| Saturday, 18 April 2009 | |
| Pernah dengar frustrasi? Nah, deprivasi atau lengkapnya deprivasi relatif jauh lebih dahsyat dari frustrasi. Contohnya begini: Rio, anak SD kelas II, dijanjikan hadiah mainan PS (play station) oleh ayahnya karena naik kelas. Maka pada hari Minggu berangkatlah mereka sekeluarga ke mal untuk membeli PS.Ternyata di toko, mainan PS kebetulan habis. Dicari ke toko lain,habis juga,di toko lain lagi, nggak ada stok.Akhirnya sang papa menyerah dan berjanji akan mengajak Rio ke mal lain minggu depan. Rio frustrasi. Menangis karena kesal. Namun, sesudah capai nangis,ya sudah.Dia ketawa-ketawa lagi dan bermain dengan adiknya lagi seperti tidak ada apa-apa.Hari Minggu depannya memang benar,mereka ke mal lain dan bisa beli PS. Lain halnya dengan Tito. Dia juga kelas II SD dan baru naik kelas serta dijanjikan pula untuk dibelikan PS. Pada hari Minggu yang dijanjikan, Tito sudah siap mandi sejak pagi karena mau ke mal.Pukul 9 pagi,papa masih tidur. Mama pun nggak berani membangunkan. Pukul 10 Tito membangunkan papa karena sudah ingin sekali pergi, keburu kesiangan. Namun, dia malah kena marah, dibentak dan disuruh enyah.Papa tidak peduli sama PS-PS-an,pokoknya papa mau tidur.Titik! Memang sejak itu tidak ada lagi omongan tentang PS. Tito tidak menangis berguling-guling, dia hanya meneteskan air mata, duduk termenung, tetapi dendam kepada ayahnya bukan main besarnya. Ia merasa dilecehkan dan dipermainkan ayahnya sendiri. Tito mengalami deprivasi,bukan hanya frustrasi. Dampak deprivasi jauh lebih besar daripada frustrasi. Pada frustrasi yang menjadi penghalang adalah faktor objektif, yang bisa sewaktu-waktu terjadi pada siapa saja.Sementara pada deprivasi telah ditanamkan suatu gagasan yang melambungkan harapan ke tingkat yang relatif lebih tinggi. Ketika harapan yang subjektif ini tidak terpenuhi,terjadilah deprivasi itu. *** Pascapemilu legislatif, kita saksikan kelakuan aneh-aneh para caleg yang kalah. Tidak semua masuk RS jiwa karena berkelakuan aneh itu, tetapi yang tak masuk RS jiwa pun tak kalah aneh kelakuannya. Ada yang meminta kembali sumbangan karpetnya ke masjid gara-gara jamaah masjid tidak mencontreng namanya. Ada yang menutup jalan desanya sendiri sehingga orang sekampung yang tidak memilihnya tidak bisa lewat di situ.Ada yang tadinya menyediakan lahan untuk pedagang kaki lima (PKL),tetapi ketika tidak terpilih, ia meminta kembali lahannya itu sehingga para PKL pun kebingungan mau berdagang ke mana.Tentu saja ada yang marahmarah, mengamuk seperti anak kecil,menyerbu kantor KPUD,kantor cabang partai atau kantor polsek. Namun ada juga yang agresivitasnya ditujukan kepada dirinya sendiri, maka bunuh dirilah dia. Awam menyebut mereka, para caleg yang gagal ini, sebagai stres. Namun,yang sesungguhnya,dalam ilmu psikologi, mereka itu disebut mengalami deprivasi relatif.Mereka mengalami deprivasi karena mimpi-mimpi yang dibangunnya sendiri atau dikompori oleh orang lain. Ia bermimpi jadi anggota legislatif,dengan gaji puluhan juta rupiah sebulan,nyatanya dia tidak dapat apa-apa, malah utangnya menumpuk. Ini bukan cuma stres, tetapi deprivasi. Orang stres bisa diobati dengan dipijat refleksi atau berekreasi sebentar atau sekadar nonton televisi atau main sama anak-anaknya. Namun orang deprivasi seperti anak kecil Tito dalam contoh di atas membawa dendam kesumat yang teramat besar, yang mungkin dibawa selama hidupnya. Dalam sejarah, deprivasi relatif yang berkepanjangan yang dialami sebuah bangsa bisa membawa bangsa itu kepada revolusi atau coup d’tat. *** Kembali ke Pemilu 2009.Yang lebih ajaib lagi adalah para pemimpin partai politik (parpol) yang kalah. Mereka bisa saja mantan (atau masih) orang-orang jempolan atau elite politik papan paling atas di republik ini.Namun, ketika partainya jeblok dalam pemilu, kelakuannya jadi aneh juga. KPU dan DPT dijadikan kambing hitam,padahal DPT yang sempurna kan cuma ilusi yang dituliskan dalam undang-undang oleh orang-orang yang mimpi di DPR. Di Indonesia hampir tidak ada RT yang bisa menghitung berapa jiwa yang tinggal di RT-nya. Pembantu rumah tangga keluarmasuk tanpa lapor, malah teroris dengan leluasa bikin bom di rumah kontrakan, tanpa RT-nya tahu, terus tiba-tiba meledak. Di UI, universitas tercanggih di Indonesia, bisa terjadi salah bayar, gaji dosen masuk ke akun dosen lain. Memang langsung dikoreksi (ditarik lagi duitnya oleh bank), tetapi kesalahan itu masih terjadi di NKRI,tanpa ada rekayasa atau yang lainnya. Maka wajarlah kalau orang mati masih tercatat sebagai pemilih (orangmatinya nggaklaporRT) atau bayi juga tercatat sebagai pemilih (bayinya juga nggak lapor,sih).Jadi kalau terus-terusan mencari alasan rekayasa dan lain-lain alasan, kan pusing sendiri. Padahal sebetulnya Pemilu 2009 sesungguhnya sudah sukses. Tertib, aman, damai, serempak di seluruh Indonesia. Sejak 1999 bangsa Indonesia bisa melaksanakan pemilu yang damai. Temanteman saya yang diplomat asing semua angkat jempol dan masyarakat secara umum juga tidak ada yang ribut (nggak ada demo-demo protes hasil pemilu quick count, misalnya). Namun para pemimpin parpol itulah yang seperti orang panik. Sebelum pemilu dia berkoalisi dengan partai A atau tokoh B, sekarang tiba-tiba pindah koalisi dengan partai X dan tokoh Z.Tokohtokoh yang selama 10 tahun lebih selalu berseberangan karena sejarah Orde Baru tiba-tiba mau mendirikan Sekretariat Bersama untuk menuntut KPU ke pengadilan. Bahkan ada yang ingin supaya pemilu ini dinyatakan batal saja oleh Mahkamah Konstitusi dan diulang saja.Mereka kira bisa menang kalau pemilu diulang. Padahal kalau quick count yang hanya menggunakan sampel kecil bisa memprediksi dengan error hanya 1–2%, apalagi pemilu nasional yang sudah meliputi 80–90% dari DPT. Jika pemilu diulang dengan DPT lengkap pun secara statistik bisa dipastikan hasilnya zero error alias akan persis seperti yang sekarang. Jadi semua itu hanya mimpi alias ilusi. Kelakuan-kelakuan aneh yang ditimbulkan oleh ilusi atau mimpi itu memang belum bisa dikategorikan sebagai sakit jiwa sehingga belum perlu dimasukkan RS Jiwa, tetapi juga bukan sekadar stres. Deprivasi relatif menunjukkan jiwa yang belum siap untuk menghadapi kenyataan. Mereka masih mencampurkan antara mimpi atau ilusi (harapan) dengan kenyataan alias masih seperti anak kecil. *** Untungnya, tidak semua elite masyarakat Indonesia masih berjiwa seperti anak kecil.Kebanyakan justru sudah matang dan dewasa. Pemilihan sudah merupakan barang biasa di berbagai sektor dalam kehidupan bangsa kita. Pemilihan gubernur dan bupati/wali kota, pemilihan rektor, pemilihan direksi BUMN, pemilihan BEM (mahasiswa),pemilihan RW/RT, pemilihan ketua kelas/ angkatan, pemilihan pengurus organisasi, dan ribuan pemilihan lain berjalan aman,demokratis,dan yang kalah ya sudah saja. Memberi selamat kepada yang menang dan lain kali maju lagi kalau masih mau. Jadi bukan cuma calon Presiden Amerika Serikat yang kalah saja yang bisa berjiwa sportif, orang Indonesia juga bisa.(*) Sarlito Wirawan Sarwono Dekan Fakultas Psikologi Unversitas Persada / YAI http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/230888/ |
Minggu, 19 April 2009
Deprivasi Pemilu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment