Minggu, 19 April 2009

Fluktuasi Harga Minyak Dunia - Dampak Spekulasi Pasar Finansial

Sunday, 12 April 2009
Fluktuasi harga minyak mentah belakangan ini bukan lagi murni karena faktor fundamental, melainkan lebih karena spekulasi pelaku pasar finansial.

Harga minyak mentah dunia tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental, yakni pasokan dan permintaan, dan bukan lagi didominasi faktor OPEC maupun non-OPEC, melainkan karena nilainya di pasar finansial. Menurut Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto,minyak mentah kini bukan lagi sekadar produk energi,melainkan juga komoditas pasar finansial sebagai media lindung nilai.

“Harga minyak saat ini sudah tidak beda dengan saham,” ungkapnya kepada Seputar Indonesia. Selama 2008 hingga awal 2009 harga minyak mentah sangat fluktuatif karena faktor nonfundamental yakni ekspektasi pelaku pasar finansial dan pasar komoditas berjangka. Menurut Pri, perilaku dan aktivitas perdagangan pelaku pasar finansial lebih berperan membuat fluktuasi harga minyak mentah saat ini ketimbang faktor permintaan dan persediaan, bahkan bukan karena faktor-faktor lain seperti pergantian musim ataupun penurunan produksi OPEC.

Berdasarkan hasil simulasi ReforMiner, selama 2008 fluktuasi harga terjadi sangat cepat akibat aktivitas pasar di bursa finansial. Seandainya hanya dipengaruhi faktor fundamental (pasokan dan permintaan), kesetimbangan harga minyak mentah mestinya berada di kisaran USD70–80 per barel. Faktanya, harga minyak mentah naik tajam hingga ke level USD150 per barel dan dalam hitungan bulan bisa turun lagi hingga ke level USD30-an per barel.

“Itu lebih disebabkan aktivitas di bursa finansial dan bursa berjangka yang hanya memperdagangkan kertas-kertas berharga kontrak jual beli minyak, tetapi tidak memperdagangkan minyak itu sendiri secara fisik,”ungkapnya. Sebagai gambaran,volume persediaan- permintaan minyak mentah secara fisik sebenarnya hanya di kisaran 85 juta barel per hari, namun di pasar finansial volume itu membengkak hingga 450 juta barel per hari.Menurut Pri,saat ini faktor pasokan dan permintaan relatif stabil pada kisaran 86–88 juta barel per hari.

Dia pun optimistis, fluktuasi harga minyak dunia tidak akan banyak memberikan dampak bagi Indonesia. Berdasarkan data statistik OPEC, harga minyak menunjukkan tren peningkatan sejak 6 Maret lalu, dari USD43 per barel ke kisaran USD52 per barel. Prediksi serupa juga diungkapkan anggota Kuwait’s Supreme Petroleum Council (SPC) Mousa Ma’rafi.Sebagaimana dilansir Arabian News (07/4), Ma’rafi melihat pasar minyak 2009 sangat tidak terprediksi.

Meski demikian, dia memperkirakan, harga minyak di pasaran dunia masih akan tetap berada di kisaran USD50 per barel. Namun, dia menilai kenaikan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir juga bisa disebabkan oleh pemotongan produksi oleh produsen minyak.“Kinerja pasar global minyak pada 2009 masih sangat tidak terprediksi,”paparnya. Menurut Ma’rafi, angka cadangan kebanyakan negara importir minyak masih tinggi.

Semester kedua tahun ini angka permintaannya diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 2,5 juta barel per hari dibanding periode yang sama tahun lalu.Namun, dia berharap kenaikan harga minyak akan mencapai USD65 per barel akhir tahun ini. “Fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan pada faktor fundamental pasar, dan faktor ini tidak menyebabkan kenaikan harga,”tambahnya. Sementara itu, Menteri Perminyakan Qatar Abdullah Al-Atiyyah menyatakan,harga minyak saat ini di kisaran USD40–50 per barel cukup adil karena kondisi ekonomi global yang sedang anjlok.

Namun, sejumlah negara pengekspor minyak sebenarnya telah mengupayakan harga minyak dunia stabil di kisaran USD75 per barel. Pengamat perminyakan Kurtubi menilai,harga minyak di pasaran dunia pada 2009 ini tidak akan jauh dari angka USD50 per barel. Menurut dia, harga minyak kembali menjadi USD70–80 per barel akan sulit tercapai.Tren kenaikan harga minyak beberapa waktu terakhir memang lebih karena faktor nonfundamental.

“Tingkat harga USD50 per barel masih tergolong rendah.Ini terjadi karena permintaan pasar dunia akan minyak masih rendah.Selama belum ada tanda-tanda pertumbuhan ekonomi dunia, harga minyak masih akan tetap berada di kisaran angka tersebut,”paparnya. Kurtubi menilai, Indonesia tidak perlu terlalu khawatir akan fluktuasi harga ini sebab dampaknya tidak terlalu signifikan. Tren kenaikan harga minyak beberapa waktu terakhir juga karena pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap Euro.

Selain itu, pelemahan atau penguatan nilai tukar rupiah juga memengaruhi besar-kecilnya nilai impor minyak Indonesia. “Memang ada tren peningkatan harga minyak beberapa waktu terakhir, namun masih relatif rendah. Ini karena permintaan dunia juga masih rendah,” ujarnya kepada Seputar Indonesia. Salah satu langkah antisipatif yang bisa dilakukan Indonesia, menurut Kurtubi, yakni mengupayakan agar nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin menguat sehingga biaya pokok produksi bahan akar minyak (BBM) bisa turun.

Sementara itu,Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutisna Prawira menyatakan, pemerintah saat ini terus memantau harga minyak internasional untuk dikaitkan dengan kebijakan di dalam negeri. Menurut Sutisna, perkembangan harga minyak diprediksikan masih akan mengalami tekanan dari rendahnya kebutuhan minyak akibat krisis ekonomi global. Perkembangan Indonesian crude price (ICP) terus merangkak naik dari USD43,1 per barel pada Februari 2009 dan rata-rata Maret 2009 telah mencapai USD46,75 per barel.

Berdasarkan perhitungan harga rata-rata,minyak dunia 2009 masih berada pada kisaran USD40–60 per barel.Sementara kurs rupiah dalam dua bulan terakhir telah mengalami tekanan yang cukup berat. “Mudah-mudahan penguatan nilai tukar rupiah akan terus berlanjut. Selain itu,dalam situasi perekonomian global yang tidak menentu, perkembangan harga BBM belakangan ini juga masih menunjukkan pola yang berbeda dengan pola perkembangannya pada waktuwaktu sebelumnya,”ujarnya.

Sutisna menambahkan,penentuan harga jual eceran BBM tertentu tidak hanya ditentukan oleh perkembangan harga minyak,tetapi juga mempertimbangkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,perkembangan APBN, dan kegiatan sektor riil dalam tahun berjalan dan perkiraan dalam satu tahun anggaran. (a malik/islahuddin/faizin a)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/228837/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment