Rabu, 18 Februari 2009

Bisnis ‘Manis’ Rotiboy

Omset Per Hari Rp 16 juta - Rp 27 juta
Belum genap berumur sepuluh bulan, Rotiboy merambah pasar Indonesia. Namun kini telah membuka 4 outlet diJakarta. Omset per outlet diperkirakan mencapai Rp 16 juta –Rp 27 juta per hari. Rencananya, Bandung, Semarang dan Jogja bakal menjadi target berikutnya. Apa saja kiat-kiatnya?.
Beraroma kopi dan disajikan dalam keadaan hangat. Bagi penyuka rasa kopi, tentu akan suka menkonsumsi roti ini. Rasa manis khas roti kelahiran Malaysia ini tampaknya menjadi daya pikat tersendiri. Baru dikembangkan di Jakarta sejak 7 Desember 2004, namun kini 4 outlet telah dibuka di Mall Taman Anggrek, Wisma BNI, Terminal II Airport, dan Pasaraya Grande. Menurut Liza Marina Susanto, General Manager Rotiboy Bakeshop, rencananya di Jakarta hanya akan dibatasi 7 outlet demi menjaga image spesial hot roti ini. Omset per outlet, diperkirakan mencapai Rp 16 juta – Rp 27 juta. Rencananya, Rotiboy juga bakal melirik potensi pasar Bandung, Semarang, dan Jogja.
“Internal strategi kita, kita nggak mau buka terlalu banyak outlet disatu wilayah, kita tidak ingin buka disetiap mall, kita ingin kesan spesial,” jelas Liza.
Tampaknya pembangunan image roti yang berkantor pusat di Kuala Lumpur ini tidaklah berbuah sia-sia. Liza mengungkapkan investasi Rp 1 miliar yang harus ditanam untuk 1 outlet, optimis bisa kembali modal hanya dalam waktu 1,5 tahun. Keuntungan yang didapatpun mencapai 30 persen dari total omset yang didapat. Untuk 1 outlet membutuhkan 10-15 karyawan. Meski tidak memerlukan skill khusus, training SDM disesuaikan dengan standar kualitas SDM kantor pusat. Desain interior maupun eksterior outlet, hingga peralatanpun tidak main-main, harus disesuaikan dengan standar Malaysia.
“Untuk luar Jakarta kita masih jajaki proses lokasi yang strategis dan mitra usaha yang cocok dengan kita, dalam arti satu misi dengan kita,” kata Liza, pemegang Master Franchise untuk wilayah Indonesia ini.
Lokasi Yang Strategis. Pentingnya pemilihan lokasi yang strategis sangat diutamakan dalam bisnis jual roti fresh from oven ini. Lanjut Liza, kehati-hatian dalam memilih mitra franchisee lebih bertujuan untuk memeprtahankan brand Rotiboy yang hanya diproduksi satu macam ini. Liza mengungkapkan, omset yang bisa didapatkan bisa berbeda antara 1 franchisee dengan franchisee yang lain tergantung lokasinya. Karena pendapatan berbeda, maka Frachise fee pun disesusaikan dengan lokasi franchisee itu berjualan.
“Kita tidak bisa mematok berapa angka pasti franchisee fee, karena satu lokasi dengan lokasi lain omsetnya pasti berbeda. Dan itu menentukan seberapa cepat balik modalnya.” Ujar Liza.
Salah satu keuntungan franchise Rotiboy, tambah Liza, tempat tidak harus besar. pasalnya, production area tidak dilakukan di outlet, bahkan untuk memajang pun tidak. Dengan luas tempat hanya 30 M2 pun sudah bisa digunakan untuk membuka outlet. Tentu saja, tiap tempat memiliki harga sewa yang berbeda-beda. Untuk mall Taman Anggrek misalnya, sewa per 1 meter persegi seharga 60 US $ perbulan. Ditempat ini, omset yang didapatkan bisa meningkat, karena Taman Anggrek termasuk komplek mall dan apartemen yang ramai di Jakarta.
“yang di Taman Anggrek buka jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Sedang yang di air port dari jam 6 pagi sampai jam 10 malam,” unkap Liza.
Kelebihan Rotiboy, selain disajikan hangat atau hot roti, harganya juga lumayan terjangkau yaitu Rp 6 ribu per potong. Liza mengungkapkan, layanan delivery order pun disediakan dengan batasan minimum pesan 40 roti. Hari Jumat biasanya ramai pembeli, rata- rata penjualan 3000-5000 potong roti per hari. Kapasitas maksimum pemanggangan dalam 1 jam 700 roti dengan waktu 15 menit untuk satu kali pemanggangan. Bahan baku gula, tepung, telur lokal dicampur dengan bahan import menjadi rahasia kelezatan roti manis ini. Franchisee pun tidak melakukan produksi, mereka mendapatkan suply roti setengah matang dalam bentuk beku.
“Sistem yang kita ambil franchisee tidak produksi, tapi kita yang suply dan buatkan rotinya, jadi mereka hanya tinggal manggang saja,” tambah Liza.
Proses pembuatan roti dilakukan di Jakarta Barat. Pengerjaan awal di production area, kemudian setelah dalam bentuk frozen, diimprove. Alat-alat pabrik spsifik alat pengaduk roti. Ungkap Liza, selama penyimpananya benar, bahan mentah bisa tahan hingga 2-3 minggu. Demi menjaga kualitas roti, penjualan roti harus fresh. Penghitungan waktu secara tepat mengenai pemanggangan harus cermat, juga jumlah kapasitas dalam satu kali pemanggangan amat diperhitungkan.
“Kita tidak menjual roti kemarin sore, keluar dari oven langsung dibeli pembeli orang karena kita punya perhitungan kapan manggang kapan tidak dan berapa kapasitas dalam 1 kali pemanggangan,” papar Liza.
Bagi franchise yang ingin bekerjasama membutuhkan modal yang cukup besar Rp 1 miliar, namun Liza bisa menjamin hanya dalam waktu 1,5 tahun, paling lama 2 tahun modal bisa kembali. Liza tidak menyebutkan berapa biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh franchisee setiap bulannya. Namun dengan asumsi keuntungan bersih 30 persen, tampaknya bisnis roti dengan konsep setengah open kitchen ini amat menjanjikan. Namun dalam bisnis pasti ada resiko rugi bahkan bangkrut. Menurut Liza, untuk memperkecil resiko ini, dalam bisnis makanan maka benar-benar harus menjaga kualitas rasa.
“Resiko semua bisnis pasti ada resikonya, selama makanan kita enak orang pasti akan selalu perlu makanan dan harga yang kita tawarkan cukup reasonable. Kita targetkan 1,5-2 tahun balik modal untuk franchise, ” tandas Liza percaya diri. (Ekawati, Malik)

* tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Peluang Usaha

3 komentar:

  1. Weww .. itu untuk modal awalnya 1 miliar?
    Besar juga yaa T_T

    BalasHapus
  2. benar jika tidak ingin dalam bisnis makanan perlu dan sangat prlu menjaga kualitas rasa..

    BalasHapus
  3. Dear managemen Roti Boy,
    Saya sudah berkali-kali menghubungi ke No tlp di mal taman anggrek dan kantor baru di sarinah tapi susah sekali bisa berkomunikasi dengan bagian Franchaise, setiap di telpon pagi disuruh menghubungi kembali siang after lunch, dicoba hubungi kembali after lunch tapi dbilang orangnya keluar, dan hal ini terjadi berkali2. Saya sungguh kecewa jika perlakukan seperti ini di oper sana sini.... apakah begitu cara kerja dari Roti Boy??? Merasa sombong....

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment