Kamis, 13 Maret 2008

Limbah Sawit Produktifkan Lahan Kritis

Limbah Sawit Produktifkan Lahan Kritis
Senin, 10/03/2008

JAKARTA – Kelapa sawit tak hanya bisa dimanfaatkan buahnya. Limbahnya pun bisa berguna sebagai pupuk.Yang lebih penting,bisa digunakan untuk merevitalisasi lahan kritis. Zero waste dan ramah lingkungan kini menjadi paradigma baru dalam industri perkebunan. Salah satunya berlaku pada perkebunan sawit. Perkebunan ini semakin meluas di Indonesia.Sayangnya, kadang kala limbahnya hanya terbuang percuma.Padahal, bila tahu, limbah kelapa sawit punya manfaat besar bagi lingkungan.

Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan Ir Suroso Rahutomo MSc menyatakan, mulai tandan kosong dan limbah cair hasil produksi kelapa sawit bisa dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanah. Menurutdia, tandankosongsawitsangat bermanfaat untuk memproduksikan kembali lahan kritis,lahanmarjinal,maupun lahan bekas tambang.Sementara itu,limbah cair kelapa sawit setelah melalui pemrosesan bisa digunakan sebagai pupuk cair.

’’Kami telah melakukan penelitian bahwa tandan kosong kelapa sawit bisa memproduktifkan kembali lahan bekas tambang yang sudah rusak,’’ ungkapnya. Tingginya kandungan kalium dalam tandan kosong itulah yang dimanfaatkan untuk membuat tanah yang sebelumnya rusak menjadi subur kembali. Dengan demikian, tidak ada lagi cerita lahan kritis tidak bisa dimanfaatkan kembali sebagai perkebunan atau pertanian.Bahkan, kalau petani sawit mau memanfaatkan tandan kosong ini untuk dikembalikan ke tanah perkebunannya, dia bisa menghemat kebutuhan pupuk kalium hingga 20%.

Perhitungannya, setiap pohon sawit membutuhkan sekitar 3 kg pupuk kalium.Jika dalam satu hektare ada sekitar 300 pohon sawit, dibutuhkan sekitar 300 kg pupuk. Dengan memanfaatkan tandan kosong, pupuk yang dihemat sekitar 60 kg per hektare. Jika luas perkebunan sawit mencapai 100 hektare, pupuk kalium yang bisa dihemat mencapai 6 ton. ’’Ini sudah dipraktikkan. Ini adalah zero waste dan ramah lingkungan,’’ tandasnya. Dia menuturkan, dalam budi daya sawit kandungan unsur hara haruslah berimbang karena sawit merupakan jenis pohon responsif.

Pemupukan harus tepat, tidak boleh berlebihan. Menurut dia, untuk perimbangan perbandingannya pupuk kalsium (6), magnesium (3), dan kalium (1).Komposisi ini merupakan hasil penelitian tim PPKS yang dianggap sebagai komposisi paling tepat dalam menanam sawit. ’’Cara mengukur kandungan unsur hara dalam tanah bisa dilakukan di laboratorium. Kami menyediakan jasa untuk membantu pengukuran unsur hara dalam tanah,’’ ujarnya. Tercatat, ada sekitar 16 unsur hara kandungan dalam tanah. Cara menganalisis kandungan unsur hara dalam tanah dengan mengambil sampel dari beberapa tempat dicampur kemudian dianalisis. Dengan demikian, pengembangan sawit bisa dilakukan pada lahan-lahan marjinal dan kritis sehingga tidak perlu membuka lahan baru yang produktif.

’’Kami memang upayakan kelapa sawit di lahan marjinal. Itu artinya memang tidak subur, tetapi potensi lahan itu bisa digali untuk memberi nilai tambah,’’ tandasnya. Sementara itu, limbah cair hasil pengolahan sawit juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Ini dinamakan limbah cair pabrik kelapa sawit (LPKS).Catatannya harus ada proses terlebih dahulu karena kandungan biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) yang berbahaya harus diproses sampai pada titik aman. Sebab, jika masih mengandung dua unsur ini, bakteri dalam tanah bisa mati.’’Harus ada perawatan, limbahnya harus diolah sampai waktu air yang terakhir itu harus ada ikan hidup di situ. Itu untuk membuktikan bahwa limbah itu memang sudah aman. Selama belum ada ikan yang bisa hidup berarti limbah itu masih berbahaya,’’ paparnya.

Dalam mengolah limbah pengolahan sawit,harus dipisahkan beberapa kolam limbah, yakni kolam untuk aerobik dan anaerobik menggunakan saringan-saringan. Jika sudah mencapai titik aman, limbah tersebut langsung saja dialirkan ke arah perkebunan. Dengan begitu, tidak perlu bingung membuang limbah. Menurut Suroso, semua bagian sawit memang bisa dimanfaatkan. Setelah diambil minyaknya, cangkang sawit saat ini laku dijual, misalnya dimanfaatkan sebagai briket arang aktif. Berdasarkan aturan yang ada,cangkang sudah dilarang dibakar dalam pabrik karena menyebabkan polusi.

’’Cangkang ini pun bisa digunakan sebagai bahan campuran industri keramik. Sekarang sudah tidak ada lagi limbah karena semua sudah laku dijual,’’ tandasnya. Suroso menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian PPKS telah menghasilkan temuan 11 varietas unggul. Tanaman sawit yang konon tumbuhan asli Afrika ini kini telah dikembangkan melalui teknik penyilangan. Pohon bapak yang disebut sebagai pohon sungai pancur (SP) (nama tempat di Medan, lokasi riset sawit berada) dan pohon ibu yang diberi nama dura. Untuk pohon ibu, Indonesia sendiri sudah memiliki bibit potensial yang diberi nama deli dura. Deli merupakan nama kota di Sumatera Utara, tempat berkembangnya pohon sawit.Ada beberapa jenis sawit,mulai yang cangkangnya tebal dan buahnya banyak hingga cangkangnya tipis buahnya sedikit dan kecil-kecil.(abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/limbah-sawit-produktifkan-lahan-kritis-3.html

1 komentar:

open for discuss, please feel free to comment