dana kelola Rp78,678 triliun.
Meski demikian, Putut mengimbau masyarakat agar tidak hanya tergiur dengan iming-iming pengembalian (return) yang tinggi. Ketika memilih manajer investasi perlu dilihat juga strategi yang digunakan fund managertersebut secara harian, bulanan, bahkan tahunan. Dengan cara ini, seorang calon investor harus tahu betul track record sebuah perusahaan manajer investasi yang akan digunakan.
Sebab, bisa jadi kinerja perusahaan fund manager tidak sama setiap bulannya.Ada kalanya bulan ini naik dan bulan berikutnya turun. Namun, dengan melihat track record, tidak hanya harian, bulanan, dan tahunan, juga akan diketahui apakah manajer investasi itu memang mapan dalam mengelola investasi.
Sebelum berinvestasi, calon investor juga harus tahu produk reksadana dari manajer investasi itu, apa saja dan bagaimana mengelola investasi. Biasanya, produk tersebut itu ada top ten produk. Setiap manajer investasi itu memiliki karakter pengelolaan yang berbeda satu sama lain.
’’Termasuk, kita harus tahu siapa saja orang yang berinvestasi di situ. Sebab, ini juga penting. Dengan mengetahui siapa saja yang juga berinvestasi di sana,bisa menjadi salah satu ukuran untuk mengukur kinerja perusahaan manajer investasi tersebut,”paparnya.
Bahkan, ujar dia, tidak hanya pelayanan sewaktu penjualan, juga pelayanan purnajual, yakni dalam hal transparansi dan up date informasi tentang laporan kinerja setiap bulan. Seorang investor juga berhak tahu strategi pengelolaan yang dilakukan perusahaan manajer investasi.
Meskipun belum membudaya di Indonesia, hal itu sudah menjadi hal yang lazim dilakukan di negara maju. Pada awal tahun, perusahaan manajer investasi harus secara terbuka menyampaikan strateginya selama satu tahun itu kepada para investor. Sebab, strategi ini bisa mencerminkan performa dari perusahaan tersebut.
’’Jadi, kita harus tahu betul siapa pemiliknya, siapa saja orang di balik perusahaan tersebut, bagaimana dukungannya, bahkan strategi dan share holder-nya. Keterbukaan strategi ini bisa dengan pemaparan strategi dan prediksi pasar saham dalam kurun waktu satu tahun berikutnya tersebut,” tuturnya.
Tidak kalah penting, ujar dia, harus dipastikan bahwa dana yang dibelanjakan di reksadana tidak dibelanjakan hanya pada salah satu produk. Dengan total produk saham yang mencapai ratusan dengan jenis konservatif maupun agresif, pembobotannya dilakukan secara berbeda.
Dalam hal pembobotan ini, setiap perusahaan manajer investasi memiliki strategi yang berbeda tidak hanya dengan pertimbangan ilmu pengetahuan yang rasional, juga seni berinvestasi. Jika telah melalui bermacam pertimbangan namun masih memerlukan pertimbangan untuk memulai berinvestasi di reksadana, hal itu tidak masalah. Sebab, meskipun kecil, berinvestasi di tanah, rumah, atau emas juga cukup menguntungkan. ’’Dont put your money in one basket,” tandasnya.(abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/mengelola-keuangan-untuk-masa-depan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment