Kamis, 13 Maret 2008

Memetakan Nusantara dari Antariksa

Memetakan Nusantara dari Antariksa
Jum'at, 29/02/2008
MEMETAKAN suatu wilayah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, kini ada beragam pilihan teknologi pemetaan yang ditawarkan, mulai yang resolusi tinggi dan mahal hingga yang terhemat.
Membuat sebuah peta, ternyata bukan pekerjaan mudah. Sebab, itu harus memenuhi keakuratan dengan skala tertentu dan bisa menjadi panduan baku. Sekretaris Eksekutif Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Sukendra Martha menyatakan, teknologi radar saat ini semakin berkembang. Selain menggunakan sensor pasif, radar ini juga memakai sensor aktif. Radar TerraSAR-X buatan Jerman termasuk teknologi radar terkini yang memiliki sensor aktif, yang mampu memotret tanpa dihalangi (tembus) awan.
Sementara itu, radar pasif hanya menangkap refleks gambar dari apa yang ada. ’’Sensor TerraSAR-X merupakan yang terbaru dalam rangka pemetaan. Kami mendapatkan kesempatan untuk menggunakan data-data hasil rekaman radar ini secara gratis. Sebab, kami belum memiliki radar sendiri, baru Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang mengembangkan radar Lapan Tubsat,” ujarnya. Padahal, selama ini,Bakosurtanal menggunakan berbagai teknologi untuk melakukan pemetaan wilayah nusantara.
Namun, teknologi radar memang termasuk paling murah dibandingkan foto udara yang menggunakan pesawat. Meskipun jelas foto hasil rekaman paling bagus dari foto udara, dengan berbagai macam inovasi teknologi, kini gambar pemetaan menggunakan radar pun tidak kalah dengan menggunakan foto udara. ’’Baru tahun ini kami mulai memfoto dengan teknologi Radar TerraSAR-X untuk beberapa wilayah, di antaranya Jabotabek,Indramayu, dan Subang. Sebab, ini masih masa promosi mereka sehingga kami memanfaatkannya tanpa bayar,”paparnya. Hal senada diungkapkan peneliti Geomatika Bakosurtanal Dr Ade Komara Mulyana.
Dia menyatakan bahwa radar tersebut juga bisa digunakan untuk membuat data spasial semburan lumpur Sidoarjo, data spasial kondisi terbaru Merapi, data spasial banjir Jakarta awal Februari lalu, dan lain-lain.Wilayah Indonesia yang sering diliputi awan akibat iklim tropis dan geografinya yang berbentuk kepulauan merupakan tantangan tersendiri untuk membuat pemetaan. Dia menambahkan, hasil dari pemetaan tersebut masih dalam penelitian. Maksimal dari rekam radar itu bisa dibuat peta skala 1:25.000, sedangkan untuk membuat peta skala 1:2500 memang akan mengalami kesulitan.
’’Citra radar lebih sulit untuk diinterpretasi daripada foto biasa. Untuk menentukan ini gedung apa,lebih sulit.Namun,kami sudah memiliki kemampuan itu,” tuturnya. Sebelumnya, RI juga pernah mencoba menggunakan hasil rekam sistem satelit Radarsat, ERS, JERS, Envisat, SRTM, maupun sistem Airborne-Ifsar. Menurut Ade, meskipun hasil rekam dari foto udara memang lebih jelas,saat ini gambar dari hasil radar tidak kalah. Dia menjelaskan perbandingan harga antara beberapa teknologi satelit itu, di antaranya Terra SARX mampu melakukan pemetaan bumi tanpa terganggu awan sekitar USD5 per km2, sedangkan biaya pemotretan udara dengan airborne –teknologi pemetaan yang mampu mengatasi awan– mencapai USD40–50 per km2.
Sementara itu, teknologi satelit Ikonos yang masih bermasalah dengan awan berbiaya USD37 per km2. ’’Kami lebih suka menyewa ketimbang membeli pesawatnya sendiri. Sebab, biaya operasionalnya tidak seimbang dengan hasilnya sehingga menjadi kontraproduktif,” paparnya. Indonesia baru menargetkan pemetaan menggunakan operasional satelit remote sensingbuatan dalam negeri pada 2016 mendatang, yakni menggunakan generasi ketiga satelit Lapan Tubsat yang masih dikembangkan. Bakosurtanal memang pernah memiliki dua pesawat untuk foto udara pada 1970-an.
Namun, karena biayanya tinggi, sedangkan teknologi penginderaan jauh semakin berkembang dan murah, pesawat tersebut tidak digunakan dan dijual.Sebab, setelah melalui perhitungan, menyewa ternyata lebih murah ketimbang membeli. ’’Kelebihan satelit juga bisa memotret wilayah perbatasan. Kami akan menganalisis sejarah waktu dari suatu wilayah sehingga bisa memantaunya. Jadi, akan diketahui pilar perbatasan saat ini, sebelumnya,dan masa mendatang. Itu untuk pertahanan wilayah perbatasan,”paparnya.
Dia menjelaskan, pemetaan pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Misalnya untuk teknologi foto udara terhadap wilayah satu kabupaten, dibutuhkan waktu selama sebulan untuk mengambil fotonya. Kemudian, diproses secara digital untuk dikompilasi datanya. Kompilasi ini pun diperkirakan butuh waktu sebulan untuk satu kabupaten. Lalu, akan dilakukan survei lapangan untuk mencocokkan nama dan membuktikan kebenaran gambar dan lokasi sesungguhnya. Pengecekan ini penting. Sebab,bisa jadi suatu hamparan tanah memiliki fungsi yang berbedabeda.
Padahal, dalam rekam gambar,warnanya hanya hijau. ’’Proses yang paling lama adalah pengolahannya. Paling tidak, pengecekan lapangan membutuhkan waktu sebulan,”paparnya. Saat ini, untuk peta nasional, Bakosurtanal mampu menyelesaikan lebih dari 50% peta dengan skala 1:50.000 yang direncanakan selesai dua hingga tiga tahun mendatang. Sementara itu, peta dengan skala 1:250.000 sudah selesai dan siap digunakan masyarakat. Untuk peta skala 1:25.000 hanya dibuat untuk Jawa-Bali,Sumatera, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, pulau-pulau lainnya belum ada rencana untuk dikembangkan peta dalam skala ini karena masih mempertimbangkan anggaran.Ini merupakan peta dasar yang bisa menjadi rujukan semua pihak. Sementara itu, ada juga peta tematik berdasarkan fungsi lahan, seperti peta geologi yang juga harus memanfaatkan data kandungan geologi dari Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) atau peta potensi sumber daya alam lainnya di Indonesia. ’’Pemetaan tematik, misalnya info wisata dan kandungan geologinya harus digambarkan pada peta dasar yang standar.
Tugas Bakosurtanal menyediakan peta dasar itu. Salah satu contohnya peta kehutanan. Itu tugas Departemen Kehutanan (Dephut) untuk menyediakan data-data hutannya,” tandasnya. Chief Operating Infoterra Nikolaus Faller menyatakan,sistem terbaru pemetaan bumi dengan radar dari Terra SAR-X bisa menjadi pilihan dalam pemetaan geospasial pada masa datang. Sebab, selain teknologinya yang terbaru mampu mengatasi awan, biayanya juga lebih rendah dibandingkan hasil rekam satelit lainnya.
Menurut dia, pemanfaatan radar untuk Indonesia ini bukan dibatasi waktu, melainkan fungsi dari pemetaan. Selain dengan Indonesia, Infoterra juga bekerja sama dengan beberapa negara di Amerika Latin, Asia Tenggara, China, dan lain-lain yang memang potensial paling diliputi awan. ’’Kemampuan radar Terra SARX untuk menembus awan ini tidak terbatas. Namun, radar itu juga punya kelemahan. Apabila hujan sangat lebat atau salju, radar tidak bisa menembus hujan ini,” paparnya.( abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/memetakan-nusantara-dari-antariksa.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment