Kamis, 13 Maret 2008

Memaksimalkan Kelapa Sawit Dari Hulu hingga Hilir

Memaksimalkan Kelapa Sawit Dari Hulu hingga Hilir
Kamis, 28/02/2008
JAKARTA (SINDO) – Indonesia termasuk produsen minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Namun sayangnya, industri CPO dalam negeri belum dikembangkan secara komprehensif sehingga hasil yang didapatkan belum optimal. Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono prihatin dengan potensi industri kelapa sawit dalam negeri yang baru memproduksi minyak mentah. Padahal, Malaysia yang kapasitas produksinya lebih rendah justru menghasilkan devisa lebih besar.
Sebab, industri yang dikembangkan oleh negeri jiran itu mulai hulu hingga hilir. Sementara itu, Indonesia hanya mengekspor minyak mentah, misalnya ke Singapura, kemudian kembali ke Indonesia dalam bentuk minyak goreng, atau produk lainnya dengan bahan baku minyak sawit. ’’Bahkan,beberapa hasil penelitian kita tentang sawit telah menghasilkan varietas unggul. Namun sayang, itu masih belum cukup dimanfaatkan dengan baik,” ungkapnya, saat jumpa pers di hadapan wartawan pada Selasa (26/2). Ini memang ironis. Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia menjadi barometer dunia. Perubahan-perubahan apa pun yang terjadi dalam produksi kelapa sawit di Indonesia akan selalu disorot komunitas CPO internasional. Lagi pula, berdasarkan prinsip dan ketetapan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) diputuskan tentang kriteria industri sawit yang berkelanjutan.
Tidak hanya meminimalkan limbah dan ramah lingkungan, juga mempertimbangkan faktor sosial lingkungan sekitar industri. Karena itu, mau tidak mau, industri sawit dalam negeri memang mutlak mengikuti mainstream ini agar pasar internasional bisa menerima produk sawit dari Indonesia. ’’Indonesia harus mampu mengelola pengembangan agrobisnis kelapa sawit dengan baik dan benar untuk kepentingan nasional. Dengan demikian, sektor bisnis ini bisa dirasakan semua stakeholder, terutama kalangan petani sawit yang saat ini menyumbang lebih dari 30% luas areal sawit Indonesia,” papar Anton.
Industri sawit memang cukup menjanjikan. Dalam setahun terakhir tercatat harga minyak sawit mentah mencapai angka USD1.000 per ton. Bahkan, itu juga sempat menembus angka USD1.227 per ton dalam beberapa bulan terakhir. Minyak sawit yang kini diburu tidak hanya sebagai bahan pangan, juga sebagai bahan baku energi alternatif semakin menjadi primadona. Untuk itu,ditambahkan Anton,komoditas sawit sangat potensial untuk peningkatan pertumbuhan pembangunan dan penciptaan lapangan kerja. ’’Kita harus cerdik memanfaatkan momentum emas ini agar agrobisnis kelapa sawit nasional menjadi bisnis yang kokoh dan kuat serta bersaing di kancah internasional,” ujar Mentan.
Pengembangan sawit itu dimulai dari sektor hulu berbagai jenis varietas unggulan hingga industri hilir produk jadi minyak sawit berkualitas dan mampu bersaing di pasar internasional.Tidak hanya itu, industri pendukung, seperti pupuk, peralatan, kelengkapannya juga mutlak disiapkan. Meskipun sudah diluncurkan satu wilayah yang menjadi sentra produksi sawit dalam negeri,yakni Dumai, Riau, tentu itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan pasar. Selain itu, Indonesia masih mengimpor bibit sawit dari Malaysia hingga puluhan juta bibit per tahun. ’’Kami sudah buat roadmap-nya. Maka itulah,yang akan kami lakukan berdasarkan roadmap tersebut,” papar Anton.
Memang hal itu agak disayangkan. Sebab, sebenarnya sudah banyak penelitian yang dilakukan ilmuwan dalam negeri yang telah menghasilkan bibit-bibit potensial. Namun sayangnya, itu saja tidak cukup menjawab kebutuhan benih sawit dalam negeri. Sementara itu, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Witjaksana Darmosarkoro menyatakan, pihaknya telah menemukan 11 varietas bibit sawit unggulkan, yang dua di antaranya diberi nama PPKS 718 dan 540. Bibit-bibit ini merupakan hasil silangan antara pohon sawit yang diidentifikasi sebagai bapak dan ibu. Padahal, untuk menghasilkan satu varietas unggul, dibutuhkan penelitian minimal selama 10 tahun.
’’Meskipun jumlah koleksi varietas unggulan kita belum sebanyak Malaysia, ada beberapa kandidat varietas yang sangat potensial dan mampu menjawab kebutuhan petani dan industri sawit,” ujar Witjak. Kedua jenis varietas ini memiliki tandan pohon cukup besar dan kandungan minyak dari biji sawit lebih banyak ketimbang jenis varietas lain.Menurut dia,menanam pohon sawit varietas PPKS 718 dan 540 akan memberikan hasil minyak 20% lebih banyak dibandingkan varietas lain.Jika rata-rata produksi minyak sawit dari hasil panen per hektare (ha) sebanyak 7 ton, menggunakan varietas ini minyak yang dihasilkan bisa lebih dari 8,1 ton per ha.
Namun sayangnya, pengembangan oleh laboratorium penelitian ini masih sangat terbatas sehingga produksi benih belum bisa dilakukan secara massal. Jika industri hulu ini bisa ditangkap industri dan diproduksi secara massal, tentu akan mampu menjawab kebutuhan industri sawit dalam negeri. Meski demikian, saat ini PPKS sedang menambah kapasitas produksi benihnya dengan menambah lahan budi daya. ’’Total kebutuhan benih sawit dalam negeri sebanyak 149 juta bibit per tahun, sedangkan kami baru bisa menghasilkan 40 juta bibit per tahun. Karena itulah, sisanya masih diimpor dari Malaysia.Saya yakin kualitas bibit kita tidak kalah dengan Malaysia,” tegas Witjak. Penelitian-penelitian bidang lain juga dikembangkan mereka, mulai pupuk hingga pestisida yang ramah lingkungan.
Selain itu, ada pula penelitian veromonas (veromon nasional) yang berguna untuk menarik hama kumbang tanduk yang bisa membuat tanaman sawit mati hingga formula lain yang bisa menarik hama ulat api. Bahkan, formulasi pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan dengan paradigma industri sawit berkelanjutan juga sudah dibuat. Termasuk, penelitian sektor pengembangan industri hilir, yakni pengolahan sawit untuk industri pangan dan kosmetik. ’’Kalau soal sosial kelembagaan petani dan bagaimana mengatasi konflik, itu juga sudah diteliti. Salah satunya bagaimana memanfaatkan lahan kritis sehingga tidak mengorbankan lahan produktif,” ungkap Witjak.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaludin Hasibuan menyatakan, para pengusaha dalam negeri sudah melakukan langkahlangkah untuk implementasi pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan, di antaranya membentuk kelompok kerja (pokja) yang membahas interpretasi terhadap aturan RSPO.Mereka sudah menghasilkan 120 kriteria national interpretation yang telah diajukan ke RSPO. Dia menjamin bahwa pengusaha dalam negeri pasti akan mempertimbangkan industri dengan paradigma hijau dan ramah lingkungan. Jika tidak bisa, mereka tak akan mampu menjual produknya ke luar negeri.
’’Kita mampu memproduksi 18 juta ton minyak sawit mentah per tahun. Hanya 4 juta ton di antaranya yang mampu diserap pasar dalam negeri. Jadi, harapan kita satu-satunya adalah pasar ekspor,” ungkap Akmaludin. Dia memprediksi pertumbuhan produksi minyak sawit dalam negeri akan mampu mencapai angka 14% setiap tahun . Bahkan, pada 2010 mendatang, diprediksi produksi mencapai 24 juta ton. Untuk itu,dia berkomitmen mendorong pengusaha-pengusaha dalam negeri anggota Gapki tidak hanya memproduksi minyak mentah, juga mengembangkan industri hulu hingga hilir tersebut. (abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/memaksimalkan-kelapa-sawit-dari-hulu-hingga.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment