Segera Pindahkan Penduduk dari Wilayah Pesisir
Rabu, 05/03/2008
JAKARTA (SINDO) – Global warming (pemanasan global) diprediksi menenggelamkan sebagian wilayah daratan di bumi, termasuk sebagian pulau di Indonesia. Sebagai antisipasi, menghindari bermukim di wilayah pesisir adalah tindakan terbaik.
Aktivis dan pemerhati masalah lingkungan Mark Lynas menyatakan,akibat pemanasan global, Indonesia akan kehilangan banyak wilayahnya pada abad ini.Dia menyarankan agar warga yang tinggal di wilayah pesisir segera pindah ke wilayah daratan yang lebih jauh dari bibir pantai. Penulis High Tide: The Truth about Our Climate Crisis ini juga memprediksikan Indonesia akan mengalami kekeringan cukup lama, terutama akibat peristiwa El Nino yang sering melanda wilayah Pasifik, termasuk Indonesia. ’’Dengan memikirkan nasib hutan hujan di Indonesia, ini merupakan langkah sangat penting.
Menghentikan segera penggundulan hutan adalah langkah vital untuk menstabilkan iklim dunia. Lahan gambut juga akan sangat berperan untuk menyerap emisi karbon,’’ ungkap Mark dalam wawancara via e-maildengan SINDO. Menurut penulis buku Six Degrees: Our Future on A Hotter Planet ini, pemanasan global sangat sederhana untuk dipahami sebagai ilmu pengetahuan, tetapi sampai sekarang akibat fenomena alam ini sulit disadari secara kasatmata. Mark menegaskan, pemanasan global terjadi akibat penggunaan energi minyak, gas, batu bara oleh manusia yang mengakibatkan munculnya emisi karbon ke atmosfer.
Karbondioksida yang menangkap energi panas matahari di atmosfer membuat suhu bumi menghangat. Penulis buku dari Inggris yang juga seorang jurnalis dan peneliti ini mengungkapkan, akibat level karbondioksida yang semakin tinggi, suhu bumi pun semakin panas pada angka yang tidak pernah terprediksikan dalam sejarah manusia. Dia menegaskan, setiap wilayah akan mengalami dampak pemanasan global berbedabeda. Wilayah tropis seperti Indonesia, misalnya, akan mengalami hujan lebih lebat dan petir lebih dahsyat.Tidak hanya itu,seiring meningkatnya suhu di darat dan di laut mengakibatkan matinya terumbu karang di dasar laut.
’’Level air laut akan meluap dan membanjiri wilayah daratan. Beberapa pulau dengan ketinggian rendah, seperti Tuvalu dan Kirabati, akan tenggelam,’’ ujar Mark, yang film dokumenternya Six Degrees Could Change the World akan ditayangkan stasiun televisi National Geographic Channel pada Sabtu (15/3). Selain wilayah tropis yang sangat terancam pemanasan global, wilayah subtropis juga tidak berbeda. Wilayah ini akan mengering, terutama di wilayah Laut Tengah Mediterania dan Amerika Tengah. Area kutub menghangat sangat cepat.Musim panas di Kutub Utara akan melenyapkan daratan es sedikitnya pada periode 25 tahun mendatang, terhitung dari sekarang. Ini semua akibat karbondioksida, efek rumah kaca yang levelnya semakin meningkat di atmosfer, dan ulah manusia–– penyebab utamanya.
’’Dengan penjelasan seperti itu, akan sangat aneh apabila ada yang meragukan suhu bumi tidak semakin memanas.Yang tidak bisa dipastikan adalah lokasi mana dan dampaknya apa saja, seberapa banyak suhunya akan meningkat, dan kapan itu akan terjadi,’’ paparnya. Mark menjelaskan,kenaikan suhu bumi sangat sejajar tergantung kenaikan angka emisi karbon. Dengan demikian, komitmen semua pihak sangat dibutuhkan untuk menjaga bumi dari terjadinya bencana akibat perubahan iklim. Dia mengaku akan sangat sulit memproyeksi masa depan secara tepat terkait dampak pemanasan global. Bagaimanapun, contoh konkret wilayah yang mengalami dampak pemanasan global sudah nyata di depan mata,seperti dataran rendah Bangladesh, Pesisir China, dan negara-negara kepulauan yang mengalami kenaikan muka air laut.
Wilayah yang cenderung kering,seperti sebelah utara China, Timur Tengah, Afrika Utara, serta wilayah selatan Eropa terancam bahaya bencana banjir saat musim penghujan,sebagaimanayang terjadi di India. Seluruh bagian dunia,menurut Mark, tidak satu pun yang lolos dari dampak pemanasan global.Dengan demikian, tidak ada alasan bagi negara mana pun di belahan bumi ini yang tidak ikut terlibat untuk mengantisipasi dampaknya. Seperti diketahui, Amerika dan Australia merupakan dua negara yang sempat menyatakan tidak ingin terlibat dalam aktivitas adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.Meskipun saat ini kedua negara kaya yang tergolong tinggi pembuanganemisikarbonnya ke atmosfer itu sudah mulai melunak. Dalam bukunya yang berjudul Sio Degrees, Mark menunjukkan tentang apa yang terjadi pada beberapa lokasi akibat pemanasan suhu beberapa derajat.
Sebagai contoh, pada kenaikan suhu satu derajat akan mengakibatkan terjadinya padang gurun baru di sebelah barat AS, padahal itu merupakan area pertanian yang cukup penting. Kenaikan suhu tiga derajat akan mengakibatkan bencana badai angin ribut yang lebih kuat menghantam wilayah pesisir tropis. Kenaikan suhu lima derajat akan mengakibatkan banyak bagian dari bumi ini mengalami ketidak laziman dan sangat panas. Terakhir,pada kenaikan suhu enam derajat akan mengakibatkan kepunahan spesies makhluk hidup secara massal di bumi yang mungkin akan terjadi 200 tahun lagi jika perusakan alam oleh manusia tidak segera dihentikan. ’’Hari ini kita bisa menghindari terjadinya kenaikan suhu dua derajat dengan mengurangi penggunaan energi yang mengakibatkan pembakaran emisi karbondioksida selama sepuluh tahun mendatang,’’ tandasnya. (abdul malik/isfari)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/segera-pindahkan-penduduk-dari-wilayah-pesisir.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment