Rabu, 18 Februari 2009

Emping Garut Bu Sami - Makanan Olahan Potensial Yang Pasarnya Masih Terbuka

Kini garut sudah tidak lagi dianggap sebagai makanan murahan. Selain ketika diolah menjadi tepung sangat bermanfaat bagi pencernaan. Ketika diolah menjadi emping pun rasanya lezat, dan harga jualnya menjadi tinggi. Selain itu, karena dianggap sebagai makanan sehat, permintaan pasar akan emping yang satu ini masih tinggi. Bagaimanakah prospek bisnis makanan olahan tradisional emping garut ini?

Sebelum, diolah oleh Sami (46) seorang ibu rumah tangga warga Blabak Triwidadi, Kec. Pajangan, Kab. Bantul, tanaman Marantha arundinacea L atau yang sering dikenal dengan nama garut selama ini dianggap tanaman pengganggu, bahkan dimusnahkan. Meski laku dijual, garut rebus harganya sangat murah. Bahkan tak jarang, orang enggan untuk membelinya. Namun sejak tahun 2000 lalu, ketika Sami mulai menemukan bahwa Garut bisa diolah menjadi emping yang lezat dan sehat secara medis, harganya melambung tinggi. Bahkan lebih mahal, ketimbang emping melinjo, pesaingnya. Buktinya, emping melinjo mentah kualitas super hanya dijual sekitar Rp 18 ribu per Kg, sementara harga jual emping garut mentah kualitas super mencapai Rp 25 ribu per Kg.

“Perbedaan emping garut dengan emping melinjo, kata para dokter, kalau emping melinjo pantangan bagi orang yang sudah berumur 50 tahun keatas yang memiliki penyakit asam urat tidak boleh mengkonsumsinya. Tapi kalau emping garut tidak ada efek sampingannya,” kata Sami.

Bahkan berdasarkan penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, garut banyak mengandung glisemic. Kandungan karbohidrat yang dikandung dalam garut pun terbukti tidak berbahaya bagi penderita diabetes. Dengan demikian, tampaknya makanan cemilan ini cukup sehat. Selain itu, secara bisnis emping garut ternyata cukup diminati. Sami yang pada musim panen kemarin memproduksi 5,5 kwintal emping garut mentah, semua habis terjual. Bahkan untuk menjualnya, Sami tidak perlu memasarkan sendiri. Meski masih sebatas pasar lokal, untuk menjual emping garut mentah, Sami tinggal menunggu pesanan dari pengepul. Selain itu, Dinas Pertanian Kab. Bantul ikut membantu pemasaran.

Sami berkisah pada tahun 2000 lalu, ia mendapat undangan untuk mengikuti pameran pembangunan di lapangan Kab. Bantul. Melalui Kelompok Tani Wanita Usaha Makmur yang diikutinya, Sami beroleh dukungan untuk mengikuti pameran ini. Saat itu, Sami ikut memamerkan tanaman garut, dari mulai bibit, tanaman yang telah berbuah, hingga menjadi bahan emping. Hasil uji cobanya mengenai pengolahan garut hingga menjadi emping, mendapat sambutan cukup lumayan. Semenjak itu, Sami selalu diundang mengikuti pameran mewakili Kab Bantul untuk kategori kerajinan pangan.

“Ketika mau ikut pameran, saya ada pendapat dan saya ungkapkan, kemudian disiapkan bagaimana cara membuat emping garut yang berkualitas. Saya pernah konsultasi kantor Dinas Pertanian provinsi, ternyata memang tidak ada yang berminat untuk membuat emping garut ini. Saya berpikir ditumbuk panjang saja enak, apalagi kalau dipotong-potong. Dulu ditumbuki panjang yang membeli lingkungan sekitar sini saja, kalau dipotong-potong begini pasarnya hingga jakarta, wonosobo, jawa dan bali,” kenang Sami.

Budidayakan kembali
Menyadari potensi emping garut ini, Sami mulai kembali membudidayakan penanamannya. Secara geografis, lahan tanah di daerah Blabak Triwidadi ternyata cukup subur untuk tanaman ini. Sami berinisiatif memberikan bibit secara gartis kepada tetangga-tetangganya, untuk kemudian hasil panennya dibeli dengan harga Rp 800 - Rp 1000 per Kg garut mentah. Setelah itu, ketika proses pengerjaan menjadi emping, Sami melibatkan tetangga-tetangganya, dengan upah borongan Rp 1.250 per Kg-nya.

“Karena dilingkungan ini belum banyak, garut itu telah dimusnahkan karena dianggap tidak ada artinya. Terus di budidayakan. Kemudian saya mulai mengajak lingkungan sini untuk menanam, saya beri bibit, nanti kalau sudah berbuah, nanti dijual ke saya. Masalah bibit yang saya berikan tidak usah bayar, hanya diberikan. Kalau sudah seperti itu, lingkungan sini mulai menanam, mendapat tambahan penghasilan,” papar Sami.

Setahun setelah pameran, tahun 2001, Sami hanya bisa memproduksi sekitar 25 Kg. Tahun 2002, produksi menjadi 50 Kg, kemudian tahun 2004, Sami memproduksi 4 kwintal, dan tahun 2005 kemarin memproduksi 5,5 kwintal. Setelah memperoleh sertifikat Depkes, tentunya produk emping garut milik Sami, semakin mendapat kepercayaan. Bahkan hingga kekurangan bahan baku. Kemasanya, jika dulu hanya dikemas dalam plastik tipis, kini telah dikemas dengan apik dalam plastik yang lebih tebal dengan cetakan sablon merk “Bu Sami” dan nomor Depkes.

Kesulitan Bahan Baku
karena sifat tanaman garut yang musiman sekali panen dalam 1 tahun, Sami menyatakan masih kesulitan bahan baku. Penanaman biasanya dimulai pada waktu musim penghujan, kemudian akan dipanen pada sekitar bulan Juli-Agustus pada saat musim kemarau. Pada saat memanen, agar garut yang dipanen tidak tertinggal ditanah, maka cukup dicabut hingga akarnya, dan tidak dicangkul. Meskipun, saat ini Sami dan tetangga sekitarnya telah mulai membudidayakan emping garut ini, namun hasil produksi setiap masa panen, seolah tak mampu memenuhi permintaan pasar.

Mengenai penentuan harga, Sami tidak bisa menentukannya sendirian. Melalui asosiasi pengrajin makanan olahan tradisional Kab Bantul, harga jual emping garut ditentukan berdasarkan musyawarah. Produk emping garut merk Bu Sami ini pemasarannya langsung diambil pedagang melalui Dinas Pertanian Kab Bantul. Selain itu, emping garut milik Sami langsung laris manis diambil salah seorang pengepul di Kab Bantul. Penjualannya langsung dikirim ke Jakarta, Wonosobo, solo, dan Bali. Namun jika ada pembeli yang ingin langsung membeli dari Sami, ini tetap dilayani.

“Pembeli, saya nggak tahu, karena langsung diambil dari kantor Dinas Pertanian. Selain itu diambil oleh bu tutik, duko nopo dikirim ke Jakarta, Wonosbo, Solo, saya tidak tahu. Kadang-kadang dikasih tahu akan dikirim ke Jakarta. Tapi kalau ada pembeli yang langsung beli dari saya, nggih tetep kulo layani,” ujar Sami.

Keterbatasan Modal
Seperti layaknya pengusaha kecil lainnya, Sami pun mengalami masalah klasik yaitu keterbatasan modal. Sami optimis, jika bahan baku cukup dengan modal cukup pula, ia tidak akan mengalami kesulitan untuk memasarkan emping garut ini. Untuk menambah modal usaha, Sami telah mendapatkan kucuran kredit dari Bank BPD DIY melalui bantuan dari Dinas Pertanian Kab Bantul, dengan kredit senilai Rp 2 juta. Mekanisme pengembalian selama 2 tahun dengan bunga 6 persen per tahun. Jika pengembalian kredit ini lancar, maka Sami berencana kembali mengajukan kredit guna menambah modal usahanya.

Saat ini selain memproduksi emping garut, Sami juga memproduksi emping melinjo yang bahan bakunya juga diambil dari pekarangannya sendiri, kemudian jahe instants, dan kunir asam instan yang bahan bakunya dibeli dari pasar tradisional. Meski belum menjadi makanan khas Yogyakarta, namun dalam setiap pameran kerajinan pangan emping garut telah menjadi trade mark, makanan olahan andalan Kabupaten Bantul.



Cara Mengolah Garut Menjadi Emping

Menurut Sami, garut yang sudah dipanen, dikupas kulitnya. Bentuk garut diratakan agar, pada waktu pemipihan hasilnya menjadi rapi. Setelah garut dikupas, kemudian dibersihkan dan dimasak dan diberi garam. Garut tidak boleh terlalu matang, cukup setengah matang, harus langsung diangkat untuk kemudian diangin-anginkan hingga dingin. Ketika pemotongan, garut harus lah sudah dalam keadaan dingin, karena jika masih panas, maka akan membuat pisau menjadi cepat tumpul.

Baru kemudian, garut yang telah dipotog itu ditumbuk atau dipipihkan dengan palu kayu. Tambah Sami, jika mulai memasak sejak jam 8 pagi, maka pada jam 10 pagi sudah bisa mulai pengerjaan pemipihan. Ketika penjemuran, garut harus benar-benar kering, kira-kira membutuhkan waktu 2 hari dalam keadaan musim kemarau. Jika tidak terkena sinar matahari langsung, maka kualitas warna dan rasa akan berkurang. Untuk membuat emping garut mentah kering 1 Kg, dibutuhkan 4 Kg garut mentah. Emping garut ini memiliki rasa yang netral, jadi mengenai rasa bisa dibuat sesuai selera, baik asin, manis, atau pedas.

“Jemurnya harus sampai kering sekali. 2 hari dalam keadaan kemarau. Soalnya harus langsung kena sinar matahari. Kalau tidak kena sinar matahari, kualitasnya akan jelek. Pakai oven tidak bisa, karena hasilnya tidak akan sebagus dengan sinar matahari,” ungkap Sami.

Analisa penghitungan pendapatan emping garut Bu Sami :
Penjualan tahun 2005 : 550 Kg @ 1 Kilo Rp 25.000 = Rp 13.750.000
Biaya operasional :
- Upah karyawan = Rp 2.750.000
- Pembelian bahan baku 2200 Kg garut mentah = Rp 2.200.000
- Biaya operasional lain (bumbu, listrik, telpon, minyak tanah, plastik dll) = Rp 3 juta
- Total biaya operasional = Rp 7.950.000
- Jadi analisis keuntungan per tahun = Rp 13.750.000 - Rp 7.950.000 = Rp 5.800.000 atau sekitar 40 %.

Info lebih lanjut :
hubungi Ibu Sami; RT: 01, Blabak Triwidadi
Kec. Pajangan, Kab.Bantul. 55751
Telp. 081328259932

* tulisan ini dimuat diTabloid Peluang Usaha (2006)

3 komentar:

  1. kalo mau pesen gmn ????

    harga 24.000 tu kasih termasuk harga kirim donk...
    nt ak mo pesen 4Kg ne...

    BalasHapus
  2. kalau saya ingin beli garut-nya yg belum diapa2in berapa ya?
    saya tertarik utk membuat, tp bingung beli dmn di jakarta/bekasi?
    -shiva-

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment