Minggu, 22 Februari 2009

Perempuan di Posisi Strategis - Emosi di Daun Talas

Sunday, 22 February 2009
Kaum perempuan lebih emosional ketimbang laki-laki dalam berbagai hal. Tidak sedikit yang menggunakan air mata ketika masalah datang. Mencapai prestasi tertinggi lewat kerja keras tidak selalu berbuah pujian dan penghargaan dari orang lain.

Sebaliknya, yang diterima justru cercaan dan cibiran. Apalagi, berposisi sebagai menteri yang memimpin sebuah lembaga departemen, atau perusahaan besar. Pencapaian kinerja yang melebihi target tidak akan banyak dilihat orang.Namun jika sedikit saja melakukan kesalahan, kritikan pedas akan mengalir. Padahal, seorang pemimpin dituntut bukan hanya untuk memiliki kecakapan intelektual dalam mengambil putusan, melainkan juga kecerdasan emosional dalam bersikap.

Jika tidak, yang muncul adalah luapan emosi atas cibiran dan kritikan yang diterima. Sementara cibiran dan kritikan pedas tidak jarang muncul, bukan karena persoalan prinsipiil, melainkan hal-hal teknis yang sebenarnya tidak perlu mengganggu jalannya kinerja. Contoh peristiwa paling dekat adalah ketika Direktur Utama PT Pertamina yang baru, Karen Agustiawan, melaksanakan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR (10/2) lalu.

Dijadwalkan, RDP seharusnya selesai pukul 12.00 WIB,sehingga jadwal selanjutnya Karen akan mendampingi Presiden Susilo BambangYudhoyono melakukan kunjungan lapangan ke pabrik pupuk Kujang di Karawang. Namun,rapat tidak kunjung rampung,selesainya molor dari jadwal semula.Anggota DPR pun meminta Karen untuk tetap mengikuti rapat. ”Anda tidak akan dipecat Presiden jika dia mengetahui Anda rapat dengan DPR,” ujar anggota Komisi VII DPR Alvin Lie, dalam RDP di Ruang Sidang Komisi VII DPR,Senayan,Jakarta,Selasa (10/2/2009) sebagaimana dikutip Okezone.com.

Ternyata,persoalaniniberbuntut menjadi polemik.Pada RDP selanjutnya (16/2),dengan agenda pemaparan jawaban Pertamina atas pertanyaan- pertanyaan anggota dewanpadaRDPsebelumnya, sudah diawali dengan suasana panas. Para anggota dewan merasa tersinggung dan protes dengan surat teguran yang dilayangkan Pertamina terkait dengan kejadian RDP sebelumnya, 10 Februari 2009.

Isi surat tersebut mempertanyakan pertanyaan anggota dewan pada 10 Februari 2009 yang sudah di luar koridor tata tertib rapat. DPR antara lain mempertanyakan kelayakan dan kemampuan jajaran direksi Pertamina yang baru dan cara mereka terpilih. Karen dan Wakil Direktur Utama Omar S Anwar, samasama dianggap sebagai orang baru di tubuh Pertamina. ”Kalau begitu, tidak perlu orang seperti itu untuk menjadi direksi Pertamina.

Satpam saja juga bisa,” ujar anggota Dewan dari Fraksi PDIP Effendy Simbolon dengan sedikit mencibir kala itu. Cibiran kata ”satpam”inilah yang kemudian membuat Karen geram.Padahal sudah umum diketahui publik, rapat dengan DPR adalah ajang pembelajaran emosi. Tidak sedikit menteri atau pejabat negara yang dicibir habishabisan ketika rapat dengan DPR.

Hingga kini belum pernah ada departemen atau lembaga lainnya yang protes terkait sikap yang biasa dilakukan anggota DPR tersebut. Bagaimanapun, surat teguran terhadap DPR ini sudah melalui pertimbangan Bagian Hukum Pertamina.Sementara DPR telanjur marah serta memutuskan menunda agenda rapat hingga batas waktu yangbelumditentukan.Selain itu,DPR juga meminta Pertamina untuk lebih kooperatif ketika rapat dengan DPR.

”Kita akan kooperatif,apa yang ditanyakan akan kita jawab. Tapi kalau sudah disamakan dengan satpam,sudah keterlaluan,” kata Karen waktu itu. Meskipun kata-kata yang diungkapkan DPR memang keterlaluan, kini pihak Pertamina akan meninjau kembali aspek hukumnya, termasuk untuk mempertimbangkan melayangkan surat permohonan maaf ke Senayan terkait insiden ini.Yang terpenting adalah target kinerja bisa tercapai dengan baik,se-mentara berselisih paham dengan DPR merupakan hal biasa.

Sebab, DPR bertugas melakukan fungsi pengawasan, sehingga wajar sering keluar kata-kata pedas di saat rapat. Selain Karen,semua pejabat negara pernah mendapatkan teguran dari DPR. Bahkan, presiden pun pernah mendapatkan teguran dari DPR terkait beberapa masalah. Selain itu, menjadi pejabat negara yang bertugas melayani rakyat yang harus bersinggungan dengan banyak lembaga lain sudah dipastikan akan terjadi perselisihan paham.

Teguran-teguran pun bisa datang dari mana saja, termasuk dari Presiden atau Menteri Negara BUMN sebagai atasannya.Sementara itu, kaum perempuan selama ini dianggap lebih emosional ketimbang laki-laki. Bahkan, tidak jarang yang menggunakan air mata ketika masalah menerpa.Menjadi wajar jika ada anggapan emosi perempuan ibarat air di daun talas, sehingga membutuhkan upaya lebih keras lagi untuk menganggap kritikan dan cibiran sebagai cambuk mencapai target kinerja.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan,resep agar bisa mengelola emosi dan tetap tangguh dalam melaksanakan tugas justru karena didasari rasa ikhlas. Sebab terpenting sudah melakukan yang terbaik, sesuai perencanaan. Sementara hasil dari implementasi kebijakan akan dievaluasi kemudian.” Saya tidak ingin menganggap bahwa diri saya bekerja untuk presiden,rakyat, atau lainnya.Sebab,nantinya saya akan berharap pujian jika mencapai prestasi tertentu.

Padahal yang ada bukan pujian, namun seringnya cibiran dan kritikan, sehingga saya bekerja,yauntukTuhan. Jika sudah begini, urusan selesai. Mau dikritik atau dicibir, yang penting saya sudah melakukan tugas dengan baik,”paparnya. Sementara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Meutia Farida Hatta mengatakan, rasa cintanya pada pekerjaanlah yang membuat dia mampu mengelola emosinya selama ini.

Sebab,tidak jarang dia harus merasa geregetan melihat kondisi perempuan di Indonesia yang dalam posisi menjadi korban, seperti korban kekerasan dan perdagangan manusia. ”Waktu pertama menjadi Meneg PP,saya sering marahmarah melihat perempuan dipaksa, perempuan disiksa.

Suami saya bilang kamu harus mencintai dan menikmati pekerjaanmu. Kalau tidak, tidak akan bisa menjadi menteri yang baik,”kisahnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/215442/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment