Minggu, 19 April 2009

Belajar Menerima Kekalahan

Saturday, 18 April 2009
BANYAK contoh politisi yang bisa menerima kekalahan secara sportif.Di luar negeri,banyak politisi legawa terhadap kekalahan.



Mereka mendukung lawan politik yang menang. Contoh paling kentara ketika Hillary Clinton akhirnya harus mengaku kalah dengan Barack Obama, ketika bersaing dalam bursa pemilihan
bakal calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat. Meskipun kekalahan Hillary ditanggapi sumir beberapa kalangan, bahkan dianggap pecundang, tetapi istri Bill Clinton itu masih tetap berbesar hati.Bahkan ketika dia dimandat untuk menjadi Menteri Luar Negeri AS,membantu Obama, dengan bangga Hillary menyatakan akan menjalankan tugasnya dengan baik.

Sedikit berbeda dialami kandidat Presiden AS John McCain. Berdasarkan catatan Wakil Presiden Eksekutif Media Matters for Amerika Jamison Foser,meskipun McCain mengalami kekalahan dalam bursa pemilihan presiden melawan Barack Obama, media-media di AS memberitakan McCain layaknya sebagai pemenang. Menurut dia, sebagai oposisi, McCain mendapatkan porsi pemberitaan yang cukup besar dari media.

Tidak peduli bagaimana kekalahan Senator Senior Arizona ini, yang mewakili Partai Republik dalam bursa pemilihan Presiden AS November 2008 silam. Menurut Foser, perlakuan media AS terhadap McCain sangat berbeda dengan perlakuan kepada Al Gore dan John Kerry yang kalah melawan George W Bush. “Ketika Al Gore dan John Kerry kalah dalam kampanye presiden, media memiliki pesan yang jelas untuk mereka.Pergi dan biarkan George W Bush memimpin,” ujarnya sebagaimana dilansir dalam Media Matters for Amerika (3/4/2009).

Sebagai oposisi, McCain sering mengkritisi kebijakan pemerintah Obama. Foser menyatakan reaksi media terhadap pernyataan Mc- Cain tidak berbeda dibandingkan masa kampanye dulu,terutama dalam hal debat kongres beberapa waktu terakhir.MSNBC memutar pidato McCain berkali-kali,sementara presenter media kabel jaringan mengutip pernyataan McCain seolah itu pernyataan mereka.Tidak berbeda,tulisan kolumnis tentang McCain diterbitkan dalam harian The New York Times.

“Media benar-benar serius memberitakan obsesi McCain dan menganggapnya seolah seorang tokoh negarawan yang bijak,”ujarnya.



Meski demikian, pada pidatonya di Arizona Biltmore Hotel (4/11/2008), John McCain mengakui kekalahannya atas Barack Obama. McCain yang
didampingi istrinya,Cindy,dan kandidat wakil presiden pasangannya, Sarah Palin, menyerukan kepada para pendukungnya untuk mengakui kekalahan, sembari memberikan pesan agar para pendukungnya tetap berjuang bagi kemajuan AS.

“Wajar malam ini merasa kecewa. Namun,kami merasakan hanya sebentar, kegagalan ini adalah milikku, bukan milik Anda,” ujar Mc- Cain kepada para pendukungnya. Bagaimanapun,Hillary Clinton dan John McCain adalah contoh-contoh orang yang mengalami kegagalan, tetapi tetap tegak berdiri dan tidak menyerah pada keadaan. Sebab,potensi depresi tidak hanya bisa dialami kandidat yang gagal maupun pendukungnya,melainkan juga pendukung dari kandidat yang menang.

Sebab,depresipascapemilu bisa dialami siapa saja.Sebagaimana dilansir CNN (7/11/2008), ahli psikologi klinik Summit New Jersey menyatakan bahwa sebagian masyarakat berpotensi terkena depresi pascapemilu, sebab masyarakat sangat menggantungkan harapannya pada hasil pemilu. “Mungkin sebagian masyarakat akan mengalami depresi ini karena mereka berpartisipasi di dalamnya,”ujarnya.

Ini sebagaimana dialami David Kronmiller, seorang penulis dan pembuat film.David adalah pendukung presiden terpilih Barack Obama. Ketika masa kampanye dan pemilihan, David demikian getol memantau hasil perolehan suara melalui internet. Ketika bangun pagi, dia selalu mengecek the Huffington Post,the Drudge Report,Politico, dan RealClearPolitics.Namun sehari setelah pemilu, dia menyadari tidak perlu mengecek perolehan suara lagi.

Kini David kembali fokus pada pekerjaannya, yakni menulis dan membuat film,yang tidak membutuhkan kegiatan mengecek perolehan suara.“Ada semacam kesedihan pada hal ini,” ungkap orang yang sehari-hari menulis artikel untuk iReport.com itu. Meskipun David mendukung Obama sejak pemilihan pendahuluan, ketika pemilihan presiden selesai, itu berarti dia tidak akan bisa mengikuti hasil perolehan suara lagi.“Saya berharap dengan serius bahwa saya kembali ke masa itu,” ujarnya.

Setelah masa dua tahun yang intens dengan gencarnya kampanye, penuh hingar-bingar, namun kemudian berubah sepi membuat masa pemilih bisa mengalami depresi post partum. Ahli psikologi klinik Willmette Illinois Nancy Molitor mengatakan, beberapa pasiennya juga mengakui mengalami depresi serupa. Beberapa orang pasiennya tersebut beranggapan,apa yang akan mereka lakukan jika tidak mengikuti perkembangan kampanye dan perolehan suara pemilu.

“Seorang pasien saya menyatakan bahwa dia tidak pernah merasakan kehidupannya demikian bergairah tentang kampanye, kecuali kampanye sekarang. Dia tahu bahwa kegiatan pemilihan presiden telah mengisi kekosongan dalam hatinya,”kisahnya. Molitor menyatakan pendukung dari kandidat yang menang bisa jadi merasa seolah mereka sudah bisa terbebas dari kecanduan obat.Mereka juga membangun kegelisahan yang berlebihan tentang sebuah perubahan dari presiden yang baru.

Lantas,bagaimana dengan Indonesia? Rasanya,perilaku berani menerima kekalahan masih berada di dunia hampa.Tengok saja sejumlah perilaku calon legislatif (caleg) yang tidak terpilih justru melakukan tindakan tidak terpuji,misalnya ada yang berusaha menarik kembali bantuannya selama kampanye.Malah ada juga yang merusak kembali fasilitas umum yang dibantunya.Hal ini dilakukan karena masyarakat sekitar tidak memilihnya.Alhasil,si caleg gagal menduduki kursi dewan.

Ironisnya lagi,musim pemilu kali ini juga sudah diprediksi sejumlah praktisi kesehatan jiwa bahwa akan banyak caleg yang nantinya mengalami gangguan kejiwaan menyusul kekalahan mereka. Tengok saja pengelola rumah sakit jiwa (RSJ) di sejumlah tempat, yang kemudian menyiapkan diri untuk kebanjiran pasien. Pasien diperkirakan akan berasal dari kalangan politisi yang gagal merengkuh impian menjadi anggota dewan. Miris memang.

Namun, boleh jadi itu bisa menjadi fenomena yang mewabah seusai pesta demokrasi digelar.Sebab,untuk menjadi caleg, para politisi itu menghabiskan uang yang tidak terbilang sedikit.Hampir semuacaleg,pastinya sudahmenghabiskan dana jutaan rupiah.Terbukti, beberapa hari setelah pemilu, potensi sakit jiwa politisi cukup besar.Terlebih, bila caleg tersebut merupakan pemain baru di pentas politik.

Kondisi ini tidak terlepas dari peranan partai politik yang belum melakukan kaderisasi secara matang.Seharusnya,pola kaderisasi di parpol tidak berlangsung instan, satu-dua tahun. Lamanya waktu menempa ilmu politik penting untuk mengasah kemampuan berpolitik sang caleg.Terlebih saat ini, sistem yang digunakan bukan lagi nomor urut,melainkan perolehan suara terbanyak.

Hasil survei kesehatan mental rumah tangga (SKMRT) beberapa waktu lalu menunjukkan, gejala gangguan kesehatan jiwa pada penduduk rumah tangga dewasa di Indonesia,yakni185kasusperseribu penduduk. Selain itu, gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 140 kasus per seribu penduduk.Sementara pada rentang usia 514 tahun mencapai 104 kasus per seribu penduduk.

Taraf gangguan jiwa pun beragam, dari yang sangat ringan,tidak memerlukan perawatan khusus seperti kecemasan dan depresi. Kemudian bertahap ke tingkat ketagihan napza,alkohol dan rokok, dankepikunanpadaorangtua.Tahap paling berat adalah skizofrenia. (abdul malik /islahuddin/faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/230889/

kredit Foto :
- (
) Obama dan Hillary : Hillary akhirnya menanggalkan jabatannya sebagai sentor senior dan menerima tawaran Obama untuk menduduki jabatan sebagai Menteri Luar Negeri AS.

- (The Sydney Morning Herald) : Dalam setiap selesai debat kampanye, Obama dan McCain selalu berjabat tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment