Sunday, 09 November 2008
AGAR tetap bisa bertahan, seorang artis dituntut berkreativitas tinggi di era kemajuan teknologi saat ini.Kemampuan berkreasi menjadi modal utama dalam bersaing.
Pembajakan dan pola hubungan industrial antara artis dengan industri label yang belum saling menguntungkan membuat posisi seniman di negeri ini semakin terjepit. Untuk itu,artis harus bisa sekreatif mungkin agar bisa tetap bertahan di jagat dunia hiburan. Akutnya kondisi pembajakan di negeri ini tak urung membuat para artis patah arang.
Kelompok musik Naif memiliki cara unik untuk mengungkapkan rasa protes terhadap pembajakan yang hingga saat ini seolah belum terpecahkan.Pembetot bas sekaligus manajer kelompok asal Bandung ini,Mohammad Amil Hussein (biasa disapa Emil),menyatakan, sebagai bentuk protes atas pembajakan, salah satu album Naif akhirnya dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
“Kami memerangi pembajakan dengan cara menggratiskan album kami Let’s Go!,”kata Emil kepada SINDO di sela-sela acara diskusi musik yang bertema A New Wave in Music Industry di Blitz Megaplex,Kamis (6/11). Menurut Emil, sebanyak 35.000 cakram (compact disc/CD) album Let’s Go! dibagikan secara gratis bagi penggemar Naif di sekitar wilayah Jabodetabek sejak April 2008.
Selain itu, Naif juga mempersilakan kepada siapa saja untuk memperbanyak (copy) ulang album tersebut secara gratis. Distribusinya dibantu salah satu majalah terkenal di Jakarta. Selain itu,ternyata lagu-lagu dari album tersebut juga ditemui banyak tersedia di internet dan bisa diunduh secara gratis.
“Kesalnya, meskipun sudah kami gratiskan, ternyata kami juga masih menemui format bajakannya yang dijual di pasaran.Kami sudah putus asa dan kesal dengan pembajakan di negeri ini,”tukasnya. Cara berjualan lagu melalui rekaman fisik tidak akan mampu memenangkan pertempuran dengan produk bajakan.
Hari ini diluncurkan,besoknya di kaki lima sudah ditemukan format bajakannya.Jika artis di negeri ini tidak jeli dalam menyikapinya,mereka akan makan hati melihat karyanya tidak dihargai secara layak.Namun justru dimanfaatkan oknum tertentu untuk meraup keuntungan dengan memproduksi bajakannya.
Selain Naif, beberapa kelompok band lainnya juga tercatat melakukan hal serupa dalam memerangi pembajakan. Di antaranya kelompok band musik cadas asal Bandung, Koil, yang menggratiskan 50.000 keping CD album ketiganya Blacklight Shines On sejak pertengahan tahun ini.
Selain itu,grup band indie The Upstairs juga menggratiskan mini albumnya Kunobatkan Jadi Fantasi pada Agustus 2008 melalui internet.Publik bisa mengunduh file digital album tersebut secara gratis.Banyak cara dilakukan artis di negeri ini untuk memerangi pembajakan.
Terpenting lagi, cara tersebut dilakukan untuk menjaga popularitas mereka. “Daripada dibajak-bajak kita kesal, yang bajak juga kena dosa yasudah akhirnya kita ikhlaskan saja,”papar Emil. Hitung-hitungan matematis saja, pendapatan royalti dari hasil penjualan album masih jauh di bawah penghasilan konser.
Estimasinya, royalti dari hasil penjualan CD Rp1.000 per keping. Seandainya laku 75.000 keping yang merupakan angka yang layak mendapatkan anugerah platinum, si artis baru mendapatkan royalti senilai Rp75 juta. Nominal sebesar ini,hanya setara dengan satu seperempat kali penghasilan Naif ketika manggung.
Untung-untungan jika album terjual dalam waktu cukup pendek, sebulan misalnya. Karena album Lets Go!milik Naif yang digratiskan tersebut,menurut Emil, berbuah membanjirnya tawaran manggung. “Kami batasi manggung hanya delapan kali sebulan. Dengan penggratisan album tersebut menyebabkan jadwal kami menjadi padat,”ujar Emil.
Kreasi pola pemasaran seperti yang dilakukan Naif inilah yang juga menjadi perhatian pengamat musik Bens Leo.Menurut dia,kunci agar artis tetap bisa eksis di tengah kancah industri dunia hiburan saat ini adalah kreativitas.
Hal itu tidak bisa ditawar lagi dan mutlak diperlukan.Contoh lain adalah kreasi yang dilakukan kelompok musik Yovie & Nuno dalam menggarap albumnya.Melalui hasil produksi rekaman Sony BMG, album bertajuk The Special One dipasarkan melalui kerja sama dengan Bank Mandiri. “Sehingga yang berkreativitas yang akan tetap bisa bertahan hidup di industri ini,”tandas Bens. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/185258/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment