Minggu, 26 April 2009

Krisis Thailand - Hantaman Krisis Ganda

Monday, 20 April 2009
Banyak kalangan memprediksi outlookperdagangan dan investasi Thailand pada 2009 ini akan negatif.Sebab selain berjuang mengatasi dampak krisis global,juga krisis politik.

Lembaga Perangkingan Standard & Poor’s (S&P) misalnya, akhirnya memotong prediksinya atas peringkat nilai mata uang baht (domestic currency) pada 2009 ini. Sebagaimana dilansir Reuters (14/4), sebelumnya S&P memberikan peringkat A bagi pasar uang domestik Thailand,tetapi diturunkan menjadi A-minus.

Ini diprediksikan masih akan memburuk lagi seiring dengan semakin tidak menentunya suhu politik di Thailand.Sementara untuk peringkat nilai valuta asing/valas (foreign currency),S&P juga memberikan nilai BBB bagi Thailand. Menurut S&P,Thailand sebelumnya telah dipertimbangkan para investor sebagai yang cukup menarik untuk berinvestasi.

Namun, kini kepercayaan investor sudah menurun akibat implikasi negatif kondisi politik di negeri itu.Nilai kredit Thailand sangat didukung beberapa faktor seperti posisi jumlah nilai piutang, kehati-hatian dalam manajemen fiskal, serta rendahnya hutang pemerintah.

Berdasarkan estimasi S&P, cadangan valas Thailand akan meningkat sebanyak USD130 miliar pada akhir 2009, lebih besar ketimbang proyeksi sebelumnya sebesar USD70 miliar. Indikator ekonomi dan fiskal yang memburuk dengan serius di Thailand bisa membuat peringkat pemerintah yang berkuasa anjlok.

Senada laporan Bank Dunia memprediksi produk domestik bruto Thailand akan menurun sebesar 2,7% pada 2009 ini.Ekonom Bank Dunia di Bangkok Kirida Bhaopichitr menyatakan, penurunan konsumsi akan dimulai dari rendahnya angka ekspor dari Thailand dan beberapa negara lainnya.

Direktur Bank Dunia Annette Dixon juga berpendapat bahwa tidak menentunya kondisi politik di Thailand telah membuat investasi sektor publik dan swasta ambruk, sebagaimana di sektor pariwisata, sehingga pemerintah Thailand harus segera merespons penurunan perekonomian negara itu.

Sementara dalam laporan Asian Development Bank (ADB), pertumbuhan ekonomi negaranegara berkembang di Asia pada 2009 diprediksi suram. Meski demikian, ADB mengungkapkan negara-negara di kawasan Asia bisa mengatasinya.

Dalam laporan Asian Development Outlook 2009 (ADO 2009) yang dilansir ADB (31/3), diungkapkan bahwa negara- negara berkembang di Asia hanya akan mencatat pertumbuhan ekonomi pada kisaran 3,4%, menurun dibandingkan 6,3% pada 2008 dan 9,5% pada 2007.

Jika kondisi ekonomi global bisa membaik tahun depan, prediksi kinerja ekonomi untuk regional ini diprediksi tumbuh 6%.“Dalam prediksi sementara kondisi perekonomian di regional ini tampak suram,”kata ADB Acting Chief Economist Jong-Wha Lee. Untuk wilayah Asia Tenggara diproyeksi menurun sebesar 0,7% pada 2009,dari angka 4,3% pada 2008.

Tiga negara yang paling berorientasi ekspor, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand juga akan mengalami penurunan. Singapura alami penurunan terbesar sebesar 5%. Penurunan kinerja ekonomi Thailand diprediksi semakin memburuk, seiring dengan mulai dikeluarkannya kebijakan travel warning oleh beberapa negara bagi warganya yang ingin berkunjung ke Bangkok.

Harian The Nation (9/4) melaporkan, setidaknya sudah tiga negara yakni Inggris, Kanada, dan Australia sudah mengeluarkan kebijakan travel warning bagi warganya.Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor bisnis sudah mulai mengkhawatirkan implikasi negatif kisruh akibat krisis politik di Thailand.

Bahkan, Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij sudah mengumumkan prediksi penurunan PDB 2009 sebesar 5%.Angka ini lebih rendah 3% dibandingkan proyeksi sebelumnya. Sebagaimana dilaporkan Thai News Agency/TNA (16/4), krisis politik telah benar-benar memberikan dampak negatif pada kepercayaan investor.

Padahal, investasi swasta dan industri pariwisata merupakan andalan penopang pertumbuhan ekonomi negeri itu.Menurut Korn, kerusuhan politik telah membuat upaya pemerintah untuk selamat dari krisis global semakin sia-sia. Dengan penurunan estimasi angka PDB ini,berarti dua juta orang penduduk Thailand berpotensi kehilangan pekerjaannya.

“Sebagai solusi, pemerintah menggelontorkan dana stimulus ekonomi sebesar 1,5 triliun baht atau USD42,34 miliar guna memacu pertumbuhan ekonomi,”ujar Korn. Sebelumnya pada Pertemuan Menteri-Menteri Keuangan ASEAN ke-13 (9/4) di Thailand, dalam pidato pembukaannya, Korn mengungkapkan kinerja perekonomian negerinya diprediksi mengerut -2,5% pada 2009.

Volume angka perdagangan ekspor untuk produk dan jasa diestimasikan menurun - 25,2% per tahun pada 2008.Secara partikular, investasi swasta diproyeksikan menurun 6,1% per tahun, seiring dengan para investor menunda untuk menanamkan investasi di Thailand akibat krisis politik.

Pertumbuhan angka konsumsi pun diproyeksi melambat pada angka 1,2% per tahun,sejak angka pendapatan rumah tangga bertendensi menurun, terutama karena anjloknya pendapatan dari sektor pertanian dan ketidakmenentuan situasi ketenagakerjaan. Sebelumnya, Kementerian Tenaga Kerja Thailand juga mengumumkan, pada Januari 2009 saja sudah ada 163 perusahaan tutup akibat krisis global.

Kemudian, angka pertumbuhan konsumsi pemerintah pada 2009 diproyeksi melaju pada angka 13%. Sementara pertumbuhan investasi sektor publik diproyeksi berada di angka 7% per tahun. “Kami bisa mempertahankan mesin Thailand mungkin selama beberapa tahun ke depan,” kata Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij kepada BBC (27/2) setelah meloloskan paket stimulus senilai 11 miliar dolar di parlemen.

Meski demikian,Korn menyadari jika negara mitra perdagangan Thailand gagal pulih, negerinya akan mengalami kesulitan nyata. Thailand termasuk kurang beruntung dibandingkan negaranegara di kawasan ASEAN lainnya.

Sebab selain harus berjuang mengatasi dampak krisis global, juga harus memeras energi untuk mengatasi kerusuhan politik di dalam negeri.Sehingga wajar,penurunan pertumbuhan ekonominya diprediksikan akan semakin anjlok.

Namun menurut peneliti Indonesian Institute for Strategic Studies (IISS) Bantarto Bandoro, memanasnya suhu politik Thailand yang berakhir dengan pembatalan penyelenggaraan KTT ASEAN+3 adalah bukti sejarah buruk ASEAN.

Meskipun komitmen ASEAN untuk membuat Asia Tenggara menjadi sebuah kawasan stabil dan damai tetap tidak berubah,menurut dia, pembatalan ini sendiri memperlambat langkah politik ASEAN dalam menyusun strategi mengatasi efek krisis ekonomi dunia. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/231208/

Backgrounder :
Krisis Politik Thailand dan Ekonomi ASEAN


  • Akibat kerusuhan aksi masa anti pemerintah di Pattaya Thailand, mengakibatkan pelaksanaan KTT ASEAN+3 yang sedianya dilaksanakan tanggal 11-12 April 2009 ditunda. Konsekuensinya, pembahasan mengenai langkah ASEAN untuk mengatasi dampak krisis global pun tertunda. Padahal dalam forum ini juga direncanakan pembahasan tentang Chiangmai Inititiative yang sangat dibutuhkan sebagai jalan keluar bersama ASEAN yang melibatkan Korea Selatan, Jepang, dan China dari krisis keuangan global.
  • Sementara akibat dampak krisis politik di dalam negeri dan krisis global, pemerintah Thailand telah memproyeksi penurunan PDB pada 2009 sebesar 5% yang merupakan lebih rendah 3% dibandingkan prediksi sebelumnya. Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij mengungkapkan kinerja perekonomian negerinya diprediksi mengkerut -2,5% pada 2009. Volume angka perdagangan ekspor untuk produk dan jasa diestimasikan menurun -25,2% per tahun pada 2008. secara partikular investasi swasta diproyeksikan menurun 6,1% per tahun, seiring dengan para investor menunda untuk menanamkan investasi di Thailand akibat krisis politik yang belum kunjung mereda.
  • Pemerintah Thailand juga merevisi data final angka kunjungan wisatawan pada 2008 ke negara itu. Padahal sektor pariwisata salah satu penopang utama perekonomian negara itu. Angka kunjungan wisatawan pada 2008 diproyeksikan 14,3 juta kunjungan yang berarti sama dengan realisasi angka kunjungan pada 2007. Sebelumnya angka kunjungan wisatawan pada 2008 diperkirakan meningkat dibandingkan pada 2007. Meskipun angka ini diprediksi membaik pada kwartal I 2009, namun akan tetap menurun jika dibandingkan kwartal I 2008. Pemerintah Negeri Gajah Putih itu memproyeksi angka kunjungan wisatawan pada 2009 tidak kurang dari 14 juta kunjugan, sedikit menurun dibandingkan 2007 dan 2008. Namun ini masih tergantung pada situasi lokal dalam negeri, maupun regional dan global.
  • Berdasarkan proyeksi ADB pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN diprediksi menurun pada 2009 hanya sebesar 0,7% dan 2010 sebesar 4,2%. Diantaranya, penurunan terenda dialami Singapura -5% (2009) dan 3,5% (2010). Kemudian diikuti Thailand kinerja ekonominya -2% (2009) dan 3,0% (2010). Malaysia -0,2% (2009) dan 4,4% (2010), Brunei Darussalam -0,4% (2009) dan 2,3% (2010). Kamboja dan Filipina diproyeksi tumbuh 2,5% pada 2009, namun pada 2010 Filipina (3,5%), dan Kamboja (4,0%). Indonesia diprediksi tumbuh 3,6% (2009) dan 5,0% (2010), Vietnam 4,5% (2009) dan 6,5% (2010), serta Laos 5,5% (2009) dan 5,7% (2010).
  • Menurut ADB pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN sebesar 0,7% pada 2009 adalah terendah dibandingkan kawasan Asia lainnya. Diantaranya, kawasan Asia Tengah diprediksi tumbuh 3,9% (2009) dan 4,8% (2010), Asia Timur 3,6% (2009) dan 6,5% (2010), Asia Selatan 4,8% (2009) dan 6,1%(2010), serta kawasan Pasifik 3,0% (2009) dan 2,7% (2010). Secara rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia pada 2009 diproyeksi sebesar 3,4% dan pada 2010 sebesar 6,0%.(sumber ADB dan berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment