Mikroba, Harta Karun yang Belum Tergali
Rabu, 23/01/2008
BOGOR(SINDO) – Ternyata,Indonesia memiliki kekayaan puluhan ribu jenis mikroba yang potensial untuk dikembangkan sebagai obat,vaksin,pertanian, atau manfaat lainnya.
Bahkan, satu jenis mikroba bisa menghasilkan omzet miliaran dolar Amerika Serikat (AS) per tahun. Apa yang akan Anda pikirkan jikamendengarkatamikroba? Pasti beragam stigma negatif akan menempel pada makhluk kecil ini,mulai dianggap sebagai sumber penyakit, pencemaran,merugikan manusia, hingga cap negatif lainnya.
Namun, jangan pernah meremehkan manfaat potensial dari makhluk superkecil yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop ini. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Profesor Dr Endang Sukara menyatakan, pendapatan dari salah satu fungi (jamur) di AS yang dibuat menjadi antikolesterol menghasilkan omzet miliaran dolar per tahun. Di Indonesia diperkirakan memiliki kekayaan mikroba mencapai puluhan ribu jenis yang tersebar di alam, mulai tanah, pepohonan, hingga lautan dan medium lainnya.
’’Namun sayang, memang belum banyak pihak yang menyadari potensi sumber daya alam ini,” tuturnya. Endang menambahkan, berdasarkan hasil penelusuran LIPI dengan mengambil sampel tanah di Kebun Raya di Bedugul Bali pada 2003, mereka mendapatkan 500 jenis mikroba. Di antara jumlah itu, sebanyak 30% merupakan jenis spesies baru yang belum pernah ditemukan di dunia. Mikroba langka itu merupakan jenis bakteri fungi yang sangat primitif.Tidak hanya itu, mikroba yang ditemukan itu juga berpeluang dijadikan antibiotik baru. ’’Kenyataannya, sebanyak 90% antibiotik di dunia,bakterinya ada di Indonesia.Betapa kayanya Indonesia kalau kita mengambilnya dari hutan belantara dan laut. Itu akan sangat luar biasa,”paparnya. Mikroba merupakan makhluk superkecil atau sering disebut sebagai jasad renik. Jenis mikroba itu,di antaranya bakteri,fungi atau jamur, khamir, protozoa, virus.Konon, mikroba merupakan makhluk tertua dan memiliki keanekaragaman terbanyak di bumi. Mikroba dapat bertahan pada berbagai kondisi, mulai ekstrem panas, dingin, berkonsentrasi garam tinggi, asam basa, tekanan tinggi, hingga lingkungan yang makhluk hidup lainnya tidak mungkin bisa bertahan –seperti wilayah dengan kontaminasi radioaktif tinggi. Untuk bakteri, secara umum bisa tumbuh dengan baik pada suhu 30 derajat Celsius. Dengan demikian, di daerah tropis seperti Indonesia yang memiliki kelembapan tinggi sangat cocok sebagai tempat bakteri hidup dibandingkan negara subtropis.
Dari ukuran, virus merupakan organisme yang paling kecil di antara mikroba lainnya. Karena itu, jika ingin melihatnya, Anda harus menggunakan mikroskop elektron. Bakteri, khamir, protozoa, dan ganggang merupakan mikroba bersel tunggal. Kemudian, kapang dan beberapa jenis ganggang merupakan jasad renik multisel. Berbagai jenis mikroba ini dapat memberikan manfaat positif maupun efek merugikan bagi kehidupan manusia.
Namun,jika bisa dimanfaatkan dengan baik, ternyata manfaatnya sangat luar biasa.Bisa meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, tidak hanya untuk kesehatan atau pertanian. Sayangnya, hingga saat ini, di Indonesia belum ada koleksi mikroba yang mapan untuk dikembangkan. Kepala LIPI Profesor Umar Anggara Jenie menyatakan, akibat tidak adanya Pusat Koleksi Mikroba (Cultur Microba Center), kebanyakan lembaga penelitian maupun perguruan tinggi menyimpannya di perguruan tinggi masing-masing. Padahal, jika ada laboratorium dan museum koleksi mikroba yang memadai, akan sangat membantu kegiatan penelitian dan pemanfaatan mikroba bagi manusia. ’’Mikroba itu ada yang liar (wild) atau yang sudah melalui tahap penelitian (strain improovement). Biasanya, mikroba yang dijual ke industri dan dimanfaatkan itu berasal dari mikroba yang masih liar. Sebab, kalau menjual yang strain improovement,harganya pasti akan sangat mahal,”paparnya.
Saat ini, LIPI telah mengoleksi sebanyak 1.800 mikroba di laboratorium Herbarium Bogoriense, Cibinong. Di antara mikroba itu, sebanyak 46 jenis dianggap potensial sebagai vaksin hepatitis. Bahkan, ada beberapa jenis yang potensial untuk dikembangkan sebagai obat flu burung (avian influenza/AI). Selain itu, LIPI telah menemukan satu jenis mikroba yang mampu menghancurkan minyak. Ini bisa dimanfaatkan untuk membersihkan laut yang terkontaminasi minyak. Meski demikian, angka itu masih kurang dari 2.000 dan terlalu minim. Sebab, puluhan ribu mikroba di alam belum terkoleksi sehingga tidak diketahui potensial manfaatnya.
’’Menggali mikroba di alam tidak akan ada habisnya. Akan selalu berproses dan mendapatkan sesuatu yang baru. Untuk itu, konservasi mikroba tersebut sangat penting,”ujarnya. Memang, untuk menyimpan dan mengoleksi ribuan mikroba tentu membutuhkan tempat yang memenuhi syarat. Tidak hanya faktor keamanan, juga bagi kelestarian mikroba itu sendiri sehingga tidak mati selama penyimpanan. Umar menambahkan, Indonesia seharusnya memiliki laboratorium khusus yang berfungsi sebagai Pusat Mikroba Indonesia (Ina Cultur Center/Ina CC).Namun,itu masih baru tahap rencana karena terkendala masalah dana. ’’Kita tidak mungkin membangun laboratorium yang supercanggih seperti di AS maupun Jepang. Sebab,hingga sekarang,kita masih mengimpor makanan untuk bakteri. Industri kita tidak akan mampu melakukannya. Namun, bila ke depan berhasil dikembangkan, industri lokal tidak perlu lagi impor,”ungkapnya. Meski tidak mungkin menyamai kualitas laboratorium seperti yang ada di negara maju, seharusnya itu bukan halangan untuk mengembangkan potensial puluhan jenis mikroba di Indonesia bagi kepentingan manusia. Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Dr Puspita Lisdiyanti menyatakan, sebuah lokasi penyimpanan mikroba haruslah memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Suhu ruangan minimal harus minus 4 derajat dengan tenaga listrik stabil dan tidak boleh on-off.
’’Kalau sudah dikeringkan atau dibuat mati suri dan ditempatkan di tabung kaca,mikroba bisa bertahan hidup hingga 50 tahun. Asalkan gelasnya tidak pecah. Dia itu mati suri dan bisa dibangunkan kembali,”paparnya. Penyimpanan antara jenis mikroba pun harus dipisah. Sebab, setiap mikroba memiliki pola penyimpanan yang berbeda. Salah satunya untuk beberapa jenis mikroorganisme, seperti mikroalga yang harus ditempatkan dalam ruangan minus 194 derajat Celsius. Penyimpannya pun biasanya dua.Apabila yang satu mati,masih ada cadangannya. Mikroba-mikroba yang disimpan itu pun tidak berbahaya bagi masyarakat sekitar karena bukan mikroba yang bersifat patogen. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/mikroba-harta-karun-yang-belum-tergali-3.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment