Menyulap Sekam Padi Menjadi Silika
Selasa, 04/03/2008
Jangan pernah meremehkan limbah. Dengan sedikit pengolahan yang benar, limbah bisa menjadi bahan material baru bernilai tinggi. Sekam padi dan abu terbang sisa pembakaran tebu,misalnya.
xJAKARTA(SINDO) –Hasil penelitian Rahman Sudiyo PHD, PC Sumardi, dan kawan-kawannya dari Laboratorium Keramik dan Komposit, Fakultas Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM), menemukan sekam padi dan abu terbang yang bisa diolah menjadi silika.
Rahman Sudiyo menuturkan, kandungan silika dari kedua bahan ini sangat tinggi. ’’Sekam padi setelah dipurifikasi memiliki kandungan silika hingga 95%, sedangkan abu terbang memiliki kandungan 90%,”paparnya.
Setelah dimurnikan, limbah sekam padi dan abu terbang yang awalnya hitam legam dan kotor itu berubah putih bersih dan siap dipasarkan. Penggunaan silika sangat umum dimanfaatkan sebagai filler(pengisi) dalam industri makanan, kertas, cat, kosmetik, pasta gigi, karet, dan lain-lain.
Dia menambahkan, selama ini industri dalam negeri masih mengimpor bahan silika dari Eropa,Jepang,Amerika Serikat (AS), dan negara lain dengan nilai investasi cukup tinggi.Kebanyakan para produsennya menggunakan bahan baku sejenis tanah liat yang hanya terdapat di negara- negara subtropis empat musim.
Faktor ramah lingkungan dan terbarukan membuat limbah sekam padi dan abu terbang itu sangat memenuhi syarat untuk pembuatan silika ketimbang bahan baku tanah yang harus digali berton- ton setiap produksi. ’’Padahal, bahan baku pembuat silika sebenarnya cukup banyak di Indonesia.Namun,itu belum terolah dan dimanfaatkan,” tuturnya.
Berdasarkan catatannya, pada 2004, sebanyak 36% produksi komersial silika dunia dihasilkan negara-negara Eropa,diikutiAmerika Utara (26%), China (25%), dan Jepang (13%). Melihat ceruk bisnis dan pasar silika yang demikian besar, sekam padi dan abu terbang yang selama ini belum terolah baik akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi.Artinya, Indonesia potensial menjadi salah satu negara produsen silika.
Paling tidak, hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. ’’Negara-negara Eropa dan subtropis lainnya kenapa tidak memproduksi silika dari limbah sekam padi dan abu terbang karena mereka memang tidak memiliki materialnya. Sementara itu, material limbah ini sangat melimpah di negara kita,” paparnya.
Untuk menghasilkan silika, sekam padi dan abu terbang ini diolah dengan cara direaksikan dengan bahanbahan kimia, seperti larutan sodium silicate dan bahanbahan lain. Setelah itu, bahan tersebut direaksikan dengan asam yang akhirnya akan menghasilkan silika gel. Begitu menjadi silika gel,bahan ini dikeringkan dengan cara disentrifugal (pemutaran/pemusingan) agar airnya keluar dan silika siap digunakan.
Menurut Rahman, rute proses produksi ini akan menjanjikan apabila komposisi material, kecepatan, dan suhunya tepat. Sama seperti abu terbang yang telah terbakar, sebelum melalui proses kimiawi,sekam padi juga harus dibakar terlebih dahulu hingga berbentuk abu.
’’Prosesnya lebih ekonomis karena memanfaatkan sampah,suhu pembakaran tidak setinggi seperti cara komersial yang sudah biasa digunakan dalam memproduksi silika selama ini, yaitu 2.000 derajat atau menggunakan rute kimia yang mahal. Namun, dengan limbah ini, prosesnya sangat hemat. Perbandingannya sekitar 500% lebih hemat. Dari sisi bahan pokok lebih murah, pemanasan suhunya tidak tinggi, teknisi yang dibutuhkan juga tidak banyak,” paparnya.
Pembuatan silika ini membutuhkan ketelatenan saat mengendalikan suhu pembakaran. Sayangnya, Rahman menolak menjelaskan berapa suhu yang dibutuhkan untuk pembakaran sekam padi itu.Sebab,itu merupakan bagian dari rahasia formulanya. Meskipun skala laboratorium sudah membuktikan keberhasilan teknologi itu, pihaknya masih akan mengembangkannya.
Selain itu, jika ingin dikembangkan menjadi skala komersial, dibutuhkan penyesuaian dan formula yang tepat. Hal itu agar kualitas produk hasil silika tetap tinggi.Meski demikian, Rahman menjamin percobaan skala laboratorium tersebut mampu menghasilkan silika standar internasional sehingga layak jual.
’’Skala ini masih skala laboratorium. Untuk membuatnya menjadi skala komersial, perlu penanganan yang lebih intensif,” tuturnya, yang melakukan penelitian silika ini selama 2006 hingga 2007. Jika melihat harga jual silika yang bisa mencapai USD10 per kg, sekam padi dan abu terbang itu sudah memiliki nilai tambah yang sangat tinggi. Selain itu, jika berhasil diubah, itu bisa menjadi sel surya yang harganya mencapai puluhan juta rupiah per buah. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/menyulap-sekam-padi-menjadi-silika-3.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment