Kamis, 13 Maret 2008

Piracy No! Bikin Software Yes!

Piracy No! Bikin Software Yes!
Jum'at, 25/01/2008
SUDAH saatnya mengatakan tidak untuk pembajakan dan mendukung kreasi membuat softwareuntuk kemajuan bangsa. Jika angka pembajakan peranti lunak (software) di dalam negeri bisa ditekan 10% saja,ternyata itu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar USD1,8 miliar.
Bukan itu saja,ribuan lapangan kerja baru akan terbuka dan potensi mendapatkan pajak penghasilan USD88 juta. Berdasarkan analisis Business Software Alliance (BSA), angka pembajakan peranti lunak di Indonesia pada 2007 ini diprediksi bakal menurun.Kepala Perwakilan BSA untuk Indonesia Donny A Sheyo Putra memaparkan, meski angka pembajakan di Indonesia masih tergolong tinggi, ada kemungkinan, indikasi menurun.
Sejak UU Hak Kekayaan Intelektual (HKI) diberlakukan pada 2002, angka pembajakan mencapai 97%, kemudian pada 2005 menurun 87% serta pada 2006 semakin menurun menjadi 85%. Selain itu, bermunculan peranti lunak lokal, yang mengindikasikan mulai hidupnya industri teknologi informasi (TI) dalam negeri.
’’Persentase angka pembajakan di Indonesia untuk 2007 kemarin memang belum di-launching.Kami baru akan mengumumkannya sekitar Mei mendatang,”tuturnya.
Potensi masyarakat Indonesia untuk membuat software sendiri sangat besar. Sebab, dengan potensi pasar yang cukup besar, akan menumbuhkan peluang bagi industri TI dalam negeri. Selain itu,para ahli TI di dalam negeri juga cukup andal untuk membuat peranti lunak. Menurut dia,kini bermunculan peranti lunak lokal untuk aplikasi akuntansi dan keuangan. Selain itu, kemampuan praktisi TI di dalam negeri untuk membuat virus dan antivirusnya juga tidak bisa diabaikan.
’’Jangan menganggap remeh orang yang bisa membuat virus dan antivirus.Sebab, antivirus itu juga software. Jika ditanya seberapa besar potensi orang Indonesia untuk membuat software, potensinya luar biasa,”ujarnya.
Meski demikian, hingga saat ini, memang belum ada survei serius untuk mengetahui seberapa besar jumlah peranti lunak lokal dan apa saja jenisnya. Namun, harus diakui, banyaknya industri TI di Indonesia lebih banyak bergerak untuk bidang jasa. Sebab, hanya belasan perusahaan yang secara resmi memproklamirkan dirinya sebagai perusahaan TI developer.
Apabila angka pembajakan bisa diturunkan dan penegakan hukumnya berjalan dengan baik, penggunaan peranti lunak legal di masyarakat bisa dibudayakan. Selain itu, peluang-peluang baru untuk menciptakan software sendiri akan tumbuh.Dengan demikian, kreasi-kreasi pakar TI lokal akan bermunculan karena merasa cukup diberi ruang.
’’Turunkan angka pembajakan dulu. Maka, akan ada kreator-kreator baru yang menjawab tantangan kebutuhan pasar akan software yang bagus, tapi terjangkau kantong masyarakat Indonesia. Misi BSA memang ingin menumbuhkan kreasi-kreasi peranti lunak,” paparnya.
Pembuatan peranti lunak tergolong rumit dan tidak mudah. Sebab, hanya kalangan pakar TI yang mampu membuat sebuah peranti lunak yang memiliki fitur-fitur lengkap. Salah satunya membuat sebuah program yang mampu membuat gambar tiga dimensi, ternyata bukan pekerjaan mudah. Meski demikian,tidak menutup kemungkinanbanyakpakar TIdalam negeri mampu membuatnya.
Selain itu,banyaknya peranti lunak lokal yang bisa dijual secara komersial menunjukkan bahwa kreator- kreator TIdalam negeri cukup memiliki potensi. ’’Pembuatan software relatif ada yang sulit atau mudah.Ada software- software tertentu yang teknis sekali dan memang njelimet,” tandasnya.
Peluang pasar TI di Indonesia memang cukup menggiurkan. Berdasarkan catatan BSA pada 2007, masyarakat Indonesia membelanjakan lebih dari USD3,3 miliar untuk TI,mulai komputer, periferal, perangkat jaringan,paket software, dan jasa TI. Angka belanja TI tersebut setara 0,9% Produk Domestik Bruto (PDB), didukung oleh lebih dari 6.300 perusahaan TI dengan sekitar 28.500 tenaga kerja di industri TI.
Selain itu, hal tersebut membantu menciptakan pendapatan pajak terkait TI sebesar USD412 juta. Bayangkan jika potensi ekonomi itu ditambah semakin bergairahnya industri software lokal di dalam negeri.Tentu akan semakin membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang layak diperhitungkan.
BSA bekerja sama dengan IDC –lembaga penyedia layanan market intelligent untuk bidang pasar TI– mengungkapkan bahwa kontribusi sektor TI terhadap perekonomian Indonesia akan lebih besar lagi.Hal tersebut jika tingkat pembajakan software komputer di Indonesia diturunkan sebesar 10% dalam empat tahun ke depan. Berdasarkan estimasi,angka penurunan itu akan berakibat memberi tambahan 2.200 lapangan kerja baru.
Pendapatan industri lokal sebesar USD1,8 miliar dan peningkatan penerimaan pajak bagi pemerintah pusat,provinsi,dan kabupaten sebesar USD88 juta. Director Marketing BSA Asia Roland Chan menyatakan, kontribusi tambahan terhadap perekonomian ini akan meningkatkan jumlah tenaga kerja terampil, mendukung pembukaan perusahaan-perusahaan baru, dan ketersediaan dana untuk pelayanan masyarakat.
Sebab,sebagian besar manfaat itu disalurkan ke sektor layanan dan perusahaan-perusahaan penyalur. ’’Penurunan angka pembajakan software komputer sebesar 10% tidak hanya berdampak pada kinerja dan kontribusi ekonomi industri software keseluruhan, juga berpengaruh terhadap sektor layanan distribusi TI, yang lebih besar daripada industri software sendiri,”tuturnya.
Direktur Riset IDC Marcel Warmerdam menyatakan, berdasarkan hasil penelitiannya, pada 2007, negara-negara di Asia membelanjakan lebih dari USD231 miliar untuk peralatan dan layanan TI meliputi komputer, periferal, perangkat jaringan, paket software, dan layanan TI. Belanja sebesar itu didukung oleh lebih dari 348.000 perusahaan TI dengan karyawan di industri TI lebih dari 5,5 juta dan membantu menghasilkan pajak terkait TI sebesar USD167 miliar.
Kontribusi sektor TI terhadap negara-negara Asia akan jauh lebih besar jika angka pembajakan peranti lunak komputer di kawasan ini dapat diturunkan sebesar 10% pada 2011.’’Perbaikan semacam ini akan menambah jumlah tenaga kerja terlatih, mendukung pendirian perusahaan-perusahaan baru, menurunkan risiko bisnis, dan mendanai pelayanan-pelayanan pemerintah tanpa harus menaikkan pajak,”paparnya.
Di Indonesia, penurunan pembajakan software sebesar 10% dalam empat tahun ke depan dari 85% pada 2006 akan meningkatkan pertumbuhan belanja TI dari 9,5% per tahun menjadi 13,6% per tahun. Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja di sektor TI juga meningkat dari 8,2% per tahun menjadi 9,6% per tahun.
’’Sektor TI yang kuat dapat menjadi kontributor penting bagi produktivitas tenaga kerja di dalam negeri dan pertumbuhan ekonomi nasional.Sebab,sebagian besar manfaat dari penurunan angka pembajakan tersebut tersalurkan ke perusahaan layanan software dan distributor lokal,”ungkapnya.
Direktur Hak Cipta Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham) Ansori Sinungan menyatakan, pemerintah sangat serius untuk melakukan penanggulangan pelanggaran HKI, termasuk software. Dia mengakui masih banyak hal yang belum diatur Undang-Undang (UU) HKI yang diterbitkan sejak 2002 itu.
Meski demikian, dengan pembentukan tim Keputusan Presiden (Keppres) Penanggulangan Pelanggaran HKI dan beberapa draf peraturan pemerintah (PP) yang sudah disiapkan menunjukkan bahwa HKI mendapat perhatian cukup serius.(abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/piracy-no-bikin-software-yes.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment