- Omzet Rp 6 juta - 7 juta per Hari
Siapa berani menyangkal kelezatan Martabak Kubang. Martabak asin hasil racikan Alm. H Yusri Darwis (Hayuda) ini telah mulai dikenal banyak orang. Selama hampir 34 tahun perjalanannya, bisnis Martabak Kubang Hayuda yang dulunya dijajakan gerobak kaki lima, namun kini telah memiliki 4 resto cabang di Jakarta dan 3 cabang lainnya di Sumatra Barat. Untuk 1 resto cabang di Jakarta, asumsi omzet mencapai Rp 6 juta – Rp 7 juta per hari.
Mungkin H Yusri Darwis (Hayuda) tak pernah mengira, rasa martabak buatannya akan disukai banyak orang. Perpaduan antara resep India dan bumbu Padang ini telah membuat Martabak Kubang miliknya itu berkembang menjadi bisnis makanan yang menjanjikan. Iwan, pemilik sekaligus pengelola Martabak Kubang Cabang Jakarta menyatakan, bisnis makanan ini telah digeluti bersama kakaknya, Hayuda sejak tahun 1970. Saat itu, Martabak Kubang yang dinamai Martabak Keling masih dijajakan gerobak kaki lima di Riau. Namun setelah menemukan hasil racikan bumbu yang pas, nama martabaknya diganti Martabak Mesir, Bopet Buya hingga akhirnya diberi nama Martabak Kubang. Nama desa kelahiran Hayuda, yang terletak di Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat.
Perjalanan bisnis Martabak Kubang, tidaklah mulus langsung mencapai keberhasilan. Pada 3 tahun pertama, tutur Iwan, masa perintisan bisnis ini kadang beroleh keuntungan, namun sering juga tidak laku. Baru pada Tahun 1975, Hayuda menyewa sebuah tempat di Kota Padang untuk mendirikan Restoran Kubang, dari sinilah perjalanan bisnis keluarga ini dimulai. Martabak Kubang mulai dikenal. Tidak jarang, orang-orang Jakarta yang melancong ke Padang, membeli martabak Kubang sebagai buah tangan. Bahkan, saking digemarinya, banyak pengusaha lain yang mulai membuka usaha yang sama, dengan mengambil nama Kubang namun dengan tambahan nama lain, misalnya Martabak Kubang Asli, Kubang Resto ataupun Kubang Group. Tidak hanya di Padang, saat ini di Jakarta pun mulai bermunculan restoran dengan nama Kubang.
“Usaha yang kita buka tetap menggunakan nama Martabak Kubang Hayuda, ini sudah kita patenkan. Jika ada orang yang membuka usaha dengan nama Kubang adalah orang asli Kubang, bagi kami tidak apa-apa. Namun jika bukan orang asli Kubang, kami bisa ajukan klaim,” kata Iwan ketika wawancara dengan Peluang Usaha di Restoran Cabang Jl Kalimalang 14B (07/09).
Ekspansi ke Jakarta
Memperoleh keberhasilan di kampung halaman, tentu tidak membuat seorang pengusaha berpuas diri. Melihat respon positif pasar terhadap martabak buatannya, pada 1997, akhirnya dengan restu kakaknya, Iwan memutuskan hijrah ke Jakarta dan membuka cabang di Jl Dr Saharjo, Tebet. Saat membuka usaha ini, Iwan yang juga pernah bekerja menjadi pelayan toko dan penjual perhiasan imitasi ini, butuh modal awal sekitar Rp 40 juta hasil patungan bersama kakaknya.
Tidak berbeda dengan usaha di Padang, masa perintisan usahanya di Tebet selama 3 tahun. Hingga menginjak tahun ke-4 restoran martabak miliknya mulai ramai pembeli. Menyusul ia mulai membuka cabang di Jl Biak, Roxy, Jl Kalimalang, Jakarta Timur. Pada 2005 ini, dibuka cabang di Jl Raya Margonda dengan konsep lebih mewah. Tercatat hingga saat ini telah dibuka 4 cabang di Jakarta dikelola oleh Iwan bersama kakak iparnya, 3 lainnya di Sumatera Barat yang dikelola oleh keluarga alm Hayuda. Saat ini, Iwan juga sedang melirik potensi pasar Kota Semarang dan Bandung.
“Cabang Jl Kalimalang butuh waktu 3 tahun baru dikenal orang dan berkembang, Di Roxy sudah berjalan 3 tahun, tapi saya coba 1 tahun lagi, jika tidak berkembang kita akan cari tempat lain,” ujar Iwan.
Tentu saja sukses didapatkan saat ini, bukan dilalui tanpa kegagalan. Iwan mengungkapkan, 2 restoran cabang yang dibuka di Kelapa Gading dan Jl Fatmawati bangkrut hanya dalam hitungan waktu 11 bulan dengan kerugian Rp 20 juta setiap cabangnya. Saat ini, Cabang di Roxy pun terancam tutup karena sepi pembeli. Menurut Iwan, penyebab sepinya pembeli karena kemacetan di Jl Biak, sehingga membuat orang enggan mampir ke Restoran Martabak Kubang miliknya. Berbeda dengan cabang di Jl Margonda, meski belum genap berusia 1 tahun namun sudah mulai ramai pembeli.
“Cabang Margonda perkembangannya kelihatannnya bagus, tapi nggak tahu kedepan apakah masih akan tetap berkembang dengan bagus, sementara cabang Kelapa Gading dan Jl Fatmawati bangkrut karena saat itu belum banyak orang yang kenal Martabak Kubang, nggak boleh dicoba dan tidak ada promosi,” papar Iwan.
Sebanyak 82 karyawan dipekerjakan untuk 4 cabang di Jakarta. Sementara di Padang, 1 cabang bisa memperkerjakan 40 orang. Setiap cabang di Jakarta, disediakan 2 motor sebagai fasilitas antar keliling dengan jarak maksimal 3-4 Km dari Restoran. Meskipun memang butuh ketekunan dan kesabaran untuk membuka usaha bisnis makanan yang rawan tidak laku ini. Tambah Iwan, keuntungan bersih 10-15 persen baru didapat setelah beberapa tahun membuka usaha. Bahkan Iwan mengaku, untuk 2 tahun pertama pendapatan hanya mampu menutupi biaya operasional, itu pun terkadang merugi. Ternyata pola ini berlaku bagi setiap cabang restoran yang dibukanya.
Mengenai ekspansi sistem waralaba, Iwan mengaku agak lebih berhati-hati melakukannya. Pasalnya, menurut Iwan, bisnis martabak yang ia geluti berbeda dengan bisnis makanan semacam Kentucky Fried Chicken (KFC) atau makanan lain yang tidak terlalu membutuhkan ketrampilan khusus. Untuk membuat adonan martabak sekualitas Martabak Kubang miliknya, diperlukan ketrampilan tangan yang tidak sembarang orang bisa melakukannya. Meski saat ini, karyawannya tidak lagi didominasi orang Padang, namun untuk bisa trampil membuat adonan, dibutuhkan pelatihan selama 2 sampai 3 tahun, atau paling cepat 1 tahun bagi yang sungguh-sungguh berlatih. Selain itu kesabaran melakukan perintisan dengan resiko kerugian juga menjadi pertimbangan mengapa Iwan belum memberi kesempatan kepada investor.
“Saya bukan karena apa-apa belum melakukan sistem waralaba, yang sulit itu membuat adonan kulitnya. Saya saja waktu belajar sambil dipegangi tangan saya. kalau adonannya menggunakan mesin itu hanya tahan sampai 3 jam saja, jadi memang harus adonan tangan. Kalau memang ada orang yang benar-benar ahli dan bertanggung jawab, saya baru berani buka,” ungkap Iwan.
Menjaga Kualitas Rasa
Semakin menjamurnya pengusaha martabak, tentu saja Restoran Martabak Kubang Hayuda harus tetap menjaga eksistensinya agar tidak kalah bersaing di pasar. Meski hanya dengan modal penyebaran informasi dari mulut kemulut tanpa ada iklan atau promosi, Iwan berkomitmen untuk tetap menjaga kualitas rasa Martabak Kubang miliknya. Rasa khas Martabak Kubang Hayuda, dengan komposisi, tepung, kuning telur, garam, dan air untuk kulitnya. Bisa jadi ini sama dengan martabak lainnya
Sementara untuk isi, terdiri dari daging sapi dengan bumbu rendang khas Padang campuran buah pala, palasari, kulit manis diracik dengan bumbu India merupakan rahasia kualitas rasa Martabak Kubang. Tidak hanya itu, untuk kuahnya merupakan racikan dari kecap encer yang dicampur cuka, bawang bombay, irisan tomat, dan cabe rawit. Bahkan, untuk cabe dan racikan bumbu langsung didatangkan dari Padang. Selain martabak, Restoran Martabak Kubang Hayuda juga menyediakan nasi goreng, Roti Cane, Soto dan Sate Padang, dengan bumbu khas Kubang.
“Untuk menjaga rasa yang khas, bumbu tetap saya kirim dari Padang, pengirimannya sih lihat kalau sudah habis saja,” tutur Iwan.
Dengan kualitas rasa yang dipertahankan ini, Iwan mengatakan, omzet yang bisa ia dapatkan dalam 1 hari untuk cabang Jl Dr Saharjo mencapai rata-rata diasumsikan Rp 6 juta – Rp 7 juta. Sementara cabang lain yang relatif lebih sepi seperti di Jl Kalimalang rata-rata hanya pendapatan dengan asumsi Rp 2 juta per hari, hanya Sabtu-Minggu terkadang bisa mencapai Rp 6 juta – Rp 7 juta. Waktu paling ramai, ketika setelah lebaran selama 1 minggu bisa laku 300-400 martabak. Sementara, untuk di Padang sebelum Badai Tsunami rata-rata per hari 1000 martabak laku terjual. Seminggu setelah Lebaran, Cabang Padang bisa menjual 4000 martabak per hari.
Untuk pasokan bahan baku seluruh cabang di Jakarta, Iwan harus menyediakan anggaran Rp 150 juta untuk belanja daging sapi. Untuk cabang Tebet, dalam 1 hari Iwan harus menyediakan 80 Kg daging sapi, terigu 1,5 karung dan bahan-bahan lainnya. Iwan mengungkapkan, tarif harga yang dia tawarkan mulai Rp 14 ribu. Untuk peralatan masak pun, hasil buatan sendiri. Untuk wajan atau loyang misalnya, jika beli dipasaran harga mencapai Rp 400 ribu – Rp 500 ribu, namun tipis sehingga mengakibatkan martabak bisa rusak. Jika membuat sendiri, harga besi per kilonya Rp 10 ribu, sehingga kualitas ketebalannya bisa disesuaikan dengan keinginan. Sementara untuk gerobak yang terbuat dari stainless steele harganya mencapai Rp 8 juta per buah.
“Itu tergantung kita mau buka cabang yang seperti apa. Tapi kalau mau buka dengan Rp 10 juta pun bisa, tergantung peralatan yang kita gunakan. Tapi jika ingin menggunakan peralatan yang serba berkualitas membutuhkan investasi yang lebih besar pula,” ungkap pria kelahiran 18 Agustus 1956 silam ini. (Abdul Malik, Mutiara Dwi R)
BOX
Kendala dan Kiat Untuk Sukses
Kendala dari bisnis martabak ini, menurut Iwan, pertama dari segi SDM, untuk membuat adonan kulit yang berkualitas butuh ketrampilan khusus. Sehingga untuk memperkerjakan karyawan mmebutuhkan pelatihan yang lama, paling tidak membutuhkan waktu 2 tahun dengan ketekunan. Untuk mendapatkan karyawan yang bersedia berlatih lama dengan sabar tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi, jika sudah ahli maka sudah menjadi resiko jika karyawan itu membuka usaha sendiri, meskipun rahasia racikan bumbu belum ia ketahui.
Kedua dari segi peralatan, untuk menghasilkan hasil masakan martabak yang berkualitas pun, peralatan seperti wajan atau loyang yang tebal harus dibuat sendiri. Jika menggunakan peralatan yang ada di pasaran wajan lebih tipis dan dapat mengakibatkan hasil masakan kurang bagus bahkan rusak. Kemudian, dari segi promosi, Iwan menyatakan selama ini penyebaran informasi hanya dari mulut ke mulut. Hanya sedikit dilakukan promosi, untuk Cabang Padang, sempat diberlakukan kupon pembelian.
“Iklan hanya dari mulut ke mulut, jadi kalau di Padang sendiri yang lebih banyak kenal adalah orang Padang dan Medan. Dulu yang di Padang setelah puasa diberlakukan kupon, nggak tahu sekarang,” ungkap Iwan.
Mengenai kiat agar sukses, Iwan menyatakan, dengan menjaga rasa yang khas hasil racikan H,Yusridar merupakan pemikat bagi pelanggan. Kemudian, bahan-bahan bumbu pun tetap didatangkan dari Padang agar kualitas rasa tetap terjaga. Dalam bisnis makanan seperti ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Pasalnya, paling tidak 2 tahun pertama merupakan masa perintisan dengan resiko kerugian. Setelah tahun ketiga, jika memang berhasil baru bisa dilihat keuntungan bersihnya yang hanya 10-15 persen. Selain itu, bisnis makanan jika tidak laku tentu saja resikonya akan basi, artinya investasi hari itu dianggap hilang. Jadi kesabaran dan keuletan memang sangat menentukan sukses tidaknya berbisnis Martabak Kubang Hayuda ini. (Malik)
* Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Peluang Usaha (2006)
Dear all
BalasHapusSaya adalah anggota keluarga Haji Yusri Darwis, mengklarifikasikan bahwa Bpk. Haji Yusri Darwis (HAYUDA) belumlah Almarhum (seperti ditulis). Alhamdulillah Beliau masih sehat wal afiat, pada saat ini Beliau menetap di Desa Kubang Kec. Lima Puluh Kota Payakumbuh, Sum-Bar.
Dear Bapak Ain
BalasHapusTerimakasih infonya. Saya menulis artikel ini berdasarkan hasil wawancara. Jadi koreksi dan masukan dari pembaca, tentu akan membantu menyempurnakan informasi yang ada. salam
terima kasih atas infonya....di bekasi perumahan pondok ungu permai sektor V saya juga pernah beli martabak mesir rasanya juga mantap ga kalah dg yang kubang sahrjo...cobain deh....yang punya juga org padang tp yg kerja org jawa....mantap bangat rasanya
BalasHapus