Rabu, 18 Februari 2009

Lumpia Express Mampu BEP Dalam 6 Bulan

- Obsesikan Buka Franchise di Amerika

Bagaimana mungkin burger (junk food) bisa menembus pasar dunia. Sementara lumpia merupakan healthy food tidak bisa. Bagi Max Sugi Winarso, pemilik Lumpia Express Semarang, bukan tidak mungkin lumpia laku dijual di Amerika. Bahkan demi mewujudkan obsesinya ini, kini Max telah menyiapkan sistem manajemen yang lebih rapi. Bagaimanakah potensi bisnis makanan khas wong Semarang ini?

Mungkin sebagian orang Semarang sudah tidak lagi tahu resep membuat lumpia yang asli. Max Sugi Winarso, pemilik Lumpia Express mengklaim bahwa resto lumpia miliknya satu-satunya resto yang menyajikan resep lumpia original. Melalui ketrampilan memasak, Tan Yok Tjai, calon mertuanya, Max membuka resto lumpia di Jl Gajah Mada 142 AA Semarang, dengan mengusung konsep masakan tradisional dipadu dengan desain interior resto yang modern.

“Calon istri saya, keturunan dari Lumpia Mataram generasi ke-3, dan generasi ke-5 Lumpia Semarang yang berdiri sejak tahun 1800. Sebelumnya saya melihat bisnis ini dengan sebelah mata, namun karena saya amati penggarapan bisnis ini tidak dilakukan secara serius, maka saya jadi tertantang untuk menggelutinya,” papar Max.

Keprihatinan Max, ternyata cukup beralasan. Lumpia yang seharusnya menjadi kebanggaan wong Semarang hanya disajikan seadanya. Padahal jika melihat potensi minat masyarakat untuk membeli cukup besar. Mulai model pengemasan yang hanya menggunakan kotak anyaman bambu (besek), kemudian tidak ada satupun toko lumpia yang menyediakan fasilitas untuk makan ditempat semacam resto. Celah inilah yang kemudian dimasuki oleh Max, untuk membuat resto lumpia dengan konsep resto modern. Selain itu, Max juga menyediakan fasilitas delivery (antar pesan) dengan jangkauan wilayah seluruh Kota Semarang. Sementara, untuk wilayah luar Kota Semarang, tambah biaya kurir.

Tentu bisa Anda bayangkan, konsep baru resto lumpia ini, cukup mendapat respon dari masyarakat. Semenjak grand launching September 2004 silam, Lumpia Express langsung diserbu pembeli. Meski tidak bersedia menyatakan modal awalnya, Max mengakui, Lumpia Express miliknya mampu Break Even Point (BEP) hanya dalam waktu 6 bulan. Memang cukup menggiurkan, bahkan, Januari 2006 ini Max berencana membuka 1 cabang resto lagi, di jembatan antara Plaza Simpang Lima dan Citraland Mall Simpang Lima Semarang dengan nama Lumpia Express Two Junction (LX 2 Junction). Pemilihan lokasi ini, tentu saja bukan tanpa alasan. Simpang Lima merupakan pusat jantung Kota Semarang dan pusat keramaian.

“Selain bisa menikmati makanan khas Kota Semarang, pelanggan juga bisa melihat pemandangan kota Semarang dari jembatan ini. View nomor satu di Semarang. Directly ke Simpang Lima. Jadi khan sesuai, menikmati original food dengan original view Kota Semarang sekaligus,” papar Max optimis.
Gaet 40 % Pasar

Max mengklaim bahwa segmen pasar Lumpia Express adalah untuk semua kalangan. Namun jika melihat harganya, Rp 6000 per buah untuk lumpia original, dan Rp 10.000 per buah untuk lumpia crab (lumpia kepiting), tampaknya Lumpia Express lebih menyasar ke masyarakat kalangan menengah. Meski demikian, Max yakin telah mampu menggaet 40 % dari pasar lumpia di Semarang. Sementara 40 % lainnya dikuasai oleh saudara-saudaranya yang menjual lumpia melalui brand Lumpia Mataram, Lumpia Mbak Lien, dan lainnya. Artinya, untuk penjualan terbesar Lumpia di Semarang masih dikuasai oleh Lumpia Express. Target, paling tidak Lumpia Express bakal mampu raih 80 % pasar lumpia di Semarang.

Pembeli rata-rata masyarakat Semarang, atau turis yang sedang berkunjung ke Semarang. Hari ramai, biasanya hari Jumat, Sabtu, Minggu atau hari libur nasional. Menurut Max, masyarakat Semarang termasuk pasar yang cukup pasif. Sehingga sulit diprediksi, kepasifan dan ketenangan ini apakah merupakan sikap kehati-hatian ataukah karena sebab lain. Resto fast food dengan konsep front, setiap pengunjung bisa melihat proses memasak lumpia yang dilakukan koki, ternyata cukup berhasil menggaet konsumen. Meski mengusung resep original dari masakan tradisional, namun proses memasaknya tetap menggunakan teknologi modern, demi memberikan kesan higienis.

“Hari pertama grand opening, pelanggan dari Singapore, Jakarta sudah ada yang datang. Semarang kota kecil, jadi mereka bisa tahu. Bulan paling ramai pada saat lebaran. Kalau tahun baru, nggak terlalu ramai karena liburnya lebih pendek,” kisah Max.
Manajemen Modern

Max yang merupakan lulusan S1 Teknik Elektro dari salah satu Universitas di negeri Paman Sam, menyatakan, Lumpia Express telah memberlakukan manajemen modern. Mulai pengelolaan keuangan, hingga administrasi telah komputerisasi. Hingga saat ini, Lumpia Express telah mempekerjakan 50 karyawan, mulai koki, pelayan, administrasi hingga security dengan sistem 2 kali shift. Sistem pengupahan sesuai Upah Minimum Regional (UMR) Kota Semarang, plus insentif untuk pegawai yang berprestasi. Mengenai perekrutan, melalui iklan lowongan maupun referensi dari pegawai yang telah bekerja. Tes perekrutan dilaksanakan 2-3 hari untuk mengetahui kesungguhan, dan penempatan karyawan sesuai skillnya. Kemudian baru memasuki masa training selama 1 minggu. Trainernya, bisa oleh Max sendiri, atau pegawai lain yang telah cukup mumpuni.

“Skill memang sangat penting dan akan ditempatkan sesuai fieldnya. Namun mentalitas dan moralitas lebih penting. Dalam jangka waktu 1 minggu itu akan kelihatan, pegawai ini memiliki moral dan mental yang baik atau tidak. Meskipun orangnya pintar, namun jika moralitasnya buruk itu tidak akan kita terima,” kata Max.
Obsesi Buka Franchise di Amerika

Hingga saat ini, Max mengaku belum sempat mengajukan kredit ke perbankan. Modal awal maupun operasional masih menggunakan dana sendiri. Max targetkan bakal buka 10 cabang lagi. Sementara jika respon pasar memang bagus, target jangka panjang Max berencana bakal berlakukan sistem franchise di setiap kota besar di Indonesia. Bahkan dengan bekal pengalamannya, ia berobsesi bakal buka cabang di Amerika dengan sistem franchise. Ini bisa dimaklumi, pasalnya Max memliki beberapa saudara yang tinggal di Amerika, yang saat ini telah membuka usaha gas station (pom bensin) di negeri Paman Sam itu.

“Saya optimis menembus pasar Amerika, karena saya pernah tinggal di sana, sementara ini kakak saya masih tinggal di Amerika. Jadi saya tahu betul taste atau selera orang Amerika seperti apa. Secara rasional bisa dibandingkan, Amerika jual junk food, sementara kita jual healthy food, kita jelas lebih berkelas. Bahan baku lumpia 80 persen serat. Mulai rebung yang merupakan hard fiber yang sangat membantu untuk pencernaan, telor, protein, udang yang fresh,” tegas Max.

Mengenai bahan baku, semua didapatkan dari lokal Jawa Tengah. Mulai terigu untuk kulit lumpia, kemudian telor, udang, rebung, hingga kepiting, semua didapatkan dari suplier besar yang memasok Sembako di Jawa Tengah. Namun Max enggan mengatakan siapa pemasok itu. Max mengaku dari bisnis makanan yang memiliki rasa cenderung manis ini, ia optimis raih keuntungan 40 %. Guna mewujudkan obsesinya ekspansi ke Amerika, kini max mulai menstandarisasi kualitas bahan baku dan rasa lumpia produknya. Demi menjaga kualitas pelayanan, Max mengaku tidak akan membuka usaha dalam bentuk food court, namun tetap dalam bentuk resto dengan desain interior dominasi warna kuning yang memberi kesan enerjik. Malik

Asumsi penghitungan keuntungan Lumpia Express :
- Apabila untuk penjualan per hari mampu mencapai 300 buah lumpia, dengan asumsi 200 buah lumpia original dan 100 buah lumpia crab. Maka omset Lumpia Express dalam 1 hari mencapai Rp 1.200.000 + Rp 1.000.000 = Rp 2.200.000
- Omset per bulan Rp 2.200.000 x 30 = Rp 66.000.000
- Biaya operasional (untuk biaya bahan baku, gaji pegawai, listrik, telfon, bensin untuk kurir, dll) = Rp 39.600.000
- Jadi asumsi keuntungan Lumpia Express per bulan sebesar 40% = Rp 26.400.000 (untuk penjualan 300 buah lumpia per hari).

Info lebih lanjut Hub :
Lumpia Express (Max Sugi Winarso)
Jl Gajah Mada 142 AA Semarang. Telp. (024) 3547697

* Tulisan ini dimuat di Tabloid Peluang Usaha (2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment