Bangun Generasi Petani Melek Teknologi Informasi
Rabu, 06/02/2008
HARUS diakui petani di negeri ini sangat minim bisa mengakses informasi.Kelemahan ini coba disiasati dengan mengajak para pahlawan pangan itu agar melek teknologi informasi (TI).
Latar belakang itu yang menggelitik lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memberikan pelatihan TI kepada petani.Koordinator LSM Forum Gerakan Pengembangan Koperasi (Formasi) Agus Nugroho menyatakan,petani Indonesia juga harus pintar mengakses informasi lewat teknologi. Maka itu, melalui proyek yang didanai Microsoft Indonesia, didirikanlah 100 pusat TI bagi petani di 100 kabupaten di Indonesia. Kendati belum mencapai target, program berlabel nama Community Technology Center (CTC) ini paling tidak bisa menjadi langkah awal untuk membudayakan TI kepada petani. ’’Kami melihat bahwa petani kita juga harus mengerti teknologi informasi,’’ tutur Agus. Bagaimanapun, TI sangat dibutuhkan petani.
Hal itu mengingat TI bisa menjadi peralatan penting untuk kegiatan pertanian, misalnya untuk berkomunikasi via internet dengan e-mail atau chatting. Secara lebih jauh, internet bisa menjadi media efektif dan murah bagi petani untuk memasarkan dan produk pertaniannya melalui situs atau milis komunitas. Sederhananya, segala informasi seputar hasil bumi bisa dengan mudah diketahui. ’’Petani akan mudah mengetahui produk pertanian apa yang sedang dibutuhkan pasar,’’ paparnya. Agus mencontohkan, melimpahnya panen tomat di wilayah Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu, sehingga tidak laku dijual.
Namun, di tempat lain justru harga jualnya masih tinggi. Dengan bantuan TI, sebenarnya komunikasi antara petani dari seluruh penjuru negeri baik melalui milis komunitas petani maupun informasi lainnya akan lebih mudah,tapi faktanya justru berkata lain. Barangkali TI memang bukanlah sesuatu yang asing di negara maju. Sebut saja di Amerika Serikat.Petani kedelai di Negeri Paman Sam itu kini memetik hasil dan keuntungan melimpah–– sebagai pengekspor terbesar kedelai yang dikirim ke berbagai penjuru dunia,termasuk Indonesia. Untuk masalah teknologi,kemampuan petani Amerika tentu sudah tidak bisa diragukan lagi.
Tidak hanya teknologi TI, juga semua teknologi yang bisa dimanfaatkan pertanian dengan peralatan pertanian sarat teknologi. Untuk itulah, sudah bukan zamannya lagi petani tidak melek teknologi. ’’Dengan melek teknologi, petani kita akan memiliki bargaining. Contoh gampangnya,mereka bisa berkonsolidasi antarpetani seluruh Indonesia,” tutur Agus. Selain itu,melalui internet petani bisa mengakses semua informasi terkait pertanian, baik itu dalam produknya,pupuk,pestisida, maupun teknologi dan inovasi terkini seputar pertanian. Sebab, selama ini untuk masalah informasi seputar pertanian para petani masih sangat tergantung pada petugas penyuluh lapangan (PPL). Selain jumlah personelnya sedikit, PPL tidak mungkin mampu melayani rasa ingin tahu para petani. Dengan demikian, informasi tentang pertanian yang berlimpah di dunia maya bisa dimanfaatkan untuk membantu keberhasilan pertanian. ’’Petani tidak boleh tergantung pada PPL.
Sebab, PPL sebenarnya bertugas hanya sebagai fasilitator dan memberikan sedikit pembelajaran. Pengembangan dan penggalian sumber informasi pertanian tetap menjadi tugas petani itu sendiri,’’ paparnya. Sayangnya, pada praktiknya gagasan mengajak petani melek IT tak semudah membalikkan telapak tangan.Agus mengakui,sejak program ini diluncurkan tahun lalu, sekitar 77 dari 100 CTC yang didirikan. CTC itu rencananya didirikan pada 100 kabupaten dan 15 provinsi di Indonesia. Dalam program pelatihan ini, setiap CTC disediakan sekitar 20 komputer lengkap dengan software legalnya. Kemudian, pelatihan yang diajarkan sangat dasar, mulai untuk aplikasi Microsoft Office hingga internet.Tentu bagi sebagian besar petani di dalam negeri pengajaran itu akan menemui kendala.
Selain mereka tidak terbiasa mengakses TI, juga mayoritas sudah berusia lanjut. Dengan begitu, tidak jarang pelatihan dan akses CTC ini diwakilkan pada anaknya yang masih muda. ’’Paling tidak tiga program itulah yang memang mendesak dibutuhkan petani,’’ ungkapnya. Sementara ketika pascapelatihan, setiap CTC disediakan 2–3 komputer plus software untuk kemudian bisa digunakan petani setempat, tapi tidak sepenuhnya gratis.CTC yang dikelola bekerja sama dengan LSM lokal itu memang harus tetap dijaga keberlanjutannya. Tujuannya,program CTC ini tidak hanya berhenti saat pelatihan, juga berlanjut hingga 1–2 tahun mendatang bahkan seterusnya selama dibutuhkan petani.Tentu biaya penggunaan jasa CTC bukanlah tarif komersial, melainkan hanya bertujuan untuk mendidik petani agar tidak selalu mendapatkan gratis.
’’Setiap CTC itu ditangani seorang orang manajer dan satu orang pelatih. Jadi, kapan pun dibutuhkan petani, pihak CTC harus siap membantu,’’ ujarnya. Kebutuhan TI sangat krusial bagi petani Indonesia, terutama untukmeningkatkandaya saingdi tengah dominasi produk pertanian impor. Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rahmat Pambudy juga menyambut positif atas inisiatif swasta dan LSM untuk membantu pemberdayaan petani ini. Namun, permasalahan TI merupakan masalah sekunder bagi petani di Indonesia. Sebab, masalah primernya,selama ini petani belum pernah memperoleh posisi yang layak dan diperhitungkan, kecuali hanya ditumpangi kepentingan kelompok tertentu.
Apalagi menjelang pemilu,tidak jarang nama petani dibawa-bawa demi memenangi kekuasaan.Namun, kenyataan di lapangan, kebijakan pemerintah belum juga berpihak kepada petani. ’’Saya lebih setuju apabila masalah dasar dulu yang kita selesaikan,baru berpikir tentang bagaimana TI bagi petani. Mengenai benih, pupuk, air, pemasaran, dan kredit, itu merupakan masalah paling mendasar dan selalu bermasalah bagi petani di Indonesia. Sebab, memang banyak pihak tidak bertanggung jawab yang ikut campur,’’ tandasnya. Meski demikian,TI memang akan menjadi pendukung yang sangat bermanfaat, terutama untuk media komunikasi dan bertukar informasi antara petani. Rahmat tetap mengingatkan bahwa TI merupakan peralatan pendukung, tapi hal yang paling utama adalah kebutuhan dasar petani yang harus diwujudkan terlebih dahulu.(abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/bangun-generasi-petani-melek-teknologi-info.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment