Gondok Masih Endemis di Daerah Vulkanik
Selasa, 11/03/2008
JAKARTA (SINDO) – Kampanye konsumsi yodium sudah gencar digelar. Namun, penyakit gondok akibat kurang yodium masih endemis di wilayah gunung vulkanik. Memetakan endemis penyakit di Indonesia berdasarkan geologi, tampaknya bukan perkara mudah. Menurut Pakar Eksplorasi Geotermal dan Epitermal, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Dr Agung Harijoko diperlukan penelitian panjang dan mendalam untuk bisa membuat peta geologi penyakit di Indonesia.
Dia menuturkan, keberagaman kondisi geologi wilayah-wilayah di Indonesia akan sangat memengaruhi karakter penyakit yang diderita masyarakat setempat meski ini masih jauh panggang dari api untuk diwujudkan. Sebab,hal itu harus melibatkan banyak pihak. Tidak hanya kalangan peneliti, juga Departemen Kesehatan (Depkes) sebagai lembaga penanggung jawab masalah kesehatan dalam negeri. Bersama koleganya dari Jurusan Teknik Geologi di UGM I Wayan Warmada, Toto Sudargo dan Emy Huriati dari Jurusan Nutrisi Fakultas Kesehatan UGM, serta Dutha Widagdo, Agung memulainya dengan meneliti karakter penyakit di wilayah gunung vulkanik. Agung menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian tim peneliti yang melakukan riset di sekitar Gunung Merapi dan Lawu yakni Magelang dan Wonogiri terungkap bahwa penyakit gondok dan IQ jongkok (intelektualitas rendah) masih mengancam masyarakat sekitar.
Hal itu terbukti ketika para peneliti banyak menemukan kasus penyakit tersebut di sana. ’’Berdasarkan hasil survei kami, sebanyak 23,2% responden yang kami teliti masih mengidap penyakit gondok. Sementara itu,sebanyak 40% ber-IQ rendah. Ini menunjukkan bahwa konsumsi yodium di masyarakat sekitar wilayah gunung berapi masih memprihatinkan,” ujarnya. Sementara itu,sekitar 400 gunung berapi di Indonesia tersebar ke seluruh wilayah kepulauan. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan apabila wilayah gunung berapi yang biasanya terpencil dan jauh dari pusat kota itu, ternyata masyarakatnya masih jauh dari sentuhan perbaikan. Tidak hanya minimnya pembangunan infrastruktur di wilayah itu, akses untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih layak pun masih jauh dari kenyataan.
’’Hasil dari analisis kimia geologi yang kami lakukan itu, ternyata menunjukkan bahwa konsentrasi yodium pada air dan tanah di wilayah tersebut sangatlah rendah. Sementara itu, konsentrasi zat besi dalam batu dan tanah relatif cukup tinggi,”ujarnya. Agung menambahkan, sebagai contoh kandungan yodium dalam tanah relatif lebih tinggi di Wonogiri dan sangat rendah di Ungaran.Sementara pada semua sampel air dari semua wilayah penelitian tersebut, kandungan yodiumnya sangat rendah. Kemudian, kandungan total karbon organik (TOC) dalam tanah agak sedikit tinggi di Ungaran dan sangat rendah di Magelang.Wilayah pegunungan di Indonesia menjadi sangat populer dan pusat perhatian sejak beberapa kali gempa melanda beberapa kawasan di Indonesia yang memakan banyak korban.
Termasuk, wilayah Gunung Merapi di Jawa Tengah. Jika mau dirata-rata, IQ orang Indonesia kebanyakan bernilai 120. Namun, berdasarkan hasil analisis tim kesehatan dan psikolog yang ikut melakukan penelitian ini, responden di wilayah penelitian memiliki nilai IQ kurang dari 100. Bahkan, ada yang IQ-nya mencapai angka 120. Namun, ketika diminta mengerjakan tes, hasilnya tidak menggambarkan IQnya. ’’Umpamanya, dia memang cerdas,tapi enggak tahu bagaimana menyalurkan kecerdasannya,” ujarnya. Selain gondok dan IQ rendah, ternyata masyarakat yang tinggal di wilayah gunung berapi juga mengalami kekerdilan. Berdasarkan penemuan mereka, di wilayah Borobudur Magelang dan Ungaran tercatat 50% responden mengalami kekerdilan.
Indikator penilaian kekerdilan diukur berdasarkan tinggi badan rata-rata orang Indonesia dibandingkan tinggi badan dan usia responden. Sebagai gambaran, responden yang sudah mencapai usia 21, tinggi badannya setara seperti tinggi rata-rata anak usia bangku sekolah menengah pertama (SMP).Pola yang ditemukan di Magelang lereng Merapi masih dominan penyakit gondok, sedangkan di Wonogiri lereng Lawu masih dominan IQ rendah. ’’Angka kekerdilan ini besar sekali dan sudah endemik. Meskipun untuk yang satu ini kami masih survei di wilayah Lawu, yang Merapi belum riset ke arah itu,” tandasnya. Dia menjelaskan, yodium merupakan unsur yang gampang menguap. Sementara itu, wilayah dekat gunung api terbentuk pemanasan di bawah tanah. Karena itulah, kandungan air mineral yang mengandung yodium menguap akibat terkena sinar matahari dari atas dan panas dari gunung api di bawah tanah.
Bahkan, tim peneliti juga menemukan bahwa kasus kurang gizi mengancam wilayah Ungaran. Sayangnya, pola makan masyarakat setempat semakin memperparah kondisi mereka akibat tidak adanya keterlibatan pemerintah yang memberikan penyuluhan atau intervensi signifikan. ’’Misalnya, mereka itu banyak yang mengonsumsi singkong. Jenis makanan ini berdasarkan analisis tim gizi kami menghambat suplai yodium dan gampang menyerap selenium. Selenium inilah yang bisa mengurangi tingkat kecerdasan,” ujarnya. Meskipun dampak keracunan akibat selenium memang belumlah tampak, dampak kekurangan yodium sangatlah kentara. Tercatat, wilayah Borobudur, Magelang, Candi, Ungaran, dan Kiswantoro, Wonogiri merupakan wilayah paling rawan kekurangan yodium. Berdasarkan temuan tim peneliti dari hasil survei sampel tanah, air, dan batuan itu, kadar yodium kurang sekali. (abdul malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment