Minggu, 26 April 2009

Riwayat Karir Presiden - Pendidikan, Karier,dan Gaya Tokoh Dunia

Sunday, 26 April 2009
ADA anggapan yang menyebutkan, gaya kepemimpinan seseorang sangat dipengaruhi riwayat pendidikan dan kariernya. Sebab pengalaman selama merintis karier dan spesialisasi keahlian sangat berperan membentuk skill leadership.

Sebagai gambaran, di negara-negara maju, politisinya rata-rata lulusan dan praktisi di bidang hukum.Sedikit berbeda dengan di negara berkembang. Menurut catatan The Economist(16/4), di negara-negara demokrasi seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat (AS), politisi umumnya didominasi mereka yang berlatar belakang pengacara.

Sementara China cenderung memiliki pemimpin dari kalangan teknokrat. Namun di beberapa negara lain seperti Mesir, politisinya lebih dominan dari unsur akademisi. Kemudian Korea Selatan dominan dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS),Brasil lebih suka memilih pemimpin seorang dokter.

Namun, jika disimpulkan bahwa ada korelasi antara gaya kepemimpinan dengan latar belakang pendidikan dan karier,tampaknya itu terlalu gegabah. Sebab menurut Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Yahya Muhaimin, pendidikan dan karier hanya salah satu indikator. Bukan penentu mutlak terhadap gaya dan kepiawaian seseorang dalam memimpin.


Apalagi jika melihat contoh di Indonesia. Riwayat pendidikan dan karier tampak kurang penting jika dibandingkan dengan karisma seseorang sebagai pemimpin. ”Di AS itu demikian maraknya pemimpin negara yang memiliki latar belakang sebagai lawyer karena berkarier di bidang ini dianggap sebagai prestise.Selain itu, lawyer ternyata juga bisa menjadi batu loncatan untuk menjadi politisi yang berhasil,” papar lulusan program doktoral bidang politik dari Institut Teknologi Massachusetts, AS,ini.

Muhaimin mengakui, sulit untuk mengetahui pola karakter kepemimpinan di Indonesia. Sebab pola yang berlaku di AS berbanding terbalik dengan yang berlaku di Indonesia. Jika di AS kapasitas kepemimpinan seseorang dipertimbangkan dari riwayat karier dan pendidikannya,di Indonesia, meskipun pertimbangan pendidikan penting, karisma pemimpin dianggap lebih penting.

Contoh paling kentara adalah kepemimpinan almarhum mantan Presiden Soeharto. Ia memang hanya memiliki latar belakang pendidikan kemiliteran.Namun, harus diakui, Soeharto memiliki karisma seorang pemimpin, terlepas seperti apa gaya kepemimpinannya. ”Karakter kepemimpinan di Indonesia itu menggunakan basis massa sehingga karisma seseorang sangat menentukan,” ujar Dosen Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Dia memaparkan bahwa Soekarno adalah contoh pemimpin Indonesia yang dalam dirinya memiliki intelektual dan karisma tinggi. Sebab meskipun Mohammad Hatta juga diakui kecerdasannya, karisma Soekarno tetap tidak bisa dikalahkan. Demikian juga dengan pemimpin-pemimpin setelahnya. Masyarakat sangat mengagumi kecerdasan mantan Presiden BJ Habibie, tetapi ternyata masyarakat lebih memilih yang lebih dari sekadar cerdas.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga memiliki karisma di kalangan basis masanya. Tidak berbeda dengan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang sangat dielu-elukan oleh basis masa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). ”Terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun demikian, tidak hanya dianggap memiliki kecerdasan, tetapi juga memiliki karisma seorang pemimpin,” ungkapnya.

Meski demikian,menurut Yahya, pengalaman pribadi seseorang sejak kecil dan lingkungan keluarganya sangat memengaruhi karakternya. Sebagaimana diungkapkan James David Barber dalam bukunya Presidential Character: Predicting Performance In The White House, riwayat pendidikan dan karier hanya salah satu faktor yang memengaruhi karakter kepemimpinan seseorang.

Namun faktor yang lebih dominan lagi dalam memberikan pengaruh adalah lingkungan keluarga dan pengalaman masa kecil ketika sang pemimpin tersebut berada. Pendapat agak berbeda diungkapkan pengamat politik Carta Politica Bima Arya Sugiarto.Menurut dia, riwayat karier seseorang sangat berpengaruh dengan gaya kepemimpinannya.Dia mencontohkan gaya kepemimpinan Presiden SBY yang memiliki riwayat karier di bidang kemiliteran.

Ternyata pembuatan strategi yang biasanya berlaku di dunia kemiliteran sangat diterapkan Presiden SBY dalam memimpin. Sebelum memutuskan sesuatu,misalnya, Presiden selalu berhitung dengan strategi-strategi yang bisa dimenangkan. ”Hal ini dicontohkan dalam berbagai reshuffle kabinet yang dilakukannya dengan menerapkan strategi-strategi tertentu. Begitu juga dengan pemilihan calon wakil presiden sekarang ini. Dia terlihat melakukan strategi sambil melihat reaksi yang ada,” paparnya.

Karakter kepemimpinan SBY sangat jauh berbeda dengan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).Membandingkan kedua tokoh ini,menurut Bima,bagaikan membandingkan dua hal yang bertolak belakang.Terutama dalam hal pengungkapan pernyataan dan opini. Jika Gus Dur terkenal sangat mudah mengeluarkan pernyataan, SBY terkesan sangat berhati-hati.

Meski demikian, keduanya sama-sama merupakan figur yang memiliki pemikiran out of box yang idenya sering di luar mainstream pemikiran banyak orang. Sementara kepemimpinan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, menurut dia, cenderung bersifat simbolik. Meski demikian harus diakui, karisma dan sensitivitas kepemimpinan Mega sangat mencolok karena sejak kecil dia dididik di lingkungan istana oleh mantan Presiden Soekarno. (abdul malik/ islahuddin/faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/232968/

kredit Foto :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyjQFDNLMH_FazCvBVItuWz12uF39P2kaQK06PiWR7_Gvm8tlz67PAHIjh9WJ_ozrRRAQr36rSd8zRR9tLXWS-YbHYbXcpm6T6PyJbEqKmM8PApphNjV-Go07m0cgswRp58nTbp0Veo5M/s320/santri.png
http://www.np.edu.sg/ict/news/PublishingImages/olc/soldier.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment