Jum'at, 14 Desember 2007 - 16:28 wib TEXT SIZE :
JAKARTA - Ini bukan humor. Ikan nila genetically supermale indonesian tilapia (gesit) sedang dikembangkan penelitiannya untuk menjadi nila genetically enrichman Indonesia tilapian (genit).
Menurut Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Nenie Yustiningsih menyatakan bahwa perbedaan dari nila gesit dengan genit adalah dalam hal ukuran pertumbuhannya. Jika nila gesit pertumbuhannya 1,6 kali ikan nila biasa, maka ikan nila genit pertumbuhannya bisa tiga kali lipat dari ikan biasa atau dua kali dari ikan nila genit.
"Selain itu, nila genit juga bisa hidup pada dua jenis air, yakni air tawar dan asin. Jadi bisa dibudidayakan di tambak-tambak dekat laut. Sedangkan nila gesit hanya bisa dibudidayakan di kolam atau tambak air tawar," ujarnya.
Memang untuk menjadi genit, nila gesit harus melalui beberapa tahap penelitian. Menurut Neni, saat ini sedang dikembangkan penelitian mengenai nila gesit menuju tahap nila salim agar bisa hidup di air asin. Kelebihan proses ini adalah nila bisa hidup di kolam air asin, namun pertumbuhannya sama dengan nila gesit yang ditargetkan bisa selesai pada 2009. Setelah itu, baru dilakukan pengembangan nila salim menuju nila genit yang ditargetkan selesai pada 2010-2011 mendatang.
"Semakin besar ikannya, dagingnya lebih banyak. Masalahnya cuman contohnya jadi misalnya untuk mendapatkan nila salim harus mengimpor nila-nila yang memiliki karakteristik terutama dari Jepang. Jepang sudah mengembangkan kita mengambil lebih genetik. Apapun perubahan itu pasti konstan. Kita maunya impor 5 indukan yang potensial memang harganya mahal, jadi kendalanya dana. Kita hanya mampu impor? 2-3 indukan," paparnya.
Memang nila jantan pertumbuhannya lebih cepat ketimbang betina. Ukuran rata-rata untuk permintaan ekspor ke Jepang adalah ikan dengan berat 600 gram. Sebab inilah, kemudian BPPT bekerja sama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan mengembangkan penelitian untuk membuat gen yang bisa membudidayakan nila hanya jantan. Tujuannya agar waktu budi daya lebih efisien dan bisa memenuhi permintaan ekspor. Akhirnya pada akhir 2006 lalu, diluncurkanlah si nila gesit yang dianggap mampu menjawab kebutuhan pasar ikan nila ekspor.
"Ikan nila biasa 4-6 bulan 360-400 gram, sedangkan nilai gesit 4 bulan beratnya mencapai 600 gram. Sekira 1,6 kali lebih cepat pertumbuhannya dibanding nila biasa dan waktunya lebih cepat," ujarnya.
Menurut Nenie, pengembangan nila gesit sedang tahap uji multi lokasi minimal pada lebih dari lima lokasi, baik di Jawa maupun Sumatra. Jika ini memang terbukti menghasilkan panen ikan yang sama dan konstan, maka baru bisa dibudidayakan di seluruh Indonesia. Sebab bibit ikan nila yang disebarkan petani bukan indukannya melainkan anakannya. Sebab untuk mendapatkan indukan, tentu harganya relatif tidak murah.
"Untuk bisa disebar ke masyarakat kan harus diuji multi lokasi. Akhir 2006 di launching, tahun 2007 ini uji multi lokasi. Hasilnya cukup konstan, baik. Apabila itu sudah cukup konstan baru disebar ke masyarakat," paparnya.
(Abdul Malik/Sindo/mbs)
http://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2007/12/14/56/68312/si-nila-gesit-akan-menjadi-genit/si-nila-gesit-akan-menjadi-genit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment