Rabu, 18 Februari 2009

Bakpia Pathok 25 - Makanan Khas Yogya Dengan Keuntungan 30 Persen

Siapa yang tidak mengenal Bakpia Pathok, makanan khas Yogyakarta yang banyak dijajakan di sekitar jalan Pathok Yogyakarta. Makanan yang dulu resepnya diadopsi dari makanan China ini ternyata cukup laris manis terjual. Bakpia Pathok 25, salah satu brand merk makanan ini telah menunjukkan bahwa bakpia sangat digemari tidak hanya oleh masyarakat Yogya, namun juga masyarakat diluar Yogyakarta. Bagaimanakah potensi bisnis makanan khas ini?

Tidak lengkap rasanya, jika datang ke Yogyakarta tanpa mencicipi makanan berbahan tepung terigu dan kacang hijau ini. Kata bakpia, menurut Arlen Sanjaya, pemilik PT Bakpia Pathok 25, diadopsi dari nama makanan China yang artinya Pia isi daging babi. Namun karena menyesuaikan budaya orang Indonesia, isi daging babi diganti dengan isi kacang hijau. Sementara nama Pathok, karena pengrajin makanan ini tinggal di sekitar jalan Pathok. Namun perkembangannya, bakpia kini tidak hanya berbahan kacang hijau, namun juga semakin dimodifikasi dengan isi keju, coklat, dan selai nanas.

“Sejarahnya sejak jaman dulu makanan ini memang sudah ada di China. Kata bakpia, bakmoa, bakso, bakpao, bak itu khan artinya daging babi. Karena kita pengusaha, membuat pangsa pasar yang seluas-luasnya, maka diisi dengan kacang hijau agar sesuai masyarakat sini. Padahal sebenarnya kalau menggunakan kacang hijau namanya harusnya tau luk pia, namun sudah terlanjur familiar dengan nama bakpia.” Ungkap Arlen Sanjaya, pemilik PT Bakpia Pathok 25.

Sebagai salah satu produsen besar bakpia di Yogyakarta, PT Bakpia Pathok 25 lahir dari perusahaan kecil. Awal lahirnya Bakpia Pathok 25, dimulai dari usaha kecil milik Alm. Tan Aris Nio, seorang janda keturunan yang harus berjuang demi menghidupi anak-anaknya. Meskipun dia bukan orang pertama, yang memproduksi bakpia, karena pada saat itu sudah banyak orang yang juga memproduksinya. Saat itu, Tan Aris Nio hanya membuat kue ini, kemudian dititipkan ke toko-toko. Barangkali ia menyadari, bahwa bakpia bakal menjadi makanan yang digemari banyak orang. Benar saja, kini Bakpia Pathok 25 telah memiliki 5 toko cabang, dan 1 lokasi untuk toko sekaligus produksi. Selain itu, untuk penjualannya banyak orang luar daerah Yogyakarta yang mengambil kue ini untuk kemudian dijual di Magelang, Semarang, dan daerah lainnya.

“Saya nggak ingat kapan ibu saya mulai. Dulu cuman diantar-antar ke toko kecil, warung kecil. Memang ibu saya sedikit tahu, ini peluang yang besoknya bakal booming. Ini bisa jadi andalan khas oleh-oleh,” papar Arlen Sanjaya.

Manajemen One Man Show


Barangkali bukan hanya PT Bakpia Pathok 25, produsen kue bakpia yang masih menggunakan manajemen one man show. Meski telah mempekerjakan 100 pegawai, seperti layaknya UKM, Arlen Sanjaya mengaku sistem operasi perusahaannya masih terpusat kepadanya. Meski demikian, ia berani mengklaim, PT Bakpia Pathok 25 merupakan pengrajin bakpia pertama yang telah menggunakan brand (merk). Melalui sentuhan manajemen Lita Sanjaya, kakak perempuan Arlen, dulu menggunakan merk Bakpia Pathok 38. Alasanya, karena saat itu menyewa toko dengan nomor 38. Namun karena dianggap sebagai angka kawin mistis dalam penanggalan Imlek, maka diubahlah menjadi Bakpia Pathok 25. Ternyata, dewi fortuna menghampiri, merk 25 ini terkenal dan menjadi brand yang cukup diperhitungkan.

“Saat itu sudah banyak pengrajin bakpia, namun pada belum pakai merk. Kita berani bilang kita pakai merk yang pertama. Mungkin memang ibu saya membuat bakpia bukan yang pertama, tapi yang pertama pakai brand itu ibu saya, saat itu menggunakan nama 38. Membuat merk lagi, angka 25, tapi malah yang terkenal 25 ini. pemikirannya, angka 38 itu khan kawin mistik, 25 ini khan bisa dibicarakan selawe, duapuluh lima,” papar Arlen.

Menyadari betul mengenai pentingnya brand, kemudian dibuatlah slogan Bakpia Pathok 25 Oleh-oleh Khas Jogja. Menurut Arlen Sanjaya, nama Bakpia Pathok 25 tidak bisa dipatenkan karena berkaitan dengan nama kue, nama jalan, dan angka yang merupakan milik publik. Namun Arlen telah mematenkan Bakpia Pathok 25 secara utuh 1 kardus atau 1 kotak. Sertifikat Depkes pun telah diraih pada tahun 1988 dan serifikat halal MUI pada 1998. Mengenai kemasan, jika dulu hanya menggunakan kemasan kotak anyaman bambu (besek), kemudian dikemas dalam kardus putih biasa, kini telah dikemas dalam kardus dengan desain elegan dan higienis.

“Dari segi kemasan dari dulu kita memang paling menang. Sebelum ini bakpia hanya dikemas dalam kertas buram (contong), kalau beli lebih dari 10 biji dikemas dalam kotak anyaman bambu (besek). Besek ini kalau hujan ini jamur, bubuk, juga besar kecilnya nggak sama. Saat itu merk hanya bisa dikasih label tempelan kertas terus ditali. Itu pertama, dulu punya merk tapi cuman ditempelin,” ujar Arlen.

Angka Penjualan Fluktuatif
Arlen mengaku angka penjualan Bakpia Pathok 25 miliknya, amat fluktuatif. Barangkali ini bisa menjadi salah satu kendala ataupun dianggap sebagai tantangan. Pasalnya, jika dalam keadaan ramai, Arlen yang dibantu 100 karyawan kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar, sehingga masih kekurangan tenaga. Bahkan omset bisa mencapai 5-6 kali lipat dibanding hari biasa. Namun jika sepi, tentu saja 100 karyawan yang membantu Arlen terkesan berlebihan tenaga. Karena, Bakpia dibuat tanpa bahan pengawet dan hanya tahan dalam waktu 5 hari, maka produksi tidak bisa distok. Untuk menyikapi hal ini, jika dalam keadaan ramai, yaitu menjelang liburan nasional, atau pada hari jumat, sabtu, dan minggu, Arlen mengambil tenaga borongan (pocokan) dengan mekanisme pembayaran 3 kali lipat dibanding karyawan biasa.

“Bakpia itu fluktuatif sekali pasarnya, diwaktu sepi ya sepi sekali pasarnya. Diwaktu ramai bisa 5-6 kali omset harian. Makanya saya menyediakan tenaga agak repot, waktu sepi saya menggunakan 40-50 tenaga cukup. Tapi kalau ramai pakai 200 tenaga masih kurang.

Mengenai perekrutan pegawai, Arlen merekrut orang yang bukan dari pendidikan tinggi. Rata-rata lulusan SD, bahkan SMP pun tidak lulus yang rata-rata dari Bantul, Wonosari, dan Kulonprogo dengan sistem upah UMP DIY. Mekanisme perekrutannya, hanya melalui kenalan pegawai yang sudah bekerja di Bakpia Pathok 25. Tidak pernah ditanyakan mengenai, ijazah, minimal memiliki KTP dan memiliki niat untuk bekerja, itu sudah cukup. Mengenai pekerjaan yang dilakukan serabutan, mulai produksi bakpia, jaga toko, hingga perawatan peralatan produksi. Karena resep pembuatan bakpia cukup terbuka, dari sinilah mulai terjadi persaingan antar pengrajin. Selain itu bahan bakunya juga tidak sulit untuk didapatkan. Arlen biasa mengambil bahan baku terigu dari Yogyakarta, sementara untuk kacang hijau yang paling bagus dari daerah Demak dan Tuban.

Karena tidak terlalu sulit untuk membuat bakpia, maka mulai bermunculanlah pesaing-pesaing Bakpia Pathok 25. Bahkan dideret jalan Pathok, banyak pengrajin menjajakan makanannya dengan berbagai macam brand. Agar tetap eksis dalam bisnis ini, Arlen menyikapinya dengan tetap menjaga kualitas dan mutu bakpia buatanya. Termasuk selalu terus terang kepada pembeli mengenai tanggal kadaluarsa, karena kebanyakan orang membeli bakpia untuk dijadikan buah tangan atau oleh-oleh. Meski tidak bersedia berterus terang, namun ketika paling ramai, bisa diasumsikan Arlen memproduksi 1000 kardus bakpia dengan harga mulai Rp 12.000 per kardus. Arlen mengaku memperoleh keuntungan antara 20-30 persen, sementara keuntungan bersih 10 persen optimis dapat diraih.

Guna lebih mengembangkan bisnisnya, selain pembenahan manajemen internal, Arlen juga berencana membuka outlet dekat bandara, agar lebih memudahkan pelanggan untuk mendapatkan bakpia. Selain itu, setiap tahunnya Arlen telah mengikuti pameran di Pekan Raya Jakarta dengan menyewa 1 stan, dan telah membuka kantor cabang di Jl Kemandoran, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Meski pasarnya pasar lokal, karena bakpia tidak mungkin diekspor karena kendala keawetan. Namun tampaknya, bisnis makanan satu ini masih tetap menjanjikan. Selain rasanya enak, ternyata keuntungannya juga lumayan. Malik

Asumsi Penghitungan Keuntungan Bakpia Pathok 25 :
- Omset per hari jika sedang ramai :
- Untuk penjualan Bakpia Pathok 25 per hari kalau sedang ramai : 1000 kardus x Rp 12.000 = Rp 12.000.000
- Biaya operasional (biaya bahan baku, gaji karyawan, listrik, telpon, dll) = Rp 8.400.000
- Keuntungan kotor 30% = Rp 3.600.000
- Namun jika dalam keadaan sepi, asumsi omset penjualan hanya sekitar 200 kardus x Rp 12.000 = Rp 2.400.000

Info lebih lanjut :
Bakpia Pathok 25 (Arlen Sanjaya)
Head Office :
Sanggrahan Pathuk NG I/504
Yogyakarta Indonesia, Telp. (0274) 513 904, 566122
Branch office :
Jl. Kemayoran VII No.4 Kebayoran Lama
Jakarta Selatan, Telp. (021) 5483130, 5326686

* Tulisan ini dimuat di Tabloid Peluang Usaha (2006)

2 komentar:

  1. bagaimana persyaratan jika ada mahasiswa yang ingin praktik kerja lapangan di perusahaan bakpia patok

    BalasHapus
  2. kenapa mahasiswa sulit sekali di terima PKL diperusahaan bakpia patok. apa yang membuat pihak perusahaan menyulitkan mahasiswa untuk PKL di perusahaan bakpia patok ini. tolong berikan penjelasan

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment