Mobil tua memang antik, hanya beberapa kalangan yang menggemarinya. Bisnis bengkel mobil Volks Wagen (VW) kodok dan kombi terakhir keluaran tahun 1974 tampak semakin sepi. Selain pemilik mobilnya jarang, juga semakin tergeser oleh ramainya bengkel mobil baru yang menggunakan teknologi komputerisasi. Bagaimanakah kondisi bisnis bengkel mobil tua ini?
Tampaknya masa keemasan VW mulai memudar. Mobil kodok yang sempat menjadi primadona generasi muda tahun 60-an, kini telah mulai kehilangan penggemarnya. Denny Tobing, pemilik bengkel Madison Motor yang khusus menerima servis mobil VW kodok dan kombi menyatakan rata-rata omset Rp 6-9 juta per bulan. Sepinya bisnis bengkel mobil VW kuno di Jakarta ini, menurut Denny, karena masyarakat cenderung menggunakan mobil generasi baru yang lebih praktis perawatannya. Bahkan karena sepinya bisnis bengkel yang dikelolanya, Denny berencana untuk beralih membuka bengkel untuk umum.
“Kalau dilihat dari pendapatan memang kurang menguntungkan, untuk itu ada rencana untuk merubah bengkel menjadi bengkel umum. pelan-pelan, kalau ada mobil Jepang ditampung satu per satu pelan-pelan,” ungkap Denny.
Lanjut Denny, rata-rata pelanggannya orang lanjut usia. Jika ada generasi muda yang menyukai VW pun, itu karena mobil warisan ayahnya. Untuk perawatan tune up pun, jarang. Bisa jadi untuk 1 mobil VW tune up 3 bulan sekali, karena jarang dipakai. Padahal, Tambah Denny, untuk biaya operasional sewa tanah Rp 1 juta per bulan. Sementara, biaya operasional listrik sekitar Rp 1 juta dan gaji untuk 5 karyawan Rp 4 juta per bulan. Dari total omset, kira-kira keuntungan 10 persen.
“Pendapatan tidak stabil, karena kadang ramai, kadang sepi. Pelanggan yang datangpun karena dari dulu sudah biasa datang kesini. Paling servis pelayanan, kalau ada orang telfon, perbaikan dimana kita datang, sosialisasi pun hanya dari mulut ke mulut,” papar Denny.
Rata-rata mobil datang 2-3 per hari. Pelayanan mulai service, tune up dengan ongkos Rp 75 ribu, hingga turun mesin Rp 700 ribu diluar biaya untuk onderdil. Untuk servis total, 1 mobil pengerjaannya bisa 3-5 hari, tergantung kerusakan. Meski selama 20 tahun, Bengkel Madison Motor menyediakan berbagai jasa mulai ganti oli, tune up, bongkar mesin, cat, las dan jasa servis lainnya. Namun kenyataanya, kondisinya pun belum cukup menjanjikan. Tampaknya bertahan dengan bisnis bengkel tua, merupakan pilihan yang sulit.
Terbuka Kepada Pelanggan
Jika memerlukan penggantian suku cadang, lanjut Denny, harus melalui persetujuan pelanggan. Ini merupakan upaya untuk terbuka kepada pelanggan. Pelanggan biasanya ditelfon untuk ditawari beli spare part sendiri atau dibelikan oleh bengkel. Dengan langkah seperti ini, bengkel mobil VW yang sedikit pelanggan itu, namun masih tetap mendapatkan pelanggan loyal. Bahkan menjelang lebaran pun tidak ada bedanya. Karena pemilik mobil VW memang sedikit.
Mekanik yang sekarang bekerja di Madison Motors merupakan karyawan yang sudah lama. Sebelum menjadi mekanik, pertama-pertama menjadi asisten mekanik sembari diberi pengajaran. Sistem penggajiannya dibayarkan per minggu, sekitar Rp 1 juta untuk 4 mekanik. Sementara untuk mekanik senior yang ahli tentang mesin hanya 1 orang, dengan mendapatkan gaji lebih besar plus bonus dibanding mekanik lainnya.
Menurut Denny untuk mendirikan bengkel mobil tua cukup diatas lahan seluas 15x15 meter. Sementara jika untuk bengkel mobil Jepang bisa lebih luas dari itu. minimal mesin yang dibutuhkan mulai mesin dongkrak, jack stand (tahanan), kunci-kunci, mesin las, kompresor, dan alat penyemrot cat. Untuk mendapatkan alat-alat ini bisa dari Pasar Glodok, Kenari, atau Plaza Atrium Senen. Jika pada tempat-tempat itu tidak tersedia, bisa dicari di Sawah Besar atau Pasar Mobil Kemayoran. Setiap pembelian spare part, sebuah bengkel biasanya mengambil untung 10 persen sebagai pengganti ongkos transportasi.
“Untuk mendirikan bengkel mobil tua seseorang harus pernah berkecimpung dan tahu tentang mobil tua itu,” ungkap Denny.
Lulusan Tempat Kursus Tidak Cocok
Jika ingin merekrut karyawan, tambah Denny, sebaiknya jangan mengambil dari lulusan tempat kursus. Pasalnya, biasanya mereka hanya diajari untuk mobil Jepang, jarang diajari bagaimana memperbaiki mobil Eropa semacam VW. Toh, jika sama-sama diajari, lulusan kursus atau tidak, waktu yang dibutuhkan sama saja hingga mereka bisa menjadi mekanik. Mobil VW, biasanya keluhannya kaki cepat keropos, karena umurnya sudah hampir 30 tahunan, VW kodok terakhir keluaran tahun 1974-1975. Berbeda dengan mobil Jepang yang serba praktis, perbaikan mobil tua semacam VW membutuhkan kesabaran dan ketelitian, karena menggunakan alat-alat yang sederhana.
“Untuk membeli onderdil Jepang ada 3 macam kelas kualitas. Sementara untuk suku cadang mobikl Eropa, tersedia produk Jerman, Brasil dan Meksiko. Namun sekarang kebanyakan menggunakan produk Brasil, karena lebih murah. Sementara untuk orderdil dari Jerman harga bisa dua kali lipat bahkan lebih. Ornderdil Meksiko jarang ada,” ujar Denny. Malik
Info lebih lanjut hub :
Denny Tobing (35), Pemilik Madison Motor. Jl Pramuka 66 Telp (021) 8506588
* artikel ini pernah dimuat di Tabloid Peluang Usaha edisi tahun 2006 silam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment