Pernahkah Anda mengira, tapas kelapa yang selama ini dianggap sampah dan tidak berguna, ternyata jika dibuat menjadi sebuah tas yang diberi sentuhan warna natural coklat, hijau, atau merah, menjadi tampak berkelas dan antik. Jarang sekali tas ini dijual untuk pasar lokal, seperti yang dialami Kahono, pengrajin tas dengan bahan tapas kelapa di Bantul menyatakan tas produknya dipasarkan untuk pasar ekspor. Seberapa besar peluang bisnis tas berbahan tapas kelapa ini?
Jika anda pernah mendapati tapas kelapa hanya dijadikan kayu bakar atau berserakan di kebun dan menjadi sampah, itu wajar saja. Karena jarang ada orang yang menyadari potensi tapas ini. Namun ditangan Kahono, warga Desa Blabak, Kec.Pajangan, Kab.Bantul, tapas yang berada diantara batang pohon dan pelepah daun kelapa ini bisa disulap menjadi sebuah tas yang alami dan cantik. Setidaknya, tas dari bahan ini tidak kalah cantiknya dibanding tas yang terbuat dari anyaman enceng gondok ataupun anyaman pandan. Dan jangan salah, gara-gara tapas inilah Kahono mampu mempekerjakan 30 orang karyawan.
“Kalau pas lagi banyak pesanan, dulu saya bisa mempekerjakan sekitar 20-30 karyawan dengan sistem borongan, yang kesemuanya remaja putri dan ibu-ibu tentanga sekitar lingkungan saya. Karena saya juga mempunyai keinginan untuk mengurani pengangguran,” kata Kahono yang memulai bisnisnya sejak tahun 2000.
Mengapa harus mempekerjakan tenaga kerja perempuan? Bagi Kahono tangan perempuan lebih terampil dalam membuat sebuah tas ketimbang tangan pria. Proses pengerjaan tas tapas kelapa., yang mulai pewarnaan, pemotongan berbentuk kotak, kemudian penenunan dengan menggunakan bahan enceng gondok atau pelepah pisang sebagai list, hingga pemasangan handle yang terbuat anyaman enceng gondok, tampar/tali dari sabut kelapa, dan akar bambu, semuanya dikerjakan tenaga perempuan. Hanya pembuatan handle akar bambu yang dikerjakan oleh tenaga laki-laki.
“produk utama saya tas tapas, box, kipas, tergantung permintaannya apa saya layani. Yang paling terbaru blismet (tikar) dari tapas yang saat ini ada beberapa pesanan yang lumayan dari lokal saja,” ujar Kahono.
Saat ini, Kahono mengaku penjualan tas tapas kelapa sedang mengalami surut. Justru yang sedang banyak permintaan, handle dari akar bambu dan blismet dari tapas kelapa. Pemasarannya, Kahono masih menggantungkan dari pesanan dari salah satu PT di Yogyakarta untuk kemudian dipasarkan oleh PT itu.
Bahan Baku Dari Lingkungan Sekitar
Sulitkah mendapatkan bahan baku tapas kelapa? Ternyata wilayah Kecamatan Triwidadi, Kab Bantul yang merupakan daerah dataran tinggi menyimpan segudang bahan baku tapas. Ketika pertama kali memulai usaha ini, Kahono masih mengambil suplai bahan baku tapas dari lingkungan sekitarnya. Namun kini, karena pasokan semakin menipis, ia juga mulai mengambil bahan baku di luar Kab. Bantul, seperti Kab. Kulon Progo. Sementara untuk mendapatkan akar bambu untuk handle, Kahono mendapatkannya dari Kopeng Kab. Semarang.
Guna mengolah bahan baku tapas menjadi sebuah tas, tentu tergantung dari jenis dan model serta tingkat kesulitan tas yang akan dibuat. Untuk 1 set tas (berisi 3 tas) yang sering dibuat Kahono, membutuhkan 2,5 kg tapas. Untuk listnya dibutuhkan enceng gondok kering sekitar ¼ kg. Kemudian kancing yang terbuat dari batang pohon kelapa. Untuk membuat kancing ini, Kahono biasa menggunakan tenaga bubut, dengan bahan 1 batang pohon kelapa bisa membuat ribuan kancing. Sementara untuk menenunnya dibutuhkan, benang tampar yang terbuat dari daun lontar muda, yang bahan ini di ambil dari Banyuwangi, Jawa Timur. Selain itu, untuk memperkuat tapas, Kahono menggunakan kertas karton sebagai pelapis dalam.
Biaya Operasional
Kahono menyatakan harga bahan baku tapas kelapa per kilonya sekitar Rp 5.000. Sementara untuk gaji karyawan borongan untuk 1 set tas (isi 3 tas) Rp 19.000. untuk mengerjakan 1 set tas ini biasanya membutuhkan waktu 2 hari, tergantung terampil tidak si pengrajin. Jika memang sudah terampil, sebelum 2 hari 1 set tas sudah selesai dibuat. Kebanyakan tenaga borongan ini adalah perempuan atau ibu rumah tangga yang semuanya merupakan tetangga sekitar Kahono. Sementara untuk pengerjaan pembuatan handle akar bambu, Kahono menggunakan tenaga harian yang upahnya minimal Rp 13.000 per hari.
Kahono menyatakan dalam 1 bulan kapasitas produksi maksimal yang bisa ia lakukan, 1000 set tas tapas (berisi 3000 tas). Harga jual per set Rp 40.000. Terlalu murah? Kahono mengaku dari 1 set tas, ia hanya beroleh keuntungan Rp 3000 saja atau hanya 7% nya saja. Namun karena ia selalu mengerjakan pesaanan dalam partai besar, misalnya 1 kali pesanan 2000 set tas, sehingga meski keuntungan kecil, namun angka penjualan haruslah besar. Justru, dari pembuatan handle bambu, Kahono beroleh untung 20 persen.
“Kalau dulu permintaan untuk 1 bulan saya bisa sanggupi 1000 set, Tapi semenjak Bom Bali, dan kenaikan BBM kemarin, pesanan menjadi sepi. Saya terpengaruh juga dengan itu,” papar Kahono.
Guna memproduksi handle bambu, Kahono menggunakan cetakan besi untuk penekuk dan oven. Karena permintaan pemesan yang menginginkan serba alami. Jangankan dicat, di amplas pun, pemesan tidak mau. Jadi harus benar-benar dengan warna yang alami.
Kesulitan Pemasaran
Kahono mengaku masih mengalami kesulitan dalam pemasaran. Karena biasanya pemesan yang datang ke rumahnya bukanlah buyer langsung melainkan trading. Dengan sistem pemasaran seperti ini, praktis Kahono hanya tergantung dengan pesanan trading. Kekurangan menggunakan cara ini, jika tidak ada pesanan dari trading maka itu artinya tidak ada pekerjaan, baik bagi Kahono ataupun 30 karyawannya. Meskipun telah beberapa kali mengikuti even pameran di Kab Bantul atau Provinsi DIY, namun Kahono belum mendapatkan buyer. Bahkan untuk pasar ekspor pun semua masih melalui trading, dan Kahono mengaku sama sekali belum mengetahui bagaimana tentang cara ekspor.
“Saya paling banyak pasarnya ke Perancis, Belanda, Amerika. Amerika itu sampai sekarang masih pesan yang handle bambu. Ya semua masih melalui trading, sampai sekarang prosedur pengiriman untuk ekspor saya belum tahu,” papar Kahono.
Pembenahan Manajemen
Seperti umumnya UKM lainnya, hingga saat ini manajemen usaha yang diterapkan Kahono, masih one man show. Semua pengawasan proses produksi dan pemasaran, masih ditanganinya sendiri. Selain itu, pengelolaan keuangannya pun masih belum rapi. Masih campur antara keuangan usaha dan keuangan keluarga. Kahono yang dulu ketika memulai usaha menggunakan modal awal dari hasil penjualan sapi satu-satunya yang dimiliki keluarganya. Kahono, ingin mulai melakukan pembenahan. Baik dari sisi manajemen bahan baku dan produksi, hingga manajemen pemasaran, sehingga ia tidak perlu lagi bergantung dari pesanan trading.
“Saat ini kandang sapi tersebut digunakan sebagai gudang tempat menyimpan bahan baku. Sementara saat itu sapi saya jual sekitar 4 jutaan, saya belikan bahan baku,” kenang Kahono.
Biasanya untuk pemesanan dari trading, memberikan DP 30%-50% untuk tanda jadi. DP ini bisa membantu ongkos produksi. Kahono mengaku sempat mengajukan kredit Rp 5 juta ke BRI untuk menambah modal usaha.
“Disamping itu tempat saya juga ketika dikunjungi pihak BRI untuk survei dan saat itu memang lagi banyak pesanan. Yang kerja saja sampai 15 orang, itu kalau nggak salah tahun 2002 dan saya sudah bisa melunasinya. Sekarang saya belum pinjam lagi, karena saya juga sudah ada pemasukan sendiri,” papar Kahono. Malik.
Info lebih lanjut:
Kahono S.A
Blabak, Triwidadi, Pajangan, Bantul
Yogyakarta 55751
HP. 08122596878
* Tulisan ini dimuat di Tabloid Peluang Usaha (2006)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment