Isu pemanasan global bukan tidak diperhatikan para produsen barang elektronik di dalam negeri. Namun isu produk ramah lingkungan yang semakin berkembang juga membutuhkan tidak hanya investasi lebih, namun juga kesiapan daya beli konsumen dalam mengonsumsinya. Menurut Sekretaris Jenderal Electronic Marketing Club (EMC) Handojo Soetanto yang juga merupakan Product Manager PT Hartono Istana Teknologi (produsen Polytron), industri elekteronik di dalam negeri sudah memiliki paradigma untuk konsen terhadap isu lingkungan. Namun kesiapan teknologi dan sarananya membutuhkan investasi yang cukup tinggi. Tingginya investasi sangat berkorelasi dengan harga jual produk dan daya beli konsumen.
“Saya yakin secara umum industri elektronik di dalam negeri sudah memberlakukan pengelolaan limbah secara benar,” ujarnya.
Handojo mengungkapkan, untuk Polytron misalnya. Sudah mempertimbangkan 3R dalam memproduksi produknya. Namun kini tuntutan ramah lingkingan tidak cukup 3R, namun definisinya semakin berkembang. Misalnya produk plastik yang mampu terurai dengan tanah dalam jangka waktu tertentu. Tuntutan ini semakin berkembang seiring dengan kesadaran masyarakat akan bahaya pemanasan global dan perubahan iklim serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“Untuk memproduksi produk dengan bahan baku plastik yang bisa hancur dengan tanah ini biayanya sangat tinggi. Meski demikian, produk-produk kami sudah mempertimbangkan faktor lingkungan,” ujarnya.
Senada diungkapkan Head of Marketing Sony Ericsson Mobile Communications Indonesia Djunadi Satrio. Produsen elektronik sudah berlomba-lomba menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Dengan konsep GreenHeart (tm), Sony Ericsson memastikan bahwa daur ulang produk telepon seluler miliknya ini ramah lingkungan. Bahkan organisasi yang konsen di bidang lingkungan GreenPeace pada 2008 lalu telah memberikan predikat 'perusahaan elektronik paling ramah lingkungan’ pada Sony Ericsson.
Djunadi mengungkapkan, sebagai perusahaan besar Sony Ericsson sangat sadar lingkungan dan memiliki program untuk mengurangi dampak bisnis terhadap lingkungan melalui inisiatif yang ramah lingkungan. Dilihat dari sudut lingkungan, semua produk-produk Sony Ericsson telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh industri.
“Memberikan jaminan-jaminan sebagai langkah global untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, menjadi pemimpin dalam performa charger, kini semuanya sudah termasuk dalam paket penjualan produk kami,” ungkapnya.
Berdasarkan pernyataan resmi Greenpeace (31/3) tentang laporannya “Guide to Greener Electronic” terungkap bahwa produk Hawlett Packard (HP), Lenovo, dan Dell beroleh ranking paling rendah dalam hal perusahaan elektronik yang menuju ramah lingkungan secara global. Sebagaimana dilansir dalam www.greempeace.org, lembaga pegiat lingkungan ini memberikan penalti kepada ketiga produsen tersebut untuk segera memperbaiki produknya pada 2009 ini menjadi lebih ramah lingkungan dan tidak beracun.
“Greenpeace meminta perusahaan elektronik untuk bertanggungjawab penuh pada produk-produknya, terutama ketika produknya menjadi limbah agar tidak merusak lingkungan,” ungkap Greenpeace dalam pernyataan resminya.
Berdasakan perangkingan yang dilakukan Greenpeace dalam “Guide to Greener Electronic” per Maret 2009 Nokia terpilih sebagai produsen elektronik paling ramah lingkungan dengan sekor 7,5. Nokia dianggap sebagai perusahaan yang tetap menjaga targetnya dalam mengurangi emisi CO2. Urutan kedua ditempati Samsung dengan skor 6,9. kemudian ranking ketiga Sony Ericsson (skor 5,7), Philips (skor 5,7), Sony (skor 5,5), LG Electronics (skor 5,5), Toshiba (skor 5,3), Motorola (skor 5,3), Sharp (skor 4,9), Apple (skor 4,7), Acer (skor 4,5), Panasonic (skor 4,3), Dell (skor 3,7), Lenovo (skor 3,1), Microsoft (skor 2,7), HP (skor 2,7), dan terakhir Nintendo dengan skor 0,8.
Greenpeace menghimbau kepada perusahaan produsen komputer untuk lebih mempertimbangkan faktor lingkungan. Sebab ratusan juta personal computer (PC) terjual setiap tahunnya di dunia. dalam kwartal terakhir 2008 saja, berdasarkan catatan Greenpeace tiga perusahaan PC saja, mampu menjual 30 juta komputer di seluruh dunia.
“Dengan angka penjualan yang tinggi di seluruh dunia, penggunaan komponen bahan baku yang beracun bisa merusak lingkungan. Khususnya di wilayah Afrika Barat yang menerima limbah elektronik dalam jumlah besar dari Eropa dan Amerika Serikat yang berkontradiksi dengan regulasi internasional,” tambah Greenpeace. (abdul malik).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment