Sabtu, 19 Januari 2008

Merokok Bisa Sebabkan Gangguan Pendengaran

Merokok Bisa Sebabkan Gangguan Pendengaran
Senin, 07/01/2008
Bahaya merokok ternyata sangat kompleks.Rokok tak hanya memicu kanker, juga penyakit lainnya, seperti jantung. Bahkan, remaja perokok atau bayi yang lahir dari ibu perokok sangat berisiko terkena gangguan pendengaran.
Dalam eksperimen yang dilakukan para peneliti dari Universitas Yale,Amerika Serikat (AS),terhadap 67 remaja, ditemukan bahwa paparan asap rokok mengakibatkan masalah pendengaran yang tidak fokus.Tim peneliti menyatakan, dari hasil scan menunjukkan bahwa paparan asap rokok mengubah kinerja otak ketika menyalurkan pesan suara. Temuan ini telah dipublikasikan dalam majalah New Scientist.
Ketua Tim Peneliti Leslie Jacobsen menyatakan, mereka meneliti dengan mengamati kerja sumsum otak dan menemukan bahwa paparan asap rokok mengakibatkan masalah yang lebih serius. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa anak-anak dengan pertumbuhan terlalu cepat memiliki masalah dalam menyalurkan dan menginterpretasikan suara.
Para peneliti percaya bawa produksi yang terlalu berlebihan dari sumsum otak bisa disebabkan oleh stimulasi nikotin,sebuah zat kimia yang disebut acetylcholine. Bukti lebih lanjut disediakan melalui tes komputer pada remaja berusia 13–18 tahun secara lengkap. Saat mereka diminta untuk mengenali kata-kata yang direkayasa dengan gambar visual atau dengan kegaduhan.
Di antara remaja pria yang diuji, mereka yang terpapar dengan asap rokok hanya 77% benar, sedangkan remaja yang tidak terpapar asap rokok bisa mendapatkan nilai 85% benar. Pada remaja perempuan,mereka yang terpapar asap rokok hanya 84% yang benar, sedangkan yang tidak terpapar sebanyak 90%.
Leslie mengatakan, hasil ini menunjukkan ada perbedaan signifikan hasil dari menginterpretasikan suara atau pesan bagi yang terpapar asap rokok dan yang tidak terpapar asap rokok.
“Tentu ini akan sangat menjadi masalah bagi remaja ketika mereka sedang berada di dalam ruang kelas dan sulit memahami pelajaran yang diajarkan guru mereka. Atau,mereka lebih lambat memahami daripada remaja yang tidak terpapar asap rokok,”paparnya. “Beberapa kondisi lainnya, seperti gangguan perilaku,sehingga membuat mereka tidak lulus dalam sekolah,”ujarnya.
Direktur Institut Telinga dari University Colleg Londin David McAlpine setuju dan menyatakan bahwa temuan ini sangat menarik.Menurut dia, faktanya, para perokok memang menunjukkan perubahan.Artinya, kemampuan mereka untuk mendengarkan ucapan seseorang menjadi berkurang. Richard Todd dari Universitas Washington menambahkan, efek pada sumsum otak memang sangat kentara. “Itu kelihatan bahwa kerentanan kerja otak yang panjang bagi para remaja,” tandasnya.
Sementara itu, hasil penelitian dari Universitas California di San Diego menunjukkan, dibandingkan orang dewasa di AS, remaja cenderung lebih mudah dan sukses untuk berhenti merokok. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health menganalisis data survei penggunaan tembakau pada 2003 untuk mengevaluasi hubungan antara angka penghentian merokok yang terkait perilaku antara dua kelompok umur, yakni orang dewasa dan remaja.
Para peneliti dari Universitas California menemukan, sebanyak 84% remaja usia 18–24 tahun dilaporkan secara serius berhenti merokok dalam masa satu tahun, dibandingkan 64% dari kelompok usia 50–64 tahun. Proporsi dari ketergantungan merokok bagi mereka yang telah berhenti setidaknya lima bulan, secara umum menurun seiring bertambahnya usia.
Dibandingkan kelompok usia dewasa,para remaja kurang menyukai menggunakan obat-obatan dan merokok dengan jumlah batang rokok lebih sedikit setiap harinya. “Itu tampak layaknya berhenti merokok pada usia 18–24 tahun juga merefleksikan perubahan norma pada dekade sebelumnya. Upaya pengendalian penggunaan tembakau pada masa mendatang harus bertujuan bagaimana meningkatkan penghentian merokok pada perokok remaja,dengan melanjutkan target pada norma sosial,” ujar peneliti. (BBC/UPI/abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama-sore/merokok-bisa-sebabkan-gangguan-penden.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment