| Sunday, 26 April 2009 | |
| Meski perekonomian banyak negara di dunia berjatuhan akibat dampak krisis global,itu tidak berlaku di China.Berdasar riset Nielsen,China merupakan pengecualian untuk masalah kepercayaan konsumen. Berdasar catatan Nielsen, China menempati urutan ke-9 untuk Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) per semester I/2009 ini dengan 89 poin, meningkat satu peringkat dibandingkan semester II/2008 yang berada di urutan ke-10. Urutan 10 besar IKK tertinggi di dunia untuk semester I/2009 yakni Indonesia dengan nilai 104 poin,Denmark (102), India (99), Norwegia (98),Filipina (96), Belanda (96), Asutralia (92), Pakistan (91), Selandia Baru (90), dan Uni Emirat Arab (90), China (89),Brasil (88) dan Kolombia (88). Direktur Eksekutif Consumer Research The Nielsen Company Catherine Eddy menyatakan, konsumen di dunia khawatir dengan keamanan pekerjaannya, namun berbeda dengan apa yang terjadi di China.Tidak hanya di Amerika Serikat (AS),secara global konsumen khawatir dengan pekerjaannya.Sementara sebanyak 65% orang China berpikir ekonomi negeri mereka sedang tidak mengalami resesi. “Tidak ada lagi penurunan yang signifikan dalam kepercayaan konsumen di AS tentang keamanan akan pekerjaan mereka. Namun, apa yang terjadi di China berbeda dengan tren global,” ujarnya saat jumpa pers di Jakarta (23/4). Berdasarkan survei Nielsen, IKK di Brasil turun dari 108 poin ke angka 87 poin,sementara Argentina turun dari 94 ke indeks 78 poin. Menurut Catherine, efek dari penurunan global tampaknya tidak terlalu berdampak bagi para konsumen di negara-negara Brasil,Rusia, India, dan China (BRIC) dan Amerika Latin.Kekhawatiran mereka tidak setinggi konsumen yang berada di negara maju. “Negaranegara maju sekarang mengalami kemunduran yang nyata, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang booming dan pertumbuhan yang baik,”ungkap Catherine. Hasil riset Nielsen ini survei IKK online kepada 25.140 konsumen internet secara global yang berkunjung secara reguler. Survei yang dilaksanakan pada 19 Maret– 2 April 2009 ini,menurut Nielsen, tidak bisa merepresentasikan semua populasi di dunia. Bagaimanapun, hasil survei bisa menjadi salah satu referensi karena memberikan hasil yang menarik. Menurut temuan survei global Nielsen,77% dari konsumen online berpikir mereka sedang dalam resesi ekonomi, dibanding dengan 63% yang berpendapat demikian pada enam bulan yang lalu. Sebagian besar konsumen Indonesia (73%) pun berpikir negara sedang dalam resesi ekonomi dan sepertiga dari mereka yang berpikir bahwa resesi berlanjut selama 12 bulan mendatang. Hal ini tentu menarik karena agak berbeda dengan hasil kepercayaan konsumen. “Secara keseluruhan, konsumen mengalami masa suram untuk akhir 2008 dan merangkul diri mereka sendiri agar tegar untuk apa yang mereka dapatkan di semester pertama 2009. Satu pengecualian di dunia adalah China di mana 65% dari konsumen internet berpikir bahwa mereka tidak sedang dalam resesi ekonomi,“ ujar Catherine. Menurut Managing Director The Nielsen Company China Chris Morley Paket,stimulus dari pemerintah pusat China sebesar USD585 miliar setara dengan 13,3% dari PDB merupakan suntikan besar di lengan konsumen China untuk peningkatan IKK. Meski dipastikan perekonomian China melambat, penjualan ritel pada Februari masih naik 15% dibanding tahun lalu dan banyak konsumen China yang sekarang percaya dalam 12 bulan berikutnya adalah saat yang tepat untuk kembali ke dalam investasi saham dan properti. “Konsumen China juga tetap melakukan perjalanan walau terjadi kemunduran ekonomi dan berada di peringkat teratas dari negara yang disurvei Nielsen saat ditanyakan keinginan mereka dalam menghabiskan cadangan uang untuk berlibur atau melakukan perjalanan,”tambah Morley. Jika di Indonesia kekhawatiran sebagian besar masyarakat adalah ekonomi (41%),keseimbangan antara bekerja dan hidup (33%), diikuti kesejahteraan dan kebahagiaan orang tua (25%), stabilitas politik (18%), lalu keamanan pekerjaan (15%). Sementara di China dan India kekhawatiran keamanan pekerjaan tergolong rendah yakni hanya 29%.Di Italia bahkan hanya 24% responden yang khawatir dengan keamanan pekerjaan mereka. Sedangkan di Hong Kong (33%), Singapura (32%), Vietnam (36%), Spanyol (34%), Hungaria (31%), dan Meksiko (29%).“Angka ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran akan bursa kerja yang tertekan di setiap kawasan,”ujar Catherine. Berdasarkan laporan Xinhua (10/4), indeks keyakinan konsumen pemegang kartu kredit di China meningkat pada kuartal I/2009, diprediksikan akan semakin membaik pada kuartal II/2009. Hasil riset kerja sama antara China UnionPay dan Xinhua yang disebut Bankcard Consumer Confidence Index (BCCI) menyebutkan IKK konsumen China meningkat ke 86.95 poin pada kuartal I/2009 dibandingkan 86.88 poin pada kuartal terakhir 2008. “Peningkatan BCCI dalam periode ini menunjukkan bahwa krisis finansial global tidak berdampak pada konsumen di China. Indeks ini kami prediksikan akan semakin meningkat pada kuartal kedua,” ungkap Presiden China UnionPay Xu Luode. Xinhua juga melaporkan bahwa ekonomi China mulai menunjukkan perbaikan menuju kemapanan. Berdasar data yang dilansir Badan Statistik Nasional China (9/4), indeks keyakinan perusahaan telah membaik pada kuartal I/2009. Kesimpulan ini juga serupa dengan data yang dirilis oleh Asosiasi Perusahaan Manufaktur Otomotif China (The China Association of Automobile Manufacturers) per 10 April 2009. Data itu mengungkapkan angka penjualan mobil mencapai 2.678.800 per kuartal I/2009. Catatan tersebut membuat China menjadi negara dengan angka penjualan tertinggi di dunia untuk kuartal I/2009. Data tersebut juga menunjukkan bahwa purchasing managers index of China’s manufacturing industry (indeks PMI China) mencapai angka 52.4 poin pada Maret 2009. Komisaris Badan Statistik Nasional China Ma Jiantang menyatakan, penguatan indeks PMI mengindikasikan bahwa ekonomi China sudah stabil untuk segera membaik. Bukti ini juga menunjukkan bahwa kebijakan paket stimulus Pemerintah China secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak luar biasa. Indeks PMI dianggap sebagai salah satu indikator utama yang merefleksikan dinamika pasar di China. “Secara umum dipercaya jika indeks PMI berada di atas angka 50 poin,hal itu mengindikasikan bahwa secara keseluruhan industri manufaktur sedang ekspansi. Sementara jika angkanya di bawah 50 poin, disimpulkan industri manufaktur sedang anjlok. Sejak Desember 2008, indeks PMI meningkat selama beberapa bulan hingga menyentuh 52,4 poin pada Maret 2009,” jelas Ma Jiantang sebagaimana dikutip Xinhua(10/4). (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam) |
Selasa, 28 April 2009
Indeks Keyakinan Konsumen 2009 - China Tidak Mengenal Krisis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment