Minggu, 19 April 2009

Krisis Global dan Industri Elektronik - Lokal Makin Berdaya Saing?

Industri elektronik di dalam negeri dibayang-bayangi penurunan pertumbuhan pada 2009. Namun beberapa produsen produk lokal mengaku optimis produknya makin berdaya saing.

Meskipun pangsa pasar ekspor produk elektronik lokal diprediksi bakal stagnan pada 2009 ini, namun untuk penjualan pasar domestik diprediksi masih akan tetap tumbuh. Terutama dengan pemberlakuan kebijakan gerakan penggunaan produk dalam negeri.

Presiden Direktur Grup Maspion Alim Markus optimistis tahun 2009 penjualan produk Maspion masih akan tetap cerah. Bahkan dia optimistis mampu mencatat pertumbuhan penjualan 20%. Apalagi dengan kebijakan pemerintah tentang pengetatan barang impor selundupan dikategorisasi dalam lima pelabuhan dan lima kategori melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 56/M-DAG/PER/12/2008 tanggal 24 Desember 2008 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu. Kebijakan ini semakin memperkecil peluang masuknya produk impor ilegal dan memberikan ruang bagi produk lokal untuk tumbuh.

“Terkait krisis global, saya rasa pemerintah sudah sangat tanggap sekali. Saya sebagai pengusaha lokal merasa sangat berterimakasih. Sebab kebijakan kategorisasi lima pelabuhan itu sangat membantu kami,” ujarnya kepada SI.

Dengan beberapa kebijakan proteksi, menurut Alim, mengakibatkan pertumbuhan penjualan produk Maspion pada 2008 cukup fantastis yakni berkisar 15-25%. Meski demikian Alim mengaku dengan diwajibkannya proyek-proyek pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri, membuatnya semakin optimistis penjualan di pasar domestik akan mencatat pertumbuhan pada 2009. Meskipun dia mengakui untuk pangsa pasar ekspor perlu dilakukan langkah-langkah strategi yang lebih jitu untuk merebut pasar.

“Selain kebijakan pemerintah, aparat-aparat di lapangan seperti Polisi dan lainnya harus cepat dan tanggap dalam menangani masuknya produk impor ilegal,” tuturnya.

Untuk strategi perluasan pasar ekspor Maspion harus bersaing ketat dengan produk-produk dari China. Berdasarkan catatan Maspion, untuk penjualan semester I 2008 dengan negara tujuan Timur Tengah nilai ekspor Grup Maspion sekitar USD 7 juta atau hampir sama seperti periode sama tahun sebelumnya. Meski demikian pasar ekspor Maspion tujuan Australia masih tetap tumbuh. Selain itu, Maspion juga berusaha mempertahankan volume ekspor di negara-negara pasar utama. Diantaranya ekspor ke AS terbesar, yakni sekitar 32 persen.

Namun kelompok bisnis yang kini memiliki 58 anak perusahaan dan memproduksi lebih dari 8 ribu macam barang itu mulai menjajaki pasar Amerika Latin. Diantaranya Brazil dan Venezuela karena populasinya besar.

Senada diungkapkan Product Manager PT Hartono Istana Teknologi (produsen Polytron) Handojo Soetanto. Hingga saat ini komposisi pasar produk Polytron masih didominasi untuk pasar lokal sebesar 90% dan ekspor hanya 10%. Meskipun untuk triwulan I 2009 ini dia mengaku angka penjualan diprediksi akan mengalami penurunan pertumbuhan hanya 5-8% dibandingkan periode yang salam pada 2008 yang mampu mencatat 10-15%. Namun secara keseluruhan penjualan selama 2009 ini dia optimistis mampu mencatat pertumbuhan sebesar 20%.

Menurut Handojo tujuan pasar ekspor terbesar Polytron masih Thailand. Selain itu Polytron juga diekspor ke Filipina, Pakistan, Dubai dan lainnya. Dengan total nilai penjualan pada 2008 sebesar Rp18 triliun, Handoyo memprediksi untuk semester I 2009 bisa jadi belum ada pertumbuhan angka penjualan. Namun pihaknya optimistis penjualan Polytron akan semakin membaik menjelang akhir tahun atau pada semester II 2009.

Polytron menargetkan prediksi kenaikan penjualan rata-rata sebesar 10% hingga 20% untuk setiap produk elektroniknya. Diantaranya untuk kategori produk audio ditargetkan naik 10%-15 %, televisi 10%–15 %, DVD Player 20%–25%, kulkas 15%–20%, mesin cuci 5% –10 %, dan pendingin ruangan (AC) sekitar 5%– 10%. Untuk jenis produk telefisi, hingga saat ini Polytron masih mendapatkan market share sebesar 18-20% atau terbesar ketiga dibandingkan produk-produk dengan merk lainnya.

Guna mencapai target penjualan, Handoyo mengungkapkan sudah menyiapkan beberapa strategi. Diantaranya, dampak krisis global telah mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat. Sementara produk elektronik merupakan kebutuhan sekunder. Sehingga produsen harus menyiapkan strategi agar masyarakat masih tetap bisa mengonsumsi produk-produk elektronik. Diantaranya semakin gencarnya dilakukan kerjasama dengan perusahaan pembiayaan untuk membantu penjualan secara angsuran.

“Jika dulu pola penjualan kami dengan pembiayaan masih di kota-kota besar, kini akan kami perluas hingga ke pedesaan,” ungkapnya.

Dengan cara inilah, Polytron tetap optimistis masih mampu merebut pasar dibandingkan produk-produk elektronik dengan merk impor. Dia juga mengaku kebijakan pemerintah dalam penegakan aturan terhadap barang-barang impor selundupan cukup memberikan dampak positif terhadap penjualan Polytron. Berdasarkan perkiraannya, sekitar 30% produk di pasaran merupakan black market. Namun dengan kebijakan pemerintah, produk-produk resmi semakin mendapatkan ruang di pasar.

“Bersaing dengan produk impor, kalau persaingannya fair saya optimistis bisa merebut pasar. Artinya tidak ada barang ilegal yang beredar di pasaran. Sehingga kita tidak tidak perlu takut bersaing dengan produk impor di era pasar bebas seperti sekarang,” tandasnya.

Berdasarkan data PT Gfk Marketing Serices Indonesia, salah satu perusahaan riset pasar yang berpusat di Jerman, mengungkapkan penjualan Polytron pada 2008 sepanjang tahun 2008 bisa dianggap cukup fantastis. Untuk produk dengan kategori Radio Recorder Portable misalnya. Polytron berhasil meraih market share sebesar 52%. Sedangkan untuk kategori Audio Home System, Polytron menguasai pasar sebesar 27%.

Menurut GfK, jika dibandingkan dengan tahun 2007, penjualan produk elektronik kategori Radio Recorder Portable pada tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 10 – 15%, sedangkan untuk kategori Audio Home System mengalami kenaikan penjualan sebesar 20 – 30%. Meski demikian, untuk tahun 2009 ini Polytron menargetkan akan menargetkan peningkatan penjualannya untuk kategori Radio Recorder Portable sebesar 10 - 15%, dan Audio Home System 5-10%.

Handojo yang juga merupakan Sekjen Electronic Marketer Club mengungkapkan guna membantu mendorong pertumbuhan industri elektronik didalam negeri, maka pemerintah harus memberikan insentif pajak terhadap barang elektronik. Jika di Singapura saja pajak barang elektronik hanya 7%, sementara di Indonesia selain PPN 10% juga dikenai pajak barang mewah (PPN BM) sebesar 20% sehingga menjadi 30%. Dengan selisih pajak 23% dibandingkan Indonesia, tidak mengherankan produk elektronik di Singapura memiliki daya saing cukup tinggi.

“Umpamanya untuk LCD TV yang dikenai pajak 30%, jika misalnya pajak barang mewah dihapuskan saja, maka produk elektronik di Indonesia akan tetap memiliki daya saing yang cukup tinggi,” ujarnya. (abdul malik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment