Sunday, 15 February 2009
Keberanian dan tekad adalah modal untuk berwirausaha.Dengan modal nekat saja seseorang bisa mengembangkan bisnis. Bagaimana caranya?
Saat seseorang ingin memulai berwirausaha, umumnya ada banyak deretan hambatan yang menghantui,hingga akhirnya mengurungkan niat menjadi pengusaha. Hambatan itu di antaranya dari sisi internal seperti keterbatasan modal finansial, tidak bisa menemukan ceruk pasar,hingga minimnya relasi.
Dari sisi eksternal, sudah banyak cerita buruk mengenai tidak ramahnya birokrasi di negeri ini terhadap segala urusan bisnis. Mekanisme yang dianggap berbelit dan memperbesar peluang terjadinya pungutan liar (pungli) juga semakin menambah daftar panjang hambatan tersebut.
Tidak hanya itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang pengusaha, apalagi pengusaha kecil,sering dimanfaatkan dan diperas oknumoknum tidak bertanggung jawab.Masih banyak alasan lain lagi yang semakin membuat banyak berpikir ulang untuk mulai melakukan wirausaha. Meski demikian,menurut mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sandiaga S Uno, sebenarnya kunci utama berada pada tekad dan keberanian dalam melakukan wirausaha.
Hambatan internal maupun eksternal akan bisa diatasi, jika usaha tersebut dilakukan dengan sepenuh hati. “Tidak ada istilah hambatan jika kita memiliki tekad, selama ini kaum muda kita selalu berpikiran bahwa modal,networking,dan birokrasi adalah hambatan mereka,”ujarnya kepada SINDO.
Menurut Sandi, begitu dia biasa disapa, banyak cara bisa dilakukan dengan berbagai macam kreativitas agar hambatan-hambatan itu bisa teratasi. Untuk masalah modal,misalnya, banyak cara bisa dilakukan. Umpamanya dengan memanfaatkan uang orang lain, memilih usaha yang tidak membutuhkan modal uang, atau membeli barang bayar belakangan.
“Saya sendiri tidak terlahir sebagai pengusaha konglomerasi, atau anak seorang pejabat yang mempunyai akses ke mana-mana. Orangtua saya hanya seorang pendidik dan profesional, tapi dengan modal nekat dan optimisme alhamdulillah saya bisa seperti sekarang. Yakinlah, jika kita punya tekad,semua masalah bisa teratasi,” paparnya.
Tekad, keberanian, dibarengi optimisme adalah modal awal yang mutlak dimiliki. Baru kemudian memilih jenis usaha yang diminati sesuai bidang atau bakatnya. Tentu saja dengan melihat peluang pasar. Sebab, dengan minat yang besar maka akan timbul gairah dan semangat menjalani, memelihara, dan membesarkannya. Tidak ada waktu lagi untuk menunda untuk memulai berwirausaha.
“Just do it now! Jangan terlalu berhitung, putuskan, mulai, dan kerjakan sekarang juga,” tekannya. Meski demikian, semua instrumen pendukung dalam berbisnis tetap tidak bisa diabaikan. Alasannya, semua instrumen sama pentingnya dan saling mendukung satu sama lain.
Bahkan dia mencatat peluang berwirausaha bagi kaum muda sangat terbuka lebar. Dengan modal cekak seorang anak muda tidak perlu khawatir dalam menjalankan bisnis. Banyak cara bisa dilakukan untuk mengembangkan bisnis.
“Orang muda kita sebenarnya sudah memiliki semua instrumen dimaksud. Pertama,soal modal materi justru mereka bisa lebih total,karena energi dansumberdaya yangmerekamilikibisa dicurahkan sepenuhnya untuk perintisan, tidak terpecah lagi dengan kebutuhanpendidikananak,”katanya.
Usia muda juga memberikan peluang munculnya ide-ide segar. Tentu anak muda berkarakter lebih inovatif dan suka melakukan terobosanterobosan baru. Selain itu, luasnya pergaulan anak muda menjadi modal penting untuk menjalankan usaha.
“Anak muda biasanya memiliki jiwa gaul sehingga potensi jaringan bisnis (networking) sangatbagus. Bukankah semua instrumen tersebut sudah terpenuhi? Justru yang menjadi hal penting untuk mendorong munculnya kewirausahaan adalah mengubah paradigma berpikir untuk tidak bergantung pada sebuah perusahaan. Tidak menjadi orang yang dipekerjakan, tetapi menjadi orang yang mempekerjakan,” paparnya.
Selain itu, masalah dukungan banyak pihak juga menjadi faktor sebuah usaha bisa semakin menumbuhsuburkan semangat kewirausahaan. Termasuk dalam hal ini adalah regulasipemerintahyangsemakinmendorong bermunculannya pengusahapengusaha baru,terutama untuk skala usaha kecil dan menengah (UKM).
“Saya sendiri sangat antusias jika dalam suatu kesempatan diminta untuk memberikan sharing pengalaman atas kisah sukses saya dalam merintis usaha.Ini adalah salah satu cara untuk membangkitkan semangat mereka, khususnya yang sedang mencari pekerjaan agar tergerak dan berani untuk memulai dan mencoba,”ungkap Sandi.
Guna menjadi pengusaha yang tahan banting dari segala terpaan pasang surut,seseorang harus berpikir di luar kotak (think out of box). Dengan cara inilah ketakutan dan kekhawatiran akan perkembangan kondisi yang ada akan diubah menjadi peluang dan tantangan.
Situasi krisis global saat ini,misalnya,dengan pemikiran out of box bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang.Artinya, krisis bukan alasan untuk mundur berwirausaha. Hal senada diungkapkan Marius Widyarto,pemilik perusahaan PT Caladi Lima Sembilan (C59). Dengan modal optimisme dan tekad dia berhasil meraih sukses dalam menjalankan bisnis kaos.
Kini Mas Wid—panggilan akrabnya—sangat mendorong munculnya pengusaha-pengusaha muda baru yang tidak mengandalkan penghasilan dari bekerja sebagai pegawai atau staf.Menurut dia, dalam ceruk bisnis industri kreatif kaos saja masih banyak celah yang bisa digarap.
Prestasi mengagumkan juga ditunjukkan oleh Sofian Tjandera pemilik master francahise i-tutor.net.hanya dalamwaktuduatahunsejakSofianmenjalankan bisnis ini,dia telah berhasil membuka 700 cabang di seluruh Indonesia. Di bahwa bendera i-tutor Group,Sofian berencana masih akan menambah jumlah mitra usahanya.
Harus diakui, konsep revolusi metodologi pembelajaran ala Cinema Edutainment yang ditawarkan i-tutor tergolong baru di Indonesia. Ini merupakan teknologi multimedia dimana anak–anak belajar serasa berada dalam bioskop,memberikan percepatan belajar yanghingga 5–20 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
”Saya berani jamin bagi anak – anak yang kursus bahasa Inggris di i-tutor.net, dalam 5 kali pertemuan akan berani berdiri diatas podium dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan mengunakan microphone, bila tidak uang kursus akan dikembalikan 2 kali lipat” kata Sofian kepada SINDO.
Bisa dibayangkan, dalam bisnis bidang lain tentu masih banyak pula yang bisa digeluti kaum muda.Tunggu apa lagi, berpikir di luar paradigma orang banyak. Setidaknya, berpikir secara ekstrem. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/213562/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment