Selasa, 28 April 2009

Indeks Keyakinan Konsumen 2009 - Konsumen Yakin Krisis Dilalui

Sunday, 26 April 2009
Konsumen di Indonesia menempati urutan pertama dalam survei Indeks Kepercayaan Konsumen/IKK (consumer confidence index) versi Nielsen.Masyarakat kembali yakin dengan kondisi perekonomian.


Keoptimisan konsumen Indonesia ini mengalahkan negara-negara lain di dunia. Nielsen mencatat, Indonesia berada di posisi puncak untuk IKK secara global dengan indeks 104 poin.Kemudian, diikuti Denmark (102 poin) dan India (99 poin). Negara paling pesimistis di dunia menurut Nielsen adalah Korea Selatan dengan 30 poin,diikuti Portugal dan Latvia yang sama memiliki indeks 48 poin.

“Namun, ini masih berdasarkan hasil riset kepada 25.140 responden secara onlinedi seluruh dunia. Sementara sampel Indonesia sebanyak 533 responden dan 7.072 untuk jumlah responden Asia Pasifik. Hasil riset untuk face to face interview akan kami umumkan kemudian,” ungkap Direktur Eksekutif Riset Konsumen AC Nielsen Catherine Eddy. Berdasar hasil riset Nielsen, sebanyak 45% responden menyatakan prospek pekerjaan di dalam negeri untuk waktu 12 bulan mendatang adalah bagus.

Sementara 41% lainnya menyatakan tidak begitu baik.Kemudian,9% responden menyatakan prospek pekerjaan di dalam negeri sangat bagus untuk waktu setahun mendatang, padahal dampak krisis global belum benarbenar dilewati Indonesia. “Persepsi ini datangnya dari kalangan pengguna internet. Anda tahu profil pengguna internet di Indonesia mayoritas orang berpendidikan dan kalangan menengah yang secara total diperkirakan hanya mewakili 10% dari total populasi penduduk Indonesia,” paparnya.

Optimisme responden tentang prospek pekerjaan di dalam negeri ini bahkan melebihi rata-rata di Asia Pasifik yang hanya 3% menyatakan sangat bagus. Responden yang menyatakan bagus (20%), kurang bagus (52%), dan buruk (24%). Mengenai persepsi prospek pekerjaan di wilayah Asia Pasifik, India menempati urutan kedua paling optimistis dengan 41% responden menyatakan bagus. Selain itu,46% responden menyatakan prospek pekerjaan di India kurang begitu bagus,sangat bagus (6%), dan buruk (7%).

Sementara di urutan ketiga,Filipina,yang menyatakan sangat bagus (6%), bagus (37%),kurang bagus (47%), dan buruk (9%). Korea Selatan menjadi negara dengan persepsi prospek pekerjaan terburuk dengan persentase bagus (3%),kurang bagus (21%),dan buruk (74%). Kemudian, Hong Kong yang menyatakan bagus (5%),kurang bagus (58%),dan buruk (36%). Jepang yang menyatakan bagus (7%), kurang bagus (31%),dan buruk (60%).

Sementara Malaysia hanya berada di urutan delapan dan sembilan untuk persepsi responden terhadap prospek pekerjaan selama setahun mendatang. Dengan demikian,konsumen Indonesia paling yakin krisis global tidak akan berdampak pada pekerjaan mereka. Padahal jika melihat data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) hingga per Maret 2009, tercatat angka pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah mencapai 42.598 kasus.

Data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial awal April 2009 ini mengungkapkan, industri manufaktur penyumbang terbesar PHK dengan jumlah 40.093 kasus atau sekitar 94% dari total kasus PHK selama triwulan I 2009 ini.Sementara sisanya, sebanyak 2.505 kasus PHK terjadi di berbagai sektor. Rinciannya, pertambangan (1.606 kasus), perdagangan (539), pertanian (298), konstruksi (38), dan lembaga keuangan (24).

Menurut Depnakertrans, angka kasus PHK terbesar terjadi di Provinsi DKI Jakarta dengan 16.650 kasus, kemudian diikuti Jawa Tengah (9.697 kasus),Banten (5.497), Kalimantan Selatan (2.035), Jawa Timur (1.797), Jawa Barat (1.600), dan Sumatera Selatan (1.497). Selain 42.598 pekerja yang telah menjadi korban PHK, Depnakertrans mencatat, sepanjang triwulan I/2009, ada sekitar 19.078 pekerja yang saat ini statusnya dirumahkan karena perusahaannya sedang bermasalah.

Berdasar data satuan angkatan kerja nasional 2004–2008, Badan Pusat Statistik per Agustus 2008 tercatat,ada 166,64 juta penduduk usia kerja di Indonesia.Dari angka tersebut, 111,95 juta merupakan angkatan kerja dan penduduk yang bekerja tercatat 102,55 juta. Dengan demikian, penganggur terbuka berdasar catatan BPS sebanyak 9,39 juta sehingga kesempatan kerja sebesar 91,60%.

Bagaimanapun, berdasarkan catatan Depnakertrans, dari 349 kabupaten yang tersebar di 33 provinsi, tercatat 50 kabupaten yang masuk dalam rapor merah. Ini karena jumlah angka pengangguran di kabupaten tersebut cukup besar. ”Kita akan memberikan bantuan dana program padat karya di beberapa kabupaten yang angka penganggurannya cukup besar,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno di Gedung Transmigrasi Kalibata,Jakarta, Kamis (26/3).

Secara global, banyak laporan mengenai angka PHK merebak di mana-mana menyusul dampak krisis global yang dirasakan banyak negara. Berdasar data hasil kompilasi Xinhua, ada beberapa kasus menonjol pada beberapa perusahaan, di antaranya PHK yang dilakukan perusahaan automotif raksasa General Motor sebanyak 10.000 kasus, Wal-Mart (700–800), Panasonic (15.000), Starbucks (6.700),Intel (6.000),Caterpillar (20.000), Warner Bross (800),Ericson (5000),Sony (8.000), dan Valeo (5.000).

India juga melaporkan kasus PHK di bidang industri teknologi informasi sebanyak 50.000 kasus. Sektor keuangan di Inggris (15.000) dan Korea Selatan terjadi kasus PHK di sektor publik. Hasil riset Nielsen tentang peningkatan IKK di Indonesia memang hampir mirip dengan hasil riset yang dirilis Bank Indonesia (BI). Berdasar hasil survei konsumen BI per Februari 2009, terjadi tren peningkatan IKK meskipun belum mencapai level optimistis dengan indeks 96,4.

Menurut BI, beberapa isu positif terkait kebijakan pemerintah dalam hal kenaikan gaji PNS saat itu dan rencana pemberian insentif pajak penghasilan bagi karyawan ditengarai memberikan dukungan terhadap peningkatan keyakinan konsumen. Kebijakan pemerintah yang kembali menurunkan harga BBM pada pertengahan Januari 2009, diduga mampu memberikan pengaruh terhadap penurunan indeks ekspektasi harga pada tiga dan enam bulan mendatang.

Menurut BI, angka IKK tercatat sebesar 96,4 atau mengalami peningkatan 3,6 poin dibanding survei bulan sebelumnya.Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, IKK naik sebesar 4,0 poin.Meningkatnya IKK tersebut terjadi karena adanya kenaikan pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 4,1 poin dan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) sebesar 3,0 poin. IKE pada Februari 2009 tercatat sebesar 82,7 atau mengalami peningkatan sebesar 3,0 poin dibanding periode sebelumnya.IKE mengalami peningkatan dan cenderung menuju ke arah optimistis sejak Desember 2008.

Kenaikan IKE didorong kenaikan indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (3,9 poin),indeks penghasilan saat ini (2,6 poin), dan indeks ketersediaan lapangan kerja (2,4 poin). Ini juga didorong oleh kebijakan pemerintah terkait dengan kenaikan gaji PNS yang diduga memberikan sinyal positif terhadap IKE sehingga responden semakin optimistis terhadap kondisi ekonomi rumah tangganya. Secara tahunan, IKE mengalami sedikit peningkatan yaitu sebesar 0,2 poin.

Untuk ekspektasi penghasilan, berdasarkan catatan BI, pada enam bulan mendatang responden diperkirakan masih optimis. Juga mengalami peningkatan meski relatif kecil,yaitu sebesar 1,0 poin dibanding bulan sebelumnya. Hasil survei bulan ini mencatat indeks ekspektasi penghasilan berkisar pada level 131,3. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/233108/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment