Minggu, 19 April 2009

Fluktuasi Harga Minyak Dunia - Krisis Global Belum Berlalu

Sunday, 12 April 2009
Harga minyak mentah mengalami tren kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.Apakah ini bisa menjadi salah satu indikator bahwa krisis global sudah mulai berlalu?

HARGA minyak mentah yang beberapa waktu belakangan mengalami kenaikan menjadi sorotan sejumlah kalangan. Maklum, masalah harga emas hitam (minyak mentah) berdimensi sangat luas.Tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sarat dimensi politis.Wajar jika terjadi fluktuasi harga minyak mentah dunia. Hampir seluruh negara di dunia akan memperhitungkannya secara matang.

Apalagi, pertengahan tahun lalu, di mana harga minyak mentah dunia menyentuh level USD150 per barel,menjadi sebuah pengalaman yang berharga. Karena itu, menjadi sebuah kewajaran jika fluktuasi harga minyak mentah selalu menjadi topik hangat untuk didiskusikan.Terlebih bagi Indonesia, masalah harga bahan bakar minyak (BBM) sangat erat kaitannya dengan subsidi. Itu sebabnya, kenaikan harga minyak mentah dunia selalu terkait erat dengan kenaikan jumlah subsidi yang dikucurkan pemerintah. Sebaliknya, jika terjadi penurunan harga minyak, angka subsidi yang dikeluarkan pemerintah pun semakin ringan.

Tetapi, di sisi lain penurunan harga tersebut juga memengaruhi pendapatan negara dari sektor minyak. Kenaikan harga minyak, sebagaimana diungkapkan banyak pakar, merupakan salah satu indikator peningkatan permintaan minyak. Sehatnya industri perdagangan minyak berkorelasi dengan ekonomi negara. Sektor perminyakan yang kembali bergairah diprediksi bakal memulihkan kegiatan perekonomian yang sebelumnya terpuruk. Kegiatan perekonomian akan merangsang pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia.

Ketika perekonomian negara maju pulih,ekspor produk komoditas dari negara berkembang bisa dipastikan kembali tumbuh. Namun, tren angka kenaikan harga minyak beberapa waktu terakhir, menurut para pakar, bukan disebabkan oleh faktor fundamental, melainkan oleh faktor spekulasi para pelaku pasar finansial. Meski demikian, menurut Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto, kenaikan harga minyak bisa memberikan keuntungan bagi beberapa negara maju di Eropa, terutama di Eropa Barat, yang sebagian besar sudah siap dengan program energi alternatif selain fosil.

Negara-negara Eropa Barat telah berhasil mengembangkan energi dalam skala komersial, energi biomassa, angin, atau biofuel. “Sehingga efek kenaikan harga minyak relatif tidak terlalu menjadi masalah,bahkan bisa semakin mendorong pengembangan industri alternatif,” ujarnya kepada Seputar Indonesia. Sementara bagi Indonesia, menurut Pri Agung, sampai pada kisaran tertentu sebenarnya kenaikan harga minyak akan berdampak positif.

Namun, ini akan sangat bergantung pada respons dan upaya pemerintah jika pada APBN hanya dipatok asumsi harga minyak mentah USD45 per barel, tanpa ada bantalan subsidi. Jika harga minyak lebih tinggi dari angka tersebut misalnya sekitar USD60 per barel, pemerintah akan menambah subsidi BBM hingga Rp15 triliun. Kenaikan harga BBM dalam negeri juga menjadi sulit untuk dihindarkan.

“Ya, sebatas menambah keuntungan bagi perusahaan migas di Indonesia, tapi untuk pemerintah dan negara Indonesia secara keseluruhan, termasuk rakyatnya, dengan kondisi dan kesiapan pemerintah saat ini,kenaikan harga minyak cenderung akan lebih banyak merugikan.Misalnya,dalam hal ini pemerintahjugabelumsiapdengan pengembangan energi alternatif massal atau juga belum bisa langsung menaikkan aktivitas eksplorasi produksi migas karena birokrasinya masih berbelit,”paparnya.

Bagaimanapun kembali pulihnya perekonomian negara maju sangat berkorelasi dengan pertumbuhan perekonomian di negara berkembang. Negara maju yang selama ini menjadi tujuan produk ekspor n e g a r a - n e g a r a berkembang kembali bergairah sehingga perekonomian di negara berkembang pun kembali tumbuh. Menurunnya, harga minyak mentah dunia beberapa waktu lalu hingga kisaran level USD30 per barel menunjukkan angka permintaan negara maju terhadap minyak sedang anjlok.

Wajar,sebab perekonomian negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat sedang anjlok akibat krisis global sehingga berbagai macam langkah efisiensi termasuk energi pun dilakukan. Sayangnya,kenaikan harga minyak saat ini bukan karena peningkatan permintaan minyak negara maju, melainkan karena faktor nonfundamental. Berdasarkan laporan International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook Update, pertumbuhan ekonomi global pada 2009 sebesar 0,5%. Proyeksi ini terkoreksi -1,7% dari sebelumnya diprediksi sebesar 1,2%.

Sementara perekonomian global pada 2010 yang sebelumnya diproyeksi tumbuh 3,4% direvisi menjadi 3,0% atau dikoreksi -0,8%.IMF m e n g u n g k a p k a n , proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju pada 2009 dan 2010 sebagian besar minus di antaranya AS 2009 (-1,6%) dan 2010 (1,1%), negaranegara Uni Eropa 2009 (- 2,0%) dan 2010 (0,2%), Jerman 2009 (-2,5%) dan 2010(0,1%),Prancis2009(- 1,9%) dan 2010 (0,7%), Italia 2009 (-2,1%) dan 2010 (-0,1%),Spanyol 2009 (-1,7%) dan 2010 (-0,1%).

K e m u d i a n , pertumbuhan ekonomi Jepang pada 2009 diproyeksi -2,6% dan 2010 (0,6%), Inggris 2009 (-2,8%) dan 2010 (1,6%), Kanada 2009 (-1,2%) dan 2010 (1,6%), serta negara maju lainnya 2009 (-2,4%) dan 2010 (2,2%). Untuk wilayah regional lainnya seperti negara miskin dan berkembang diproyeksikan tumbuh sebesar 3,3% pada 2009 dan 5,0% pada 2010 di antaranya Afrika 2009 (3,4%) dan 2010 (4,9%), Sub-Sahara 2009 (3,5%) dan 2010 (5,0%), Eropa Timur dan Tengah 2009 (-0,4%) dan 2010 (2,5%),dan Rusia 2009 (-0,7%) dan 2010 (1,3%).

Sementara negara-negara berkembang di Asia pada 2009 diprediksi tumbuh 5,5% dan 2010 (6,9%),China 2009 (6,7%) dan 2010 (8,0%),India 2009 (5,1%) dan 2010 (6,5%), ASEAN 2009 (2,7%) dan 2010 (4,1%), Timur Tengah 2009 (3,9%) dan 2010 (4,7%),Brasil 2009 (1,8%) dan 2010 (3,5%), serta Meksiko 2009 (-0,3%) dan 2010 (2,1%). Dengan gambaran tersebut, banyak negara-negara di dunia yang harus bekerja keras untuk bisa lolos dari dampak krisis global.

Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, tren harga minyak beberapa waktu terakhir justru masih terbilang rendah. Meskipun ada sedikit tren kenaikan ke kisaran angka USD52 per barel, itu belum cukup menggairahkan perekonomian dunia.Menurut dia,angka paling ideal untuk menunjukkan perekonomian sudah membaik adalah di kisaran USD60–70 per barel.

“Justru kalau harga minyak naik,negara-negara anggota OPEC dan petrodolar lainnya yang akan meraih keuntungan,”ucapnya. Pada akhir Oktober, harga minyak dunia sudah di bawah angka USD60 per barel. Pada 30 Oktober hargasudahmencapaiUSD59,92per barel,bahkanpada28Oktoberharga turun mencapai USD55,9 per barel. Selin itu kata Kurtubi, pemerintah jangan terlalu khawatir akan fluktuasi harga minyak. Karena itu merupakan hal yang wajar.

Menurutnya, sekalipun nanti terjadi lagi kenaikan, angkanya diprediksi tidak akan di atas USD100 per barel. “Angka kenaikannya berada pada angka USD70-80 per barel,”tegasnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/228843/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment