Masih rendahnya tingkat penetrasi pasar komputer di Indonesia menjadi dasar keoptimisan sejumlah kalangan pelaku usaha di industri ini. Wakil Ketua Umum Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Bidang Produk Dalam Negeri Djoenaidi Handojo menyatakan pasar Indonesia masih potensial untuk tetap tumbuh. Apalagi dengan kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pendidikan dengan menyediakan anggaran 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Tingginya angka pertumbuhan kepemilikan alamat elektronik (email) pun menjadi indikator, industri PC dan Notebook masih cerah di masa mendatang.
“kami yakin kedepan pasar PC penjualan masih meningkat. Sebab kebutuhan orang akan PC makin primer. Apalagi dengan makin disadarinya penggunaan internet,” ujarnya kepada SI.
Apalagi jika pemerintah berhasil mewujudkan program internet murah bagi masyarakat. Maka pertumbuhan industri penjualan PC dan Notebook akan semakin cerah. Indikator paling kentara, adalah tingginya angka pertumbuhan kepemilikan alamat elektronik (email). Ini menunjukkan kebutuhan orang akan bermain internet dan guna memiliki PC atau Notebook sendiri sangat tinggi. Meskipun harus diakui prosentasi perbandingan kepemilikan PC atau Notebook dengan jumlah populasi di Indonesia masih minim jika dibandingkan negara lain, seperti Singapura atau Malaysia. Namun patut dicatat, kepemilikan PC atau Notebook di masyarakat sudah bukan lagi dianggap sebagai barang mewah. Sebab PC atau Notebook merupakan bagian dari alat untuk pendidikan.
“Maraknya penggunaan black berry saya kira tren itu hanya akan sesaat. Sebab masyarakat akan kembali menyadari kegunaannya, tentu akan kurang optimal jika dibandingkan Notebook atau PC, apalagi untuk menggunakan fasilitas internet,” paparnya.
Meski demikian, Djoenaidi memprediksi penjualan PC dan Notebook pada triwulan I 2009 ini menurun sekitar 20%. Penyebabnya selain karena nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah, sehingga membuat harga PC dan Notebook semakin mahal seiring dengan naiknya harga dolar. Juga karena swasta mengerem permintaannya. Apalagi dampak krisis global, mengakibatkan daya beli masyarakat melemah sehingga pembelanjaan akan diprioritaskan bagi kebutuhan-kebutuhan pokok.
“Berdasarkan hasil efaluasi kami, selama Januari hingga Maret ini terjadi penurunan sekitar 20-25%. Perkiraan kami pasar akan kembali bergairah pada pertengahan tahun setelah Pemilihan Umum (Pemilu) hingga akhir tahun,” ungkapnya.
Berdasarkan catatan Apkomindo, penjualan tahun 2008 untuk PC sekitar 2 juta unit termasuk hardware dengan nilai kurang lebih US$ 800 juta dan Notebook sekitar 1,2 juta unit atau senilai US$ 700 juta. Untuk penjualan PC Desktop mayoritas didominasi produk dalam negeri sekitar 80-85%, sisanya yakni sekitar 15-20% baru penjualan PC dengan brand impor. Dari penguasaan pasar 80%-85%, produk dalam negeri yang bermerek itu sebesar 10% dan tidak bermerek atau perakitan sebesar 65% sampai 70%.
Sementara untuk penjualan Notebook tiga besar masih ditempati brand Accer, Hawlet Packard (HP), dan Toshiba. Dengan total pertumbuhan yang mencapai rata-rata 40% per tahun, maka pasar PC dan Notebook di Indonesia masih potensial untuk berkembang. Hanya saja, akibat dampak krisis global dan melemahnya nilai tukar rupiah membuat pertumbuhan penjualan komoditas ini sedikit terkoreksi pada 2009 ini. Selain itu terkait dengan gerakan cinta produk dalam negeri, menurut Djoenaidi maksimal hanya 30% produk PC atau Notebook yang menggunakan konten lokal. Sehingga wacana penggunaan produk dalam negeri perlu lebih didorong agar infrastruktur, sarana dan teknologi yang ada bisa mewujudkan hal ini.
“Agar ini tidak hanya sekedar wacana, maka harus ada peran nyata dari semua pihak agar gerakan penggunaan produk dalam negeri menjadi kenyataan,” tandas Djoenaidi yang juga Direktur PT. Berca Cakra Teknologi yang memiliki produk Notebook Relion.
Bagaimanapun terkait dampak krisis global, kalangan pelaku industri PC dan Notebook mengharapkan ada insentif keringanan pajak dari pemerintah. Terutama dengan melemahnya daya beli masyarakat di satu sisi, serta masih maraknya ditemui produk-produk selundupan di sisi lain. Meskipun demi mencegah penyelundupan pemerintah telah memberlakukan aturan-aturan yang lebih ketat untuk mencegah masuknya produk-produk impor gelap melalui pelabuhan-pelabuhan. Namun fakta di lapangan, masih banyak ditemui produk-produk yang tidak membayar pajak ini.
Presiden Direktur PT Techking Enterprises Indonesia (distributor utama Notebook merk Toshiba) Gunawan Nugroho memprediksi pertumbuhan penjualan produknya pada 2009 ini akan mengalami koreksi. Padahal pertumbuhan penjualan Notebook terbilang cukup fantastis tiap tahunnya, yakni sekitar 100% sejak 2005-2008. Dari total penjualan Notebook sekitar 1,2 juta unit, Toshiba beroleh sekitar 18%. Namun kini meskipun diperkirakan masih tetap tumbuh, namun akan mengalami penurunan jika dibandingkan 2008. Sehingga menurut Gunawan, sudah waktunya pemerintah meninjau ulang kebijakan pemberlakuan pajak bagi produk PC dan Notebook, yang merupakan sarana pendidikan masyarakat.
“Jika di negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapura, PC dan Notebook dinggap sebagai kebutuhan dasar dan sangat menunjang pendidikan sehingga diberi keringanan pajak. Sementara kita masih dikenai pajak dan masih harus berkompetisi dengan produk selundupan,” ungkapnya.
Harga jual produk selundupan untuk produk dan merk yang sama biasanya lebih murah 10%. Sehingga produk resmi harus bertarung mati-matian untuk kembali meraih pasarnya yang dikuasai produk selundupan.
Meski demikian, bukan berarti para pelaku industri PC dan Notebook berpangku tangan dalam menghadapi dampak krisis. Gunawan menyatakan ada banyak strategi yang disiapkannya dalam melewati tahun 2009, terkait dengan dampak krisis global maupun menjelang pelaksanaan perhelatan pesta demokrasi di negeri ini. Dengan melemahnya daya beli masyarakat, maka produk Notebook dengan kelas satu dengan harga tinggi yang dulunya cukup laris, kini masyarakat akan lebih memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau.
Untuk itu dalam menyikapi dampak krisis Notebook Toshiba yang biasanya menyasar masyarakat menengah ke atas, kini akan mulai melirik segmen menengah ke bawah dengan produk yang harganya lebih terjangkau. Tidak hanya itu maraknya penggunaan PC atau Notebook di kalangan usaha kecil dan menengah juga menjadi potensi pasar yang potensial. Apalagi tren penggunaan Notebook kini tidak hanya di ibukota namun juga sudah merambah ke daerah-daerah di seluruh Indonesia.
“Market Jakarta sudah mapan. Harga Notebook yang makin lama makin terjangkau sehingga kami mulai menyasar pasar di daerah,”
Hingga saat ini Toshiba sudah memasarkan produknya hingga ke daerah-daerah. Tidak hanya di Jakarta sebagai kantor pusat, namun juga ada di Bandung, Solo, Semarang, Yogyakarta, Medan, Lampung, Manado, Banjarmasin, dan lainnya. Ini menunjukkan para pelaku industri PC dan Notebok sangat yakin dengan potensial pertumbuhan pasar di Indonesia. Gunawan juga sepakat digalakkannya penggunaan produk dalam negeri. Sebab dengan cara inilah akan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menghidupkan perekonomian di masyarakat. Namun sayangnya kesiapan Indonesia untuk dijadikan sebagai perusahaan produksi masih belum dianggap memenuhi syarat oleh para infestor.
“Kami sudah beberapa kali mengajukan bagaimana mendirikan perakitan di Indonesia ke principal. Namun melihat hasil penjualan yang ada principal masih belum menyetujuinya,” tandasnya. (abdul malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment