Rabu, 15 April 2009

Studi Beragam Motivasi

Banyak hal menjadi motivasi seseorang untuk belajar Ke Belanda. Mulai ingin mendapatkan ruang kebebasan untuk berfikir kritis, meningkatkan kapasitas, hingga alasan kenyamanan dalam belajar.

Apa tujuan orang untuk melakukan studi? Untuk menambah ilmu, relasi, meningkatkan kompetensi, ataukah untuk mendapatkan lingkungan pendidikan yang kondusif. Barangkali semua alasan itu saling terkait satu sama lain. Sebab satu dan lainnya saling menunjang. Dengan lingkungan pendidikan yang kondusif dan segudang sarana memadahi, maka keinginan untuk menjadi ahli dalam ilmu tertentu sangat mungkin dilakukan. Demikian juga, semakin meningkat kompetensi seseorang maka dia semakin diperhitungkan di tempat kerja. Meski demikian tidak sedikit orang yang berfikir, sekolah itu hanya didasari untuk menuntut ilmu bukan mencari kerja.

Apapun alasannya, sebenarnya semua sah saja, sebab yang terpenting kebermanfaatan ilmu yang dipelajari tidak hanya berakhir dalam bentuk tesis atau skripsi yang berdebu di perpustakaan. Sungguh ironi, jika ilmu yang dipelajari tidak diamalkan untuk membantu membangun masyarakat. “Ibarat pohon tak berbuah”, demikian perumpamaan yang sering diungkapkan oleh orang bijak.

Demikian juga banyaknya mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke Belanda. Berbagai cara sebenarnya bisa ditempuh untuk belajar ke Negeri Kincir Angin itu. Bisa melalui beasiswa atau biaya sendiri. Namun mahalnya biaya pendidikan di Eropa tentu membuat mahasiswa dari negara berkembang seperti Indonesia harus berhitung ulang bagaimana untuk menjalankan studi di sana. Biaya itu bukan hanya untuk pendidikan saja, melainkan juga biaya hidup di Eropa yang terkenal standarnya cukup tinggi.

Bagaimana pun, tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang berhasil melanjutkan studi ke Belanda melalui Beasiswa. Paling tidak berdasar catatan Netherlands Education Support Office (NESO) Indonesia, sedikitnya ada 1.450 mahasiswa Indonesia yang sedang menjalankan studi di Belanda untuk tahun ajaran 2007/2008 saja.

Belum jelas berapa sebenarnya total warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Belanda baik menjalankan studi atau justru menetap dan menjadi warga di sana. Namun pada 2002 saja, diperkirakan jumlah WNI mencapai angka 120.000 orang. Ini bisa jadi lebih besar jika ditambah rata-rata jumlah orang Indonesia setahun mencapai 30.000 orang atau 2.500 orang sebulan.

Dengan demikian diestimasikan sebanyak 500.000 keturunan Indonesia tinggal di Belanda. Baik untuk tinggal sementara maupun menetap. Selain itu ada pula yang memperikirakan jumlah WNI di Belanda mencapai angka 40.000 KK. Artinya apabila dalam satu keluarga ada 3-4 orang, maka jumlah WNI bisa mencapai lebih dari 120.000 orang. Namun data ini masih belum terkonfirmasi. Perlu kepastian data resmi dari Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Denhaag. (*)

Meski demikian, patut dicatat bahwa Belanda menjadi salah satu negara favorit tujuan WNI. Beragam motivasi, mulai untuk bekerja, menjalankan usaha, atau melanjutkan studi. Khusus yang menjalankan studi, banyak WNI yang merasa mendapatkan lingkungan pendidikan yang kondusif ketika belajar di Belanda.

Kebebasan Berfikir Kritis

Ini sebagaimana dialami Sujadi, mahasiswa program doktoral bidang Sejarah Sosial di Universitas Leiden yang sedang menjalani tahun kedua pendidikannya. Dalam wawancara saya dengan Sujadi via alamat elektronik (email), pria yang bekerja sebagai salah satu staf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini mengaku nyaman belajar di perguruan tinggi (PT) di Belanda itu. Alasannya, saat ini dia sedang menjalankan studi keislaman yang Universitas Leiden dianggap memiliki referensi dan sumber kajian yang lengkap tentang isu ini.

“Universitas Leiden menjadi salah satu pilihan favorit bila dibandingkan dengan studi di negara-negara Timur Tengah yang kurang menyediakan ruang kritis dan kebebasan,” ujarnya.

Menurut Sujadi, sistem pengajaran di Belanda sangat mendukung dirinya dalam mendalami kajian ilmu yang sedang dipelajarinya. Selain kemudahan mendapatkan banyak referensi dan data, juga mudah untuk menemukan profesor handal dan kompeten di bidangnya.

Sujadi mengaku melanjutkan studi ke Belanda melalui beasiswa the Netherlands organization for international cooperation in higher education (Nuffic). Melalui program Training Indonesians' Young Leader (TIYL) yang merupakan hasil kerjasama Departemen Agama RI dengan Universitas Leiden, Sujadi meraih kesempatan untuk menambah kompetensinya di bidang sejarah sosial Islam. Namun Sujadi beruntung, karena mendapatkan kesempatan untuk riset lapangan di Indonesia selama 16 bulan guna menyelesaikan program doktoralnya di Leiden. Artinya urusan terpisah lama dari keluarga tidak berlaku bagi Sujadi.

“Jadi masalah keluarga mungkin sedikit teratasi,” ungkapnya.

Meskipun secara pribadi, Sujadi mengakui tidak ada jaminan setelah kelulusannya dari Leiden, dirinya akan mendapat kenaikan pangkat atau jabatan dalam pekerjaannya. Apalagi bagi orang yang sama sekali belum bekerja atau tidak mewakili istitusi apapun. Sebab tidak ada jaminan setelah lulus dari Belanda akan mendapatkan pekerjaan. Meski demikian bagi Sujadi, tawaran beasiswa tidak datang dua kali. Sehingga beasiswa pendidikan di Belanda diambilnya guna menambah kompetensi ilmu yang dia miliki.

“Yang Jelas, kesempatan tidak datang dua kali dan Belanda menyambut proposal saya. Tidak ada jaminan bahwa dari Belanda atau Amerika atau negara lainnya akan dengan mudah mendapatkan kerja di Indonesia. Semua tergantung bidang yang diambil apakah dibutuhkan di Indonesia atau tidak, kualitas personal, dan peluang yang ada. Tapi paling tidak, Belanda menawarkan beberapa bidang yang dianggap bagus oleh dunia. Itulah yang harus diperhatikan,” jelasnya.

Menurut Sujadi, komponen persyaratan tersulit dalam mendapatkan beasiswa adalah dalam mendapatkan rekomendasi dari profesor universitas tujuan. Tentu bidang keahlian profesor tersebut harus sesuai dengan kajian proposal yang diajukan oleh pelamar beasiswa. Sehingga menurut dia, membuat proposal jauh-hari dan mengontak beberapa profesor guna menanyakan kemungkinan kesediaannya untuk memberikan rekomendasi adalah sangat membantu. Apalagi biasanya pelamar beasiswa tersebut sama sekali belum mengenal profesor yang dimintai rekomendasinya.

Namun setelah berhasil ‘menembus’ kompetisi beasiswa, si peraih beasiswa tidak perlu terlalu khawatir. Apalagi cemas akan mengalami gegar budaya (shock culture). Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, Sujadi pun sepakat ada puluhan ribu WNI yang berada di Belanda. Apalagi Belanda memang terkenal sebagai salah satu negara yang multikultur dan multiras. Sehingga kekhawatiran akan terjadi diskriminasi sudah tidak cukup beralasan.

“Belajarlah sedikit-sedikit bahasa Belanda biar tidak kayak orang kebingungan. Diskriminasi, ada tapi gak terlalu bisa ditoleransi,” tambahnya.

Mengenai upaya apa yang bisa dilakukan guna lebih memperbanyak jumlah mahasiswa Indonesia yang studi di Belanda, menurut Sujadi, dalam hal hubungan bilateral antara kedua negara yakni Indonesia dan Belanda harus lebih intens. Selain kerjasama pendidikan, juga harus digalakkan kerjasama dalam bidang lainnya. Kemudian, peranan kerjasama antara lembaga swadaya masyarakat atau non government organization (NGO) dengan lembaga pendidikan juga harus lebih optimal.

“Harus lebih intens lagi ke daerah-daerah sehingga tahu apa yang lebih dibutuhkan Indonesia,” tandasnya.

An Independent Scholar

Berbeda lagi dengan Ali Tantowi, salah seorang peraih beasiswa yang sedang menjalankan pendidikan gelar master jurusan studi Islam di Universitas Leiden. Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai guru di Kampung Parakan Sagu, Gunung Picung, Pamijahan Bogor ini menyatakan, menjadi mahasiswa di Belanda berarti dituntut untuk menjadi mahasiswa mandiri (an independent scholar). Di mana semua urusan studi yang dijalani, diserahkan kepada si mahasiswa. Dosen yang biasanya di Indonesia mendapat julukan “killer”, namun tidak berlaku di Belanda. Sebab dosen di Belanda hanya sebagai pengarah dan fasilitator.

“Yang terpenting di sini kita dituntut untuk menjadi an Independent Scholar. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, menurut pengalaman saya, sistem di Belanda more applicated (lebih aplikatif-red), sehingga belajarnya tidak mengambang yang jauh dari kebutuhan sebenarnya,” kisah Ali dalam wawancara via email dengan saya.

Namun Ali mengakui, sebenarnya Belanda bukanlah prioritas utama negara tujuan bagi dirinya untuk berburu beasiswa. Ali mengakui, sebenarnya dia sangat ingin mendapatkan beasiswa studi ke Amerika Serikat (AS) atau Australia. Meski demikian, dia menegaskan studi di Belanda ternyata sangat menarik.

setelah saya datang ke sini (Belanda), banyak hal baru yang saya dapatkan,” ungkapnya.

Ali yang meraih beasiswa melalui pengumuman di NESO, mengakui bisa menjalankan studinya tanpa kekurangan. Apalagi besaran nominal pembiayaan beasiswa ternyata cukup untuk membiayai studi maupun biaya hidup selama di Belanda. Sehingga kekhawatiran tentang mahalnya biaya studi dan hidup di Belanda, bagi Ali sudah terjawab. Sebab jika ternyata pembiayaan beasiswa tidak mencukupi, maka mahasiswa terpaksa harus mencari penghasilan tambahan. Baik itu melalui kerja paruh waktu, atau lainnya. Apapun dilakukan, agar studi di negeri seberang bisa selesai dengan sukses.

Beasiswa alhamdulillah lebih dari cukup, asal gaya hidup kita biasa aja, seperti masak sendiri, kalau tiap kali makan di luar, memang biayanya nggak cukup. Sampai saaat ini saya masih mencari kerja sampingan,” ujarnya.

Namun kesuksesan Ali dalam meraih beasiswa di Belanda, ternyata bukan tanpa kegagalan. Sebab, Ali mengisahkan untuk studinya di jenjang strata satu (S1), dia pun sudah beberapa kali mengajukan aplikasi beasiswa. Namun hasilnya tetap nihil alias aplikasi ditolak. Kegagalan meraih beasiswa pendidikan S1, tidak membuat Ali patah arang. Justru itu dijadikan lecutan semangat untuk bisa berkompetisi dalam penjaringan beasiswa S2 bersama dengan ratusan bahkan ribuan kompetitor lainnya.

Ali memberikan tips, agar bisa diterima dalam program beasiswa maka yang harus dipersiapkan dengan matang adalah materi tesis atau penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, tentunya kemampuan bahasa Inggris yang handal karena sebagai prasyarat utama untuk menjadi mahasiswa internasional. Terakhir persiapan yang memadahi sebelum menjalankan seleksi tes wawancara.

“Mencari beasiswa susah-susah gampang, tapi kalo mau dapat ya harus kerja keras cari info dan tentunya mau berkorban biaya. Untuk bisa ditrima, persiapkan saja materi tesis penelitian sebaik-baiknya dan percaya diri dalam wawancara,” ungkapnya.

Setelah selesai menjalani studinya di Belanda, Ali mengaku akan kembali ke Indonesia dan mengembangkan profesinya sebagai guru. Keprihatinannya akan kondisi pendidikan di dalam negeri, membuat Ali berniat untuk memberikan kontribusi. Terutama pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Sebab di Indonesia, seolah pendidikan yang selama ini selalu mendapatkan slogan “gratis” dari pemerintah, namun berbeda dengan kenyataan yang ada di lapangan. Masih banyak ditemui, anak-anak dari keluarga miskin yang tidak mampu mengenyam pendidikan secara layak.

Niat ini muncul, tak lebih karena Ali merasa beruntung beroleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dengan sarana memadahi dan lingkungan kondusif. Sehingga wajar, jika kemudian keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan di Indonesia membuatnya tergerak untuk melakukan sesuatu. Apalagi jika hanya mengandalkan peran negara yang kondisinya juga belum mendukung terwujudnya pendidikan murah dan bisa diakses semua kalangan. Justru image yang ada, pendidikan bagus dan berkualitas adalah mahal dan hanya orang-orang berduit yang berhak mengenyamnya.

“Ketika kembali ke Indonesia, saya hanya ingin berpartisipasi membangun pendidikan, khususnya bagi yang kurang mampu. Menurut saya, Indonesia sekarang sedang butuh orang-orang terdidik untuk memajukan bangsa. Memang ibarat buah simalakama, kebanyakan orang-orang pintar kurang dihargai di Indonesia secara materi, jadi wajar bila mereka mencari kerja di negeri orang lain. Tapi kalo dilihat lebih seksama, seharusnya kita sadar, di tengah kesulitan bangsa yang entah kapan berakhir, kita harus bersama-sama meringankan beban dengan ikut serta berpartisipasi,” paparnya.

Senada dengan Sujadi, Ali juga sepakat mahasiswa Indonesia tidak perlu khawatir akan mengalami gegar budaya jika menjalankan studi di Belanda. Sebab menurut dia, Belanda adalah negara yang heterogen dengan berbagai macam etnis budaya dan suku bangsa. Proses integrasi budaya di Belanda, bisa dikatakan cukup berhasil. Selain itu, Belanda juga dikenal sebagai negara yang paling ramah di antara negara Eropa lainnya.

“Masyarakat Muslim leluasa menjalankan Ibadahnya selama tidak mengganggu ketertiban umum. Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Belanda, kadang mereka meminta maaf atas sejarah kolonialisme di Indonesia. banyak juga orang Indonesia yang bekerja di sini (Belanda),” tambahnya.

Terkait peningkatan kuantitas penyediaan beasiswa, menurut Ali, sudah seharusnya Indonesia dengan Belanda meningkatkan kualitas hubungan bilateralnya. Tentu saja, kerjasama yang dibangun atas dasar untuk memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara potensial dalam bidang agraria. Sementara lulusan pendidikan bidang agraria dari Belanda, menurut Ali, cukup diakui kualitasnya. Dengan demikian, pengembangan sektor agraria di Indonesia bisa dilakukan dengan kerjasama bilateral bidang pendidikan ini.

“Karena Indonesia sebagai negara yang punya potensi besar di bidang agraria, saya kira usaha itu untuk sementara dikonsetrasikan pada bidang ini dengan mengakomodir mahasiswa Indonesia alumni universitas dari Belanda, karena Belanda sangat ahli di bidang ini. Kuota Beasiswanya saya pikir harus ditambah lagi, bila dibandingkan dengan Australia, tentu saja kuota beasiswa dari Belanda sangat sedikit,” katanya.

Studi ke-Indonesiaan

Belajar lebih mendalami tentang ke-Indonesiaan, Belanda adalah tempatnya. Novelia Musda, salah satu mahasiswa S2 jurusan studi Islam Universitas Leiden menyatakan ingin belajar lebih dalam tentang Islam Indonesia justru di Belanda. Pria asli Padang, Sumatera Barat ini beralasan bahwa Belanda merupakan negara yang tepat untuk studi tentang ke-Indonesiaan. Terutama saat ini dirinya sedang mempelajari Islam di Indonesia, yakni Sumatera Barat. Bagi Novel-sapaan akrabnya, Universitas Leiden merupakan PT yang terkenal dengan sumber melimpah untuk kajian ke-Indonesiaan.

“Baik buku-bukunya, koleksi-koleksi manuskripnya, maupun pakar-pakar Indonesianya mudah ditemui di sini,” ujarnya dalam wawancara via email dengan saya.

Novel meraih beasiswa melanjutkan studi ke Belanda melalui program Training Indonesians' Young Leader (TIYL) atas kerjasama antara Departemen Agama RI dan Universitas Leiden. Belanda dipilih sebagai tempat studi, menurut alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang ini, karena beasiswa studi tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan peluangnya sangat besar di Belanda. Apalagi, pembiayaan beasiswa yang diperolehnya ternyata mencukupi untuk biaya pendidikan dan biaya hidup.

“Walau pas-pasan, dalam arti kalau mau menabung ya musti hidup hemat dan tidak sering tamasya misalnya. Saya hanya mengandalkan beasiswa saja untuk keberlangsungan sehari-hari di sini,” ungkapnya.

Meski demikian, beasiswa yang diraih oleh Novel bukan tanpa perjuangan. Dia harus berjibaku, berkompetisi dengan banyak pendaftar lainnya untuk bisa lolos seleksi. Tahap awal, Novel harus melalui seleksi pertama dari perguruan tingginya sendiri yakni IAIN Imam Bonjol yang diselenggarakan Depag. Kemudian dia harus menjalani program pembibitan selama enam bulan yang bertempat di Bandung, yang dilanjutkan pendaftaran kursus TOEFL guna meraih skor minimum setelah seleksi administrasi selesai.

“Menurut saya yang tersulit itu mengumpulkan persyaratan admisnistrasi, seperti rekomendasi profesor, terjemahan ijazah yang diakui, dan lainnya. Setelah itu tinggal agak santai, walau belum tentu diterima. Yang jelas, kalau mau dapat beasiswa selain kapasitas pribadi juga keberuntungan. Dan satu lagi, seleksi wawancara juga amat vital. Waktu wawancara musti melakukan persiapan matang,” paparnya.

Manfaat dari belajar ke luar negeri, bukan hanya ilmu yang didapatkan. Melainkan juga belajar tentang gaya hidup dan cara belajar di negara lain. Sehingga dibutuhkan kemampuan beradaptasi baik dengan budaya, cuaca, maupun gaya hidup orang Eropa ketika menjalankan studi. Meskipun Novel mengaku belum bisa berbahasa Belanda, namun dia tidak menemui kesulitan untuk bersosialisasi dengan masyarakat di Belanda.

“Menurut saya, diskriminasi ras itu boleh dikatakan amat jarang selama saya di sini, walau mungkin ada juga individu-individu yang merasa bahwa orang Eropa secara inheren superior. Menurut saya, orang-orang di Belanda termasuk yang cukup ramah dan enak diajak komnunikasi dan bertanya misalnya,” tandasnya.

Toh Novel merasa, proses pendidikan yang dijalaninya selama di Belanda berjalan cukup efektif. Artinya dari sisi pengembangan kapasitas intelektual, dia merasa bisa melakukannya dengan optimal. Dengan demikian, tentu saja mahasiswa dituntut untuk semakin rajin untuk mendalami dan memahami kajian ilmu yang digelutinya. Sehingga wajar, jika dengan modal ketekunan itu nantinya akan menghasilkan lulusan yang benar-benar handal dan ahli di bidangnya.

“Sepulang dari sini, saya rencananya cari kerja di Indonesia, terutama di kampung sendiri. Saya tak tahu apakah kenalan-kenalan dosen dan lainnya selama di Belanda ini akan bermanfaat nanti dalam pencarian kerja, tapi yang jelas saya pribadi tak ada networking yang menjamin akan mendapatkan pekerjaan di sini,” tambahnya.

Novel juga berharap, peran NESO selaku mediator dalam hal pendidikan bagi mahasiswa Indonesia di Belanda agar lebih agresif menjalankan misinya. Untuk itu menurut dia, Neso harus lebih aktif menyebarkan informasi beasiswa secara lebih luas kepada khalayak publik di Indonesia. Tujuannya agar program penjaringan terhadap calon penerima beasiswa menjadi lebih optimal.

“NESO harus lebih aktif mencari pemuda-pemudi Indonesia yang benar-benar potensial untuk mengamalkan ilmunya demi kebaikan bangsa, Negara dan agama,” pungkasnya.

Studi Jawa pun Ada

Jika Novel belajar tentang studi keIslaman Indonesia di Belanda berbeda lagi dengan Zakiyah. Mahasiswi yang mengikuti up grading course (kursus peningkatan kapasitas) dari program TIYL ini justru belajar tentang manuskrip Jawa di Universitas Leiden. Perempuan yang berprofesi sebagai Peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Depag Semarang ini menilai, Belanda memiliki universitas yang berkualitas dengan pengajar yang mumpuni di bidangnya. Riset yang dilakukan Zaki-sapaan akrabnya, adalah tentang manuskrip Jawa.

“Di Universitas Leiden ini tersimpan banyak manuskrip. Selain itu juga terdapat profesor di bidang philology, codicology, dan javanese philology, ilmu-ilmu ini adalah ilmu yang saya gunakan dalam riset,” paparnya dalam wawancara via email dengan saya.

Zaki merupakan salah satu mahasiswa yang memperoleh kesempatan studi di Belanda karena beasiswa. Namun menurut dia, pertimbangannya untuk berkompetisi meraih beasiswa bukan atas dasar besaran pembiayaan yang diberikan. Melainkan karena dia sangat membutuhkan bidang studi yang sedang ditekuninya. Sebab memang tidak banyak pakar manuskrip kuno di Indonesia. Apalagi, studi yang dilakukan Zaki ini akan sangat bermanfaat bagi profesinya sebagai peneliti, sekembalinya ke Indonesia nanti.

Meski demikian Zaki mengakui bahwa semua proses untuk menjalani beasiswa studi ke Belanda dilakukannya secara mandiri. Sehingga mulai mengurus segala sesuatu sebelum keberangkatan, meskipun ada beberapa hal yang dibantu oleh NESO dan official representative dari TIYL. Dari proses ini, perempuan asli Magelang, Jawa Tengah itu justru merasa bisa belajar mandiri.

“Hal yang saya pelajari dari proses ini adalah bahwa apabila ada kemauan dan kemampuan maka akan ada jalan untuk meraih apa yang kita cita-citakan,” ujarnya.

Sama halnya dengan peserta lainnya, Zaki pun menjalankan proses seleksi beasiswa secara ketat bersaing dengan kompetitor lainnya. Mulai dari proses seleksi administrasi dan kualifikasi akademik. Terutama untuk penguasaan bahasa Inggris. Kemudian, pembuatan proposal penelitian, penyesuaian latar belakang pendidikan atau profesi pelamar beasiswa dengan bidang studi yang akan di universitas tujuan.

Toh dia mengaku mendapatkan banyak pengalaman ketika menjalankan studi di Belanda. Hal terpenting yang harus dicatat oleh mahasiswa Indonesia yang ingin belajar ke Belanda adalah gaya hidup masyarakat setempat yang sangat teratur. Berbanding terbalik dengan Indonesia, yang semua tampak serba tidak teratur. Setiap ingin melakukan pertemuan dengan orang lain, semuanya harus menggunakan janji dan terjadwal. Baik itu untuk menemui dokter, profesor, maupun petugas atau aparat pemerintah. Sehingga harus dilaksanakan tepat waktu. Sebab ini terkait dengan perilaku (attitude) masyarakat Eropa yang terbiasa disiplin.

“Semuanya on schedule dan harus in time tidak boleh ada keterlambatan ketika sudah membuat janji dengan seseorang,” kisahnya.

Meski demikian, Zaki mengaku mendapatkan banyak manfaat dalam menjalankan studinya di Belanda. Menurut dia, pendidikan di Belanda didukung dengan sarana yang lengkap seperti perpustakaan dengan fasilitas lengkap dan mudah diakses. Kemudian, juga profesor-profesor yang bersedia membantu untuk tujuan riset yang dilakukan mahasiswa. Hal inilah termasuk salah satu yang membedakan Indonesia dengan Belanda. Di Indonesia, mahasiswa tidak akan dengan mudah bertemu dengan profesornya. Sementara di Belanda, asal sudah membuat janji terlebih dahulu, maka mudah untuk bertemu dan berdiskusi dengan profesor.

“Mereka akan bersedia menemui, berdiskusi dan membantu kesulitan yang kita temui berkaitan dengan studi kita,” tambahnya.

Selain itu sistem pendidikan di Belanda juga menuntut mahasiswa benar-benar harus mau belajar mandiri. Menurut Zaki, setiap kelas yang dijalaninya selalu ada tugas bacaan yang harus dipahami sebelum akhirnya memasuki kelas berikutnya. Juga ada tugas-tugas lain yang menuntut mahasiswa untuk aktif menulis dan membaca. Bagi mahasiswa Indonesia yang tidak terbiasa dengan budaya seperti ini, maka bisa mengalami perasaan di bawah tekanan (under pressure). Sehinga dibutuhkan kemampuan beradaptasi ekstra, agar bisa menjalani studi dengan optimal.

“Karena hal ini jarang terjadi di perkuliahan di indonesia, maka bisa juga sistem ini membuat mahasiswa stress kalau tidak mampu beradaptasi dengan tuntutan akademik yang sangat ketat,” katanya.

Adaptasi lainnya yakni dalam hal cuaca dan makanan yang sama sekali jauh berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia, bisa ditemui banyak warung tegal dengan rasa makanan yang sangat familiar bagi lidah kebanyakan masyarakat. Namun berbeda dengan Belanda, meskipun banyak ditemui restoran Indonesia, namun rasa makanannya tetap berbeda jika dibandingkan dengan yang ada di negeri asalnya.

“Hal pertama yang lansung terasa adalah perbedaan cuaca karena saya datang di saat musim dingin,” ungkapnya.

Terkait dengan diskriminasi ras, sebagaimana selama ini yang dikhawatirkan terjadi di negara-negara Eropa, Zaki mengaku hingga saat ini belum pernah mengalaminya. Selain itu di Belanda juga banyak komunitas masyarakat Indonesia seperti Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, atau bahkan Komunitas Nahdlatul Ulama di Belanda (KNUB). Sehingga mahasiswa tidak perlu khawatir, sebab banyak WNI yang bisa ditemui di belanda.

Meski demikian, setelah selesai menjalankan studi Zaki berencana untuk kembali ke Indonesia. Dia akan mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya di tempat kerjanya sebagai seorang peneliti. Meskipun harus diakui, alumni lulusan PT di Belanda cukup diakui kualitasnya. Apalagi bagi mahasiswa yang mempelajari ilmu yang bersifat aplikatif (applied science). Untuk studi yang satu ini, mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu namun juga ketrampilan (skill).

Mengenai persyaratan mengajukan beasiswa, menurut Zaki, hal itu sudah baku sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh universitas-universitas yang ada di Belanda. Sehingga, mau tidak mau, bagai masyarakat Indonesia yang ingi meraih beasiswa harus berjuang keras untuk memenuhi kualifikasi. Namun mengenai syarat penguasaan bahasa Inggris, menurut Zaki, sebenarnya pihak penyelenggara bisa berinisiatif untuk menurunkan standar menjadi dengan skor 500-525 misalnya. Sebab dengan cara inilah akan ada semakin banyak mahasiswa dari seluruh penjuru wilayah Indonesia yang bisa berpartisipasi. Disisi lain, dia juga sepakat kuota penerima beasiswa dari Indonesia harus ditambah.

“Perlu lebih banyak lagi kuota untuk kandidat yang berasal dari daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Juga kuota untuk kandidat dari golongan ekonomi lemah yang selama ini masih kurang mendapat kesempatan untuk belajar,” imbuhnya. (abdul malik)

- Tulisan ini untuk mengikuti kompetisi blog studi belanda dalam kategori wartawan
- (*) lebih jelas lihat http://www.mualaf.com/islam-is-not-the-enemy/Dunia%20Islam/283-islam-di-belanda-bahu-membahu-bangun-masjid. atau http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=Time+Traveller&y=cybertravel%7C2%7C0%7C3%7C984.
- Kredit foto : dok. Zakiyah dan dok. Ali Tantowi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment