Minggu, 26 April 2009

Krisis Thailand - Sejumlah Skenario bagi Negeri Gajah Putih

Monday, 20 April 2009
SEBAGAIMANA dilansir Reuters (15/4), ada beberapa skenario terkait krisis politik di Thailand, di antaranya PM Abhisit Vejjajiva masih tetap teguh mempertahankan jabatannya, tetapi kondisi akan semakin bergejolak.

Menurut Ekonom Senior dari Economist Intelligence Unit Danny Richards, jika langkah ini yang diambil maka pemerintah Thailand akan mempertaruhkan kekuasaannya. Sementara kekuasaan pemerintah yang melemah harus menghadapi krisis keuangan global di satu sisi, dan kerusuhan politik di dalam negeri pada sisi yang lain.

“Krisis yang berkepanjangan sudah berjalan selama tiga tahun ini, dan meskipun pengunjuk rasa berbaju merah bubar, mereka tidak akan menyerah,”ujarnya. Dengan kondisi ini, Thailand akan semakin menjadi negara paling tidak menarik untuk investasi. Nilai tukar mata uang baht akan semakin melemah, demikian juga pasar saham di negara itu anjlok.

Negara Gajah Putih itu akan menunjukkan kinerja terburuk di antara negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) lain dalam beberapa tahun terakhir. Skenario selanjutnya adalah pemerintahan Abhisit mengonsolidasi pendukung populer. Kemungkinan ini apabila Abhisit meraih peluang setelah berakhirnya peristiwa gejolak pekan lalu dan mulai mengonsolidasi para pendukungnya.

Banyak warga Thailand sakit hati atas kekacauan dan kerusuhan di negara itu dan mengharapkan adanya pemerintahan yang stabil dan efisien. Jika pola ini dilakukan dengan cukup persiapan,Abhisit memiliki kesempatan untuk menstabilkan negaranya. Dengan begitu,Thaksin akan kehilangan muka akibat, pengunjuk rasa pendukungnya mengalami kegagalan.

Ketika Abhisit mulai memperoleh popularitasnya, maka akan mendorong gairah pasar saham dan nilai tukar baht. Selain itu, apabila dia membuat kebijakan untuk dilakukannya pemilu secara mendesak guna memperkuat mandat, hal itu akan berpengaruh positif pula pada pasar saham dan uang.

Meski demikian, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) menilai, meski peringkat pemerintah Thailand yang sedang berkuasa dinyatakan negatif namun masih bisa berubah menjadi stabil, terutama jika kepercayaan investor kembali bangkit,melihat indikator situasi politik domestik yang kembali stabil dan berkelanjutan.

Bagaimanapun, pekan lalu Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij menyatakan pemerintah akan menggelontorkan paket kebijakan stimulus fiskal. Ini untuk memperbaiki kepercayaan pasar domestik ataupun asing.Pemerintah Thailand sepakat untuk menyuntik dana sebesar 94 miliar baht atau sekitar Rp31,5 triliun kepada pasar domestik.

Jumlah ini akan membuat angka utang Thailand kepada Bank Dunia bertambah, dari semula 525 miliar baht menjadi 619 baht. Jika mencukupi, anggaran ini akan digunakan untuk proyek-proyek yang memberikan manfaat bagi masyarakat pedesaan. Dengan demikian,Abhisit akan bisa memenangi dukungan masyarakat bawah.

Namun jika skenarionya adalah partai pendukung Thaksin kembali memperoleh dukungan, terutama masyarakat miskin untuk kembali mendapatkan kekuasaannya, mereka akan mendesak dilakukannya pemilu.Jika Abhisit salah kalkulasi, bisa membuat pemilu dini terjadi.Ini artinya militer dan pengadilan sangat mungkin mengusir pemerintah yang berkuasa saat ini.

Hal ini akan mengakibatkan kembalinya protes masa di jalanan oleh pengunjuk rasa berbaju kuning (pendukung Abhisit) atau intervensi pengadilan lainnya, sehingga mengakibatkan kemarahan masa lebih dalam.Dalam kondisi seperti ini, akan semakin membuat nilai baht dan pasar modal Thailand semakin terpuruk.

Selain itu, investasi dalam maupun luar negeri anjlok, dan peringkat pemerintah yang berkuasa ambruk. Thailand akan semakin terjerembap ke dalam krisis politik yang meluas pada krisis ekonomi. Skenario lainnya adalah kecil sekali kemungkinan terjadi persatuan di Thailand.

Pengamat Asia Pasifik IHS Global Insight London Kristina Kazami menyatakan, peluang persatuan bisa saja terjadi apabila Abhisit mau bernegosiasi dengan Thaksin dan pendukungnya, di antaranya dengan membebaskannya dari dakwaan korupsi dan mengizinkan Thaksin kembali ke negaranya dari pengasingan. Namun, Abhisit sudah menegaskan dirinya tidak akan bernegosiasi dengan lawan politiknya.

Dengan demikian,memanasnya situasi politik Thailand akan semakin berkepanjangan, konstitusi menjadi lemah karena kalah melawan mobilisasi massa.“Perjanjian kesepakatan juga harus bisa diwujudkan dalam hal peran militer dan kerajaan dalam perpolitikan di Thailand,”ungkapnya.

Skenario terakhir adalah “wild card” pergantian raja. Meski kekuasaan Raja Bhumibol Adulyadej sudah dibatasi konstitusi, karismanya sangat dihormati masyarakat Thailand,apa pun afiliasi politiknya. Raja yang telah berumur lebih dari 80 tahun itu bisa digantikan Pangeran Mahkota Vajiralongkom, karena sang raja sudah dalam kondisi sakit-sakitan.

Maka itu,isu pergantian raja bisa muncul kapan saja. Karena hukum Thailand sangat dihormati,diskusi publik tentang peranan kerajaan dalam politik dilarang.Namun secara tertutup,banyak warga Thailand khawatir komando negara itu akan menjadi semakin buruk apabila sang raja meninggal, di antaranya dengan risiko terjadinya kekerasan antarfaksi yang bertikai. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/231209/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment