Minggu, 19 April 2009

Fluktuasi Harga Minyak Dunia - Energi Hijau Masih Wacana

Sunday, 12 April 2009
MENYUSUL ancaman pemanasan global dan perubahan iklim serta semakin menipisnya cadangan energi minyak fosil, dunia mulai berlomba-lomba mengembangkan sumber energi alternatif yang terbarukan. Indonesia pun tak ketinggalan.

Berbagai macam sumber kekayaan alam yang bisa dijadikan sumber energi alternatif mulai digali. Dari yang sifatnya terbarukan seperti biodisel atau bioetanol maupun tidak terbarukan seperti penggunaan bahan bakar gas guna mengonversi konsumsi minyak tanah di masyarakat. Kalangan pelaku industri bahan bakar nabati (BBN) secara tegas menyatakan mendukung penuh program ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menilai,produsen BBN siap melaksanakan Peraturan Menteri ESDM No 32/2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain.Aprobi bahkan menyatakan kalangan produsen BBN menyambut positif program pelaksanaan diversifikasi energi. “Tantangan yang harus diatasi adalah bagaimana menyesuaikan jumlah produksi,terutama bioe-tanol.

Kemudian wilayah produksi, transportasi, dan penyimpanan BBN. Jaminan bahan baku dan pengembangannya, serta kualitas dan persyaratan ramah lingkungan lainnya,”ujarnya. Berdasarkan data Pertamina, daftar konsumsi BBM per 2007 mencapai 38.665.397 kilo liter (kl) untuk BBM bersubsidi.Sedangkan untuk konsumsi BBM nonsubsidi per 2007 mencapai 23.640.400 kl. Total konsumsi BBM per 2007 sebesar 62.305.707 kl.

Sementara perkiraan kebutuhan BBN pada 2009, sesuai ketentuan Permen ESDM No 32/2008,sebesar 500.000 kl untuk bioetanol dan biodisel. Rincian bioetanol sebesar 240.000 kl yakni transportasi (public service obligation/PSO) sebesar 1% (190.000 kl) serta industri dan komersial 5% (50.000 kl). Sementara rincian biodisel sebesar 260.000 kl yakni transportasi PSO 1% (110.000 kl), industri dan komersial 2,5% (125.000 kl), serta pembangkit listrik 0,25% (25.000 kl).

Dalam catatan Aprobi status September 2008, jumlah kapasitas bioetanol perusahaan-perusahaan di dalam negeri mencapai 144.500 kl (kapasitas) dan 14.500 kl (domestik). Sementara pada 2009 diprediksikan sebesar 212.000 kl (kapasitas) dan 112.500 (domestik).Beberapa perusahaan produsen bioetanol tersebut di antaranya PT Anugerah Kurnia Abadi/BPPT Etanol yang berlokasidiLampung,MedcoGroup (Lampung), Molindo Raya Industrial di Lawang dan Lampung,serta Sugar Group (Lampung).

Sedangkan kapasitas produksi biodisel dari 11 perusahaan,sesuai catatan Aprobi status September 2008, sebesar 1.588.300 metrik ton per tahun (mt/thn) untuk kapasitas dan 723.300 mt/thn (domestik). Sementara prediksi 2009 sebesar 2.521.000 mt/thn (kapasitas) dan 1.121.000 mt/thn (domestik). Sebelas perusahaan tersebut di antaranya Asian Agri Tbk yang berlokasi di Lubuk Gaung, Dumai.

Kemudian PT Energi Alternatif Indonesia (Jakarta), Eterindo Wahanatama Tbk (Gresik dan Cikupa),PT Darmex Biofuel (Bekasi), PT Ganesha Energy Group (Medan), PT Indo Biofuels Energy (Merak),PT Multikimia Intipelangi (Bekasi), Musim Mas Group (Medan), Permata Hijau Group (Duri), PT Sumi Asih (Bekasi dan Lampung), serta Wilmar Group (Dumai). “Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menyosialisasi penggunaan BBN dan melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak yang terkait,”tambah Paulus.

Pemasarannya di Indonesia sudah dimulai PT Pertamina dengan menjual bahan bakar yang bersumber energi fosil dicampur BBN di antaranya biosolar. Bahan bakar kendaraan bermotor ini bermutu tinggi dan ramah lingkungan karena hasil pencampuran 98,5% solar dan 2,5% fatty acid methyl ester (FAME). Biopremium merupakan hasil pencampuran antara 98% premium (produk kilang) dengan 2% etanol. Sementara biopertamax merupakan hasil pencampuran 97% pertamax dan 3% etanol murni.

Berdasarkan catatan Pertamina, pemasaran perdana biosolar dimulai pada 20 Mei 2006 di Jakarta dan dilanjutkan dengan meluaskan pemasaran di Surabaya dan Denpasar. Saat ini biosolar telah mengalami perubahan injeksi FAME yaitu 5% menjadi 2,5%,dan sejak April 2008 menjadi 1% dan dipasarkan dengan harga PSO atau setara dengan harga solar biasa. Sementara pemasaran perdana biopremium pada 13 Agustus 2006 dimulai di satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Malang.

Hingga saat ini mengalami perubahan injeksi etanol dari 5% menjadi 3% dan dipasarkan dengan harga PSO.Biopertamax mulai dipasarkan pada 11 Desember 2006 di Jakarta dilanjutkan dengan meluaskan pemasaran di Surabaya, Malang, dan Denpasar. Biopertamax juga telah mengalami perubahan injeksi etanol dari 5% menjadi 3% dan sejak April 2008 menjadi 5%. Biopertamax dipasarkan dengan harga keekonomian.

Berdasar catatan Departemen ESDM, sasaran pengembangan biofuel di Indonesia hingga 2010 di antaranya tercipta lapangan kerja 3,5 juta orang,peningkatan pendapatan 3,5 juta pekerja minimal sama dengan upah minimum regional (UMR),pengembangan tanaman BBN seluas 5,25 juta hektare (ha),terciptanya 1000 desa mandiri energi, pengurangan pemakaian BBM nasional hingga 10%, pemenuhan kebutuhan dalam negeri, dan tersedianya ekspor BBN. Namun, semua target itu tampak semakin menjadi jauh dari kenyataan.

Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, langkah pemerintah dalam mewujudkan program BBN masih belum optimal.Terbukti, bagian-bagian rantai industri ini belum terpenuhi misalnya kalangan pengusaha sudah bersedia menjadi produsen BBN, namun bahan bakunya belum siap. Karena pengembangan BBN menyangkut kebutuhan hajat hidup orang banyak terkait energi dan kebutuhan jangka panjang,pemerintah seharusnya memberikan insentif agar industri ini bisa tumbuh.

“Pengusaha sudah mau,namun pemerintah yang harus yang memberikan kepastian usaha dan insentif agar industri ini bisa tumbuh.Di negara lain bisa tumbuh pesat, karena pemerintahnya serius menggarap BBN,”paparnya. Hal senada diungkapkan Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto.Dia menyebutkan, pelaksanaan program pengembangan BBN di dalam negeri masih sangat jauh. Dia mencontohkan, produksi biofuel untuk substitusi BBM masih di bawah 100.000 kl per tahun, padahal kebutuhan BBM mencapai 60 juta kl per tahun.

“Kita masih belum punya road map yang jelas, spesifik, dan terukur. Yang kita punya sebatas dokumen kebijakan yang implementasinya masih sangat-sangat lambat kalau tak mau dibilang sekadar wacana,”tandasnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam).
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/228835/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment