Abu Terbang, Absorben Murah Atasi Limbah Cair
Senin, 03/03/2008
JAKARTA (SINDO) – Penanganan limbah kini tidak perlu biaya mahal dan dikhawatirkan merusak lingkungan. Ada solusi terbaru mengatasi masalah ini, yaitu memanfaatkan limbah tersebut. Penelitian yang dilakukan Agus Prasetya, Chandra Wahyu Purnomo, dan rekan-rekannya dari Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), ini menjawab tantangan bagaimana cara pengolahan limbah yang murah dan efisien.
Para peneliti ini berhasil menemukan bahwa abu terbang (fly ash)––limbah pembakaran tebu di pabrik gula– sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku absorben untuk mengatasi limbah cair. Selain murah, hemat, bahan ini juga mudah dimanfaatkan industri kecil yang tidak mampu membiayai sistem pengolahan limbah canggih seperti industri besar. Salah seorang peneliti Chandra Wahyu Purnomo menyatakan, abu terbang dari industri gula bisa digunakan sebagai filter penyaring limbah. Abu ini muncul dari pembakaran batang tebu yang telah diperas sarinya. Biasanya,begitu abu tersebut beterbangan di cerobong asap, ada alat khusus yang menangkapnya. Jika abu ini tidak ditangkap, abu akan keluar dan mencemari udara. ’’Biasanya abu ini hanya dibuang.
Namun, dari hasil penelitian kami,abu ini cukup bagus untuk menyerap logam berat dalam limbah cair,’’ paparnya. Chandra menyebutkan, abu terbang mampu menyerap logam berat karena luas permukaan dan pori-porinya besar. Luas permukaan abu itu seperti pada karbon aktif alami.Dengan demikian,abu memenuhi syarat layak digunakan sebagai absorben karena luas permukaan dan pori-porinya potensial. ’’Kita melakukan intervensi sedikit saja, yakni memperbesar luas permukaannya dengan chemical activation ditambah asam sehingga pori-porinya semakin membesar. Dengan demikian, abu akan lebih cepat dan optimal menyerap logam berat,’’ tuturnya.
Penelitian ini dilakukan sejak 2006 dengan dana bantuan dari Jepang.Pada tahun pertama tim peneliti menganalisis material abu terbang. Sementara pada tahun kedua, yaitu pada kurun waktu 2007 hingga awal 2008, tim mencoba membuktikan hipotesis mereka dalam bentuk pengembangan unit.Dari situlah,mereka menemukan unit pengolah limbah yang bagus dan pas bagi masyarakat umum maupun industri kecil dengan memanfaatkan abu terbang. ’’Abu terbang yang diambil dari cerobong itu diaktifkan dengan menambah larutan asam, seperti HCl (asam klorida). Lalu, diaduk dan didiamkan 1–2 hari, kemudian disaring dan dikeringkan. Baru abu terbang ini siap dijadikan absorben limbah cair,’’ papar pria yang juga Deputi Direktur untuk Asistensi Teknologi bagi Industri UKM pada Chemical Engineering Alliance and Innovation (ChAIN) Center ini.
Menurut Chandra, ada beragam cara menempatkan abu terbang sebagai absorben. Salah satunya dengan menempatkannya dalam batako penjerap di antara saluran pembuangan.Batako yang dipakai harus batako khusus yang berongga dan berpori. Meski agak susah ditemukan di pasar,orang bisa memesan ke penjual bahan bangunan. ’’Saat ini batako yang dijual di pasaran itu tidak berongga dan berpori. Kalau di luar negeri, batako berpori ini banyak dijual di pasaran. Jika memang dibutuhkan, kami siap membuatkan batako berongga dengan cara kerja sama. Sebab, kami bukanlah lembaga komersial,’’ tandasnya. Di samping itu, bisa juga menggunakan drum plastik bekas atau drum tahan karat yang di bawahnya dilubangi sebagai saluran air.
Abu terbang yang telah melalui proses pencampuran HCl itu langsung ditempatkan ke dalam drum.Kemudian,agar abu tidak larut dan mengalir bersama air limbah, pasang kain kasa atau penghambat lain di lubang pembuangan air. Drum berisi abu terbang inilah yang akan menyaring air limbah dari logam berat sehingga air yang mengalir ke pembuangan sudah jernih dan tidak berbahaya. Selain bermanfaat bagi industri skala kecil, abu terbang juga bisa dipakai untuk mengatasi limbah rumah tangga. Unit skala rumah tangga yang direkomendasikan dengan memasukkan abu terbang ke dalam sebuah wadah dengan luas 1 x 1 meter.
’’Biasanya abu saringan ini bisa bertahan sampai enam bulan,kemudian harus diganti dengan abu baru atau batako penyerapnya dicuci dengan larutan asam,’’ tuturnya. Chandra menuturkan, karena abu terbang merupakan limbah, biaya pemanfaatannya pun sangat hemat. Bahkan, tidak jarang setiap pabrik tebu menghasilkan berton- ton abu terbang yang biasanya dibuang. Sayangnya,hingga saat ini belum ada industri dalam negeri yang mengajukan kerja sama memproduksi pengolah limbah ini secara massal. Padahal,melihat potensinya untuk menciptakan lingkungan bebas limbah berbahaya sebenarnya melalui pengolahan yang hemat, murah, dan mudah dan sangat berpotensi untuk dikembangkan. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/abu-terbang-absorben-murah-atasi-limbah-cair-3.html
great invention....i hope there will be a continue follow up...
BalasHapusthank you for comment miss zahra. Yup u right. hope will there more invention. We do hope too, Indonesian scientiest's invention will be really usefull for people. .. thanks
BalasHapus