Saturday, 14 February 2009
Jalan berliku dijalani sejumlah pengusaha dalam membangun bisnis. Namun,lewat kerja keras dan inovasi, sukses kini diraih.
Ada anggapan yang menyebutkan, berwirausaha atau menjadi pengusaha adalah persoalan bakat. Ternyata,anggapan itu salah. Berwirausaha bisa dipelajari dan dilakukan siapa saja.Semua orang berkesempatan sama untuk menjadi pengusaha sukses.
Namun dengan catatan, dalam menjalankannya harus didasari cinta dan minat yang mendalam. Itu akan memacu seseorang untuk mencurahkan segala perhatian dan energi agar usahanya berhasil. Strategi ini menjadi kunci keberhasilan Marius Widyarto yang sukses berbisnis industri garmen dengan produk kaos Caladi 59 (C59).
Merek kaos C59 diambil dari nama sebuah gang kecil di Kota Bandung. Melalui bendera PT Caladi Lima Sembilan, Marius berhasil membangun merek yang diminati masyarakat. Kini, usahanya sudah memiliki delapan kantor cabang pemasaran yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
”Indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa yang semuanya dipastikan membutuhkan kaos,”tandasnya. Dalam menjalankan bisnis, Marius menggunakan resep ”sirik”(suka,imajinasi,relasi, inisiatif, dan komunikasi).
Bermodalkan kesukaan, kata Marius, dia memahami betul apa yang sedang dikerjakan. Dengan begitu, celah bisnis yang belum dilirik orang pun bisa dideteksi.Ketika awal membangun bisnis pada 1980, Marius mengandalkan desain kreatif yang belum banyak digarap orang.
Saat membangun usahanya, Marius hanya bermodalkan sebuah mesin jahit yang didapat dari hasil menjual kado pernikahan. Lewat koleganya diajuga menggadaikan ijazah SMA ke pabrik agar bisa mendapat suplai bahan baku. ”Jika bukan atas dasar kepercayaan, pabrik kain tersebut tidak akan memberikan pinjamanbahanbaku,” kenangnya saat dihubungi SINDO.
Saat memperkenalkan produk C59 secara massal, Marius bekerja sama dengan penyelenggara Pameran Dirgantara di Bandung pada 1986.Saat itu dia menawarkan produk kaos dengan desain tema-tema kedirgantaraan. Ternyata, desain kaos pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan Bandung 1980 itu laku keras. Dia pun kebanjiran pesanan. Lewat kaos C59, kini Mas Wid— begitu dia biasa disapa—bisa meraup omzet sekitar Rp5,6 miliar per tahun.
Inovasi
Inovasi menjadi modal utama Yesaya Surya Widjaya, pemilik PT Raja Baksomas Mandiri dalam menjalankan usaha. Meski hanya melanjutkan usaha keluarga, pria peraih master lulusan Universitas Hawaii Pacific bidang komputer ini justru semakin terpacu berinovasi.Sebelumnya, usaha keluarga yang dimiliki hanyalah sebuah restoran bakso. Lewat tangan dinginnya, restoran tersebut kini menjadi sebuah industri makanan beku (frozen).
Mulai produk berbagai jenis bakso, ayam goreng, hingga sop buntut dalam kemasan beku tanpa bahan pengawet. Yesaya mulai menjalankan bisnis keluarganya itu sejak 1998. Dalam pengembangannya, Yesaya mengemas konsep bisnis restoran dalam tiga bentuk yakni Bakso Super Resto, Super Bento, dan RBiz Resto.
”Awalnya saya melakukan pengembangan atas produkproduk yang sudah ada. Kemudian saya mulaimengeluarkan produk-produk baru. Inovasi adalah kunci penting dalam melakukan usaha,”paparnya. Kini dengan bekal keuletan dan kerja keras, PT Raja Baksomas Mandiri telah dipasarkan di 14 resto dengan menggandeng 40 mitra usaha.
Sayap bisnisnya pun telah merambah hampir di seluruh kota di Indonesia, di antaranya Balikpapan- Kalimantan, Medan- Sumatra, Papua, dan beberapa kota di Pulau Jawa antara lain di Tegal,Kudus,Blitar,dan Malang, dengan total omzet sekitar Rp5 miliar per tahun. Hal serupa juga dilakukan Herlina Mustikasari Mohammad, pemilik Lembaga Kursus Bahasa Inggris Easy Reader yang juga mengandalkan kekuatan inovasi dalam menjalankan bisnis.
Ide awalnya dari upaya dia membantu anak sulungnya agar bisa cepat belajar membaca bahasa Inggris.Dari situ,Herlina justru menemukan metode sistem fonik.Cara ini terbukti jitu membantu anaknya belajar membaca bahasa Inggris dengan cepat. Tidak hanya itu, temuannya ini justru menjadi ceruk bisnis yang hingga saat ini digeluti.Awalnya Easy Reader hanya dibuka di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) City dan Pamulang Tangerang, kini telah berkembang dengan sistem kemitraan di wilayah Depok,Bogor,dan Jakarta.
Hingga saat ini, Herlina telah membuka delapan buah lembaga pendidikan Easy Reader yang tersebar di Jabodetabek.Dengan konsep waralaba, kini Herlina berniat semakin memperlebar sayap bisnisnya di kota-kota lain di Indonesia.Usaha yang dibuka sejak 2006 dengan modal awal Rp76 juta itu kini telah mendatangkan omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.Modul pembelajaran bahasa Inggris yang ditemukan Herlina cukup membantu pendidikan kursus bahasa Inggris bagi murid-muridnya.
Kerja Keras
Dalam mencapai sukses, kerja keras menjadi modal bagi Andianto Setiabudi, pemilik Cipaganti Group, sebuah bisnis yang kini beromzet sekitar Rp10 miliar per bulan. Meski hanya lulusan SMA,Andianto, pria kelahiran Banjarmasin, 5 Desember 1962 itu,tidak pernah merasa minder dalam menjalankan usaha.
Sejak kecil,Andi—begitu dia biasa disapa—sudah akrab dengan dunia pemasaran. Usai pulang sekolah,Andi kerap membantu ibunya berjualan kue kering.Pekerjaan ini dilakukannya sejak duduk di bangku SMA. Setelah menamatkan sekolah, Andi enggan mengikuti saran orangtuanya melanjutkan ke perguruan tinggi.
Dia memilih berwirausaha. Dalam benaknya,uang untuk kuliah lebih baik dijadikan modal usaha.Sejak 1986, dia mulai merintis jual beli mobil. Mobil bekas pertama adalah mobil boks orangtuanya. Dari hasil penjualan tersebut, dia membeli beberapa mobil bekas untuk dijual lagi. Namun, setelah beberapa tahun bergumul dengan mobil bekas, pasaran mobil second mulai menurun.
Dia pun akhirnya memilih banting setir dengan mulai usaha penyewaan mobil. Kini, Andi juga memiliki usaha yang bergerak di bidang properti. Berkat kerja kerasnya, dia mendapatkan penghargaan dari Enterprise 50 Award pada 2004 dan Finalis Ernst & Young Entrepreneur of the Year 2005. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment