Tahun 1986 silam, Swandani masih berjualan rujak dan es jus di garasi rumah sederhananya di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Saat itu, dalam sehari omsetnya rata-rata hanya Rp 5000. Siapa menyangka, kini Swandani telah memiliki restoran tradisional, RM Dapur Solo dengan omset Rp 10 juta per hari dengan keuntungan bersih 30 persen. Selain itu ia juga menggandeng beberapa pedagang kaki lima untuk diajak berjualan di restoran miliknya. Apa saja kiat suksesnya?
Ibu dari seorang putri asli Solo ini, memiliki hobi unik. Kerja, makan, dan jalan-jalan. Swandani (44), setelah lulus dari Institut Perhotelan (Inhai) Bandung, jurusan tour and travel tahun 1984 silam, ia langsung menikah dengan Heru Kumarga kemudian mecoba mengadu nasib di Jakarta. Saat itu Heru, suami Swan langsung diterima bekerja sebagai Assistant Manager pada sebuah perusahaan pengembang proyek perumahan Sunter. Swan yang tinggal di rumah seluas 7x19 meter fasilitas perusahaan tempat kerja suaminya, setahun setelah menikah langsung dikarunai anak. Saat itu ia tidak dapat melakukan hobinya, kerja, makan, dan jalan-jalan.
Setelah anaknya lahir, jiwa petualang Swan mulai berontak dan meminta ijin suaminya untuk bekerja di salah satu perusahaan travel. Namun karena anaknya masih bayi, suaminya melarang bekerja jauh dari rumah. Berbekal modal usaha Rp 100 ribu pemberian suami, tahun 1986 silam Swan membuka warung menjual rujak dan es jus yang dijual kepada anak-anak tetangga sekitarnya. Blender sebagai kado ulang tahun dari suaminya, akhirnya ia gunakan untuk membuat es jus. Sementara modal usaha Rp 100 ribu ia gunakan untuk membeli serutan es, mangkok dan sisanya dibelikan buah-buahan sebagai modal kerja. Meja untuk berjualan pun dibuatkan suami dari kayu sisa proyek. Garasi kecil rumahnya dimanfaatkan Swan sebagai tempat berjualan.
“Saya jualan rujak dan es jus yang beli anak-anak tetangga. 1 gelas Rp 300 perak, rujak Rp 300 perak. Ya pokoknya sehari cuma dapat Rp 5000. Kalau hujan paling cuman dapat Rp 3000,” kenang Swan.
Sebarkan Brosur
Lokasi rumah Swan yang berdekatan dengan perkantoran Astra dan komplek perkantoran lainnya ternyata cukup potensial. Dengan menggunakan sepeda mini, setiap sore Swan berkeliling ke perkantoran dan perumahan menyebar brosur tulisan tangan tinta spidol yang isinya bahwa ia menyediakan rujak dan es jus yang bisa dipesan antar dengan mencantumkan nomor telepon rumahnya. Sementara anaknya yang baru berusia 2 tahun, ia boncengkan di keranjang depan sepeda. Setiap sore Swan meyebar sebanyak 30 brosur. Sementara paginya, dengan menggunakan sepeda mini ia belanja ke pasar.
“Brosur saya tulis pakai tangan dengan menggunakan spidol, butuh rujak silahkan hubungi nomor telpon ini, kemudian saya antar. pakai sepeda mini. Belanja ke pasar pun pakai sepeda mini. Kemudian, jika ada pesanan, anak diboncengkan di keranjang sepeda, kemudian pesanan diantar keliling,” papar Swan.
Lama-kelamaan, berdasarkan pesanan pembeli Swan menambah menu gado-gado. Padahal, cara membuat gado-gado saat itu Swan tidak tahu. Kemudian Swan pergi ke penjual gado-gado untuk membeli sekaligus melihat proses pembuatan gado-gado. Setelah itu, ia mencoba membuatnya sendiri di rumah. sementara ketika pulang kantor suaminya bertugas untuk menguji rasa gado-gado buatan Swan. Beberapa kali mecoba, namun rasa gado-gado buatan Swan masih belum pas juga. Meski demikian, setelah beberapa kali mencoba akhirnya ditemukan juga rasa gado-gado yang pas.
“Lama-lama, dari brosur yang saya sebar. Pembeli dari kantoran pada datang, mobil pada datang, padahal rumah saya di gang sempit. Kemudian di garasi itu ditempelin kayu selebar 30 cm sebagai meja terus dikasih kursi menghadap tembok, Kayak warung. Akhirnya tambah menu ayam goreng. Akhirnya ketika sumai ada waktu luang ikut mengantarkan pesanan, mulai antar ke perumahan. Penghasilan sudah mulai menyamai gaji suami. Saat itu saya nggak pakai pekerja, cuman pakai bantuan 2 pembantu rumah saya,” kata Swan.
Mulai Beli Ruko
Usaha jika ingin maju, maka harus berani ambil resiko. Itulah yang dirasakan Swan. Pada tahun 1990 silam, ketika dibangun proyek Ruko Sunter Paradise II, ia memberanikan diri mengambil kredit. Dibantu desain oleh teman, Ruko itu disulap menjadi restoran. Selain itu penyebaran brosur juga terus dilakukan. Guna menambah resep menu baru, Swan belajar dari keluarga dan tetangganya di kampung halaman. Sembari mencari resep baru, Swan juga merekrut 5 - 10 pegawai yang merupakan tetangganya. Nama rumah makan pun telah menggunakan nama Rumah Makan Solo.
“Saya berfikir kalau usaha hanya digarasi rumah seperti ini tidak akan pernah maju. Akhirnya disini ada proyek pertokoan baru dibuka. mengambil kredit, tahun 1990 untuk Ruko sunter paradise II. Sejak di Ruko inilah saya bener-benar merasa namanya dagang,” ujar Swan.
Sementara komplek perumahan Sunter mulai ramai, mulai dibangun ruko dan perumahan baru. Karena menjalankan berdasarkan hobi, Swan mengaku menjalani usahanya dengan sepenuh hati. Dengan segmen menengah kebawah, setiap jam makan siang selalu ramai oleh pembeli. Setiap ada tambahan menu baru, promosi selalu dilakukan dengan mempersilahkan kepada pembeli untuk mencicipi secara gratis. Hobinya makan, justru membawa keberuntungan. Lidah Swan menjadi terlatih untu merasakan mana masakan enak, dan mana yang tidak. Ternyata, lidah yang dimiliki Swan mampu menjadi standar lidah banyak orang.
Masa krisis ekonomi, Swan mengaku mengalami penurunan omset sekitar 10-20 %. Namun setelah itu segera pulih. Sebaliknya, justru perusahaan tempat suaminya bekerja belum juga pulih akibat krisis monter. Saat itu suaminya telah mencapai posisi general manager.
One Man Show
Namun seperti kebanyakan pengusaha UKM lainnya, adalah kelemahan dalam sisi manajemen one man show. Swan seolah menjadi titik sentral semua aktifitas rumah makannya. Mulai kualitas masakan, pelayanan kepada pelanggan, dan kebersihan. Menyadari kondisi ini Akhirnya tahun 2003 lalu, dibantu suaminya Swan mulai membenahi manajemen usahanya. Mulai membuat standarisasi resep untuk menjaga agar kualitas rasa tetap stabil.
Tampilan atau desain diperbaiki dengan gaya modern guna menampilkan kesan bersih.
“Prinsipnya tidak mau sekedar punya warung makan. baru kebuka pikirannya. Kalau nanti tua, padahal sudah merintis 10 tahun, nanti giliran tua tidak bisa kerja, terus restorannya juga tua juga, itu khan sayang juga. Jadi diusakan restoran ini menjadi benar-benar profesional. Bukan tergantung dari saya, tapi dari karyawan saya,” ujar Swan.
Tidak hanya porsi penyajian makanan pun distandarisasi. Dengan total jumlah menu makanan sebanyak 35 menu, semuanya menu makanan tradisional, tahun 2005 ini, Swan telah mematenkan nama merk Dapur Solo. Konsep yang ditonjolkan tetap mengusung masakan tradisonal Jawa. Semua resep merupakan hasil penulusuran Swan selama bertahun-tahun. Dengan kombinasi konsep antara desain tampilan modern guna memberi kesan higienis, dan menu masakan tradiosional.
“Konsep yang ditonjolkan tetap mengandalkan tradisonal jawa, makananya. Makanya namanya resto Dapur solo, tapi tampilan kita desain modern, karena untuk menampilkan kesan higienis. Karena kebersihan sangat penting dalam bisnis rumah makan,” kata Swan.
Akan Masuk Bisnis Cathering
Setelah sukses membuka rumah makan Dapur Solo, Swan pun tidak ingin tinggal diam. Rencananya, ia akan mulai masuk bisnis cathering. Meski sekarang bermunculan begitu banyak, restoran baru yang bisa jadi mengusung sesama konsep tradisional. Melalui pelayanan yang ramah dan kekeluargaan, seolah pelanggan bukanlah konsumen melainkan partner, sehingga lebih menonjolkan keakraban. Menjadi salah satu kelebihan yang ditawarkan Dapur Solo. Lanjut Swan, tamu diperlakukan seperti sahabat atau teman. Lebih menonjolkan personal aproach dan tidak ada pembedaan. Secara harga, RM Dapur Solo terjangkau oleh karyawan, namun secara rasa dan tampilan, banyak juga direktur yang datang.
“Biar itu yang datang office boy, atau bos yang naik merci harus diperlakukan sama. Kadang ada orang mentang-mentang yang datang office boy terus akhirnya diperlakukan berbeda, itu yang keliru, Mereka merasa dihargai itu yang paling penting. Belum tentu yang naik mersi itu baik, terkadang malah rewelnya minta ampun. Urusan sepele terlalu perhitungan sekali,” tambah Swan.
Selain itu, saat ini RM Dapur Solo telah menyediakan lunch box layanan pesan antar. Dengan model kemasan ini, tujuannya untuk menyasar segmen perkantoran yang akan mengadakan rapat atau meeting penting. Ternyata, untuk paket yang satu inipun laris manis, penjualannya hampir setara dengan yang di resto. Menu lunch box pun tidak berbeda dengan yang di resto. Lihatlah, mulai Nasi gudeg, langgi, timbel, rawon, gadon kraton, dan masih banyak menu lainnya. Selain itu, juga tersedia kue-kue tradisonal.
Kendala SDM
Swan mengaku dalam menjalankan usahanya, kendala terbesar adalah dari segi SDM. Mencari tenaga karyawan yang handal dan dapat dipercaya, serta mampu berkomunikasi dengan pelanggan dengan baik. Beberapa pegawai yang sebelumnya ia rekrut dari kampung halamannya, karena tidak berpendidikan ternyata memang tidak mampu memenuhi kualifikasi sebagai pekerja yang baik. Saat ini, Swan mulai merekrut pegawai baru yang lulusan SMK Tata Boga. Untuk melatih atau mentraining anak lulusan SMK masih lebih mudah dan cepat menyerap. Apalagi, kalau memiliki pengalaman kerja pernah bekerja di restoran lain. Itu akan lebih mudah untuk mendidiknya.
“Kendala yang paling menghambat itu, sumber daya manusia. Sulit mendidik orang sesuai yang kita harapkan ternyata memang benar-benar sulit. Itu perlu ketelatenan dan kesabaran tinggi. Pendidikannya sekarang harus SMK. Kalau dulu itu cukup pembantu tidak apa-apa,” kata Swan.
Untuk pemilihan karyawan, baik lulusan SMK tata boga atau pariwisata. Menurut Swan, tidak ada batasan dari daerah manapun bisa. Baik laki-laki atau perempuan, bahkan lanjut Swan, sekarang kecenderungannya lebih memilih karyawan laki-laki. kelebihannya terletak pada rasa tanggung jawabnya lebih tinggi. Penggajiannya pun, diberikan sesuai UMR dan disediakan mess. Iklim kerja pun dibuat sedemikian rupa, agar mengesankan hubungan kekeluargaan, ketimbang atasan dan bawahan. Pasalnya dengan iklim kerja kekeluargaan seperti ini, terbukti mampu membuat iklim kerja menjadi kondusif. Saat ini, Swan sedang merencanakan membuka cabang lagi di PRJ Kemayoran dan Pasar Gambir. Swan belum ingin membuka sistem franchise untuk usaha restorannya sampai manajemennya benar-benar matang.
“Franchise itu tidak mudah. Karena bisnis harus dimantapkan terlebih dahulu. Jangan merugikan orang, kasihan. Kalau gencar franchise ternyata hanya untuk pada tutup,” tukas Swan. Malik
Gandeng Pedagang Kaki Lima
Saat ini RM Dapur Solo sedang menggandeng pedagang kaki lima atau penjaja masakan tradisional untuk bekerjasama. Sekarang sudah ada penjual sate ayam Madura dan es oyen asli Sunda yang telah ikut bergabung. Bahkan obsesi Swan, ingin menggandeng sebanyak mungkin pedagang untuk bersama berjualan dengannya. Mekanisme kerjasamanya, pedagang kecil itu tidak membayar sewa tempat atau membayar yang lainnya. Namun harga jual dari pedagang dinaikkan 20 persen, sehingga RM Dapur Solo mendapat keuntungan 20 persen itu, tanpa mengurangi harga jual pedagangnya. Selain itu, pedagang kaki lima mendapat fasilitas seragam dan tempat bersih sekelas restoran.
“Sekarang sedang dikembangkan konsep kemitraan saja yang dilakukan. Saya pingin mereka dagang bisa maju. Pedagang kaki lima yang direkrut dari kampung ini sebenarnya punya kualiutas, punya prospek, namun tidak memiliki kesempatan untuk maju. Saya juga pingin agar mereka bisa berkembang. Saya nggak bakalan bedain, yang penting dia bisa buat makanan tradisional. Baik itu orang sunda, madura siapapun yang bisa masakan tradisional,” jelas Swan.
Apabila selama ini, Swan yang pro aktif menggandeng, namun saat ini, ia akan terbuka apabila ada pedagang yang akan bermitra dengannya. Untuk saat ini, Swan mengaku belum berencana untuk membuka cabang di luar kota. Pasalnya, ia melihat pasar Jakarta masih luas. Apalagi kecenderungan tren sekarang mulai kembali menyukai masakan tradisional, ketimbang masakan import bahkan makanan cepat saji. Bagi Swan kesempatan untuk berbisnis rumah makan tradisional masih amat menjanjikan.
Hingga saat ini dari hasil restorannya, Swan telah memiliki 2 mobil, membeli ruko yang sedang ditempatinya sekarang ini, dan berhasil menyekolahkan putri satu-satunya ke negeri Paman Sam. Sesuai hobinya, kini Swan memiliki kesempatan jalan-jalan baik ke luar negeri untuk menjenguk putrinya atau keliling daerah-daerah untuk menemukan menu masakan baru.. Malik
Info lebih lanjut :
RM Dapur Solo
Swandani (pemilik)
Jl Danau Sunter Utara Blok R No.35
Jakarta Utara. Telp 021-6405812, 6410211
* Tulisan ini dimuat di Tabloid Peluang Usaha (2006)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment