Rabu, 18 Februari 2009

CV Nur Setia Abadi - Keripik Buah Buah Memiliki Potensi Besar Untuk Ekspor

Karena terbilang baru, penerimaan pasar domestik kepada keripik buah masih minim. Pasalnya, selain harganya jualnya yang relatif mahal, juga masyarakat masih jarang mengetahui adanya keripik buah. Namun sebagai produsen keripik buah, Ikhsan Setianto, Direktur CV Nur Setia Abadi (NSA) mengungkapkan, snack buah-buahan ini memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Tentu saja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa tembus pasar internasional. Bagaimana peluang bisnis keripik buah ini?

Ikhsan Setianto mengakui sudah banyak buyer dari luar negeri yang ingin membeli keripik buah produknya. Diantaranya buyer dari Hongkong, Taiwan, Bangladesh, dan India. Barangkali ini merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Dari segi bahan baku, jelas buah-buahan sangat melimpah di Indonesia. Bahkan disaat musim panen, harga buah langsung anjlok, karena tidak mampu diserap pasar. Namun seperti kebanyakan UKM, ternyata produk keripik buah milik Ikhsan belum mampu memenuhi kualifikasi permintaan buyer. Akhirnya, Ikhsan pun belum mampu menggarap pasar ekspor.

“Pemasaran di internet sebenarnya bagus, banyak sekali permintaan ekspor ke luar negeri. Tapi persyaratan mereka itu agak sulit terutama untuk legalitas, dokumentasi kesehatan dari Depkes, sertifikat untuk produk itu juga. Kita Depkes sudah ada, tapi mereka mintanya untuk sertifikasi resmi misalnya produk ini benar-benar higienis,” ungkap Ikhsan.

Kendala lainnya, terletak pada pengemasan. Buyer internasional meminta pengemasan harus sudah rapi, dengan bahan dari alumunium voil lengkap dengan brand dan desainnya, kemudian dari segi kapasitas, jika memang permintaan pasar ekspor jadi dipenuhi, maka order buyer akan order dalam jumlah besar. Padahal untuk memenuhi permintaan ini, maka dibutuhkan modal cukup besar. Sebagai salah satu UKM, CV NSA sulit untuk memenuhi permintaan ini, dikarenakan kendala klasik, yaitu keterbatasan modal.

“Kalau memang mereka jadi order ke kita, pasti dalam jumlah besar. Bicara 1 kontainer, itu bisa Rp 200-300 juta. Duit segitu darimana, orang UKM kok harus memenuhi permintaan sebanyak itu. Akhirnya ya sudah kita jalin komunikasi saja sementara. Sebenarnya potensinya bagus untuk pasar ke luar negeri,” papar Ikhsan.

Kendala Produk dan Pasar Lokal
CV NSA memproduksi keripik dari beberapa macam buah, diantaranya, eripik salak, nangka, nanas, dan apel. Untuk pasokan bahan baku, Ikhsan mengaku tidak mengalami kesulitan. Untuk pasokan buah salak ia dapatkan dari kebun salak milik keluarga istri di Yogyakarta, serta mengambil dari pengepul salak pondoh di Yogyakarta. Sementara untuk pasokan buah nangka, nanas, dan apel ia dapatkan dari pengepul buah di Malang. Untuk produksi, Ikhsan dibantu 5 orang guna produksi keripik salak di Yogyakarta, dan 5 orang memproduksi keripik nangka, apel, dan nanas di Malang. Pengelolaannya, Ikhsan melibatkan saudara, teman, dan tetangga sekitar lokasi produksi. Dalam 1 bulan, rata-rata kapasitas produksi keripik buah sekitar 30-40 Kg.

“Sementara untuk pemasaran saya tangani di Jakarta dibantu oleh sekitar 4 orang karyawan. Jadi total pegawai 14 orang. Distribusinya pun belum jauh, karena masih dibilang baru berjalan 1 tahun ini baru masuk Jakarta,” papar Ikhsan.

Meski tidak mengalami kesulitan dalam hal pasokan bahan baku, namun Ikhsan menjelaskan, kendala lebih kepada produk keripik buahnya. Pertama, karena biaya produksinya mahal mengakibatkan harga jualnya pun menjadi mahal. Harga penjualan kerpik buah masih berkisar Rp 7000 per 50 gram-nya. Ditambah sifat keripik yang cepat melempem (tidak renyah lagi) jika lama berinteraksi dengan udara, serta masyarakat lokal belum banyak yang mengenal keripik buah ini. Untuk membuat keripik ini lebih tahan lama, maka harus dikemas dengan alumunium voil yang tahan sampai 1 tahun. namun jika hanya dikemas dalam plastik biasa, keripik hanya bisa tahan selama 6 bulan.

“Bisa dikatakan produk ini belum bisa memasyarakat dengan baik. Sebenarnya ide kita banyak untuk memberikan sampling biar produk ini bisa berkembang dan semua masyarakat tahu. Kembali kendala ke internalnya. Pemberian sampling biasanya diberikan ke toko, konsinyasi. Bisa dibilang toko tanpa resiko, jadi ditaruh disitu, ditaruh sampelnya, jadi pengelola toko dipersilahkan untuk mencoba sampelnya. Tapi itupun biasanya nggak lama, karena karakter produknya yang nggak bertahan lama jika terkena udara. Samplingnya paling berkala, kalau memang ada permintaan baru diberikan,” ungkap Ikhsan.

Hingga saat ini, Ikhsan mengatakan omset dari usaha keripik buah produksinya, masih berkisar Rp 4 juta per bulan atau kapasitas 30 Kg keripik per bulan dengan keuntungan bersih 10 %. Sebelum memasarkan ke toko-toko, Ikhsan memasarkan keripik buah melalui koperasi instansi BUMN seperti diantaranya, Koperasi Karyawan Kantor Pertamina Pusat, Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor Departemen Keuangan, Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor Auto 2000, Jakarta Utara, Koperasi Karyawan LTO Dirjen Pajak, Jakarta Pusat dan Koperasi Karyawan Kantor Catatan Sipil, Jakarta Barat.

“Rencana kedepan, kepingin masuk ke supermarket-supermarket besar. Sampai dengan sekarang karena UKM kendalanya masih terbentur di masalah dana. Itu klasik. Untuk masuk ke supermarket besar kita harus bayar listing fee, istilahnya uang pendaftaran produk. Jadi setiap produk yang masuk per item biayanya mencapai Rp 2,5 juta,” pungkasnya. Malik.


Asumsi penghitungan pendapatan keripik aneka buah CV NSA
- Asumsi omset per bulan Rp 40 juta
- Biaya operasional (pembelian bahan baku, pegawai, minyak, listrik, telfon, dll) Rp 3,6 juta
- Asumsi keuntungan bersih Rp 400 ribu /10 % dari omset.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment