Sabtu, 19 Januari 2008

Meneropong Matahari Bisa Dilakukan Sepanjang Hari

Meneropong Matahari Bisa Dilakukan Sepanjang Hari
Senin, 24/12/2007
Teropong matahari ini tidak hanya untuk kepentingan penelitian, publik pun bisa meneropong matahari menggunakan teleskop ini. Kepala Observatorium Boscha Taufik Hidayat menyatakan, saat ini sedang dibangun lima teropong yang bisa digunakan untuk mengamati aktivitas matahari.
Tiga di antaranya merupakan teleskop Coronado yang bisa digunakan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan. Satu lainnya merupakan teleskop proyeksi yang bisa digunakan masyarakat umum, sedangkan yang terakhir merupakan teleskop Celestro 11 inci yang bisa digunakan untuk meneropong matahari saat malam. ’’Saat ini, tiga teleskop sudah selesai dibuat,sedangkan teleskop proyeksi sedang tahap penyelesaian, tinggal peralatan dan perangkat untuk teleskop malam yang belum selesai.Kami targetkan semua sudah selesai dibuat dan digunakan pada pertengahan 2008.Kami masih menunggu donatur yang mau membantu proyek itu,” ujar Taufik kepada SINDO.
Taufik menjelaskan, pembuatan teleskop Coronado maupun proyeksi meski lensanya diimpor dari perusahaan lensa ternama di Amerika Serikat, rancangan desain dan rangkaiannya dibuat oleh teknisi dalam negeri. Untuk mendesain dan membuat teleskop tersebut, Boscha dibantu tenaga ahli teknik elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ini, Indonesia membutuhkan peralatan yang memadai untuk mengamati pergerakan dan perilaku matahari sebagai masukan bagi ilmu pengetahuan dalam negeri. Tujuannya sumbangan dari pengetahuan tersebut untuk mengetahui kapan terjadinya flare (luapan) sinar matahari, yang biasanya memengaruhi kinerja satelit di ruang angkasa. Menurut Taufik, pola siklus aktivitas matahari dibagi dalam dua kali 11 tahunan, yakni 11 tahunan siklus aktif dan 11 tahunan siklus tenang.Teropong yang sedang mereka buat memiliki ukuran yang relatif mini.
Untuk tiga teleskop Coronado hanya memiliki diameter lensa 6 cm dan panjang fokus 30–40 cm.Meskipun bentuknya kecil, alat itu didesain khusus untuk melihat aktivitas matahari, garis spektrum matahari, H-alva,white light (sinar putih) matahari, garis franhouver, dan lain-lain. Kemudian tinggi-rendahnya aktivitas matahari juga akan tampak dari banyaknya noktah dalam citra matahari yang didapat melalui pengamatan. Dari aktivitas matahari itu, peneliti pun bisa melihat anomali cuaca di bumi. Teleskop matahari tersebut dibuat dengan dana bantuan Belanda yang sudah diajukan sejak 2006, tapi baru turun pada awal 2007 ini.
’’Cara kerja alat ini adalah objek matahari yang tertangkap itu diteruskan dengan menggunakan lintasan optik tertentu,kemudian dipantulkan sedemikian rupa dalam cermin untuk mendapatkan gambaran matahari tersebut secara keseluruhan,”ujarnya. Meskipun pengamatan aktivitas matahari ini bisa diamati publik melalui internet dan disambungkan ke LCD proyektor di ruang pertemuan atau ruang ceramah Boscha,penggunaan teleskop Coronado lebih difokuskan untuk kepentingan ilmiah. Ini merupakan jawaban akan kebutuhan teropong matahari sebagai sumbangan pengetahuan di dalam negeri.
Sementara itu,bagi masyarakat yang ingin melihat langsung aktivitas matahari bisa menggunakan teleskop proyeksi, tapi kapasitasnya terbatas. Teleskop rangkaian desain dari ahli dalam negeri ini bekerja secara realtime langsung saat itu juga. Dengan demikian, hasil pengamatan dari teleskop direkam dalam data digital yang bisa digunakan untuk tujuan penelitian. ’’Ini memang terkait dengan kajian fisika matahari, yakni memonitor aktivitas matahari dari menit ke menit,”ujarnya. Pengamatan pola perilaku matahari itu bisa memprediksi peristiwa yang akan terjadi di matahari, misalnya aktivitas flare matahari yang merusak satelit di luar angkasa. Dengan demikian, ketika peristiwa itu terjadi, bisa dilakukan langkah antisipasi agar satelit tersebut tidak rusak terkena luapan sinar matahari.
’’Dengan penelitian aktivitas matahari ini,kami harap akan bisa memprediksi kapan flare itu terjadi sehingga satelit komunikasi milik kita tidak rusak terkena dampaknya,” paparnya. Meskipun pembangunan teleskop ini belum mencapai final, masyarakat Indonesia boleh berharap segera bisa mengamati matahari melalui teropong itu di Boscha.Kenyataannya, hampir semua teropong dan gedung pun sudah selesai dibangun di sebelah teleskop Bamberg seluas 60 m2.Namun, tinggal menunggu satu teropong lagi yang masih terkendala pendanaan. Dengan kehadiran teleskop malam itu, Boscha akan dibuka 24 jam untuk melayani pengunjung.Secara prosedural, untuk bisa mengamati ruang angkasa dari Observatorium Boscha masih tetap dengan mekanisme pemesanan dan berkelompok.
Dia menambahkan, Boscha tidak hanya sebagai lembaga penelitian, juga menjalankan fungsinya untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat. Rata-rata pengunjung Observatorium Boscha per hari sebanyak 500 orang dari penjuru Indonesia. Kapasitas itu sengaja dibatasi agar tidak mengganggu aktivitas penelitian di sana.Rata-rata kunjungan masyarakat per tahun sebanyak 60.000 pengunjung dari kalangan pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum. Untuk itulah,Boscha akan dibuka 24 jam agar banyak pengunjung yang datang ke sana.Taufik menjelaskan, teleskop untuk meneropong matahari tersebut bukan sepenuhnya merupakan peralatan baru.
Sebab, sebagian rangkaiannya merupakan bekas teleskop topografi yang dirancang dan didesain sedemikian rupa. Saat ini, di Observatorium Boscha yang dibangun sejak 1923– 1928 dan terletak sekitar 1.310 meter di atas permukaan laut itu terdapat lima unit teleskop besar. Kelima unit itu adalah teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Schmidt Bima Sakti, Cassegrain GOTO, Refraktor Bamberg,dan Refraktor Unitron. Selain di Lembang, Kab Bandung, peneropong matahari lebih dulu dimiliki Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Tanjungsari, Kab Sumedang,Jawa Barat. (abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/meneropong-matahari-bisa-dilakukan-sepanjang.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment